2/13/2012


Belakangan ini sedang heboh mengenai gaji PNS (Gorontalo) yg mesti ditransfer ke rekening istri. Di sana disebutkan bahwa Gubernur Gorontalo memerintahkan agar gaji para PNS (terutama yg berstatus sebagai suami) ditransfer ke rekening istri mereka.

Penyebabnya, saya kutip di sini:
"Apalagi banyak keluhan dari para istri yang mengaku tidak mendapat gaji dari suaminya atau bahkan untuk belanja itu diserahkan setiap hari oleh suaminya," kata Rudi.


Saya sendiri, terus terang, tertawa terpingkal-pingkal membaca berita dan alasan itu. Nampaknya ada yg salah dg pasutri yg mengalami hal yg disebut Gubernur Gorontalo tersebut. Namun, saya selanjutnya berpikir dan ingin bertanya kepada para suami, ke mana gaji anda 'pergi' dan bagaimana sih anda mengatur gaji anda?

Bagi saya dan Wify, kesepakatannya sudah jelas. SEMUA, yup...SEMUA gaji saya akan saya berikan ke istri saya, Wify. Selanjutnya Wify yg akan mengatur segala pengeluaran dan kebutuhan rumah tangga.

Untuk pengeluaran, saya sendiri sudah diberi jatah bulanan. Nominal yg saya terima sudah meliputi makan harian, bensin, bengkel, lalu hutang2 kartu kredit, plus jalan2 bersama Wify dan mbak Mika. Tentu saja nominal tersebut tidak mengikat. Saya, selaku presiden, bisa melakukan negosiasi dengan menteri keuangan, terutama jika ada kebutuhan mendesak.

Terus terang, saya tidak khawatir jika gaji saya dihabiskan Wify untuk keperluan2 yg tidak penting. Meski status Wify sekarang adalah ibu rumah tangga, meski bukan berarti tidak ada pekerjaan yg dilakukan (karena sebenarnya masih bekerja sebagai freelance untuk mengerjakan project2), toh saya sudah tahu Wify bukanlah tipe istri yg boros. Setiap pengeluaran yg dilakukannya selalu penuh perhitungan, sehingga saya bisa tenang fokus mencari duit (tambahan, hihihi).

Tadi pagi, saya mendengar wawancara sebuah radio dengan Ikang Fawzi terkait kasus transfer gaji ini. Menurut Ikang,suami yg gajinya ditransfer ke istri maka wewenangnya berkurang.

Saya langsung mengernyitkan dahi. Apa hubungannya wewenang dg gaji ditransfer ke istri? IF melanjutkan, bahwa sebagai suami mestinya memegang uang bla 3x, terutama jika ada keperluan bla 3x.

Ah, dangkal sekali IF jika demikian alasannya. Bagi saya, wewenang suami tidak terkait dengan transfer gaji. Toh, seperti kasus saya, jika ada kasus mendesak, dia bisa meminta menteri keuangan untuk menggelontorkan dana darurat.

Saya menyadari bahwa gaji terkait dengan gaya hidup. Dan saya beruntung, baik saya maupun Wify tidak terlalu mempedulikan gaya hidup serta mesti mengikuti gaji yg kami dapatkan.

Sebagai orang yg gajinya dipegang oleh istri sejak dulu kala, saya malah bersyukur, duit saya diselamatkan oleh Wify. Di samping, saya sendiri orangnya memang bukan tipe boros (lagi). Uang berlebih yg saya terima, rata2 sudah saya investasikan, sehingga kemungkinan utk boros bisa lebih diperkecil lagi.

So, bagaimana pengalaman anda?

Maaf, saya lupa mengambil sumber gambarnya,heheh.

Moral story:
- gaji itu memang hak suami, tapi dia mesti menggunakan utk menuaikan kewajibannya, memberi makan (+ keperluan) anak istrinya. ;-)

- transfer gaji suami ke rekening istri tidak perlu diperheboh. biasa saja laaahh...

- istri yg baik tidak akan (mudah) menghabiskan gaji suami. dia justru akan lebih (belajar) bertanggung jawab utk memanfaatkan dan mengoptimalkan gaji suaminya utk keperluan keluarga.

