Gegara membaca artikel blognya Vicky yang ini, saya jadi teringat dengan pengalaman saya dan Wify menjelang kelahiran mbak Mika (silakan baca di sini, sini, dan sini).

Kesamaan dengan orang Madura di cerita Vicky, kami berdua ngotot agar Wify melahirkan mbak Mika di Bandung. Perbedaannya, latar belakangnya. :-)

Latar belakang kami ingin mbak Mika lahir di Bandung adalah: pertama, mengenai biaya. Biaya melahirkan di Jakarta bisa dibilang ndak masuk akal. Dari hasil survei yg pernah kami lakukan di beberapa rumah sakit, untuk kelas 3 saja biaya yg dikeluarkan berkisar Rp 6-7 juta. Itupun belum termasuk obat2an dan biaya2 lain, mis: konsultasi dg dokter, bla 3x.

Lalu, kami sempat memikirkan operasi caesar jika terjadi kasus darurat, dan itupun harganya juga ndak main2. Total untuk kelas 3 + operasi caesar bisa habis Rp 20 juta.

Jadi, bisa bayangkan biaya untuk kelas 1 (apalagi VIP) + operasi caesar. Saya dan Wify jelas tidak ingin menyusahkan diri sendiri, apalagi melahirkan baru tahap awal dari menerima amanah dari ALLOH SWT. Terlebih saat itu kantor tempat saya bekerja tidak memberikan kompensasi melahirkan yg memadai (maaf, curcol dikit). ;-)

So, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Bandung untuk kelahiran mbak Mika. Total biaya yg dikeluarkan, kelas 1 dan normal = Rp 3 juta saja saudara2! :-)

Kedua, masalah keluarga. Well, kami berasal dari Bandung dan dengan demikian keluarga kami juga lebih banyak di Bandung. Jika melahirkan di Jakarta akan merepotkan kami dan keluarga kami juga. Dengan melahirkan di Bandung, maka keluarga kami bisa lebih bebas jika hendak menengok mbak Mika.

Ketiga, lingkungan. Bisa dibilang kondisi lingkungan di Bandung masih lebih enak daripada di Jakarta (baca: sekitar tempat tinggal kami saat itu). Udara bersih adalah faktor terpenting. :-)

So, kami memang tidak bisa memilih tempat kami dilahirkan, tapi saya dan Wify berikhtiar yg terbaik utk mbak Mika. :-)

Foto dari sini.

Moral story:

- biaya kesehatan di Jakarta bisa bikin shock! :-)

- Bandung tetap menjadi pertimbangan utama kami utk melahirkan (dan kemungkinan membesarkan) mbak Mika, dg faktor2 yg saya tulis di atas.