Menjelang Lebaran tiba, saya dapat laporan dari Wify bahwa pengasuh mbah Mika mengirim sms. Semula saya pikir sms selamat lebaran, minal aidin bla 3x. Ternyata pikiran saya salah. SMS yg dikirim (lebih kurang, karena saya tidak terlalu ingat) isinya "Bu, gaji saya dinaikkan tidak?"

Sejenak saya tertegun. Berpikir, ada apa dg pengasuh mbak Mika, kok tiba2 mengirim sms seperti itu? Padahal kami sudah memberikan honor lebih tinggi dari standar yg ada. Kasarnya, kami sudah merusak pasaran honor pengasuh anak yg selama ini ada. Tapi lah kok ini masih minta naik gaji?

Akhirnya, saya diskusi dengan Wify mengenai pengasuh ini. Melakukan pertimbangan untung rugi. Wify juga melaporkan beberapa keluhan mengenai pengasuh yg, menurut saya, agak2 absurd. Dari sekian banyak keluhan yg absurd, ada 1 hal yg paling absurd. Kasarnya absurd dari segala yg absurd. ;-)

Keluhan tersebut adalah si pengasuh mengeluhkan dia kecapekan selama mengurus mbak Mika. Wify sendiri ngomel panjang lebar saat menjelaskan hal ini, karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa seharusnya si pengasuh 'tidak berhak' untuk mengeluh seperti itu.

Selama setahun mengasuh, mbak Mika itu bangunnya siang, bisa jam 10 siang baru bangun. Lalu usai mandi, dikasih makan, jalan2, dikasih cemilan, jam 2 siang tidur dan bangun jam 4. Si pengasuh sendiri, datang jam 7.30 dan pulang jam 16.30 (9 jam kerja). Total jenderal, pengasuh itu sendiri hanya bekerja sebanyak 4,5 jam alias 1/2 dari jam kerjanya dia.

Wify sendiri sering memergoki si pengasuh ikut tidur saat mbak Mika tidur.

DAN PEKERJAAN SEPERTI ITU DIBILANG BIKIN CAPE? *ngakak*

Saya dan Wify sempat bercanda, si pengasuh ini belum pernah kerja di Malaysia kali ya, jadinya ngeluh2 kaya gini? Coba dia kerja di Malaysia, dapat majikan yg super galak.

SMS pertama belum kami jawab, karena kami lebih sibuk mengurus diri kami menjelang mudik ke Bandung.

Usai lebaran, datang lagi sms yg sama. Dijawab oleh Wify,"Kayanya kami belum bisa menaikkan gaji kamu." Dijawab oleh pengasuh,"Jika gaji saya tidak naik, maka saya akan berhenti bekerja." Hadeuh, main ancam dan to the point sekali ini pengasuh! :-D

Dengan berbagai pertimbangan ini itu, akhirnya saya dan Wify sepakat utk memberhentikan pengasuh.

Pertimbangan2 yg melatarbelakangi: pertama, kami tidak mungkin menaikkan lagi gajinya. Ga imbang sekali gaji dia dengan loadnya. Mana mbak Mika jarang rewel pula. Kedua, jikapun kami naikkan gajinya, kami khawatir dg keselamatan mbak Mika. Bisa saja si pengasuh masih dendam bla 3x, lalu melakukan hal2 yg tidak baik.

So, kami putuskan hubungan kerja dg si pengasuh.

Seminggu kemudian, kami akhirnya memberhentikan juga ART urusan cuci-setrika. Kali ini kami terpaksa dan berat hati melakukannya. Namun, kami mau tidak mau mesti melakukannya, terutama karena kinerjanya yg kian memburuk usai 2 tahun bekerja.

Hasil setrikaan yg kurang rapi, kamar mandi yg jarang dibersihkan, sampah yg sering tidak dibuang, halaman yg tidak dipel, menjadi catatan kami mengenai anjloknya prestasi ART ini.

Dan ternyata kami pun overrated terhadap ART, meski tidak separah pengasuh mbak Mika.

Usai diskusi maraton, tentu saja maksudnya diskusi yg panjang dan lama, bukan diskusi sambil lari 42 km, kami memberhentikan ART ini.

Sebagai solusi dari tidak adanya pengasuh, kami sudah mempertimbangkan dan menyiapkan mbak Mika untuk dikirim ke kamp militer, eh, ke daycare yg kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Wify sendiri sekarang tidak sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, statusnya kerja sbg freelancer. Untuk urusan rumah tangga, dia masih bisa handle. Tapi jika ada mbak Mika, nah, urusannya bisa repot, terutama jika mesti rapat di client.

Moral story:

- kinerja ART, pembantu, pengasuh, atau apapun itu namanya, tetap mesti diperhatikan!

- kami juga pernah memberhentikan ART.

- istilah apa yg anda gunakan untuk orang yg membantu pekerjaan anda? menurut saya sih ada perubahan cara panggil seperti yg saya tulis di atas :-) saya dan Wify sendiri lebih suka ART :-)