Posted on Monday, February 13, 2012 by M Fahmi Aulia

No comments

2/11/2012


Belakangan ini saya melihat buanyak sekali para penggiat aksi sosial,entah itu donor darah, buku bekas, atau apapun itu jenis dan kegiatannya. Intinya cuma satu, yakni ingin membantu sesama yg sdg mengalami masalah.

Tentu saja, para penggiat ini beraksi sesuai dengan masalah yg dihadapi. Jelas tidak mungkin penggiat aksi donor darah membantu saudara2 kita yg kekurangan buku utk sekolah. Bukan tidak mungkin sebenarnya, hanya saja tidak tepat guna,ehhe :-)

Beberapa hari lalu saya membaca 'curhat' mbak Ina di account twitternya, @inagibol. Di accountnya, mbak Ina menceritakan bahwa ada semacam persaingan yg terjadi di sesama penggiat aksi sosial.

Persaingan, utk beberapa kasus,termasuk dalam hal tolong menolong, memang bagus. Tapi yg dikeluhkan mbak Ina, dampak dr persaingan yg terjadi, korban tidak bisa ditolong secara maksimal.

Ditengarai, persaingan terjadi karena adanya keinginan utk tampil dr kelompok penggiat tertentu.

Well, saya tidak mau ikut campur atau menghakimi, karena saya sendiri belum bisa banyak memberikan kontribusi sosial. Meski bukan berarti kalau sdh berkontribusi boleh menghakimi seenaknya lho,hehe. ;-)

Mengingat aksi sosial, terutama yg menyangkut nyawa orang (seperti donor darah atau donor anggota tubuh jika ada), merupakan hal yg sangat penting maka memang seharusnya para tokoh dr kelompok2 penggiat sosial tsb mau duduk bersama, share, dan berbagi tugas dan peran.

Hilangkan ego kelompok sosial! Perbanyak menjalin hub dg berbagai kalangan utk mempermudah akses dan bantuan di lapangan. Yg tidak kalah penting, jgn smp terjadi saling jegal atau keengganan membantu krn ada masalah pribadi (yg mgkn terjadi). ;-)

Semoga artikel ini dibaca oleh para penggiat sosial dan bermanfaat utk langkah ke depannya, aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- membantu dan ikut serta dalam kegiatan sosial adalah hal yg sangat baik

- jgn pernah ragu utk berbuat kebajikan. Jg jgn pernah menyesal krn telah berbuat baik! ;-)

Posted on Saturday, February 11, 2012 by M Fahmi Aulia

No comments

2/06/2012


Sebagai penghuni kota Jakarta sejak 2004, saya sudah merasakan cukup banyak asam garam kehidupan di Jakarta, terutama dalam hal transportasi. Memulai 'karir' sebagai pengguna metromini dan bus, dilanjutkan dengan sepeda motor dan terkadang menggunakan mobil serta Trans Jakarta sebagai alat transportasi, saya yakin artikel yg saya buat ini sudah cukup obyektif.

Dan terus terang, apa yg ada di artikel ini bukanlah sesuatu yg baru. Hanya pengulangan saja, namun dari sisi saya sebagai pelaku dan praktisi. *tsah* ;-)

Sejak jaman baheula, penyakit transportasi di Jakarta ya macet. Ini tidak lain dan tidak bukan karena perbandingan kendaraan dengan ruas jalan yg tidak seimbang. Bahkan bisa dibilang tidak masuk akal dan sangat tidak memadai.

Efeknya sudah pasti, kemacetan di berbagai jalur dan arah. Bahkan tidak hanya di jalan2 biasa, jalan tol pun tidak luput dari kemacetan. Sehingga timbul guyonan, macet di jalan tol ibarat tempat parkir. Ironis bukan?

Sementara itu, solusi yg diberikan pemerintah ternyata tidak sesuai dengan aspirasi yg berkembang di masyarakat.

