Pagi ini saya mendapati banyak tweet yg menyinggung tentang hari buku sedunia. Semula saya tidak terlalu peduli, toh saya sudah punya 3 buku yg saya anggap paling penting: 1. Al Qur'an; 2. Buku nikah; 3. Buku tabungan, jadi selama ada 3 buku itu, saya tidak takut menghadapi hidup yg keras! *halah...lebay*

Meski saya rasa hari buku sedunia ini tidak ada faedahnya utk saya secara langsung, dalam artian saya tidak memperingatinya secara khusus, saya pikir tidak ada salahnya ngeblog ttg hal2 yg terkait dengan buku. Setidaknya bisa melepas uneg2 dan sharing pendapat.

Buku, bagi saya seorang muslim, sangat penting! Ingat, ayat pertama yg diterima Rasululloh SAW adalah terkait dengan IQRA (bacalah). Meski banyak interpretasi mengenai makna iqra, apakah membaca buku (media) ataukah membaca alam, kaitan membaca dengan buku adalah hal yg paling lumrah kita sepakati dan alami sejak kecil.

Saya yakin tidak banyak orang di jaman sekarang yg 'membaca' seperti halnya Nabi Ibrahim as yg membaca alam dalam upayanya menemukan Tuhan-nya. Membaca buku/media sudah menjadi kebutuhan, apalagi sekarang banyak media online dan media sosial yg menyajikan banyak informasi.

Buku, seyogyanya bukan hal yg patut ditakuti. Yang lebih ditakuti adalah muatan di dalamnya. Itu sebabnya di tahun 1933, Nazi pernah membakar buku2 yg menurut mereka tidak sesuai dengan ideologinya.

Dari banyak informasi yg masuk dan saya terima, terbentuk opini bahwa pembakaran buku biasanya dilakukan oleh orang2 keblinger, orang2 fanatik, dan orang2 fasis.

Saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan itu. Saya yakin ada orang2 yg takut (dan tanpa dasar) terhadap sebuah pemikiran (yg dituangkan ke dalam buku) dan mereka TIDAK PUNYA ILMU untuk melawan pemikiran itu sehingga mereka pikir dengan membakar buku maka akan musnah juga pemikirannya.

Kenyataannya tidak demikian. Pembakaran buku2, menurut saya, hanya akan membuat orang2 menjadi tertarik sehingga permintaan akan buku yg dibakar akan meningkat. Dan ini berarti PROFIT bagi penerbitan & percetakan, hehehe.

Jika di bagian atas saya sebut Jerman pernah melakukan pembakaran buku2, maka di Indonesia juga pernah terjadi hal yg serupa. Dalam aksi Indonesia Tanpa JIL (yg herannya kenapa disingkat ITJ?), sempat berlangsung pembakaran buku seperti terlihat di foto berikut.

Apakah saya membela JIL? Oh, tidak...saya hanya menyajikan bahwa tindakan pembakaran buku bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja (lah kok mirip jargon minuman bersoda?).  Tindakan pembakaran buku juga pernah dilakukan oleh Gramedia.

Pembakaran buku, dalam hal ini kitab suci Al Qur'an, juga seringkali diberitakan dilakukan oleh para penjaga penjara Guantanamo. So, tidak perlu khawatir bahwa saya (dan blog ini) menyebarkan paham liberal. Ga worth kok ituh, buat saya! :-))

Peristiwa pembakaran buku yg 'terkenal' juga bisa dibaca di sini. Sementara pembakaran buku di Indonesia juga pernah dilakukan terkait dg G30S.

Gambar dari sini dan sini.

Moral story:
- jadilah orang berilmu, salah satunya dengan membaca (banyak) buku.

- setelah punya ilmu, maka sebarkan dan jadikan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

- membakar buku dg alasan takut terhadap pemikiran tertentu merupakan tindakan yg tidak bisa diterima dg akal. buku bisa musnah, namun pemikiran tidak akan hilang karena hal itu

- koleksi buku paling hebat itu yg sudah mengoleksi beberapa buku nikah :-))