Selamat pagi, Pak Mahfud MD

Saya sebenarnya bukan tipe orang yg bisa (dan biasa) menulis artikel serius di blog saya ini. Lebih banyak haha hehe (bercanda) dan membahas hal-hal yg ringan saja (termasuk game Line Ranger yg sedang booming). Namun menyaksikan pernyataan Pak Mahfud di Metro TV dan kemudian muncul bantahan yg disampaikan Bapak di sini, membuat saya memberanikan diri untuk menulis serius di blog ini.

Masih segar di ingatan saya betapa saya menyukai profil Pak Mahfud sejak menjadi ketua MK di Indonesia. Bapak sudah berhasil, setidaknya menurut saya, menjadi seorang pemimpin lembaga negara yg tegas, santun, dan open mind dalam menangani kasus2 dan menegakkan keadilan (meski pengertian keadilan ini semu). Saya juga masih ingat betapa marahnya Pak Mahfud ketika Pak Akil Mochtar, Ketua MK yg menggantikan Bapak, terlibat korupsi, ditangkap oleh KPK, dan akhirnya dijatuhi vonis.

Saat itu, saya berharap Pak Mahfud untuk bisa menjadi seorang negarawan. Seseorang yg tidak tergiur dengan godaan untuk 'nyemplung' ke politik praktis atau apapun itu yg intinya bisa menurunkan kredibilitas Bapak sebagai seorang (calon) negarawan.

Namun toh, saya mulai gamang ketika Pak Mahfud perlahan-lahan(?) luluh usai didekati PKB untuk dicalonkan menjadi Presiden dari partai tersebut. Saya menduga kedekatan emosional Bapak dengan NU yg menjadikan Bapak menerima tawaran dari Pak Muhaimin untuk menjadi Capres, meski saat itu sudah ada Bang Rhoma yg juga sama-sama dijanjikan menjadi Capres.

Menurut hemat saya, sebagai seorang politisi yg cukup handal, Bapak mestinya sudah bisa membaca kejanggalan tersebut. Bagaimana mungkin PKB mencalonkan 2 orang menjadi Capres? Siapa yg akan 'ditumbalkan'?

Dan kegundahan saya terhadap hal di atas menjadi kenyataan. PKB ternyata batal mencalonkan Bapak menjadi Capres usai mendapatkan suara yg lumayan di pileg kemarin. Pak Muhaimin akhirnya berkeputusan untuk merapat di kubu Jokowi. Dan otomatis pula, saya melihat Bapak akan memilih bergabung dengan kubu lawan (Prabowo) dengan berbagai alasan.

Terus terang, keputusan yg Bapak ambil cukup membuat saya terhenyak. Bagi saya, sikap Bapak kian (maaf) menurunkan 'nilai' Bapak di mata saya. Bukan karena Bapak bergabung dengan tim Prabowo. Itu hak Bapak. Namun saya melihat ada yg 'salah' dengan keputusan Bapak itu.

Akhirnya Bapak sendiri yg 'menjelaskan' apa yg menjadi ganjalan saya di atas, melalui curhat di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa Bapak merasa dikibuli Pak Muhaimin bla 3x. Lalu butuh beberapa hari untuk berpikir (seraya menangis. Kalut? Galau?) sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan tim Prabowo.

Saya cantumkan video 'curhat Bapak di bawah ini, barangkali Bapak (me)lupa(kan). ;-)

Ok, akhirnya saya bisa menerima kenyataan bahwa Bapak akhirnya terlibat dalam politik praktis, dengan menjadi ketua tim pemenangan Prabowo Hatta.

Waktu berlalu. Kita saksikan suasana kampanye yg begitu meriah (atau bahkan bisa dikatakan terlalu gegap gempita) dalam beberapa minggu terakhir. (Kampanye) Pemilihan Presiden yg semestinya berlangsung dengan gembira (saya kutip ucapan Pak Jokowi), justru diisi dengan berbagai fitnah, kampanye hitam, serangan sana sini dan berbagai perilaku tidak santun, baik dari kubu #1 maupun #2.

