Rasa-rasanya hawa di timeline Twitter kian panas usai debat capres yg dilakukan beberapa hari lalu.

Saling ejek dan saling hina capres lawan menjadi 'makanan' rutin yg tersaji di TL saya. Saya sendiri tidak mau terlalu ambil pusing dengan aktivitas tersebut, meski kadang meng-RT beberapa berita yg (berpotensi) dianggap merugikan pihak lawan. ;-)

Tentu saja masih ada yg (cukup) waras untuk memposting hal-hal yg memang layak untuk dinikmati secara (lebih) intelek. ;-) Setidaknya ada 2 artikel blog berikut ini yg saya rekomendasikan untuk dibaca dan layak untuk menjadi bahan renungan menjelang pilpres 9 Juli 2014.

Artikel pertama "Apakah pendukung Prabowo secara inheren tidak logis dan kurang pintar?" berisi sindiran dan ejekan kepada para pemilih Prabowo. Meski ditampilkan dengan kata2 yg cukup menarik, tetapi yaaa tetap saja kandungan penghinaan bisa dirasakan di artikel itu. ;-D

Artikel kedua, "PARA PENDUKUNG FANATIK JOKOWI" bisa dibilang 'antitesis' (atau lebih tepat disebut 'hak jawab'?) dari artikel pertama. Di artikel ini disebutkan bahwa kelakuan para fans (lebay) Jokowi membuat beberapa (saya tidak menggunakan kata banyak, mengingat tidak jelasnya jumlah orang yg disebut serta adanya relativitas jumlah banyak) orang yg semula mendukung Jokowi akhirnya menyurutkan niatnya dan akhirnya beralih ke tim Capres No 1.

Saya berada di posisi mana?

Jika anda membaca artikel2 di blog ini, tidak sulit untuk menemukan dan mengetahui bahwa saya merupakan salah satu pendukung Jokowi, bahkan sejak PilGub DKI 2012 lalu. Namun saya menolak dengan tegas jika saya dikategorikan sebagai pendukungnya yg lebay.

Kritik saya terhadap Jokowi bisa dilihat di artikel2 yg juga ada di blog ini.

Intinya, saya fans kritisnya Jokowi. Membela dan menyuarakan apa yg benar dan jelas mengkritiknya jika dirasa ada yg kurang sesuai.

Salah satu hal yg hendak saya kritisi terhadap Jokowi adalah pernyataannya bahwa hanya dibutuhkan waktu 2 minggu untuk membuat aplikasi e-Government. Saya pernah berkecimpung di bidang IT sebelum akhirnya mendarat di bidang yg sekarang, sehingga saya tahu (meski tidak detail) bahwa pernyataan Jokowi di atas adalah suatu absurditas. ;-)

Update (12 Juni 2014): saya baru dapatkan 'respon' terhadap 'tantangan' 2 minggu-nya Jokowi ini. Silakan cek di gambar sebelah ini.

Pernyataan ini langsung dimanfaatkan para hater untuk menyerang Jokowi. Saya hanya bisa memaklumi 'kebuasan' para hater ini, meski toh saya tidak bisa mengungkapkan kekecewaan saya ketika saya dapati seorang mantan wartawan demikian membabi buta menyerang Jokowi. Alasannya,"saya tidak bermaksud mengejek Jokowi, tapi justru Jokowi yg sudah mengejek dirinya sendiri" dalam satu pernyataannya. Dahulu saya ketahui ybs cukup santun dalam berpendapat, namun sejak pileg lalu, kesantunan ybs menghilang entah ke mana. ;-(

Belakangan ini sih, saya lebih suka meng-RT hasil karya Jokowi (dan Prabowo, jika ada) meski bagi para hater, semua itu adalah pencitraan. Pernyataan para hater ini membuat saya bertanya-tanya dan saya tuangkan dalam tweet di bawah ini.

Jika anda klik tweet saya di atas, anda akan melihat rincian 'pertanyaan' saya. Terserah apakah anda meng-amini pernyataan saya atau malah kontra. Itu hak anda dan saya TIDAK MAU AMBIL PUSING. ;-)

Demikian sekilas coretan saya, di sela2 puyeng memikirkan solusi untuk masalah pekerjaan di kantor. ;-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- hater dan fanboy akan selalu ada karena keduanya saling melengkapi

- daripada menyebarkan hal2 buruk ttg lawan (politik), saya lebih suka share hal2 positif :-)

- pilpres 2014 ini memang berdarah-darah ;-S

- artikel ini layak untuk dibaca juga, mungkin bisa menjawab pertanyaan2 hater Jokowi ;-)