Sekitar 8 tahun lalu, yakkk...betul, 8 tahun lalu, saya pernah menulis artikel ttg 'berbondong2nya' orang resign di bulan Maret-April. Eh, tak dinyana, 8 tahun kemudian saya melakukan dan mengalaminya. Sebelumnya saya resign di sekitar bulan Mei dan Oktober.

Terus terang, tidak ada pikiran untuk resign dari kantor sumur madu sekarang. Namun karena 'keisengan' saya melamar pekerjaan ternyata hasilnya cukup baik (baca: diterima), akibatnya saya mesti mau tidak mau untuk melepaskan pekerjaan di sini. Sedikit berbeda dengan pengalaman resign saya sebelumnya, yg cenderung dipersulit karena atasan saya tidak mengijinkan saya untuk resign. :p

Di kantor sumur madu ini, saya perhatikan 'life cycle' seorang staf bekerja di kisaran 3 tahun. Biasanya setelah (minimal) 3 tahun, para staf akan pindah ke perusahaan lain yang meski tiap orang punya alasan masing2, tapi saya melihatnya UUD (ujung2nya duit). Ya iya lah, jika bisa dapat duit lebih besar, yaaa saya yakin mayoritas dari kita akan tidak sungkan untuk hengkang. Padahal sebenarnya di balik gaji (lebih besar) besar yg kita terima di tempat baru, akan ada tuntutan yg juga lebih besar.

Bagaimanapun juga, pada dasarnya orang resign itu sebenarnya menunggu waktu saja. Cepat atau lambat, waktunya utk resign akan tiba, dengan cara apapun. Entah dg cara baik-baik ataupun dengan cara yg kurang berkenan.

Seorang teman resign dari kantornya gara2 bentrok dengan bosnya. Tidak butuh 3 tahun untuk dia keluar dari kantor itu dan mencari pekerjaan lain. Sementara ada juga yg resign dengan meriah, bahkan dihadiri oleh pejabat2 di kantor itu. Well, itu semua berpulang pada diri masing-masing, mau resign seperti apa? ;-)

Setelah keputusan resign saya ambil, seperti biasa saya segera membuat surat resign yg dikirimkan ke supervisor dan hrd. Saya kirim per 1 April ini, jadi jika saya berubah pikiran, saya bisa cabut kembali surat resign ini dan bilang...APRIL MOP! Hahahaha...tentu saja ini bercanda! Gilak apa urusan resign menjadi bahan becandaan? Etapi menarik juga yak jika dipraktikkan? Hihihihi.. ;-)

Surat perpisahan juga sudah saya buat, meski untuk surat perpisahan ini seringkali rancu. Apakah perlu dikirim pada hari terakhir dia? Atau saat dia sudah konfirm untuk resign? Saya sendiri mengirim surat perpisahan ini bukan di hari terakhir saya ngantor. Dalam artian, saya masih bantu2 supervisor saya untuk mengurus projectnya sekitar 1-2 minggu. Dalam rentang waktu tersebut saya bisa melakukan handover untuk project2 yg pernah saya pegang dan masih belum selesai (sepenuhnya). Syukurnya, saya tidak punya hutang project yg banyak. Ada 2 project yg masih harus diteruskan penerus saya. Jumlah ini relatif sedikit dan 'enaknya' project warisan ini ada yg sudah tinggal finishing saja. Toh tetap saja tidak bisa dianggap enteng. ;-)

Bagaimanapun juga, resign itu selalu membuat hati saya suka sedih. Tidak mudah berpisah dengan teman2, apalagi yg pernah 1 project, karena sedikit banyak emosi terlibat, entah canda tawa ataupun pertengkaran. Bagi saya, pertengkaran dalam project tidak perlu diambil pusing. Hal yg wajar saja, karena yg terlibat adalah manusia. Aneh rasanya jika project tidak ada debat atau riak. Bisa jadi project itu memang sedemikian mudah sehingga tidak ada masalah, atau yg bekerja tidak punya emosi. ;-D Pokoknya selama memang cuma ribut di urusan kerja, lumrah. Mulai menyebalkan jika emosi di pekerjaan lalu dibawa2 ke ranah personal. Bagi saya, hal seperti itu jelas tidak dewasa lah!

So, selamat untuk saya yang telah menempuh 'pendidikan' di sumur madu tepat waktu untuk ukuran S1. :-) Semoga saya bisa sukses juga di tempat baru. Aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- segala sesuatu ada waktunya. anda belum resign? yaa tinggal tunggu waktunya saja ;-)

- saat resign, tinggalkan kesan baik. itu jika bisa dan memungkinkan. jika tidak, yaaaa kabur saja meski ada resiko juga, anda ga bisa kembali ke kantor lama jika ternyata kantor baru tidak sesuai dengan harapan