Tahun 2014 merupakan tahun politik. Dan itu artinya kita akan menyongsong lagi 'pesta' demokrasi, ,berupa pemilihan anggota legislatif dan kepala negara. Acara 'rutin' 5 tahunan yang, menurut saya, hingga kini tidak banyak mengangkat derajat kehidupan (terutama ekonomi, utk mayoritas) masyarakat Indonesia.

Sejak beberapa tahun terakhir, katakan 1-2 tahun terakhir, media sosial meningkat tajam penggunaannya. Banyak pihak bisa memperoleh keuntungan dari keberadaan media sosial ini. Salah satunya adalah para buzzer.

Dan menjelang pemilihan kepala negara ini, para buzzer banyak yg direkrut oleh para bakal capres-cawapres untuk menyuarakan 'program kerja', visi dan misi mereka. Kalo saya boleh bilang sih, para buzzer dibayar utk memuji-muji (jika tidak ingin dikatakan menjilat, uhuk) orang2 yg membayar mereka. ;-)

Buzzer yg menjadi corong biasanya atau identik dg selebtwit, yakni tweeps yg mempunyai follower cukup banyak (katakan, minimal 5000 followers).

Yang mengherankan saya, para buzzer ini kok tidak menyediakan gadget khusus utk nge-buzz orang yg membayar mereka karena dari beberapa pengalaman, orang2 yg mempunyai akun lebih dari 1 (dalam artian menjadi admin utk akun twitter lain) seringkali 'salah login' saat merespon tweet yg masuk.

Dan ini yg terjadi!
Jika anda cek foto/gambar di atas, nampak bahwa @monstreza salah akun! Dia yg bertugas menjadi admin bakal capres dari partai demokrat malah menjawab pertanyaan di 2 akun twitternya!

Kesimpulan: jadi buzzer bakal capres itu kayanya duitnya kecil, sampe2 ga bisa beli gadget yg digunakan khusus utk nge-buzz! ;-D

Kesimpulan:

- jadi buzzer bakal capres itu tidak ubahnya penjilat! IMO sih!

- kalo jadi buzzer, mbok minta dimodalin gadget baru biar ga terjadi hal2 seperti ini! ;-D MEMALUKAN!