2/27/2013

Saya mengenal game ini ketika masih kuliah. Dan sempat kecanduan berat saking mengasyikkannya game ini, yaa...menurut saya lah. :-)

Sebenarnya game Age of Empires (AoE) ini bukanlah game pertama yg mengangkat model 'perubahan' (level up) jaman. Ada beberapa game lain, sayangnya saya sudah lupa dan sedang malas googling utk riset mengenai ini. Tapi dari game2 yg ada, saya tetep kecantol dg AoE ini.

Game ini objective-nya mudah. Anda memulai permainan dg modal minimal, lalu mesti meningkatkan resource yg ada di sekitar untuk memajukan peradaban anda termasuk mendirikan angkatan perang, menyerang musuh anda hingga akhirnya anda mencapai kemenangan.

Dulu, saking kecanduannya dengan game ini, saya pernah 2 hari berturut-turut main game ini nyaris tanpa henti. Digelar di lab dan pada saat Ramadhan, kami menyatakan 'perang' dengan teman2 dari jurusan lain. Peperangan pertama digelar jam 8 pagi nonstop hingga break Dhuhur. Istirahat sebentar, sesi berikutnya dimulai lagi hingga Ashar tiba. Magrib hingga selesai tarawih, diadakan gencatan senjata. Selesai tarawih, dilanjutkanlah peperangan hingga sahur tiba. :-))

Well, main game tanpa henti seperti ini menurut saya sudah termasuk level kecanduan. Makanya saya benar2 ga habis pikir dg berita orang2 yg meninggal usai main game (online) sekian lama. Yaa..mungkin level kecanduan saya dianggap cemen oleh orang2 yg seperti itu. Ga papa, yg penting saya masih hidup dan situ sudah mati, hehehe...

Saya teringat dengan kejadian lucu mengenai game AoE ini. Satu waktu saya dan teman, sebut saja Jeje, terlibat obrolan yg seru, cenderung ngomel2 dengan teman yg lain, sebut saja Agus. Padahal yg diobrolin juga ga penting2 amat.

Nah, si Agus ini tersinggung, lalu nantang saya dan Jeje lebih kurang seperti begini,"sudah...kita selesaikan saja di game AoE. gw pengen hajar kalian semua!"

Saya dan Jeje layani tantangan si Agus....dan kalah dengan sukses, hahaha..

Dan belakangan ini, sudah sekitar seminggu lebih, teman2 engineer menggelar peperangan AoE lagi, membuat saya jadi sedikit2 sentimentil gitu deh, hahaha...

Anda pernah suka (kecanduan) game apa?

Moral story:
- bagi saya, game AoE tetap merupakan game multiplayer paling mengasyikkan yg pernah saya mainkan

- saya bersyukur tidak pernah kecanduan gila2an banget main game semenjak kuliah, selain game AoE ini dan Kurusetra (yg dipelesetkan menjadi Kurusetan)

Posted on Wednesday, February 27, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

2/24/2013

Hari ini telah digelar pemilihan Gubernur Jawa Barat. Diikuti oleh 5 pasang peserta. Sejak awal, saya melihat hanya 3 pasangan yg akan bertarung dengan seru, yakni Dede-Lex (no 3), Aher-Demiz (no 4), dan Rieke-Teten (no 5).

2 pasangan lain, maaf saja, tidak masuk hitungan saya. Pasangan Didik-Cecep (no 1) sebagai pasangan independen, sekali lagi maaf saja, siapa yg pernah mendengar nama kalian? Pasangan Yance-Tatang (no 2) saya sudah yakin mereka hanya buang2 duit, tenaga, dan waktu. Siapa yg masih mau pilih orang Golkar? Apalagi ketum-nya masih direcoki masalah lumpur yg tak kunjung usai menjelang 7 tahun bencana berawal.

Beberapa hari lalu saya sempat berkicau yg (menurut saya) lucu utk 3 pasangan cagub yg bertarung. Kicau2 tersebut adalah:







Jika anda memperhatikan dengan seksama latar belakang para cagub ini, maka saya yakin anda akan mengerti kelucuan2 yg saya maksud.

