Beberapa hari terakhir ini, saya mendapati sebuah kehebohan yg melanda media sosial. Di path, facebook,
apalagi di twitter, bertebaran gambar seperti yg terlihat di samping ini.

Usut punya usut, ternyata kehebohan ini berasal dari pekerjaan rumah matematika seorang anak kelas 2 SD. Dia minta bantuan kakaknya, lalu kakaknya membantu dengan hasil yg seperti terlihat di gambar tersebut. Tak dinyana, jawaban2 yg diusulkan si kakak malah disalahkan sang guru.

Tidak terima, si kakak akhirnya menulis komentarnya, dia muat di FB dan akhirnya menjadi viral.

Pagi ini, salah seorang ahli (pendidikan) matematika, Iwan Pranoto menulis tweet2 terkait 'salah kaprah' ini. Tweet yg beliau tulis sebenarnya terlalu filosofis, namun intinya penulisan 4x6 dan 6x4 dipengaruhi oleh budaya. Dan saya sepakat.

Sejak kecil, saya selalu diajarkan bahwa 4x6 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4. Dan di kemudian hari, metode ini juga yg diajarkan di luar negeri, setidaknya jika saya merujuk dari sini.

Keuntungan bagi saya dalam memahami konsep ini adalah 4x6 ini sesuai dengan matriks, pelajaran Matematika di tingkat berikutnya. Dari situs yg saya kutip di atas, bisa terlihat juga bahwa mereka menggunakan konsep matriks dalam mengajarkan perkalian tersebut.

Sebenarnya 4x6 = 6x4, karena dalam perkalian kita kenal yg namanya hukum KOMUTATIF. Akan tetapi, mesti diingat bahwa hukum komutatif ini BISA TIDAK BERLAKU APABILA DITERAPKAN.
Sebagai contoh:

- penyediaan lampu 60w x 3 tidak sama dengan lampu 30w x 6
- minum obat 3 x 1hari tidak sama dengan 1 x 3hari

Saya setuju dengan pernyataan pak Iwan Pranoto bahwa INSTRUKSI GURU MATEMATIKA-nya mesti jelas. Namun untuk kasus anak kelas 2 SD, rasa2nya sulit meminta anak seumuran itu mengerti dan menerapkan filosofi yg dimaksud.

Saya pribadi melihat ini adalah cara pandang berbeda yg masih dalam batas kewajaran karena:
1. Adanya hukum komutatif.
2. Penggunaannya adalah general.

Jadi, berapapun perkaliannya, minumnya....eh....hendaknya tidak perlu diperdebatkan selama sifatnya general. :-)

Gambar diambil dari sini.

Moral story:
- orang Indonesia memang doyan bikin heboh! bahkan kasus ini membuat chirpstory yg saya buat menembus angka 50 ribu dalam waktu kurang dari 1 hari! :-)

- kehebohan yg terjadi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih punya antusiasme untuk belajar (yang benar). semestinya pemerintah memberikan dukungan yg berarti saat melihat kondisi (kehebohan) ini.

- saya dapat link wikipedia ttg perkalian, isinya mirip2 dengan blog ini ternyata,hehehe..

- silakan dibaca juga chirpstory lanjutan dari prof Iwan Pranoto, Memahami Perkalian.

Update 24 September 2014:

Beberapa tambahan tentang perkalian ini.