Dear Pak Mahfud MD, saya kembali menulis artikel (agak) serius ini usai membaca artikel anda di sini. Sebuah artikel yg ditulis, menurut saya, oleh seseorang yg 'buta' dengan kondisi sebenarnya bahkan cenderung untuk membela mati-matian jagoannya dengan melupakan 'kejahatan' yg dilakukan tim-nya. Seolah-olah timnya merupakan tim yg beraktivitas dg 'bersih'.

Saya akan komentari tiap pernyataan anda yg anda tulis di sana.

CAPRES Prabowo memang sangat fenomenal. Bayangkan, sekitar enam minggu sebelum pemungutan suara, elektabilitas Prabowo kalah jauh (22 %) terhadap Jokowi (46 %).

Tapi, saat pemungutan suara ternyata Prabowo mampu menempatkan dirinya seimbang dengan rivalnya itu. Bahkan, Tim Prabowo-Hatta meyakini Prabowo menang. Itu pun, Prabowo dikeroyok oleh lawan-lawannya melalui sekelompok media massa secara brutal, jauh dari kaidah pers dengan segala kode etiknya. Hantaman media terhadap Prabowo tidak hanya melalui pemberitaan yang tidak imbang melainkan secara brutal melalui mutilasi berita, dilepas dari konteksnya, sehingga Prabowo selalu disudutkan.

=== Pak Mahfud, anda seakan-akan menutup mata dengan tindakan kampanye hitam dan negatif yg dilakukan tim anda terhadap Jokowi. Sedemikian masifnya aktivitas kampanye hitam dan negatif yg dilakukan, bahkan melibatkan kiai dan ulama ikut melakukan FITNAH thd Jokowi, terutama terkait keturunan, agama yg dianutnya. Banyak orang yg taklid buta, mempercayai begitu saja berita2 FITNAH itu hanya karena ULAMA ikut MENYEBARKANNYA.


*kutipan diambil dari berita ini*

Hal lucu lain adalah pernyataan Prabwo dikeroyok oleh sekelompok media massa brutal. Apakah Pak Mahfud tahu betapa besarnya kelompok media massa yg dimiliki oleh Aburizal Bakrie dan Harry T? Jika hendak dibandingkan dari sisi media televisi, yg saya tahu, hanya Metro TV yg sejak awal mendukung dan banyak memberitakan Jokowi. Sementara TV One? Berita negatif dan fitnah terus dilancarkan, menjadi selingan saat review mengenai piala dunia.

Belum lagi kasus Obor Rakyat. Mengapa anda tidak berusaha mencegah penyebarannya? Minimal berusaha menceritakan kebenaran? Ah, saya lupa, posisi anda sedang bersebrangan. Selama bukan jagoan anda yg 'difitnah', anda tidak akan ambil pusing. Ya ya ya..

Jadi pernyataan anda bahwa Prabowo dikeroyok media massa, bagi saya, sangatlah absurd dan DELUSIONAL. ;-)

Bukan hanya Prabowo yang dibegitukan, Tim Prabowo-Hatta pun dibantai secara sadis. Tiga hari sebelum KPU mengumumkan hasil penghitungan suara, sebagai Ketua Timkamnas Prabowo-Hatta, saya diwawancarai oleh tiga televisi tentang peluang Prabowo. Saya jawab, kami yakin Prabowo-Hatta menang, tetapi jika ternyata nanti kalah, saya akan kembalikan mandat karena gagal mengantarkan kemenangan Prabowo-Hatta.

Saya takkan ikut tim hukum karena tim hukum dan timkamnas tugasnya berbeda. Ternyata, salah satu media memutilasi berita itu dengan menyiarkan secara berulang-ulang, “Mahfud MD kembalikan mandat karena gagal memenangkan Prabowo Hatta.”

Beritanya dimutilasi dengan membuang bagian atas dan bagian bawahnya. Pada rapat resmi Tim Prabowo-Hatta tanggal 20 Juli 2014 di Four Season Hotel ada semangat banyak tokoh di lingkungan Prabowo-Hatta untuk menggugat ke MK.

=== Pak Mahfud, coba anda cek lagi pernyataan anda di Youtube yg saya kutip di artikel saya sebelumnya. Kecuali anda memang memang amnesia atau mengalami delusional saat sedang diwawancara, saya memakluminya.

Saat itu saya meminta data real count internal dan berbagai temuan tim saksi dan data yang ditangani oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saya katakan sebagai ketua timkamnas, saya belum pernah mendapat data apa pun, padahal kalau akan menggugat ke MK, harus ada kepastian tentang signifikansi kesalahan penghitungan dan terjadinya pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Kalau tidak cermat, kita bisa terjerumus. Rupanya perdebatan di hotel itu bersebar ke wartawan karena memang sangat banyak yang hadir meski resminya yang boleh masuk dibatasi. Ketika pers mengonfirmasi hal itu maka saya pun membenarkan mengajukan pertanyaan itu. Eh, beritanya dijadikan panas. Ditulis, “Mahfud Kecewa pada PKS”, "Mahfud Tak Dapat Data Apa pun dari PKS”.

