Sudah seringkali kita baca, dengar, dan barangkali melihat, berita mengenai kecelakaan yg terjadi, entah di jalan raya maupun di jalan tol. Penyebabnya beragam, mulai dari yg ngantuk, di bawah pengaruh minuman keras/narkoba, namun tidak sedikit yg diakibatkan karena ngebut (speeding).

Saya, dalam perjalanan ke Cilegon (ataupun Bandung-Jkt), sudah beberapa mendapati kecelakaan yg terjadi akibat tabrakan antar kendaraan. Dampaknya ya jelas, banyak korban yg berjatuhan dan menderita. Entah itu korban luka-luka ataupun korban meninggal.

Yg saya tidak habis pikir, banyak orang yg bangga karena bisa ngebut, apalagi di jalan tol. Dengan 'bangganya' mereka bercerita ngebut sepanjang jalan anu seraya menyalip kanan kiri bla bla bla. "Eh, saya tancap gas sampai 160 km/jam lalu nyalip kendaraan ini itu..." dan cerita sejenisnya sudah sering saya dengar.

Bagi saya, tindakan mereka itu BODOH DAN TIDAK TAHU ATURAN!

Sudah terpampang jelas aturannya di jalan tol, maksimum kecepatan yg diperbolehkan adalah 80 km/jam. Well, angka 100 km/jam masih ditoleransi, terutama utk beberapa kasus. Misalnya untuk menyalip (sementara, sebelum akhirnya jarum odometer kembali ke posisi 80 km/jam).

Lebih IDIOT lagi adalah perilaku orang2 yg memoto odometer mereka yg menunjukkan kecepatan mereka saat itu. Kenapa idiot, karena dg begitu mereka membahayakan jiwa mereka (dan pengguna jalan tol lainnya).

Saya sih don't care dg jiwa mereka, tapi jika terjadi kecelakaan dan melibatkan orang lain sebagai korban, ya itu yg saya tidak terima. Celaka kok ngajak2 orang lain?
Bagi saya, ngebut di jalan itu ibarat orang berkendara seraya sms-an atau menelpon. Jika mereka mendapat kecelakaan, yaa wajar saja, lha wong memang aturannya ga boleh seperti itu. Tapi, sekali lagi, jika kecelakaannya melibatkan orang lain sbg korban, ya itu 'pantes' utk digebuki. ;-)

Kembali ke kicauan saya di awal artikel ini.

Ada beberapa orang yg tidak memahami 'sarkas' dan sindiran dari kicauan saya di atas. Juga dari kicauan2 saya berikutnya (silakan baca sendiri di TL saya) terkait dg Av*anza dg ngebut.

Katakanlah saya 'membolehkan' ngebut. Maka, saya tidak akan menggunakan Av*anza sbg kendaraan utk ngebut. Pengalaman saya sejak 2011 menggunakan Av*anza sebagai kendaraan operasional Jkt-Cilegon, saat dibawa lebih dari 100 km/jam saja sudah terasa goyangnya (tidak stabil). Bahkan saat saya pernah ngebut, gara2 nyaris terlambat utk rapat di Cilegon, di angka 110-120 km/jam sudah terasa setirnya berguncang!
MOBILNYA BARU LHO! Masih 1 bulan dari sejak pembelian! Jadi jangan katakan saya menggunakan Av*anza lama atau yg kondisinya kurang memadai!

Kalopun ada yg mengatakan bahwa Av*anza dia bisa berjalan hingga 140 km/jam, SAYA TIDAK PEDULI kok! :-D Kenapa saya tidak peduli? Pertama, itu bukan kendaraan saya (dan yg saya pakai). Kedua, saya tidak mau mempertaruhkan nyawa saya utk membuktikan Av*anza bisa berjalan di 140 km/jam.
Yang jelas, APAPUN kendaraannya, saya tidak sarankan untuk (sering2) ngebut. Kecuali anda memang ingin segera bertemu ALLOH SWT ;-)

Berikut ini saya share beberapa vidclip dari Youtube ttg safety driving dan kecelakaan.


Moral story:
- jangan suka ngebut, dan jangan juga bangga karena bisa ngebut

- patuhi aturan lalu lintas

- well, saya pernah mengalami masa2 ketika ngebut itu asyik. tapi itu hanya sesaat. kini, apalagi setelah saya jg bekerja di perusahaan yg mengedepankan safety, ditambah saya juga tahu resiko dari ngebut, saya lebih memilih berhati-hati dalam berkendara (termasuk di jalan tol meski jalanan kosong)