Sore ini saya ditemani kedua bidadari saya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Selatan. Meski saya sudah gajian, jangan khusnudzon dg menuduh saya hendak belanja bulanan. Saya ke tkp utk menukar harddisk baru saya yg walaupun umurnya baru seminggu ternyata sudah memiliki bad sector. ;-(

Sudah banyak orang yg mengeluh bahwa lalu lintas di Jakarta bikin mereka tua di jalan. Selain karena banyaknya kendaraan yg hilir mudik ke sana ke mari, ternyata lampu lalu lintas juga memegang peranan penting!

Seperti 2 kicauan saya di atas, saya terjebak di perempatan yg lampu lalu lintasnya mempunyai timer selama 120 second dan 160 second. Yaa...sebenarnya bisa dibilang tidak terlalu lama sih timernya, karena saya pernah menemui timer dengan durasi lebih dari 200 second.



So, apa yg mesti dilakukan? Saya menyikapi kondisi ini dengan 2 sudut pandang. Sudut pandang motoris dan mobiler.

Sebagai motoris, saya ga terlalu ambil pusing dengan timer ini. Daripada saya ngomel2, lebih baik saya melakukan amalan ini. Well, saya bukannya sok alim, tapi yaaa daripada waktu terbuang 'percuma', lebih manfaat diisi dg dzikir toh? :p

Sebagai mobiler, saya tinggal buka gadget saya, lalu konek ke twitter, baca2 TL dan update status. Bisa juga dg aktivitas yg lebih bermanfaat, mengupdate status waze saya, heheh.

Anda sendiri ngapain kalo ketemu timer yg lama?

Foto dari sini.

Moral story:
- Jika dari rumah ke tujuan ada 10 perempatan yg pasang timer 120 second, maka setidaknya anda sudah 'buang' waktu 20 menit. Pulang pergi, sudah 40 menit. Itu sehari. Jika sebulan, maka sudah 1200 menit alias 20 jam.

- Cari aktivitas yg bermanfaat, daripada cuma ngomel2 sepanjang perjalanan. Tidak akan bikin jalanan jadi lebih lancar kok! :p