=== Pernyataan ini no komen. Saya melihatnya anda berusaha membela diri (+ PKS) serta menyalahkan media lain. ;-D

Isinya sekilas benar, tetapi sejatinya mengadu domba antara saya dan PKS. Begitu juga soal penarikan diri dari proses rekapitulasi suara di KPU yang terkait dengan peran Akbar Tanjung. Pers tahu bahwa rapat timkamnas yang dipimpin langsung oleh Prabowo tanggal 22 Juli 2014 itu memutuskan menarik diri dari proses rekapitulasi di KPU sesuai dengan usul Akbar Tanjung. Rapat itu memang tidak steril karena memang banyak yang ikut nimbrung.

Sebagai ketua timkamnas, saat ditanya pers, saya jelaskan sebagai informasi biasa. Kepada pers saya katakan bahwa pada rapat itu memang muncul tiga opsi. Pertama, langsung menyiapkan gugatan ke MK; Kedua, menerima keputusan KPU dengan legawa sebagai realitas politik; Ketiga, menolak untuk melanjutkan rekapitulasi karena KPU tidak prudent dan tidak mengindahkan rekomendasi-rekomendasi Bawaslu.

Alternatif ketiga ini diusulkan oleh tim Akbar Tanjung dan saya ikut membahasnya pada dini hari di rumah Akbar Tanjung. Saya sangat setuju usul Bang Akbar asal Prabowo setuju. Ternyata, rapat Tim Prabowo-Hatta siang harinya menyambut dengan semangat dan setuju dengan usul Akbar Tanjung. Itulah yang saya konfirmasikan kepada pers sebagai informasi biasa.

Tetapi, berita biasa dan usul bagus dari Akbar Tanjung itu menjadi panas karena digoreng dengan judul-judul berita yang provokatif. Ada yang menulis, “Akbar Tanjung Biang Pengunduran Diri Prabowo”, “Inisiatif Pengunduran Diri Prabowo datang dari Akbar Tanjung”, dan judul-judul lain yang memojokkan Akbar Tanjung.

Gorengan berita ini dijadikan alat oleh lawan-lawan politik Akbar Tanjung di Golkar dengan ikut menuduh Akbar sebagai biang kerok yang dikesankan jelek, padahal usulnya adalah usul yang baik dan disetujui oleh rapat secara bulat. Loyalis Akbar pun kemudian ada yang menyerang saya. Ada yang mengatakan saya membocorkan rahasia rapat, padahal itu bukan rahasia dan pers sudah tahu sendiri apa yang dibicarakan dalam rapat.

=== No komen juga. :-)

Ada yang menuduh saya disusupkan oleh Luhut Panjaitan dengan alasan saya teman dekat Luhut. Padahal, kedekatan saya dengan Luhut justru menjadi retak ketika saya memberi tahu padanya bahwa saya akan bergabung dengan Prabowo-Hatta. Ada juga yang menyebarkan foto-foto saya yang sedang mengacungkan dua jari sambil menuduh saya berkomplot, mendukung capres nomor 2.

Padahal, foto-foto tersebut adalah foto-foto lama yang sudah beredar saat kampanye untuk PKB pada Pileg Maret/April 2014. Karena, saat itu saya berkampanye untuk PKB yang merupakan kontestan pileg nomor urut 2 maka saya banyak berfoto dengan dua jari. Gorengan-gorengan, mutilasi berita, dan sodokan atas Prabowo dan para pendukungnya ini dipastikan terus berlangsung sampai keluarnya vonis MK.

Sebab ada yang punya target, “pokoknya Prabowo harus kalah”. Semoga setelah keluarnya vonis MK, semua selesai dengan damai dan kita terus membangun politik yang lebih beradab.

MOH MAHFUD MD
Pakar Hukum Tata Negara

=== Di bagian terakhir, saya lebih banyak no komen. Selain saya tidak tahu persis detail masalahnya, saya pribadi tetap melihat anda berusaha ngeles terus menerus. Apalagi berita dan sanggahan anda ini muncul sekian lama setelah 22 Juli 2014. Bagi saya, waktu sekian lama untuk memberikan sanggahan merupakan 'kesalahan' karena (dugaan saya) anda sengaja membuat opini berkembang sedemikian rupa baru anda menyanggah dan (seolah-olah) anda bersih. ;-)

Benar ucapan salah seorang teman saya, Excel, yg menyatakan anda adalah politikus sehingga tidak bisa dipercaya ucapannya karena pagi kedelai sore sudah tempe. Dan di mata saya, kenegarawanan anda sudah sedemikian luntur yg membuat saya KEHILANGAN RESPEK terhadap APAPUN pernyataan yg anda keluarkan. Baik itu untuk membela Prabowo ataupun 'seolah-olah' netral. :-)

Moral story:

- saya tidak pernah mau percaya lagi dg pak Mahfud :-)