10/20/2012

Hari Jum'at kemarin, saya melayat ke rumah teman (A) yg anaknya meninggal Jum'at pagi jam 3.30 WIB.

Terlepas dari bagaimana anaknya meninggal dunia, saat A bercerita detik-detik menjelang anaknya meninggal, saya teringat lagi cerita teman saya yg lain (B). Intinya, ada perlakuan dari pihak rumah sakit yg tidak mengedepankan/memprioritaskan keselamatan/jiwa pasien, tapi lebih mengutamakan duit dan administrasi.

Jadi A bercerita, saat anaknya mesti pindah dari ruangan bayi ke ruang ICU dikarenakan kesehatannya yg memburuk, pihak rumah sakit justru menyodorkan biaya dan DP yg mesti disetujui dan dipenuhi A sebelum anaknya (yg baru berumur sehari) bisa masuk ICU. "Bapak A, ini biaya perawatan kamar ICU. Apakah Bapak sanggup membayar?" lebih kurang demikian pertanyaan rumah sakit. Beruntung A orangnya cukup sabar. Dia memaklumi tindakan pihak rumah sakit karena saat itu kondisinya sedang 'kacau balau' sehingga di mata pihak rumah sakit sosoknya dianggap tidak punya duit untuk membayar!

Cerita B lebih mengenaskan lagi. B mempunyai kakak perempuan, sebut saja namanya T.

Beberapa tahun lalu, T melahirkan anak kembar di sebuah rumah sakit ternama di Bandung. Kondisi kedua anaknya sama2 tidak menguntungkan karena kondisi kesehatan keduanya yg kurang sehat. Jika saya tidak salah, keduanya lahir prematur sehingga dibutuhkan sarana perawatan yg lebih baik.

Sebenarnya rumah sakit itu mempunyai 2-3 alat yg bisa menunjang dan menopang kesehatan dan kehidupan kedua bayi itu. Namun saat itu, entah bagaimana ceritanya, ternyata hanya 1 alat yg berfungsi dan bisa digunakan.

'Kekurangajaran' rumah sakit timbul ketika mereka melontarkan pernyataan berikut. "Bu, alatnya hanya ada 1. Ibu mau pilih anak mana yg mesti hidup?" dilanjutkan dengan sodoran biaya perawatan dan penggunaan alat bla 3x.

Anda bisa bayangkan betapa hancurnya hati T dan suaminya mendapat pertanyaan dan perlakuan seperti itu! Saya yg mendengar cerita itu saja merasa geram dan marah bukan kepalang! Bagaimana mungkin rumah sakit yg seharusnya mengedepankan keselamatan jiwa dan nyawa pasien malah lebih sibuk mengurus biaya? Saya tahu, harga/biaya perawatan memang mahal, tapi apa tidak bisa digunakan cara yg lebih etis?

Setidaknya urus dahulu pasien baru nanti menyodorkan hal2 administrasi!

Itu sebabnya saya sangat mendukung asuransi kesehatan mesti dimasyarakatkan, agar hal2 seperti ini tidak terulang lagi!

Moral story:

- pihak RS mesti berempati dengan kondisi pasien dan lebih bermoral pada saat menyampaikan hal2 administrasi (baca: biaya)

- asuransi kesehatan dibutuhkan, tapi mesti asuransi kesehatan yg murni, bukan asuransi kesehatan dengan embel2 investasi dll

- jagalah kesehatan! biaya mencegah agar tidak sakit jauh lebih murah daripada biaya perawatan kesehatan (apalagi menginap di rumah sakit)

Posted on Saturday, October 20, 2012 by M Fahmi Aulia

No comments

10/17/2012


Sebuah tawaran menarik saya terima dan saya pikir mesti disebarkan dan berbagi (sharing) dengan rekan2 lainnya.

Tawaran yg saya maksud adalah kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan menjelajah luar angkasa bagi guru-guru (SMP dan SMA?).

Informasi lebih lengkap bisa dibaca di sini. Semoga bermanfaat.

Foto dari sini.

Moral story:
- peluang2 seperti ini jgn dilewatkan, apalagi gratis! fasilitas ditanggung sip dah! :-)

Posted on Wednesday, October 17, 2012 by M Fahmi Aulia

No comments