Beberapa waktu lalu, saya, Wify, dan mbakMika ber-wiskul seraya menikmati suasana Jakarta yg lengang karena sedang libur. Target wiskul adalah sebuah tempat makan yg menyediakan steak sebagai menu.

Alasan kami pergi ke sana, selain Wify sdg ingin makan steak, karena saya lihat para pemiliknya adalah orang2 beken. Konon tempat ini baru buka, jadi wajar dong jika kami punya ekspektasi berlebihan? ;-)

Melihat foto yg ditampilkan di bagian depan tempat steak ini, saya pikir rasanya bisa diadu dg steak sapi suci yg juga sering kami kunjungi (terutama saat ulang tahun, karena free utk yg ultah, hihihi). Fitur yg ditampilkan tempat steak ini juga tergolong berbeda dg tempat steak lainnya, yakni ada colokan (utk nge-charge gadget, namanya juga generasi gadget) dan free wifi.

Namun, kekecewaan pertama sudah kami alami ketika dari 6 menu yg tertulis hanya 2 menu yg bisa dipesan. Belum lagi pemisahan (harga) untuk kentang dan sayurannya. Kenapa mesti dipisah? Masa melayani tidak sepenuh hati? *setidaknya itu menurut saya*

Kekecewaan kedua, ternyata free wifinya tidak bisa dinikmati. Saya berulangkali mencoba connect, tapi gagal. Ya sudah, saya gunakan paket data saja.

Penambahan kekecewaan terjadi saat jus alpukat yg saya pesan, jauh dari harapan. Selain ukuran gelasnya kecil, tampilan jus alpukatnya sangat pucat. Saya sampai bertanya-tanya, apakah benar ini jus alpukat? Saya sampai menduga alpukat yg digunakan adalah alpukat mentah. ;-(

Kekecewaan mencapai puncaknya saat steak pesanan disajikan. Dagingnya bau! Bau di sini bukan bau daging seperti biasa, tapi bau daging yg kondisinya sudah tidak segar. Hal ini diperkuat saat Wify memberi mbak Mika sekerat daging untuk dimakan, tapi ditolak mbak Mika.

Aneh sekali jika mbak Mika sampai menolak makan daging, karena itu termasuk salah satu makanan kesukaannya.

Ketika saya coba kerat pertama, saya pikir bau daging itu hanya ilusi Wify. Namun masuk suap kedua yg saya masukkan ke dalam mulut, mendadak saya merasa ada yg salah dg daging steak ini. So, saya segera muntahkan dan simpan (+ bungkus) dalam tissue. :-&

Akhirnya saya segera minta bon kepada staf dan usai membayar saya segera pergi.

KAPOK saya mengunjungi lagi tempat makan steak itu! Dan saya heran dg komentar orang2 yg bilang menunya enak, rekomen, bla 3x. Nampaknya ada yg salah dg lidah mereka, gihihihi.. ;-)

Moral story:
- berbeda dg steak sapi suci yg dimiliki oleh koki (sehingga tahu benar seluk beluk memasak dan cita rasa masakan), tempat steak ini dimiliki oleh orang2 beken yg (maaf) bermodal nama beken mereka saja

- anehnya, jika memang nama beken mereka jadi 'taruhan' kenapa mereka menyajikan makanan SAMPAH seperti itu? bahkan anak berumur 2,5 tahun saja tidak mau utk makan. entah jika steak mereka saya berikan ke kucing, apakah kucing itu mau makan? ;-) apakah mereka tidak takut nama mereka jatuh karena makanan sampah ini?

- saya dan Wify sempat tebak2an, berapa lama tempat steak ini buka. saya bilang ga sampai pertengahan tahun ini dia akan bubar, jika cara dan menu yg disajikan masih seperti sampah. mari kita lihat.