Ok, saya jelaskan bagi yg tidak mengerti. Rieke dikenal sbg bintang iklan minuman berenergi. Dede Yusuf bintang iklan obat sakit kepala. Dedi Mizwar membintangi banyak iklan. Dimulai dari sosis (itu sebabnya saya 'hubungkan' dg sapi, hal yg mengguncang PKS), lalu obat sakit lambung, kemudian pasta gigi. Belum lagi membuat film Para Pencari Tuhan.

Dan hasil dari hitung cepat hari ini (hingga artikel ini dibuat) menempatkan posisi Aher-Demiz di urutan pertama dan kemungkinan besar masih tetap bertengger di puncak. Dengan demikian, Aher akan kembali menjabat sebagai Gub Jabar 2013-2018.

Keberuntungan, menurut saya, didapat oleh Deddy Mizwar. Sekalinya dicalonkan jadi cawagub, eh, menjabat. Pertanyaannya, ini nikmat atau musibah? ;-)

Sebagaimana kicauan di awal artikel ini, saya sebenarnya tidak terlalu heran dg kemenangan Aher. Masyarakat Jabar masih cenderung konservatif, mengedepankan nilai agama dibandingkan nilai2 lainnya. Meski PKS mengalami masalah dg mantan presidennya, tapi toh 'label' Islam yg melekat di partai ini masih menguntungkan mereka. ;-)

Jadi, berbeda dg pilgub DKI lalu, yg memang cenderung hingar bingar dan seru, saya tidak terlalu berminat membahas pilgub Jabar, toh (dari sisi saya) sudah ketahuan pemenangnya kok! ;-) Apalagi, kata orang2, sejak pagi hari banyak iklan sosis dan obat sakit lambung muncul di tivi, hehe.

So, siapa yg anda pilih hari ini?

Moral story:
- masyarakat Jabar masih enggan dipimpin oleh perempuan, menurut saya ini karena mereka masih menganggap perempuan haram menjadi pemimpin.

- tapi teori di atas mungkin bisa dipatahkan karena pada saat Megawati jadi presiden, masyarakat Jabar adem ayem saja tuh ;-D

- ga usah bangga jika menang karena faktor artis lebih dominan *eh* :p

Posted on Sunday, February 24, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

2/23/2013


Saya berkicau hal di atas usai membaca postingan Vicky di sini. Padahal kicauan tersebut sudah sedemikian lama ada, tapi kok yaaa baru keingetan utk dikicaukan? :p Postingan itu mengingatkan saya dengan kejadian beberapa waktu lalu yg membuat saya memutuskan mempunyai dan memegang erat prinsip di atas.

Saat kuliah saya punya teman, sebut saja Eko. Saya dan dia sama2 menyukai olahraga di Sabuga. Lalu saya dikenalkan dengan teman SMA-nya, sebut saja Dudung, yang juga sama2 suka olahraga di Sabuga. Pertemanan kami bertiga, menurut saya, cukup baik dan terjalin dengan akrab.

Hingga pada akhirnya saya merasa bahwa perasaan akrab itu ternyata hanya datang dari sisi saya, ketika Dudung menikah dia ternyata tidak mengundang saya. Bahkan saya tahu dari Eko.

Semula saya pikir, Dudung hanya lupa mengundang saya. Itu sebabnya saya 'memaksakan' diri untuk datang ke pernikahannya. Dan pada saat bertemu dan bersalaman, saat itu saya tahu bahwa (seperti Vicky bilang) "I'm not just into him", bahwa saya bukanlah teman menurut Dudung. Sayapun tidak lantas memaksakan diri untuk berlama-lama di resepsi Dudung. Saya segera pulang.

Waktu berlalu dan dalam 1-2 tahun belakangan ini, saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya menikah. Well, sekali lagi, ini teman menurut saya, jadi subyektif. Dan ternyata mereka tidak mengundang saya untuk hadir di resepsinya.

Keberatankah saya? Sedihkah saya? Marahkah saya?

To be honest, perasaan sedih yg lebih mendominasi saya ketika saya tahu bahwa saya tidak diundang, bahkan tidak melalui 'sekedar' sms. Yang saya lakukan kemudian adalah MENJAGA JARAK. Yap, menjaga jarak, bahkan untuk sekedar basa basi kepada mereka, saya merasa hal itu bukan hal yg penting.

"Loe ga anggap gue, kenapa gue mesti anggap loe sebagai sesuatu yg penting?"

Kasarkah saya? Bisa jadi, tapi saya tidak pernah merasa bersalah. Yaaa..anda bayangkan sendiri apabila di 1 lantai ada 20 orang dan ternyata hanya anda yg tidak menerima undangan (seperti yg saya bilang bahkan via sms sekalipun) itu kan kebangetan!? ;-) *isshh..jadi curcol,hahaha*

Sementara itu, saya akan rela bersusah payah untuk mendatangi resepsi pernikahan yg lokasinya di ujung dunia sekalipun, jika ybs mengundang.

Anda mungkin tidak pernah bayangkan, saya pernah mendatangi resepsi seseorang yg saya kenal hanya melalui twitter. Wajahnya saja saya ga tau persis, karena avatarnya yg juga ga jelas, ahhaha. Dan ternyata utk mencapai tkp resepsinya, saya, Wify, dan mbak Mika mesti menempuh perjalanan lebih dari 2 jam, karena nyasar dan ga tau persis lokasinya.

Namun ketika bersalaman dan saya memberitahukan siapa saya, respon baliknya sungguh menyenangkan. (dalam pengamatan saya, tentu saja subyektif) Dia begitu menghargai upaya saya utk bisa datang ke resepsinya.

Bahkan saya punya pengalaman yg lebih 'edan' lagi. Saya pernah pergi ke Solo dan Blitar utk mendatangi resepsi 2 teman baik saya. Eh, kalo ini mah wajar yak? Heheh.. Dan saya juga pernah bertualang ke 'negara' Yogya utk menghadiri pernikahan pakde beken dan bude ini. :-D

Yang saya sedihkan, saya ternyata tidak bisa menghadiri pernikahan Eddy Fahmi dan Vicky. Meski sempat ketemu dg Eddy Fahmi di malam terakhir dia menjadi single, saya kok yaaa merasa feeling guilty banget ga bisa hadir di resepsi mereka. Penyebabnya resepsi mereka bersamaan dg resepsi adik saya, jadi yaa saya hanya bisa mengucapkan selamat saja. ;-(

So, apa definisi kawan menurut anda? ;-)

Moral story:
- tidak diundang bukan berarti anda diinginkan *eh*

- menjaga jarak dg seseorang boleh kok, asal tidak memutus tali silaturahim ;-)

- dan minggu ini pun saya tidak mendapat undangan utk menghadiri resepsi seseorang, padahal ... ah, sudahlah, ndak baik kebanyakan curcol di blog, bwaaahhaha.. :-D

Posted on Saturday, February 23, 2013 by M Fahmi Aulia

3 comments

2/14/2013


Bulan Januari 2013 lalu, saya menerima email dari Merry, salah satu teman lama saya. Dia mengundang saya untuk menghadiri acara "Healing for Blogger" di awal bulan Peb 2013.

Sejenak saya mengeryitkan dahi. Healing? Apaan itu? Memangnya saya ada setannya sampai mesti di-healing segala? Lalu, saya buka link yg disertakan Merry di emailnya, di www.emohealindo.com. Di sana terdapat pertanyaan saya tadi. Oo...ternyata healing itu bukan semodel exorcist, tapi lebih kepada sebuah sesi/kegiatan yg bertujuan untuk mengenali diri lebih baik dan meningkatkan kemampuan, kapasitas, dan potensi diri.

So, saya pikir,"Why not?"

Akhirnya tgl 9 Peb 2013 kemarin saya hadir di TKP, bertemu dg Merry dan Arli (suaminya) serta Libby (anaknya) *halah, kok malah ngabsen*. Sempat berkenalan dengan beberapa rekan baru, antara lain Suzi dan Bobby Piliang serta mas Iqbal. Rekan2 baru yg lain, maaf, saya lupa namanya. ;-(

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya datang juga orang yg ditunggu-tunggu, teh Irma dan mas Gun.

Mas Gun melakukan presentasi mengenai healing dan kaitannya dengan blogger (meski tidak berhubugan 100% sih). Beberapa foto kegiatan ada di sini.

