Semalam saya 'berantem' di grup alumni. Penyebabnya adalah sebuah broadcast informasi (BI) mengenai layanan pengobatan seperti yg terlihat di bawah ini:

Bantu share...
Dalam rangka ulangtahun ke 25 RS Mitra Keluarga Group, RS Mitra Keluarga Cibubur mengadakan serangkaian bakti sosial berupa :
1. Pengobatan massal
2. Sunatan massal
3. Operasi katarak
4. Operasi hernia
5. Operasi bibir sumbing
6. Operasi jantung bawaan
7. Operasi hidrosefalus
8. Operasi prostat
9. Kateterisasi jantung
Pendaftaran di RS Mitra Keluarga Cibubur (021) 8431 1771 / 1777 atau Dept. Marketing RS MK Cibubur +6281290503828
Salam Sehat?
Bantu share guys....x ada ya?? membutuhkan,,,ini gratis...tis...tis....tisss

#jangan pelit broadcast, anda mungkin tidak butuh, tapi di luaran sana banyak yang membutuhkan (y)

'Keributan' dimulai ketika ada yg bertanya mengenai jadwal pelaksanaan dan dijawab oleh si penyebar BI agar ngontak no yg tertera. Penasaran dg dialog ini,saya mencek isi BI dan memang tidak ada info yg jelas mengenai waktu pelaksanaan acara tersebut. Dan saya juga merasa 'dejavu' dg BI ini, rasa2nya sudah sering beredar dan pernah ada kasus mengenai hal ini. Saya sampaikan bahwa info sejenis seperti ini sudah pernah beredar dan ternyata palsu.

Seorang teman 'berbaik hati' googling mengenai informasi di atas. Hasilnya dia bilang bahwa info sejenis sudah beredar sejak 2013. Dan memang seperti yg saya sampaikan, informasinya tidak jelas, dalam artian 2 Rumah Sakit di atas TIDAK PERNAH menggelar acara yg disebut di atas!!

Dan mulailah keributan terjadi ketika saya berkata bahwa di jaman sekarang, orang2 begitu mudah berbagi informasi melalui jaringan media sosial. Saking mudahnya berbagi, orang2 cenderung enggan melakukan cek dan ricek dahulu terhadap info yg dia terima dan hendak dia sharing. Jika ditanya validitasnya, seperti yg saya lakukan, mereka bilang "cek saja ke no-nya". Lho, gimana ini? Kok jadi saya yg disuruh mencek validitasnya?

Debat berkembang ketika ada yg menganalogikan informasi pengobatan di atas dengan informasi penculikan (mengenai hilangnya 2 anak, yg akhirnya ditemukan). Saya jelaskan bahwa ada perbedaan yg signifikan. Info pengobatan, apalagi gratis, jelas akan menarik perhatian banyak orang yg sakit untuk datang. Dan ketika mereka dapati info-nya palsu (datang tanpa melakukan ricek), apakah sudah dihitung energi, waktu, dan uang yg terbuang? Lalu siapa yg mau mengganti kerugian2 tersebut?

Dalam kasus info penculikan, apalagi kasus info penculikan, orang2 yg mendapat informasinya akan membantu mencek di lingkungan sekitarnya untuk mencocokkan ciri2 anak2 yg hilang dengan anak2 yg ada di sekitarnya. Apakah ada energi, waktu, dan uang yg terbuang? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi apakah ada orang yg akan minta ganti rugi? Saya yakin tidak, karena saya yakin orang2 tsb melakukan 'pencarian' sebagai kegiatan sampingan, belum tentu sepenuhnya fokus.

Jadi intinya sih mesti melakukan validitas terhadap sebuah informasi sebelum melakukan sharing informasi! :-)

Foto dari sini.

Moral story:

- di jaman yg dimudahkan dengan media sosial, orang2 cenderung terlalu mudah berbagi informasi tanpa cek validitas

- jika di berita hoax sebelumnya digunakan "sebarkan kepada orang2 jika anda tidak ingin celaka" atau sejenisnya, maka kali ini digunakan kalimat "#jangan pelit broadcast, anda mungkin tidak butuh, tapi di luaran sana banyak yang membutuhkan (y)" yg intinya kalo kita tidak broadcast maka kita dianggap pelit. akibatnya orang cenderung sharing tanpa cek validitas! *tepok jidat*

- semoga para pengguna media sosial bisa lebih pinter lagi!