Di sini saya melihat Bapak mulai tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang yg ahli hukum. Dengan pengetahuan yg Bapak miliki dan jabatan ketua tim pemenangan, saya menilai bahwa Bapak SEMESTINYA bisa mencegah hal2 tidak santun yg dilancarkan oleh tim #1 (meski tentu saja mereka tidak akan mengakui terang-terangan dari kubu #1) terhadap kubu #2. Saya rasa Bapak justru membiarkan tindakan-tindakan tersebut, entah dengan alasan apa.

Dan itu kian membuat saya bertanya-tanya, ke mana Pak Mahfud MD yg (pernah) bertindak tegas, santun, menyejukkan, dan taat asas?

Tanggal 9 Juli 2014, akhirnya rakyat menentukan pilihan. Dari berbagai quick count, mayoritas memperlihatkan bahwa Joko Widodo Jusuf Kalla meraih kemenangan. Dan babak baru 'perseteruan' dan kekisruhan dimulai.

Banyaknya pernyataan kecurangan yg dilontarkan #1 yg dipicu dengan angka yg tidak sesuai dengan harapan mulai berkumandang. Meminta pemilihan ulang di beberapa tempat, bersiap mengerahkan massa, menyiapkan 2000 pengacara, dan bahkan meminta pelaksanaan rekap hitung ditunda, semuanya dilakukan oleh pihak #1, yg sebelumnya sempat mengklaim sudah meraih kemenangan.

Saya tidak tahu persis, apakah Bapak berperan menenangkan dalam (memberikan saran?) aksi-aksi di atas. Namun saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa Pak Mahfud sudah berusaha meminimalisir untuk mencegah (rencana) aksi-aksi tidak bertanggung jawab dari #1.

Ketika Pak Mahfud diwawancarai oleh Metro TV kemarin sore, saya merasa lega dan senang. Di sana, Bapak menyatakan bahwa sudah mengakui kegagalannya untuk memenangkan Prabowo Hatta dan (akhirnya) mengakui kemenangan Joko Widodo Jusuf Kalla. Saya cantumkan videonya, untuk memastikan saya tidak salah dengar. ;-) Saya cantumkan juga skrinsut dari Facebook.



Eh, ndilalah. Kelegaan dan kesenangan saya ternyata hanya bersifat sesaat. Tidak berapa lama, Bapak justru membantah pernyataan anda sendiri di sini.

Dan pada akhirnya saya menyetujui tweet dari @Enda_LA yg saya komentari di bawah ini.
Sayapun akhirnya nge-tweet seperti di awal artikel ini dan di bawah ini.
Saya akhiri tulisan serius saya di blog ini dengan penuh kekecewaan terhadap Pak Mahfud MD. Saya tahu dan paham bahwa semestinya sebagai manusia saya tidak boleh bergantung dan berharap (banyak) pada manusia karena suatu saat manusia itu akan mengecewakan saya. Tapi saya juga manusia yg mesti mempunyai harapan (mimpi?) untuk selalu bisa semangat dan hidup serta meraih masa depan yg lebih baik.

Sebagai penutup, saya masih berharap Pak Mahfud MD bisa kembali ke jalan yg 'benar' meski kali ini sudah 'membawa cacat'. Saya masih berkeyakinan bahwa apabila Bapak bisa 'kembali' menjadi negarawan, maka saya akan bisa memaklumi 'cacat' yg pernah dilakukan Bapak.

Sekian dan terima kasih.

Moral story:
- menjadi pejabat hendaknya mempunyai integritas

- jangan pernah curhat di area publik terutama di saat wawancara. bagi saya, itu memperlihatkan kelemahan

- pada akhirnya saya juga 'ikut-ikutan' membuat surat terbuka, hehehe ;-)

- maaf, saya tidak memberikan link-link dari info-info di blog ini. Info-info tersebut sudah cukup melimpah didapat di Google. ;-)