Saya berkicau hal di atas usai membaca postingan Vicky di sini. Padahal kicauan tersebut sudah sedemikian lama ada, tapi kok yaaa baru keingetan utk dikicaukan? :p Postingan itu mengingatkan saya dengan kejadian beberapa waktu lalu yg membuat saya memutuskan mempunyai dan memegang erat prinsip di atas.

Saat kuliah saya punya teman, sebut saja Eko. Saya dan dia sama2 menyukai olahraga di Sabuga. Lalu saya dikenalkan dengan teman SMA-nya, sebut saja Dudung, yang juga sama2 suka olahraga di Sabuga. Pertemanan kami bertiga, menurut saya, cukup baik dan terjalin dengan akrab.

Hingga pada akhirnya saya merasa bahwa perasaan akrab itu ternyata hanya datang dari sisi saya, ketika Dudung menikah dia ternyata tidak mengundang saya. Bahkan saya tahu dari Eko.

Semula saya pikir, Dudung hanya lupa mengundang saya. Itu sebabnya saya 'memaksakan' diri untuk datang ke pernikahannya. Dan pada saat bertemu dan bersalaman, saat itu saya tahu bahwa (seperti Vicky bilang) "I'm not just into him", bahwa saya bukanlah teman menurut Dudung. Sayapun tidak lantas memaksakan diri untuk berlama-lama di resepsi Dudung. Saya segera pulang.

Waktu berlalu dan dalam 1-2 tahun belakangan ini, saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya menikah. Well, sekali lagi, ini teman menurut saya, jadi subyektif. Dan ternyata mereka tidak mengundang saya untuk hadir di resepsinya.

Keberatankah saya? Sedihkah saya? Marahkah saya?

To be honest, perasaan sedih yg lebih mendominasi saya ketika saya tahu bahwa saya tidak diundang, bahkan tidak melalui 'sekedar' sms. Yang saya lakukan kemudian adalah MENJAGA JARAK. Yap, menjaga jarak, bahkan untuk sekedar basa basi kepada mereka, saya merasa hal itu bukan hal yg penting.

"Loe ga anggap gue, kenapa gue mesti anggap loe sebagai sesuatu yg penting?"

Kasarkah saya? Bisa jadi, tapi saya tidak pernah merasa bersalah. Yaaa..anda bayangkan sendiri apabila di 1 lantai ada 20 orang dan ternyata hanya anda yg tidak menerima undangan (seperti yg saya bilang bahkan via sms sekalipun) itu kan kebangetan!? ;-) *isshh..jadi curcol,hahaha*

Sementara itu, saya akan rela bersusah payah untuk mendatangi resepsi pernikahan yg lokasinya di ujung dunia sekalipun, jika ybs mengundang.

Anda mungkin tidak pernah bayangkan, saya pernah mendatangi resepsi seseorang yg saya kenal hanya melalui twitter. Wajahnya saja saya ga tau persis, karena avatarnya yg juga ga jelas, ahhaha. Dan ternyata utk mencapai tkp resepsinya, saya, Wify, dan mbak Mika mesti menempuh perjalanan lebih dari 2 jam, karena nyasar dan ga tau persis lokasinya.

Namun ketika bersalaman dan saya memberitahukan siapa saya, respon baliknya sungguh menyenangkan. (dalam pengamatan saya, tentu saja subyektif) Dia begitu menghargai upaya saya utk bisa datang ke resepsinya.

Bahkan saya punya pengalaman yg lebih 'edan' lagi. Saya pernah pergi ke Solo dan Blitar utk mendatangi resepsi 2 teman baik saya. Eh, kalo ini mah wajar yak? Heheh.. Dan saya juga pernah bertualang ke 'negara' Yogya utk menghadiri pernikahan pakde beken dan bude ini. :-D

Yang saya sedihkan, saya ternyata tidak bisa menghadiri pernikahan Eddy Fahmi dan Vicky. Meski sempat ketemu dg Eddy Fahmi di malam terakhir dia menjadi single, saya kok yaaa merasa feeling guilty banget ga bisa hadir di resepsi mereka. Penyebabnya resepsi mereka bersamaan dg resepsi adik saya, jadi yaa saya hanya bisa mengucapkan selamat saja. ;-(

So, apa definisi kawan menurut anda? ;-)

Moral story:
- tidak diundang bukan berarti anda diinginkan *eh*

- menjaga jarak dg seseorang boleh kok, asal tidak memutus tali silaturahim ;-)

- dan minggu ini pun saya tidak mendapat undangan utk menghadiri resepsi seseorang, padahal ... ah, sudahlah, ndak baik kebanyakan curcol di blog, bwaaahhaha.. :-D