Beberapa waktu lalu, saya, Wify dan mbak Mika mendatangi sebuah toko kue keju di sekitar Tebet. Tujuannya, ya jelas, beli kue donk, masa mau beli baso. Penyebabnya, mbak Mika sempat sakit sejak hari Kamis minta cake. Kadang nyebut cup cake, kadang nyebut cheese cake kalo ditanya.

Yowis, karena keinginannya ndak aneh dan sulit, kami kabulkan. Maka, kami bertiga berburu cake, sebagaimana saya ceritakan di atas.

Toko kue ini sebenarnya tidak asing bagi kami. Setidaknya sudah 3 kali kami membeli kue di sini, termasuk kue untuk ulang tahun mbak Mika kemarin. Dan so far, selama ini pelayanannya baik dan memuaskan, hingga kami alami kejadian ini.

Ketika kami masuk, ada 1 staf perempuan yg sdg melayani seorang perempuan memilih dan membeli kue. Usai melayani, Wify mendekati staf tersebut, namun dijawab "nanti" oleh si staf seraya pergi meninggalkan Wify. Maka Wify pun memilih2 kue yg hendak dibeli sambil menunggu kedatangan staf itu lagi.

Namun, saat si staf itu kembali ke depan, bukannya melayani Wify yg sudah hendak menyerahkan kue yg hendak dibeli, si staf malah melayani pembeli lain (katakan X). Dan usai melayani X, malah melayani pembeli Y.

Keruan saja Wify langsung meradang. Tanpa ba bi bu, Wify meletakkan semua kue yg sudah dikumpulkan dan mengajak saya dan mbak Mika keluar dari toko kue keju itu.

Saat saya diceritakan penyebab kami mesti buru2 keluar, saya pun sempat dongkol juga, hingga terlontar kicauan di atas. Sempat terpikir juga untuk langsung ngomel di TKP, namun untung saya tidak melakukannya. Rugi kredibilitas jika saya mesti ngomel2 gara2 urusan sepele seperti ini.

CUKUP DIBLOK DAN TIDAK PERLU DIKUNJUNGI LAGI SAJA!

Saya sering tidak mengerti dg staf2 yg belagu seperti itu. Apa karena penampilan kami biasa2 saja sehingga kami tidak dilayani? Padahal jika saya lihat kue yg dibeli pembeli2 sebelumnya, saya yakin jumlah kue yg kami beli lebih mahal dan lebih banyak!

Inti dari cerita saya di atas, saya tidak akan membeli barang karena 'dihina' (atau dilecehkan). Sama halnya dg cerita yg pernah saya alami.

Satu waktu, saya hendak membeli helm, selain karena helm yg lama sudah menyedihkan kondisinya, saya juga mulai memikirkan keselamatan (terutama kepala). Maka saya berencana membeli helm yg lebih mumpuni.

Saat sedang berada di sebuah toko helm di pinggir jalan, saya melihat sebuah helm yg menarik. Maka saya bertanya pada penjualnya,"Pak, helm yg warna merah itu berapa?"

Alih-alih menjawab pertanyaan saya,si penjual dg kurang ajarnya menjawab,"Itu helmnya mahal pak!"

Wah, saya langsung emosi mendengar jawaban seperti itu. Untung saya masih bisa menahan diri meski agak susah payah karena saya yakin saya masih sanggup beli 100 helm seperti itu! Saat saya diam, si penjual meneruskan omongannya,"Rp 600 ribu pak!"

Saya diam saja mendengar jawaban itu dan memilih pergi. Di kemudian hari, saya membeli helm yg model dan kualitasnya lebih bagus dari helm yg saya lihat di penjual itu dg harga Rp 450 rb saja! :-))

So, jangan pernah emosi saat dihina, apalagi hingga kalap membeli barang karena merasa harga diri kita dilecehkan. Biarkan saja orang menghina dan menganggap kita tidak sanggup membeli barang itu. Pengalaman saya, justru saya bisa dapat barang yg lebih baik dg harga lebih murah.

Kalo terbawa emosi dg membeli helm tersebut, maka jelas saya berada di pihak yg 'kalah'. Sudah mah dihina, eh, barangnya lebih mahal pulak! :-D Kalah 2-0 tuh!

Satu lagi cerita yg sejenis.

Bapak saya pernah hendak membeli buku di toko di Palasari. Ternyata beliau diperlakukan hal yg sama dg penjual bukunya, dianggap penjualnya Bapak saya tdk punya duit utk beli buku tsb. Iseng2 saya membawa daftar buku yg dicari Bapak saya dan menanyakan ke toko buku langganan saya di Palasari.

Kejutan terjadi ketika ternyata toko buku langganan saya yg memperlakukan Bapak saya dg kurang sopan! Sejak saat itu toko buku "bla bla bla Agung" saya coret dari daftar toko buku langganan. :-D Dan ternyata masih banyak toko buku lain di Palasari yg menjual buku lebih murah dg layanan lebih baik.

Moral story:
- saya memutuskan TIDAK AKAN pernah beli kue lagi di toko kue keju di Tebet karena layanan staf-nya yg tidak profesional!

- jgn suka emosi saat berbelanja. bisa2 kita menjadi sasaran empuk penjualnya, entah dg trik apapun ituh!

- adalah fatal dg menilai pembeli dari tampilannya! saya yakin para staf dan tukang buku itu belum pernah bertemu dg petani yg berpakaian acak2an namun membawa karung berisi duit! :-D