Saya menulis artikel ini terkait dengan kasus yg menimpa Aa Gym baru-baru ini.

Bismillah,

Salaam, Aa Gym.

Melalui artikel ini saya hendak menyuarakan hati saya terkait dengan musibah (jika memang layak disebut demikian) yg dialami oleh Aa Gym.

Malam kemarin, ketika saya sign in ke akun twitter saya, mendadak banyak orang menyinggung nama Aa Gym. Apabila nama Aa disebut di twitter, berdasarkan pengalaman saya selama ini, selalu ada hal yg menarik untuk dicermati dan bisa dijadikan pelajaran oleh kita semua. ((KITA))

Disertai dengan sedikit usaha, termasuk informasi yg diberikan oleh teman saya, Adiguna, akhirnya saya menemukan penyebab Aa Gym dibahas. Yakni adanya tweet porno yg di-fave (favorit) oleh 'Aa Gym'. Tak ayal lagi, para tweeps banyak membahas ini.

Sengaja saya tidak pasang skrinsut fave itu di sini. Tidak ada manfaatnya buat saya. Namun, ada beberapa hal yg menarik yg bisa saya ambil pelajaran dari kasus ini.

Pertama, Aa Gym tidak mau untuk berkata jujur mengenai apa yg terjadi. Apabila memang Aa Gym pernah khilaf untuk menekan tombol fave untuk tweet porno itu, akui saja. Ulama juga manusia, yg pernah salah. Rasululloh SAW saja pernah salah.

Alih-alih untuk memberikan penjelasan, Aa Gym malah meng-tweet hal berikut:

Kesan yg saya tangkap, Aa Gym berusaha mengalihkan (baca: menuduh) bahwa ada pihak lain yg melakukan hal itu. Saya merasa tweet Aa BUKAN JAWABAN melainkan lebih ke arah mengalihkan permasalahan/melempar bola panas. Padahal Aa sering menganjurkan untuk berkata jujur. Alangkah lebih baik, jika Aa berkata/nge-tweet seperti berikut

"Maafkan Aa atas kehebohan yg terjadi akibat adanya tweet porno yg sempat di-favorit. Ini adalah kecerobohan Aa."

Kedua, ini terkait dengan poin 1 sebenarnya.

Akun Aa, sepengetahuan saya, TIDAK ADA admin. Hal ini saya perhatikan, apabila memang benar ada admin, maka 'mestinya' Aa pernah nge-tweet juga dengan tanda yg khas. Pak SBY misalnya memberikan 'tanda' -SBY- apabila beliau yg LANGSUNG nge-tweet.

Sementara Aa, di tweetnya yg ke 11 ribu lebih, saya perhatikan (meski tidak semuanya) tidak pernah ada tanda khusus yg membedakan Aa dengan admin (jika ada). Dengan demikian, asumsi saya, Aa sendiri yg nge-tweet, meski seringkali saya melihat bahwa tipe tweet yg muncul lebih 'cocok' dilakukan oleh admin.

Kaitannya dengan poin 1, jika memang Aa yg melakukan fave, seperti saya tulis di atas, hendaknya Aa berkata jujur. Sebaliknya, jika bukan Aa yg melakukan (baca: admin), maka sampaikan juga dengan bahasa yg baik. Misalnya

"Maafkan kecerobohan admin akun Aa ini sehingga menimbulkan perbincangan yg tak sedap" atau sejenisnya. Aa lebih mumpuni untuk menyusun kata2 yg baik daripada kata2 saya di atas.

Tidak adanya penjelasan yg dilakukan oleh Aa mengakibatkan banyak orang (terutama hater) yg menggunjingkan hal ini. Janganlah Aa bersenang hati dengan gunjingan ini, dengan mengharap pahala akan mengalir dari para penggunjing, namun sikap Aa sendiri yg tidak clear menjelaskan hal ini yg membuat mereka melakukan hal ini.

Istri saya, Mia Wify, dia mengajarkan kepada saya agar jangan melakukan perbuatan yg membuat orang lain berdosa.

Seperti saya katakan, ketidakjelasan Aa membuat banyak orang menjadi penggunjing, tukang ghibah, seperti yg pernah menimpa diri Aa ketika melakukan poligami dahulu.

Ketiga, berkelit yg tak jelas.

Beberapa tweet sempat saya lihat berusaha membela Aa. Mereka menyebutkan bahwa yg melakukan fave itu admin Aa. Ada juga yg menyebutkan bahwa akun Aa di-hack, dst dst. Intinya, mereka berusaha membuat Aa tidak bersalah.