Usai mas Gun presentasi, acara dilanjutkan dengan proses healing yg dilakukan langsung oleh teh Irma. Di awal acara, teh Irma memberikan pilihan antara "Money Healing" atau "Love Healing". Saya, tanpa pikir panjang, memilh MH. Saat teh Irma bilang,"Ih,kamu matre!", saya jawab,"Saya realistis, butuh duit." hahahaha.. :-))

Oya, ada beberapa kesaksian dari peserta IHGT sebelumnya. Semuanya mengakui bahwa mengikuti sesi coaching-nya teh Irma membawa banyak perubahan dalam hidup mereka, terutama dalam cara pandang dan kepercayaan diri. Sementara itu, teh Irma sendiri berulangkali menegaskan bahwa dirinya hanyalah mediasi dan mentor.

Uniknya teh Irma ini, dia juga berulangkali menegaskan bahwa dirinya (dan timnya) TIDAK MENJAMIN KEBERHASILAN peserta. Keberhasilan adalah hasil jerih payah para peserta. Bagi saya, ini hal menarik. Rasa2nya baru sekarang saya menemukan seorang coach yg tidak menjamin pesertanya akan berhasil. Teh Irma justru menegaskan bahwa pihaknya justru akan 'menceburkan' para peserta ke jurang paling dalam hingga akhirnya peserta itu akan bangkit dan berhasil mencapai apa yg diinginkannya.

Jadi, ya memang benar, bukan teh Irma (dan timnya) yg menjadi jaminan sukses si peserta, melainkan peserta itu sendiri.

Akhirnya sesi healing dimulai!

Dan terus terang, dalam diri saya ada perasaan percaya/tidak percaya dengan sesi healing ini. Penyebabnya, yaaa karena meski namanya "Money Healing", tapi apa yg dilakukan para peserta selama healing bisa dikatakan tidak nyambung! Tapi toh, pada akhirnya saya harus yakin bahwa keberhasilan bukanlah didasarkan dari metode/cara melainkan keyakinan. Itu yg penting! :-)


So, usai baca Bismillah, saya ikuti setiap instruksi yg diberikan teh Irma dan di ujung sesi, alhamdulillah saya merasa beberapa hal yg sempat menjadi uneg2 saya bisa 'lepas'. Well, subjective memang, tapi menurut saya ini hal yg wajar kok. Tiap orang punya cara dan metode yg berbeda utk meraih sesuatu. Dari sisi saya, saya yakin bahwa dalam perjalanan saya menuju kesuksesan, saya mesti bertemu teh Irma dan mengikuti sesi healingnya. :-)

Bagi anda yg penasaran dan ingin tahu lebih lanjut, bisa berkunjung ke situs www.emohealindo.com atau http://irmarahayu.com/ atau ke facebooknya di http://www.facebook.com/irmarahayusoulhealer

Moral story:
- tiap orang punya masalah, tapi tingkatan masalah dan cara menghadapinya akan sangat berperan penting dalam menyelesaikannya

- orang suka menganggap remeh gratisan dan baru menyadari ketika mereka mesti membayar cukup mahal

- berikut ini chirpstory pengalaman saya mengikuti Healing for Blogger ini.

Posted on Thursday, February 14, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

2/03/2013

Beberapa waktu lalu, saya, Wify dan mbak Mika mendatangi sebuah toko kue keju di sekitar Tebet. Tujuannya, ya jelas, beli kue donk, masa mau beli baso. Penyebabnya, mbak Mika sempat sakit sejak hari Kamis minta cake. Kadang nyebut cup cake, kadang nyebut cheese cake kalo ditanya.

Yowis, karena keinginannya ndak aneh dan sulit, kami kabulkan. Maka, kami bertiga berburu cake, sebagaimana saya ceritakan di atas.

Toko kue ini sebenarnya tidak asing bagi kami. Setidaknya sudah 3 kali kami membeli kue di sini, termasuk kue untuk ulang tahun mbak Mika kemarin. Dan so far, selama ini pelayanannya baik dan memuaskan, hingga kami alami kejadian ini.

Ketika kami masuk, ada 1 staf perempuan yg sdg melayani seorang perempuan memilih dan membeli kue. Usai melayani, Wify mendekati staf tersebut, namun dijawab "nanti" oleh si staf seraya pergi meninggalkan Wify. Maka Wify pun memilih2 kue yg hendak dibeli sambil menunggu kedatangan staf itu lagi.

Namun, saat si staf itu kembali ke depan, bukannya melayani Wify yg sudah hendak menyerahkan kue yg hendak dibeli, si staf malah melayani pembeli lain (katakan X). Dan usai melayani X, malah melayani pembeli Y.

Keruan saja Wify langsung meradang. Tanpa ba bi bu, Wify meletakkan semua kue yg sudah dikumpulkan dan mengajak saya dan mbak Mika keluar dari toko kue keju itu.

Saat saya diceritakan penyebab kami mesti buru2 keluar, saya pun sempat dongkol juga, hingga terlontar kicauan di atas. Sempat terpikir juga untuk langsung ngomel di TKP, namun untung saya tidak melakukannya. Rugi kredibilitas jika saya mesti ngomel2 gara2 urusan sepele seperti ini.

CUKUP DIBLOK DAN TIDAK PERLU DIKUNJUNGI LAGI SAJA!

Saya sering tidak mengerti dg staf2 yg belagu seperti itu. Apa karena penampilan kami biasa2 saja sehingga kami tidak dilayani? Padahal jika saya lihat kue yg dibeli pembeli2 sebelumnya, saya yakin jumlah kue yg kami beli lebih mahal dan lebih banyak!

Inti dari cerita saya di atas, saya tidak akan membeli barang karena 'dihina' (atau dilecehkan). Sama halnya dg cerita yg pernah saya alami.

Satu waktu, saya hendak membeli helm, selain karena helm yg lama sudah menyedihkan kondisinya, saya juga mulai memikirkan keselamatan (terutama kepala). Maka saya berencana membeli helm yg lebih mumpuni.

Saat sedang berada di sebuah toko helm di pinggir jalan, saya melihat sebuah helm yg menarik. Maka saya bertanya pada penjualnya,"Pak, helm yg warna merah itu berapa?"

Alih-alih menjawab pertanyaan saya,si penjual dg kurang ajarnya menjawab,"Itu helmnya mahal pak!"

Wah, saya langsung emosi mendengar jawaban seperti itu. Untung saya masih bisa menahan diri meski agak susah payah karena saya yakin saya masih sanggup beli 100 helm seperti itu! Saat saya diam, si penjual meneruskan omongannya,"Rp 600 ribu pak!"

Saya diam saja mendengar jawaban itu dan memilih pergi. Di kemudian hari, saya membeli helm yg model dan kualitasnya lebih bagus dari helm yg saya lihat di penjual itu dg harga Rp 450 rb saja! :-))

So, jangan pernah emosi saat dihina, apalagi hingga kalap membeli barang karena merasa harga diri kita dilecehkan. Biarkan saja orang menghina dan menganggap kita tidak sanggup membeli barang itu. Pengalaman saya, justru saya bisa dapat barang yg lebih baik dg harga lebih murah.

Kalo terbawa emosi dg membeli helm tersebut, maka jelas saya berada di pihak yg 'kalah'. Sudah mah dihina, eh, barangnya lebih mahal pulak! :-D Kalah 2-0 tuh!

Satu lagi cerita yg sejenis.

Bapak saya pernah hendak membeli buku di toko di Palasari. Ternyata beliau diperlakukan hal yg sama dg penjual bukunya, dianggap penjualnya Bapak saya tdk punya duit utk beli buku tsb. Iseng2 saya membawa daftar buku yg dicari Bapak saya dan menanyakan ke toko buku langganan saya di Palasari.

Kejutan terjadi ketika ternyata toko buku langganan saya yg memperlakukan Bapak saya dg kurang sopan! Sejak saat itu toko buku "bla bla bla Agung" saya coret dari daftar toko buku langganan. :-D Dan ternyata masih banyak toko buku lain di Palasari yg menjual buku lebih murah dg layanan lebih baik.

Moral story:
- saya memutuskan TIDAK AKAN pernah beli kue lagi di toko kue keju di Tebet karena layanan staf-nya yg tidak profesional!

- jgn suka emosi saat berbelanja. bisa2 kita menjadi sasaran empuk penjualnya, entah dg trik apapun ituh!

- adalah fatal dg menilai pembeli dari tampilannya! saya yakin para staf dan tukang buku itu belum pernah bertemu dg petani yg berpakaian acak2an namun membawa karung berisi duit! :-D

Posted on Sunday, February 03, 2013 by M Fahmi Aulia

1 comment