Tadi siang menjelang sore, saya sempat memposting artikel parodi yg menceritakan seorang menteri urusan komunikasi dan informasi melakukan 'salah' tindakan dalam mencegah dan menghadapi virus MERS. Silakan anda klik link di atas untuk membacanya.

Eh, tak dinyana, sore menjelang malam baru heboh di twitter. Padahal yaaa sudah basi gitu lhooo...

Lalu saya baca tweet berikut dan terjadilah 'diskusi' panjang.



Jadi, 'diskusi' tersebut membahas apakah parodi boleh menggunakan nama asli atau tidak. Setahu saya, parodi sah2 saja menggunakan nama asli (siapapun itu), karena pada dasarnya parodi adalah satir.

Anda tidak paham parodi dan satir? Coba baca dulu salah satu definisi parodi dan satir di sini.

Hal menggelikan terjadi ketika akun kementerian dan para pendukung menteri tersebut beramai-ramai membela dan menyerang balik orang2 yg 'mempermalukan' menteri tersebut. Bahkan akun kemkominfo menuliskan hal berikut:



Sangatlah disayangkan ketika akun (resmi) kementerian membuat pernyataan yg (seakan-akan) membela menterinya tanpa (ini menurut saya) melakukan pencekan dan memahami artikel (parodi) tersebut. Padahal sebagai lembaga pemerintah yg mengurus komunikasi dan informatika, semestinya mereka lebih paham ttg LELUCON ini.

Tapi, ya sudahlah...saya sendiri sebenarnya enggan utk membahas lebih lanjut karena seperti anjuran saya kepada salah seorang teman di twitter, jgn memikirkan apalagi (berusaha untuk) mengerti kementerian tersebut. :-))

Moral story:

- jika seseorang yg tidak berkompeten memegang jabatan, yaa tinggal tunggu waktu kehancurannya saja ;-)

- cek dan ricek berita itu mesti dan diperlukan! terutama untuk menghindari salah paham. kecuali siap malu! ;-)