10/19/2014


Seminggu terakhir ini, di TL (timeline) twitter saya banyak informasi mengenai akan dibukanya IKEA di daerah Tangerang sana. Info yg masuk mulai dari tanggal dibukanya toko, harga-harga (dalam bentuk 'price list'), ataupun info2 lain yg tidak saya rasa saya tidak perlu mengingatnya karena buat saya tidak penting.

Tak lama, TL saya tentang IKEA beda lagi isinya. Ada orang2 yg komplen mengenai harga barang2 yg dijual IKEA. Terlalu mahal, itu kesimpulan yg paling mudah yg bisa saya tangkap.

Gemetz melihat respon orang2 itu, sayapun akhirnya nge-tweet seperti di atas.

Sebagaimana isi tweet saya di atas, jika memang masih komplen masalah harga barang yg dijual, maka itu sebenarnya anda TIDAK (belum?) levelannya untuk berbelanja di sana. Dengan kata lain, anda mengedepankan gengsi dibandingkan dengan kebutuhan.

Berbicara dengan gengsi, sudah cukup banyak orang yg mengatakan bahwa makan gengsi itu 'costly' (malah) dan 'never ending' (tidak akan pernah berakhir). Jika anda orang kaya dan bisa menutupi biaya gengsi, ya silakan. Tapi jika anda sampe ngirit makan gara2 beli barang yg mahal, yg sebenarnya ga butuh2 amat, ya itu anda sebenarnya masuk kelompok fakir miskin (namun tidak perlu dipelihara oleh negara).

Orang Indonesia memang gengsinya gede. Apapun dilakukan agar bisa tampil 'wah' dan menjadi sorotan (entah itu lingkungan rumah, kantor, bahkan kadang2 di tempat2 umum).

Saya seringkali berpikir, apa mereka ga cape memenuhi hasrat gengsi mereka?

Meski kadang ga enak, saya lebih suka dianggap miskin daripada dianggap kaya. Lah kalo dianggap miskin, berarti sebenarnya saya kaya, cuma orang yg mengira itu dia ga tau kalo saya kaya. Itu sebabnya saya seringkali 'tidak dianggap' oleh sales mobil, sales apartemen mewah, bahkan oleh kakak2 WWF dan sejenisnya. Karena di mata mereka, saya dianggap miskin.

Anehnya, saya kok malah disamperin akhi dan ukhti dari lembaga yayasan sosial. Saya ditawari untuk sedekah ini itu. Saya sampai terharu, mungkin dengan saya sedekah maka mereka akan berdoa kepada ALLOH SWT agar saya diberi kekayaan. Ihik..aamiin. :-)

Kembali ke masalah gengsi dan IKEA.

Saya belum ada rencana ke IKEA. Bukan saya ga mampu beli, tapi yaaa...lihat2 dulu deh barang2 apa saja yg ditawarkan di sana. Kalo memang barangnya sedemikian unik, cuma IKEA yg jual, lalu saya butuh, mgkn saya akan tutup mata dg harga. Tapi kalo barang2nya masih semodelan dg ACE Hardware, Informa, ataupun tempat2 belanja lain, saya pilih yg harganya lebih murah, hehehe.

IKEA sendiri, menurut saya, tahu bahwa orang Indonesia doyan 'makan' gengsi. Makanya mereka ga akan sungkan2 pasang label harga mahal untuk sebuah kursi, meski di tempat lain kursi yg sama berharga 60 - 75% lebih murah. Dan karena gengsi sudah diutamakan, saya yakin para pembeli gengsi itu 'tidak akan sempat' utk kroscek harga di tempat lain.

"Ah, tempat lain ga bonafid..!"
"Sorry ye, eike ga level belanja di sana...!"

Dan ketika mereka tahu harga barang di tempat lain bisa lebih murah, yaaa kepaksa mereka berusaha menutup rasa malu mereka, dengan berbagai cara.

Segini saja tulisan singkat saya. Pengen nyinyir lebih jauh, tapi kayanya ga manfaat jugak sih. Gakan ngepek ke orang2 seperti mereka2 itu,hehehe... Lebih baik saya urus dan nikmati hidup saya yg bahagia ini. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:

- makan gengsi itu seperti minum air laut. ga akan pernah hilang rasa dahaganya meski sudah meneguk berkali-kali.

