Kicauan saya di atas dipicu oleh kicauan teman saya, @ssetiawan, seperti yg terlihat di bawah ini.
Seringkali saya tidak habis pikir saat melihat orang tua mengajak anaknya menonton film (di bioskop) yg tergolong sadis, atau katakanlah, tidak cocok utk usia anak tersebut (berdasarkan sistem rating yg dijadikan standar).

Coba anda bayangkan, anak berumur 5 tahun menonton film The Dark Knight Rises,yg notabene PG-13, yg artinya (saya kutip saja langsung)

PG-13 – Parents Strongly Cautioned
Some material may be inappropriate for children under 13. Parents are urged to be cautious and contain some material that parents might not like for their pre-teenagers.
Such films may contain moderate violence, some suggestive material and nudity, some sexual situations, brief strong language and/or soft drug use.

So, dengan kata lain, pada saat ortu guo*blok tersebut mengajak anaknya menonton film TDKR, itu berarti ortu tsb sudah meracuni anaknya dg tayangan yg belum 'masanya'. Mirip dg di Indonesia, duluuuu...saat ada tayangan laki-perempuan ciuman, maka anak2 disuruh tutup mata atau malah diusir karena adegan tersebut belum layak diterima oleh anak2 bawang dan bau kencur tersebut. Eh, omong2 bawang merah dan bawang putih sudah turun lho harganya, hehehe... *dikeplak*

Saya dan Wify sendiri sudah mempersiapkan #mbakMika agar terhindar dari tayangan2 yg belum cocok dia konsumsi, salah satunya ya dg berlangganan televisi berbayar. Nope, artikel ini bukan artikel iklan atau berbayar kok. :-)

Berlangganan televisi berbayar bukannya tidak ada resikonya, karena tetap ada tayangan2 dewasa, apalagi cukup banyak yg tanpa sensor. Tapi setidaknya ada channel2 khusus untuk anak.

Kembali ke masalah film di bioskop. MESTINYA, ini mestinya lho, para penjual tiket, pihak keamanan, atau lebih ekstrimnya lagi, para pengusaha bioskop MENEGASKAN dan MELARANG ortu2 guob*lok itu utk membawa anak mereka menonton film2 yg tidak sesuai dg umur mereka.

Sayangnya, ini Indonesia. Negara yg seringkali menjungkirbalikkan logika dan fakta demi kepuasan dan kesenangan pribadi.

Saya suka tergelitik, apa sih yg dipikirkan para ortu itu ketika membawa anak mereka yg masih di bawah umur utk menonton film2 sadis itu? Dugaan yg pernah saya obrolkan dg Wify, mungkin mereka tidak punya pengasuh sehingga anak mereka tidak mungkin ditinggal. Lagian anaknya ga perlu bayar karena masih di bawah umur.

Terus terang, sejak ada #mbakMika, saya dan Wify sudah jarang sekali bisa menonton di bioskop, kecuali saat ada pengasuh atau neneknya Mika di Jakarta. Selain kedua hal di atas, saya dan Wify lebih suka menonton film yg ditayangkan di tv berbayar kami. Ataupun kalo mmg sudah pengen banget nonton di bioskop karena ada film yg layak tonton di bioskop, yaa neneknya Mika diundang ke Jakarta. ;-)

Toh bagi kami berdua, tidak menonton di bioskop tidak akan bikin hidup jadi sengsara. Masih banyak cara lain utk bisa bahagia tanpa menonton di bioskop, apalagi sampai merugikan dan merusak masa depan #mbakMika. :-)

Moral story:
- jadi ortu itu jangan egois! kasian masa depan anaknya jadi rusak karena 'dipaksa' nonton film yg penuh tayangan sadis

- selain merusak masa depan anak, juga mengganggu kenikmatan penonton lain yg bisa terusik dg tangisan atau rengekan minta susu anak ;-(

- kalo jadi ortu, harap gunakan otak yg di kepala, bukan yg di dengkul! :-))