Menjelang kami memberhentikan pengasuh mbak Mika, kami telah sepakat akan menitipkan mbak Mika ke daycare. Salah satu alasan kami menitipkan mbak Mika ke daycare sebenarnya simple saja, agar mbak Mika bersosialisasi dengan teman2 sebaya. Terus terang, di lingkungan rumah kami sekarang, tidak banyak anak kecil. Ada tetangga yg punya 3 anak, mereka umurnya 3, 5, dan 7 tahun. Sebenarnya mbak Mika sudah beberapa kali main dg anak 3 th itu, tapi belakangan sudah jarang karena dia lebih memilih main dg kakaknya. ;-)

Wify sendiri telah melakukan survey ke beberapa tempat, dengan parameter2 survey sebagai berikut. Pertama, lokasi. Kami mencari yg cukup dekat dengan rumah. Selain itu, daycare diharapkan tidak terlalu dekat dengan jalan raya, demi keselamatan anak juga. Kedua, biaya. Meski biaya bukan masalah, tapi kami menilai daycare ini sifatnya sementara, jadi tidak perlu jor2an keluar duitnya. Ketiga, kelengkapan dan fasilitas daycare. Kelengkapan dan fasilitas ini tidak sekedar mainan, tapi juga pemberian makanan, minuman (termasuk susu), mandi, dst.

Akhirnya kami temukan sebuah daycare yg memenuhi ke-3 syarat di atas. Maka, usai lebaran kemarin, tepatnya 29 & 30 Agustus 2012, kami titipkan mbak Mika ke daycare. Karena saat itu masih suasana lebaran, maka mbak Mika masuk ke dalam kelompok trial. Kegiatan regularnya sendiri akan dimulai per 3 September 2012.

Usai 2 hari pertama mbak Mika di daycare, kami melihat ada perkembangan yg cukup menggembirakan (untuk saat itu). Yakni, mbak Mika sudah mulai lebih berani berinteraksi dengan orang lain, bahkan yg belum dikenal sekalipun. Maka kami putuskan untuk memasukkan mbak Mika ke kelas reguler. Namun ternyata sejak 3 - 4 Sept, mbak Mika menderita sakit, sehingga baru masuk tgl 5 Sept. Kami tentu bergembira dan berharap mbak Mika memiliki kemajuan2 lain.

Namun ternyata di balik kegembiraan dan harapan kami itu, ada mimpi buruk yg harus kami bertiga hadapi di kemudian hari.

Jika kami flashback, sejak tgl 2 Sept itu selain ada hal menggembirakan yg kami lihat dari mbak Mika, yakni lebih berani berinteraksi dengan orang lain, namun ternyata mbak Mika mulai gelisah saat tidur, entah itu tidur siang ataupun tidur malam. Selain itu, Wify perhatikan, mbak Mika mendadak terlihat dicekam rasa ketakutan pada saat melakukan aktivitas2 tertentu. Bahkan mbak Mika mendadak seringkali suka menangis tanpa sebab.
Kicauan saya di atas pada saat kami belum mengetahui mbak Mika telah mengalami mimpi buruk selama 2 hari di daycare.

HAL INI TIDAK PERNAH TERJADI SEBELUM MBAK MIKA KAMI TITIPKAN DI DAYCARE!

Sungguh kami tidak mengira hal ini akan terjadi akibat kami menitipkan mbak Mika ke daycare. Hingga kemudian saya teringat beberapa hal. Pertama, Wify pernah cerita bahwa ada balita yg tidak lagi dititipkan ke daycare itu oleh ortunya. Lalu pengasuh daycare itu bilang, si balita tersebut anak mami banget bla 3x. Kedua, ada program MENDISIPLINKAN ANAK. Well, kami berdua mengajarkan disiplin kepada mbak Mika, namun jika melihat apa yg dialami mbak Mika, saya curiga disiplin yg diajarkan menggunakan cara2 kekerasan (verbal/sikap). Ketiga, yg ini Wify sendiri yg melihat (dan sekaligus menguatkan kecurigaan saya di poin 2) sang pemilik daycare menarik tangan mbak Mika dg sikap yg kasar dan membentak mbak Mika ketika Wify menjemput. Tindakan si pemilik ini didasarkan karena mbak Mika yg berlari2 mendatangi Wify dan raut mukanya berubah hendak menangis akibat tangannya ditarik si pemilik. Saya yakin mbak Mika berlari saat dijemput Wify karena dia gembira bisa terlepas dari pengasuh2 yg (masih kami curigai, karena tidak ada bukti jelas) melakukan tindakan kekerasan verbal & sikap kepadanya.

Saat saya diberitahu Wify, saya masih di kantor. Dan terus terang, emosi saya nyaris meledak mendengar penuturan Wify.

SAYA MENITIPKAN MBAK MIKA DI DAYCARE ITU UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN BAIK. DAN SAYA PUN SUDAH BAYAR ANDA UNTUK ITU! JADI, APA MASALAHNYA?

Jika pihak daycare beralasan mereka hendak menerapkan disiplin, mestinya mereka pakai otak mereka dulu, bagaimana cara menerapkan disiplin kepada anak kecil (balita) dg baik. Bukan dengan main bentak, menarik tangan dan hal2 lain yg cenderung ke sikap intimidasi!

Dan Sabtu siang ini, saya menyaksikan sendiri bagaimana mbak Mika menjadi gelisah dan tidak tenang tidur siangnya. Seringkali terjaga, menangis, dan berteriak-teriak ketakutan! Trauma yg mendalam sudah dialami mbak Mika. Kami akui ini terjadi karena andil 'kesalahan' kami juga dan akan menjadi tugas kami juga untuk menyembuhkan trauma ini. Entah berapa lama.

Daycare ini juga telah melakukan kesalahan, dengan memberikan susu basi kepada mbak Mika sehingga dia muntah2 dan sakit. Kurang ajarnya, kejadian muntah2 ini tidak langsung dilaporkan kepada Wify saat menjemput mbak Mika, tapi menunggu keesokan harinya ketika Wify mengantar mbak Mika. Kesalahan lain, berbohong dalam memberikan susu.

Semoga sharing kami ini bermanfaat bagi para pembaca.

Moral story:

- mencari daycare yg baik itu tidak mudah

- hati2 dg daycare yg menawarkan 'program' mendisiplinkan anak. saya ngerinya metoda yg diterapkan sama yg (kami curigai) dilakukan di daycare tempat mbak Mika, bersifat pemaksaan. padahal ini anak masih kecil, dan ITU BUKAN ANAK KALIAN!

- para pemilik dan pengasuh daycare, hendaknya kalian pake otak jika hendak berlaku kasar. BAGAIMANA JIKA ANAK KALIAN YG DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU OLEH ORANG LAIN?

- daycare ternyata menjadi mimpi buruk bagi kami bertiga :-(

- kami sendiri sudah memutuskan untuk BERHENTI MENITIPKAN MBAK MIKA KE DAYCARE ITU! kesehatan (mental) mbak Mika lebih utama dari sisa uang bulanan yg kami bayar! MAKAN TUH DUIT!

- mbak Mika dititipkan di daycare dari jam 08.00-16.30