1/24/2013

Membaca artikel kompasiana Chappy Hakim di atas, saya agak2 shock juga terutama karena Kania Sutisnawinata dan Gadiza Fauzi termasuk yg hengkang dari Metro TV. Itu berarti saya tidak bisa melihat lagi penampilan mereka menyampaikan berita, entah melalui reportasi, membacakan berita, ataupun melakukan wawancara.

Berikut salah satu penampilan Kania Sutisnawinata yg sempat mengundang senyum karena salah menyebut studio Metro TV menjadi studio Metro Mini, hahaha. Gpp kok mbak Kania, ketutup ama cantiknya, hihihi.. ;-)

Kania termasuk Mother I Love For, karena wajahnya yg cantik dan keibuan. Saya lupa baca komentar ini di mana. Lah kalo melihat foto berikut ini, memang cantik dan keibuan kok! :-)

Sementara untuk Gadiza Fauzi, kenangan dia menjadi reporter bisa dilihat di bawah ini.

Anyway, goodluck utk ke-empat reporter (andalan) Metro TV ini. Semoga meraih sukses di tempat baru! :-)

Moral story:
- adalah hal yg wajar utk pindah2 tempat kerja, terutama utk mencari peruntungan yg lebih baik. yg penting keluarnya baik-baik, sehingga jika kangen bisa kembali bekerja ;-)

- saya pernah menulis artikel serupa, di tahun 2007.

- direply oleh Kania euy, hihihi.. *norak*

Posted on Thursday, January 24, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

Beberapa waktu lalu, saya, Wify, dan mbakMika ber-wiskul seraya menikmati suasana Jakarta yg lengang karena sedang libur. Target wiskul adalah sebuah tempat makan yg menyediakan steak sebagai menu.

Alasan kami pergi ke sana, selain Wify sdg ingin makan steak, karena saya lihat para pemiliknya adalah orang2 beken. Konon tempat ini baru buka, jadi wajar dong jika kami punya ekspektasi berlebihan? ;-)

Melihat foto yg ditampilkan di bagian depan tempat steak ini, saya pikir rasanya bisa diadu dg steak sapi suci yg juga sering kami kunjungi (terutama saat ulang tahun, karena free utk yg ultah, hihihi). Fitur yg ditampilkan tempat steak ini juga tergolong berbeda dg tempat steak lainnya, yakni ada colokan (utk nge-charge gadget, namanya juga generasi gadget) dan free wifi.

Namun, kekecewaan pertama sudah kami alami ketika dari 6 menu yg tertulis hanya 2 menu yg bisa dipesan. Belum lagi pemisahan (harga) untuk kentang dan sayurannya. Kenapa mesti dipisah? Masa melayani tidak sepenuh hati? *setidaknya itu menurut saya*

Kekecewaan kedua, ternyata free wifinya tidak bisa dinikmati. Saya berulangkali mencoba connect, tapi gagal. Ya sudah, saya gunakan paket data saja.

Penambahan kekecewaan terjadi saat jus alpukat yg saya pesan, jauh dari harapan. Selain ukuran gelasnya kecil, tampilan jus alpukatnya sangat pucat. Saya sampai bertanya-tanya, apakah benar ini jus alpukat? Saya sampai menduga alpukat yg digunakan adalah alpukat mentah. ;-(

Kekecewaan mencapai puncaknya saat steak pesanan disajikan. Dagingnya bau! Bau di sini bukan bau daging seperti biasa, tapi bau daging yg kondisinya sudah tidak segar. Hal ini diperkuat saat Wify memberi mbak Mika sekerat daging untuk dimakan, tapi ditolak mbak Mika.

Aneh sekali jika mbak Mika sampai menolak makan daging, karena itu termasuk salah satu makanan kesukaannya.

Ketika saya coba kerat pertama, saya pikir bau daging itu hanya ilusi Wify. Namun masuk suap kedua yg saya masukkan ke dalam mulut, mendadak saya merasa ada yg salah dg daging steak ini. So, saya segera muntahkan dan simpan (+ bungkus) dalam tissue. :-&

Akhirnya saya segera minta bon kepada staf dan usai membayar saya segera pergi.

KAPOK saya mengunjungi lagi tempat makan steak itu! Dan saya heran dg komentar orang2 yg bilang menunya enak, rekomen, bla 3x. Nampaknya ada yg salah dg lidah mereka, gihihihi.. ;-)

Moral story:
- berbeda dg steak sapi suci yg dimiliki oleh koki (sehingga tahu benar seluk beluk memasak dan cita rasa masakan), tempat steak ini dimiliki oleh orang2 beken yg (maaf) bermodal nama beken mereka saja

- anehnya, jika memang nama beken mereka jadi 'taruhan' kenapa mereka menyajikan makanan SAMPAH seperti itu? bahkan anak berumur 2,5 tahun saja tidak mau utk makan. entah jika steak mereka saya berikan ke kucing, apakah kucing itu mau makan? ;-) apakah mereka tidak takut nama mereka jatuh karena makanan sampah ini?

- saya dan Wify sempat tebak2an, berapa lama tempat steak ini buka. saya bilang ga sampai pertengahan tahun ini dia akan bubar, jika cara dan menu yg disajikan masih seperti sampah. mari kita lihat.

Posted on Thursday, January 24, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

1/20/2013

Minggu pagi ini saya merasa terhibur dengan wawancara Menpora baru dengan Koran Tempo.

Silakan klik di sini untuk artikel wawancaranya (format pdf).

Moral story: - Indonesia adalah negara AJAIB! :-))

Posted on Sunday, January 20, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments

1/14/2013


Tadi siang mendadak saya merasa dada saya sesak dan penuh dg rasa marah, kesal, sedih, yg semuanya bercampur menjadi satu. Hal ini dikarenakan saya membaca berita yg saya cantumkan di kicauan saya itu.

Dimulai dg headline:
Seleksi Hakim Agung
Calon Hakim Agung Daming: Yang Diperkosa & Pemerkosa Sama-sama Menikmati

Dan ketika saya membaca lebih rinci isi artikelnya, saat itu pula saya merasa begitu emosi. Meski demikian, alhamdulillah saya masih mampu utk berkicau yg 'sopan', dg mendoakan semoga tidak ada keluarga Daming yg menjadi korban perkosaan.

Suatu hal yg tidak patut utk dilakukan, lebih-lebih dari orang yg hendak menjadi hakim agung. Bagaimana mungkin hakim agung melontarkan kata2 yg tidak etis, yg menurut saya tidak punya hati nurani atau bahkan untuk berempati terhadap korban perkosaan sehingga berani mengatakan orang yg diperkosa ikut menikmati!

Barangkali Daming punya fantasi s*eksual yg aneh sehingga dia membuat pernyataan seperti itu. Toh jika memang anda punya fantasi s*eksual yg sedemikian absurd, tidak patut anda lontarkan apalagi di tengah acara fit dan proper test.

Dan yg membuat saya juga tidak habis pikir adalah tanggapan para anggota Komisi III DPR yg TERTAWA menanggapi pernyataan Daming.

ANDA SEMUA BIADAB & SAKIT JIWA!

Saya masih ingat, kasus Olga yg menjadikan lelucon korban perkosaan. Dan dampaknya, Olga dikecam berbagai pihak, termasuk korban perkosaan. Bahkan Olga sempat dipanggil dan ditegur KPI, meski entah kenapa terkesan tidak ada tindak lanjut. Mestinya Olga diban dari semua stasiun televisi!

Nah, jika Olga saja yg 'cuma' artis mendapat kecaman dan teguran dari pihak-pihak yg berwenang, kenapa Daming tidak mendapat perlakuan yg sama?

Bahkan mestinya Daming dan seluruh anggota Komisi III yg hadir dan tertawa, semuanya pantas dijatuhi hukum sosial. Entah dipecat oleh partai politiknya, ataupun hal lain yg intinya mengingatkan mereka (jika mereka masih punya hati nurani dan akal sehat) terhadap tindakan yg mereka lakukan!

Tidak terbayangkan jika Daming terpilih menjadi hakim agung dan lalu menangani kasus perkosaan. Mungkin dia akan serta merta membebaskan pelaku perkosaan karena dalam benaknya, seperti pernyataannya, si korban perkosaan ikut menikmati. Entah jika keluarga dia yg menjadi korban perkosaan. Istri, anak perempuan, ibunya atau saudara perempuan. Ya mudah2an dia konsisten utk membebaskan pelaku perkosaan karena dia berkeyakinan istri/anak perempuan/ibu/saudara perempuannya ikut menikmati tindakan perkosaan yg menimpa diri mereka.

Naudzubillah...dan jika sampai Daming menjadi hakim agung, semoga azab akan turun pada Daming dan orang2 yg memilihnya.

Moral story:
- menjadi public figure hendaknya lebih berhati-hati dalam melontarkan statement/pernyataan, apalagi dalam rangka menjadi hakim agung. KASARNYA, PARA PEJABAT MBOK YA MIKIR LAH (WALAU CUMA SEDIKIT) SEBELUM NGOMONG!

- jika seorang hakim sudah kehilangan nalar, empati, dan rasa keadilan, maka saya yakin bencana yg lebih besar akan menimpa. sudah siapkah?

- kok ya ada yg mencalonkan Daming menjadi hakim agung?masya ALLOH...

Posted on Monday, January 14, 2013 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/05/2013

Sudah seringkali kita baca, dengar, dan barangkali melihat, berita mengenai kecelakaan yg terjadi, entah di jalan raya maupun di jalan tol. Penyebabnya beragam, mulai dari yg ngantuk, di bawah pengaruh minuman keras/narkoba, namun tidak sedikit yg diakibatkan karena ngebut (speeding).

Saya, dalam perjalanan ke Cilegon (ataupun Bandung-Jkt), sudah beberapa mendapati kecelakaan yg terjadi akibat tabrakan antar kendaraan. Dampaknya ya jelas, banyak korban yg berjatuhan dan menderita. Entah itu korban luka-luka ataupun korban meninggal.

Yg saya tidak habis pikir, banyak orang yg bangga karena bisa ngebut, apalagi di jalan tol. Dengan 'bangganya' mereka bercerita ngebut sepanjang jalan anu seraya menyalip kanan kiri bla bla bla. "Eh, saya tancap gas sampai 160 km/jam lalu nyalip kendaraan ini itu..." dan cerita sejenisnya sudah sering saya dengar.

Bagi saya, tindakan mereka itu BODOH DAN TIDAK TAHU ATURAN!

Sudah terpampang jelas aturannya di jalan tol, maksimum kecepatan yg diperbolehkan adalah 80 km/jam. Well, angka 100 km/jam masih ditoleransi, terutama utk beberapa kasus. Misalnya untuk menyalip (sementara, sebelum akhirnya jarum odometer kembali ke posisi 80 km/jam).

Lebih IDIOT lagi adalah perilaku orang2 yg memoto odometer mereka yg menunjukkan kecepatan mereka saat itu. Kenapa idiot, karena dg begitu mereka membahayakan jiwa mereka (dan pengguna jalan tol lainnya).

Saya sih don't care dg jiwa mereka, tapi jika terjadi kecelakaan dan melibatkan orang lain sebagai korban, ya itu yg saya tidak terima. Celaka kok ngajak2 orang lain?
Bagi saya, ngebut di jalan itu ibarat orang berkendara seraya sms-an atau menelpon. Jika mereka mendapat kecelakaan, yaa wajar saja, lha wong memang aturannya ga boleh seperti itu. Tapi, sekali lagi, jika kecelakaannya melibatkan orang lain sbg korban, ya itu 'pantes' utk digebuki. ;-)

Kembali ke kicauan saya di awal artikel ini.

Ada beberapa orang yg tidak memahami 'sarkas' dan sindiran dari kicauan saya di atas. Juga dari kicauan2 saya berikutnya (silakan baca sendiri di TL saya) terkait dg Av*anza dg ngebut.

Katakanlah saya 'membolehkan' ngebut. Maka, saya tidak akan menggunakan Av*anza sbg kendaraan utk ngebut. Pengalaman saya sejak 2011 menggunakan Av*anza sebagai kendaraan operasional Jkt-Cilegon, saat dibawa lebih dari 100 km/jam saja sudah terasa goyangnya (tidak stabil). Bahkan saat saya pernah ngebut, gara2 nyaris terlambat utk rapat di Cilegon, di angka 110-120 km/jam sudah terasa setirnya berguncang!
MOBILNYA BARU LHO! Masih 1 bulan dari sejak pembelian! Jadi jangan katakan saya menggunakan Av*anza lama atau yg kondisinya kurang memadai!

Kalopun ada yg mengatakan bahwa Av*anza dia bisa berjalan hingga 140 km/jam, SAYA TIDAK PEDULI kok! :-D Kenapa saya tidak peduli? Pertama, itu bukan kendaraan saya (dan yg saya pakai). Kedua, saya tidak mau mempertaruhkan nyawa saya utk membuktikan Av*anza bisa berjalan di 140 km/jam.
Yang jelas, APAPUN kendaraannya, saya tidak sarankan untuk (sering2) ngebut. Kecuali anda memang ingin segera bertemu ALLOH SWT ;-)

Berikut ini saya share beberapa vidclip dari Youtube ttg safety driving dan kecelakaan.


Moral story:
- jangan suka ngebut, dan jangan juga bangga karena bisa ngebut

- patuhi aturan lalu lintas

- well, saya pernah mengalami masa2 ketika ngebut itu asyik. tapi itu hanya sesaat. kini, apalagi setelah saya jg bekerja di perusahaan yg mengedepankan safety, ditambah saya juga tahu resiko dari ngebut, saya lebih memilih berhati-hati dalam berkendara (termasuk di jalan tol meski jalanan kosong)

Posted on Saturday, January 05, 2013 by M Fahmi Aulia

No comments