Kembali pada 2 poin di atas, Aa mestinya menjelaskan dan mengklarifikasi semua ini. Satu lagi Aa, JANGAN BERLINDUNG/MENGHINDAR dengan ALASAN DIHACK. Sesungguhnya alasan seperti itu adalah seburuk-buruk alasan.

Aa, tahukah bahwa masyarakat kian pandai? Tidak sepenuhnya mudah percaya dengan alasan hack? Apalagi jika melihat 'keutuhan' tweet dan akun Aa yg, setahu saya, tidak banyak mengalami perubahan.

Keempat, panik.

Alasan hack adalah kepanikan Aa karena 'kecolongan' fave tweet tidak senonoh. Seperti saya sebut di atas, itu adalah 'lame excuse'. Jangan pernah menggunakan alasan itu, apalagi Aa sendiri masih bisa menggunakan akun Aa.

Saya justru melihat bahwa ada pihak yg panik karena kasus ini. Entah Aa atau admin akun tersebut. Kepanikan bisa dilihat dari HILANGNYA TWEET2 FAVORIT yg ada di akun Aa. Dari beberapa skrinsut, akun Aa pernah meng-fave banyak tweet, namun usai kasus ini semuanya hilang.

Dugaan saya, Aa (atau admin) tidak ingin kecolongan (lagi) sehingga 'membabat' semua tweet fave yg pernah dilakukan.

Aa Gym,

Saya sendiri hingga sekarang masih menaruh dan menyimpan pikiran positif terhadap kejadian yg menimpa Aa. Beberapa waktu lalu Pak Tiffatul juga pernah mem-follow akun porno, demikian juga dengan Gus Sholah.

Khusus untuk Gus Sholah, saya lihat beliau mungkin pernah memberikan authorize pada saat meng-klik sebuah berita. Dugaan yg sama mungkin Aa lakukan. Namun karena sudah panik, maka Aa malah melakukan blunder.

Aa Gym,

Surat terbuka saya ini, insya ALLOH, bukan bermaksud untuk menghina ataupun merendahkan Aa Gym. Saya menulis ini justru berniat agar para hater tidak punya 'amunisi' untuk menyerang Aa. Caranya, ya Aa mesti menjelaskan dg terbuka.

Mengakui kesalahan lebih baik daripada menutup-nutupi kesalahan, apalagi malah membuat persoalan kian melebar ke hal2 yg tidak penting. Rasa2nya Aa pernah mengajarkan hal ini.

Seperti yg pernah Aa lakukan ketika heboh poligami dulu, yakni dengan melakukan klarifikasi, membuat orang2 tidak lagi menduga atau berspekulasi apakah benar Aa berpoligami atau tidak? Adapun alasan Aa berpoligami ya itu urusan pribadi Aa, maka menjadi aneh ketika banyak yg mengomentari alasan Aa. Meski banyak juga yg menyayangkan alasan Aa terlalu klise.

Sempat tebersit 'suudzon' di benak saya. Aa tidak melakukan klarifikasi karena takut terulangnya hal yg sama pada pesantren dan bisnis Aa, yakni ramai2 diboikot yg berujung pada (saat itu) kolapsnya bisnis-bisnis unit yg dikelola Aa.

Wallahualam. Saya segera hapus suudzon tersebut dan kembali berpikir positif.

Aa Gym,

Saya minta maaf jika dalam surat terbuka ini ada kata2 yg tidak berkenan. Mengutip ucapan Aa dalam tausiyah2 yg pernah saya ikuti,"semua yg baik dari ALLOH, sementara yg salah dari saya". Saya tidak suka kutipan ini sebenarnya, namun untuk hal ini saya bersedia menuliskan kutipan tersebut.

Semoga bermanfaat. Dan sesungguhnya manusia yg beruntung adalah yg hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Salaam ya Aa untuk teh Rini dan teh Ninih serta keluarga besar Aa.

- bukan santri DT, tapi pernah rajin ke DT -

Foto dari sini.

Moral story:

- saya bukan hater Aa Gym, meski seringkali mengkritik dan tidak setuju dg pendapat Aa Gym

- saya juga bukan fans Aa Gym, dengan membela mati2an beliau.

- I'm nobody. And nobody is perfect. ;-)

- ustad juga manusia, dia bisa salah. tapi jika salah yg dilakukan tidak diakui atau tidak dijelaskan, ya makin salah ;-D

Berikut ini beberapa tweet saya terkait kasus Aa Gym: