Akhirnya saya bisa update blog ini dengan artikel terkait finansial. :-)

Selama ini, saya menjadikan koin emas (dinar) sebagai salah satu metode untuk investasi. Selain harga per-dinar yg cukup terjangkau, likuiditas (kemudahan mencairkan) dinar pun sangat mudah karena saya punya agen dinar yg rumahnya cukup dekat dan fleksible. Selain itu, hubungan bisnis dg dia sudah berjalan lebih dari 4 tahun.

Perkembangan harga dinar selama 2012 bisa dikatakan cukup adem di kisaran Rp 2.2 jt/keping, hingga akhirnya di bulan Desember 2012, terjadi lonjakan harga yg cukup tinggi yakni mencapai Rp 2.5 juta/keping. Saat itu terjadi rush luar biasa, sehingga saat saya hendak menjual 1 keping dinar, agen saya mengatakan dia tidak punya persediaan uang. HALAH! *tepok jidat*

Ya sudah, saya akhirnya membatalkan menjual dinar saya. Selain memang cuma iseng saja ingin jual, sebenarnya sayang juga menjualnya karena (seperti saya sebut) dinar merupakan metode investasi yg memang ok. Jadi, kapan2 saja dijualnya.

Namun semalam saya mendapatkan kabar yg 'kurang baik' (menurut saya) mengenai dinar dirham ini.

Terhitung mulai 2013, pihak W*akala akan menaikkan biaya buyback (beli ulang) utk dinar dirham ini. Semula biaya yg dikenakan utk buyback adalah 4%/koin. Jadi, misalnya harga dinar Rp 2.5 juta, lalu anda ingin jual ke W*akala, maka uang yg anda terima sebesar 0.96 * Rp 2.5 juta = Rp 2.4 juta. Info yg saya dapatkan, nilai potong buyback akan menjadi sebesar 10% (SEPULUH PERSEN) dari harga dinar dirham.

Wah, saya pikir ini sih sudah mengarah ke pemerasan/perampokan secara halus! ;-(

Alasan yg dikemukakan adalah dinar dirham akan mulai digunakan sebagai alat tukar (perdagangan). So, akan makin banyak orang/pihak yg akan merelease/menjual/mengeluarkan koin dinar dirham.

Dari pembicaraan dengan seorang teman, yg sama2 menekuni dinar dirham sebagai investasi, dia membenarkan hal tersebut. Malah info dari dia menyebutkan bahwa beberapa kesultanan di Indonesia sudah berencana mencetak sendiri dinar/dirham. Sama seperti info yg saya terima, dinar dirham memang akan mulai digunakan sebagai 'uang' dalam berniaga, tentunya di beberapa tempat.

Padahal, setahu saya, Bank Indonesia melarang penggunaan dinar dirham sebagai alat tukar. Dari sini, saya copy paste tulisannya.

BI Melarang Transaksi Jual Beli Menggunakan Dinar Dan Dirham
Oleh : Managementdaily
Kamis, 16 Agustus 2012 20.48 WIB
 

(Managedaily - Business Today), Setelah beberapa sempat hilang keberadaannya, alat pembayaran berupa dinar dan dirham kini muncul kembali ke permukaan. Diusung oleh ekonom asal Spanyol, Shaykh Umar Vadillo, kini beberapa negara sudah menggunakan jenis uang ini sebagai alat transaksi pembayaran. Tapi apakah ini akan layak dipakai di Indonesia? 

Direktur Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia, Adnan Djuanda mengatakan, selama masih di kawasan negara Indonesia, hanyalah rupiah yang menjadi alat pembayaran yang sah. 

"Kalau mengacu pada Undang-Undang Mata Uang, alat pembayaran yang terjadi di Indonesia itu harus rupiah," ungkap Adnan saat ditemui di Kantor Bank Indonesia, Kamis (16/8/12). 

Bahkan katanya, ancaman kurungan penjarapun bisa diberikan kepada siapa saja yang menggunakan alat pembayaran non rupiah. 

"Sanksinya pidana, itu semua ada di UU Mata Uang, kalau tidak salah penjara 1 tahun dan denda Rp 200 juta kalau tidak salah," ungkapnya. 

Adnan mengecualikan, transkasi yang bersifat internasional dan telah ada kesepakatan sebelumnya diperbolehkan untuk menggunakan alat transaksi selain rupiah. 

"Yang dikecualikan sudah ada kalau diperjanjikan, atau perdagangan internasional," jelasnya. 

Lebih lanjut, ia mengomentari keberadaan toko yang dikabarkan sudah menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksinya, bisa terkena pidana. 

"Itu nggak boleh itu, bisa kena pidana," pungkasnya. 

