Akhirnya, setelah perjuangan yg luar binasa,eh,biasa utk mengalahkan rasa malas, saya ngeblog lagi. :-)

Jadi, sekian lama saya mencari kerja di Jakarta, motor (aka Red Banzai) adalah teman setia saya, menemani dari ujung Jakarta yg satu ke ujung lainnya. Dan selama itu pula, saya berusaha menjadi seorang motoris yg baik. Tidak menerobos lampu merah, berhenti di belakang garis putih, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi sikap dan perbuatan saya ini ternyata tidak selalu menguntungkan. Dalam berbagai kesempatan, saat saya berhenti di belakang garis putih karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah, bunyi klakson bertubi-tubi terdengar di belakang saya. Seakan mereka ingin bilang,"Woy...majuuuu...depan elo masih kosong tuuh...!!"

Seringkali saya tidak pedulikan suara klakson itu hingga mereka mendapatkan jalan (entah bagaimana caranya,mgkn dg nggotong sepeda motornya) dan akhirnya berhenti di depan saya. Beberapa motoris yg melewati saya kadang melihat dg pandangan melecehkan. Well, saya bukan perempuan jadi tdk akan mengalami pms yg notabene sering bawa2 sensi utk hal kecil, tapi saya kok ya merasa bahwa saya sedang 'dimaki-maki' oleh motoris lain. "Ah, gaya loe...pake berhenti di belakang garis putih segala.." "Ah, kampret loe...maju dikit aja ga mau" dan (dugaan) makian2 lain yg belum tentu mereka berani lontarkan.

Saya acapkali jengkel dengan pak polisi yg membiarkan pelanggaran2 seperti ini terus berlangsung, meski di depan batang hidungnya.

Well, prinsip saya, jika pak polisi 'memerintahkan' kepada para motoris utk maju, barulah saya maju. Itu artinya memang saya diijinkan untuk 'melanggar', melewati garis putih. Tapi, jika tidak ada ijin, yaaa saya diam saja lah.

Belakangan saya baru tahu bahwa tindakan di atas disebut DISKRESI. Anda bisa baca aturannya di artikel ini, yang cukup lengkap dan jelas. Well, setidaknya menurut saya. :-)

Hanya saja diskresi ini membuat motoris kebablasan (seperti halnya orang2 Indonesia). Karena pernah diijinkan untuk melewati garis putih, maka di kesempatan lain mengulanginya...meski tidak ada polisi yg mengijinkan. *lempar helm*

Harus saya akui, motoris2 di Jakarta cukup banyak yg ga sayang nyawa (+ ga pake otak). Pelanggaran lain yg cukup sering terjadi adalah MELAWAN ARUS!! Jika melawan arusnya hanya pendek, katakan 10 meter, dikarenakan pemerintah 'salah desain' dalam menempatkan putaran motor, saya masih maklum. Contohnya kalo anda dari jalan di samping stasiun Kalibata hendak ke Kalibata City, maka anda 'terpaksa' mesti belok kiri dulu, lewat rel, lalu putar balik, lewat rel lagi, baru berjalan lurus untuk mencapai Kalibata City. Sementara itu, putaran balik dari arah Dinas Transmigrasi berada sekitar 10-20 meter di sebelah kanan.

Nah, seperti saya bilang, utk kasus spt ini saya KADANG suka maklum. Meski saya sendiri lebih suka muter agak jauh, daripada kejebak dan kena tilang pak polisi, hehehe.

Toh, menurut saya tidak ada pelanggaran motoris yg paling parah selain melewati jalan layang! Padahal sudah dipasang dengan jelas bahwa motor dilarang lewat jalan layang. Kenyataannya, tidak sedikit yg cuek bebek dan tetep lewat. Ujung2nya terjadi kecelakaan yg disebabkan karena ada motoris yg putar balik (sehingga melawan arah) dan akhirnya terjadi kecelakaan karena ditabrak kendaraan lain. Salah satu kasus yg menghebohkan bisa dibaca di sini.

Kasus lain, motoris suka menggunakan trotoar. Nah kalo kaya gini saya ingat teman saya, Budi, yg pernah berantem dg motoris yg (nekad) lewat trotoar. Saya juga pernah alami sedang asyik jalan di trotoar, tiba2 ada klakson dari belakang. Saya malah berhenti, ga kasih jalan. Untungnya si motoris itu ngerti dan ngeloyor masuk jalan lagi.

Well, bagaimanapun sulitnya kondisi di Jakarta sehingga sulit bagi seorang motoris untuk patuh aturan lalu lintas, saya tetap berusaha menjalaninya. Patuh untuk kebaikan diri sendiri ya tidak ada ruginya kan? :-)

Foto dan gambar dari sini dan sini.

Moral story:
- satu hal saja: PATUHI ATURAN LALU LINTAS DEMI KESELAMATAN ANDA SENDIRI!