Masyarakat rata2 menyarankan agar pemerintah melakukan perbaikan layanan transportasi umum. Kereta api, bis, Trans Jakarta, mikrolet, dan moda2 lain hendaknya diperbaiki kualitas dan diperbanyak jumlahnya. Termasuk di dalamnya peremajaan dari moda2 yg sudah sedemikian buruk dan parah kondisinya. Plus juga penambahan jalur/rute transportasi umum.

Dengan demikian, diharapkan banyak masyarakat yg lebih memilih menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Pengecualian barangkali bagi orang2 yg kerjanya memang mesti 'mobile', karena dengan menggunakan transportasi umum, jelas itung2an ongkosnya akan jauh lebih mahal. ;-)

Pemerintah sendiri malah berpikiran yg aneh bin ajaib. Alih2 mendengarkan aspirasi masyarakat, mereka malah lebih memilih membangun jalan, terutama jalan layang. Padahal, jika ditinjau dari 'investasi' dan kondisi yg ada, pembangunan jalan malah akan membuat orang berpikir,"wah,masih ada jalan,jadi saya bisa dong beli kendaraan baru?".

Saya sendiri punya pikiran buruk, bahwa pembangunan jalan (layang) baru tidak lebih dan tidak bukan untuk mengakomodir para pengusaha kendaraan. Benang merahnya, seperti yg saya sebut di atas, dengan disediakan jalan baru, maka (seolah-olah) tersedia tambahan lajur dan jalan yg bisa mengakomodir tambahan kendaraan.

Solusi yg paling 'manjur', menurut saya, ya memperbaiki sarana transportasi. Plus, jika memungkinkan dibuat monorel (ya ya ya, ini cerita usang). Namun, berdasarkan pengalaman saya saat di Malaysia, monorel merupakan solusi yg cukup ampuh dan tokcer utk mengatasi masalah kemacetan dan kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yg mumpuni.

Toh, pemda DKI masih saja 'belagak tuli' dan tidak melanjutkan proyek monorail yg pernah digembar-gemborkan akan dibangun di wilayah Kuningan. (lagi2) Pikiran buruk saya, pemda DKI 'kalah' oleh para pengusaha kendaraan.

So, jika kondisinya memang selalu begini, ya tinggal tunggu 2014, yg diperkirakan para ahli transportasi bahwa Jakarta akan macet total! Eh, tapi jika kiamat memang tahun 2012, ya kita ga usah kuatir dg kemacetan total itu sih!? Hhahah...

Dengan kondisi sarana transportasi yg ada sekarang, saya pribadi malas untuk menggunakannya. Entah utk pergi kerja, ataupun untuk bepergian urusan lain. Yang pertama, saya mesti mengeluarkan ongkos yg tidak sedikit. Ongkos perjalanan dari Kalibata ke Kebun Jeruk bisa dirinci sebagai berikut:
- ojek dari rumah ke TMP Kalibata: Rp 4000
- naik metromini dari Kalibata ke Pancoran: Rp 2000
- naik bis dari Pancoran ke arah Kebun Jeruk: Rp 4000
- dari Kebun Jeruk ke jl Panjang, naik angkota lagi: Rp 2000
Jadi, SEKALI JALAN saya akan menghabiskan ongkos sebesar Rp 12ribu!

Itu baru dari sisi ongkos, belum masalah waktu!

Sementara dg motor, saya hanya butuh waktu 45 menit utk tiba di kantor. Dan ongkos bensin Rp 10 ribu utk 4-5 HARI!

Belum lagi saya kadang mesti mobile ke sana dan ke situ. Dengan rute dan kondisi transportasi yg ada sekarang, jelas no way lah! ;-)

Anda sendiri bagaimana?

Gambar dari sini.

Moral story:
- sarana transportasi umum yg layak sangat dibutuhkan di Jakarta.

- pembuatan jalan (baru) di Jakarta, menurut saya, BUKAN SOLUSI!

- dibutuhkan pemerintah yg berani untuk membuat layanan transportasi yg memadai, seperti halnya Bang Yos dengan Trans Jakartanya.

- mana nih ahlinya? ngemeng aja! hihihi.. ;-)

Posted on Monday, February 06, 2012 by M Fahmi Aulia

4 comments