Seminggu terakhir ini, di TL (timeline) twitter saya banyak informasi mengenai akan dibukanya IKEA di daerah Tangerang sana. Info yg masuk mulai dari tanggal dibukanya toko, harga-harga (dalam bentuk 'price list'), ataupun info2 lain yg tidak saya rasa saya tidak perlu mengingatnya karena buat saya tidak penting.

Tak lama, TL saya tentang IKEA beda lagi isinya. Ada orang2 yg komplen mengenai harga barang2 yg dijual IKEA. Terlalu mahal, itu kesimpulan yg paling mudah yg bisa saya tangkap.

Gemetz melihat respon orang2 itu, sayapun akhirnya nge-tweet seperti di atas.

Sebagaimana isi tweet saya di atas, jika memang masih komplen masalah harga barang yg dijual, maka itu sebenarnya anda TIDAK (belum?) levelannya untuk berbelanja di sana. Dengan kata lain, anda mengedepankan gengsi dibandingkan dengan kebutuhan.

Berbicara dengan gengsi, sudah cukup banyak orang yg mengatakan bahwa makan gengsi itu 'costly' (malah) dan 'never ending' (tidak akan pernah berakhir). Jika anda orang kaya dan bisa menutupi biaya gengsi, ya silakan. Tapi jika anda sampe ngirit makan gara2 beli barang yg mahal, yg sebenarnya ga butuh2 amat, ya itu anda sebenarnya masuk kelompok fakir miskin (namun tidak perlu dipelihara oleh negara).

Orang Indonesia memang gengsinya gede. Apapun dilakukan agar bisa tampil 'wah' dan menjadi sorotan (entah itu lingkungan rumah, kantor, bahkan kadang2 di tempat2 umum).

Saya seringkali berpikir, apa mereka ga cape memenuhi hasrat gengsi mereka?

Meski kadang ga enak, saya lebih suka dianggap miskin daripada dianggap kaya. Lah kalo dianggap miskin, berarti sebenarnya saya kaya, cuma orang yg mengira itu dia ga tau kalo saya kaya. Itu sebabnya saya seringkali 'tidak dianggap' oleh sales mobil, sales apartemen mewah, bahkan oleh kakak2 WWF dan sejenisnya. Karena di mata mereka, saya dianggap miskin.

Anehnya, saya kok malah disamperin akhi dan ukhti dari lembaga yayasan sosial. Saya ditawari untuk sedekah ini itu. Saya sampai terharu, mungkin dengan saya sedekah maka mereka akan berdoa kepada ALLOH SWT agar saya diberi kekayaan. Ihik..aamiin. :-)

Kembali ke masalah gengsi dan IKEA.

Saya belum ada rencana ke IKEA. Bukan saya ga mampu beli, tapi yaaa...lihat2 dulu deh barang2 apa saja yg ditawarkan di sana. Kalo memang barangnya sedemikian unik, cuma IKEA yg jual, lalu saya butuh, mgkn saya akan tutup mata dg harga. Tapi kalo barang2nya masih semodelan dg ACE Hardware, Informa, ataupun tempat2 belanja lain, saya pilih yg harganya lebih murah, hehehe.

IKEA sendiri, menurut saya, tahu bahwa orang Indonesia doyan 'makan' gengsi. Makanya mereka ga akan sungkan2 pasang label harga mahal untuk sebuah kursi, meski di tempat lain kursi yg sama berharga 60 - 75% lebih murah. Dan karena gengsi sudah diutamakan, saya yakin para pembeli gengsi itu 'tidak akan sempat' utk kroscek harga di tempat lain.

"Ah, tempat lain ga bonafid..!"
"Sorry ye, eike ga level belanja di sana...!"

Dan ketika mereka tahu harga barang di tempat lain bisa lebih murah, yaaa kepaksa mereka berusaha menutup rasa malu mereka, dengan berbagai cara.

Segini saja tulisan singkat saya. Pengen nyinyir lebih jauh, tapi kayanya ga manfaat jugak sih. Gakan ngepek ke orang2 seperti mereka2 itu,hehehe... Lebih baik saya urus dan nikmati hidup saya yg bahagia ini. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:

- makan gengsi itu seperti minum air laut. ga akan pernah hilang rasa dahaganya meski sudah meneguk berkali-kali.

-