Seperti diketahui sebelumnya, Shyakh Umar Vadillo mengatakan peredaran uang ini sudah merambah ke seluruh penjuru dunia, bahkan di Indonesia pun sudah ada toko yang menerima dirham sebagai alat tukarnya. 

"Ratusan toko di Indonesia sudah banyak yang pakai dinar, di toko-tokonya pakai stiker khusus," ungkap Shyakh Umar saat ditemui di Masjid Al Azhar (9/8).
(rs/IK/md-dtc)

Sementara dari sini, saya dapatkan informasi sebagai berikut:
INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) tidak membenarkan penggunaan mata uang dinar sebagai alat pembayaran di Indonesia. 

"Penggunaan dinar tidak boleh untuk transaksi. Setiap transaksi di Indonesia harus menggunakan rupiah sesuai Undang-undang mata uang," tandas Direktur Pengedaran Uang BI, Adnan Juanda dalam acara bincang-bincang di Gedung BI, Kamis (16/8/2012). 

Dalam UU Nomor 7 Tahun 2011 disebutkan, setiap orang yang tidak menggunakan rupiah dalam setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran dan transaksi keuangan lainnya akan dikenakan pidana denda maksimal Rp200 juta dan pidana kurungan maksimal satu tahun. "Jadi ada sanksi pidananya. Tapi memang ada empat pengecualian," kata Adnan. 

Saat ini disinyalir, sekelompok wirausahawan sedang getol memasyarakatkan keping logam mulia itu sebagai alat transaksi layaknya mata uang rupiah. Praktik ini seperti yang terjadi di Jalan Sungai Landak, kawasan Cilincing, Jakarta Utara. 

Masyarakat di dekat kawasan Pantai Marunda, tersebut kini mengembangkan cara transaksi yang tak biasa. Yakni, menjadikan dirham sebagai alternatif alat pembayaran. Saat ini sudah sepuluh toko dan warung yang menerima transaksi dengan uang logam dari perak itu. 

Layaknya uang rupiah, keping perak tersebut laku untuk membeli nasi goreng, nasi uduk, isi ulang pulsa handphone, martabak, hingga obat-obatan. Alasannya, nilai tukar uang itu lebih stabil. 

Dinar ini diperoleh masyarakat lewat jaringan Wakala (Pusat Dinar Dirham) yang berfungsi sebagai pusat distribusi dinar dan dirham yang kini tersebar di berbagai kota.
Sofyan Aljawi, pemilik Wakala Al-Faqi, penyedia dinar dan dirham di Cilincing, mengungkapkan, dirham mudah diterima di masyarakat setempat. Sofyan menuturkan, sosialisasi penggunaan mata uang dirham tersebut memang baru dimulai dari kampung si Pitung itu. 

Upaya menggunakan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran tidak hanya terbatas di Cilincing. Adalah Jaringan Wirausahawan Pengguna Dinar dan Dirham Nusantara (Jawara) yang kini getol memasyarakatkan penggunaan keping emas dan perak itu layaknya mata uang. 

Jaringan tersebut ditopang oleh penyedia penukaran dinar-dirham bernama Wakala Induk Nusantara yang saat ini memiliki 60 cabang yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Cabang lainnya juga ada di Kalimantan, Sumatera, serta Sulawesi. 

Satu dinar adalah keping emas seberat 4,25 gram atau jika dirupiahkan setara sekitar Rp1,447 juta. Satu dirham adalah keping perak seberat 2,975 gram atau setara Rp29.000. [hid]

Yang jelas, saya melihat ke depannya, jika memang aturan biaya buyback diterapkan hingga 10%, maka dinar dirham tidak lagi menjadi investasi yg 'seksi' meski masih relatif terjangkau dan mudah untuk dicairkan. Namun sekali lagi, biaya buyback sebesar 10%, bagi saya hingga kini masih sulit diterima akal sehat. Bahkan biaya ini jauh lebih besar dari selisih jual beli mata uang asing!

Alternatif lain utk investasi adalah logam mulia. Namun, harga LM utk 5 dan 10 gr relatif cukup mahal di pasaran, kecuali anda langsung beli dari Antam. Masalahnya, jika beli langsung di Antam, saya pernah baca mesti antri dari Subuh! Jadi, selisih harga yg ada antara di Antam dg di pasaran bisa dikatakan sebagai ongkos antri. ;-(

Melihat kondisi ini, nampaknya saya mesti kembali ke reksadana sebagai instrumen investasi saya deh! ;-(

Moral story:
- dinar dirham sebenarnya merupakan instrumen investasi yg menarik

- harga dinar, apalagi dirham, sangatlah terjangkau

- booming dinar dirham bisa jadi sesuatu yg sesaat ;-(