-

Posted on Sunday, October 19, 2014 by M Fahmi Aulia

2 comments

10/14/2014


Beberapa waktu terakhir ini, di media sosial (entah itu di FB atau Twitter, terlebih lagi di Path) banyak bermunculan meme yg menyinggung dan 'membully' Bekasi. Bully membully di media sosial sebenarnya bukan hal yg aneh, bahkan bagi banyak orang dianggap hal biasa (baca: tidak dianggap serius).

Ternyata tidak semua orang bisa menanggapi 'becandaan' di media sosial. Dalam kasus ini, menurut saya, pemda Bekasi.

Saya baca tweetnya @mbakNyai di atas, yang sebenarnya mempunyai 2 makna. Pertama, perda yg dibikin adalah perda yg konstruktif. Kedua, tentu saja perda yg 'destruktif', yg alih-alih bisa menghentikan bully terhadap Bekasi, namun malah akan menimbulkan bully-an baru.

Saya sendiri membaca tweet di atas langsung membayangkan pemkot Bekasi mengambil langkah poin 2. Bukan apa-apa, saya sudah sering melihat para pejabat lebih condong mengambil kebijakan yg cenderung menyelamatkan diri sendiri.

Sedikit melantur, saya ambil contoh 'kasus' #ShameOnSBY kemarin. Usai dibully habis2an terkait dengan langkah kuda SBY dalam UU Pilkada, 'mendadak' muncul #TerimaKasihSBY, yg ironinya, hashtag tersebut ditweet oleh bot.

Apatis? Skeptis? Well, hidup di Indonesia, termasuk melihat sikap para pejabat memang menjadikan saya manusia yg kadang skeptis dan apatis jika menyangkut pejabat Indonesia.

Kembali ke bahasan.

Dalam bayangan saya, jika poin 2 yg dilakukan oleh pemkot Bekasi, maka perda yg terbit adalah (kira2) akan menuntut para pembully ke ranah pengadilan. Pasal yg dikenakan, saya pikir, adalah pencemaran nama baik. Belum lagi jika dikaitkan dengan UU ITE.

Apabila benar langkah ini yg dilakukan, sungguh blunder luar biasa yg dilakukan oleh pemkot Bekasi. Saya yakin akan banyak pihak yg mesti siap2 menjadi tersangka (dan dihukum) jika perda ini diterbitkan dan diberlakukan.

Sebaliknya, jika pemkot Bekasi melakukan poin 1, menghasilkan perda yg konstruktif, maka acungan jempol layak diberikan.

Bagaimana perda yg konstruktif? #MbakNyai menjelaskan di 2 tweet berikut:



Saya malah mendukung jika pemkot Bekasi melakukan poin 1, dengan contoh minimal seperti yg di-tweet-kan @MbakNyai di atas. Setidaknya pemkot Bekasi menganggap serius dan peduli dengan apa yg terjadi di media sosial. Dengan kata lain media sosial bisa dijadikan trigger bagi pemkot (manapun) untuk melakukan hal yg lebih baik.

Namun di sisi lain, saya malah melihat bahwa pemkot Bekasi selama ini ngapain saja? Sepengetahuan saya, keluhan ttg Bekasi macet, panas, dst dst sudah banyak muncul di media sosial. Bahkan tante @febrymeuthia pernah mengecam begitu keras terkait stadion di Bekasi beberapa waktu lalu. Toh, nampaknya (setahu saya) tidak ada tindakan nyata.

Saya jadi berpikir bahwa pejabat2 sebuah kota/propinsi/manapun itu mesti dibully dulu lokasi mereka menjabat, baru ada tindakan nyata.

Jika pikiran saya benar, hal tsb menyedihkan tapi juga menggembirakan. Menyedihkan karena para pejabat baru mau bergerak setelah dikecam habis2an. Namun disebut menggembirakan karena setidaknya mereka mau utk bergerak dan memperbaiki kondisi dan keadaan kota/propinsi.

Bagaimana menurut anda?

Gambar dari sini.

Moral story:

- media sosial bisa dijadikan motor penggerak untuk mengawasi kinerja pemerintah/pejabat

- pemerintah dan pejabat mestinya lebih banyak berinisiatif, bukan menggunakan sistem tunggu dan reaktif. ;-)

- menghina Jogja itu ga boleh. tapi membully Bekasi itu lucu! :p

- masalah asap di Palembang, pemerintah Sumsel diem2 saja. apa perlu dibully dulu juga?

Posted on Tuesday, October 14, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments