Adalah hal yg apes (sekaligus menjengkelkan, sedih, dan marah?) apabila ada orang yg salah menyematkan gender gara2 nama kita yg menunjukkan gender lain.

Paling gampang saya kasih beberapa contoh berikut:

Saya sendiri termasuk salah satu orang yg (seringkali) apes dan jadi korban salah panggil. Penyebabnya yaaa itu, ada kata Aulia di belakang nama saya.

Berikut ini skrinsut orang 'salah sebut' gender utk saya.


Hal seperti ini selalu terjadi jika komunikasi dilakukan via email. Tapi jika komunikasi via telepon, syukurlah tidak pernah ada yg salah sebut.

Well, setidaknya saya masih beruntung. Ada beberapa teman saya yg lebih sering mengalami salah sebut gender ini, meski komunikasi dilakukan lewat telpon. Saya sebut saja namanya, yakni Isman dan Dian (let you guess who is Dian here, hehehe..).

Lalu, apakah saya perlu galau dan uring2an gara2 hal seperti ini? Saya sih tidak perlu (dan tidak mau) buang2 energi seperti itu. Biarkan saja. Paling2 nanti ujung2nya ybs akan minta maaf (kalo punya etika) karena salah sebut, hehehe.

Moral story:
- orang Indonesia masih suka 'menduga' gender dari nama

- kayanya kalo ketemu orang bule bisa2 lebih repot lagi, karena setahu saya ada beberapa nama 'bule' yg membingungkan dalam menentukan gender

- ada laki2 yg punya nama laki2, tapi ternyata ngondek, bweheheh...