Hari ini, 17 Juni, tepat 2 tahun umur mbak Mika. Seperti tahun lalu, saya juga membuat artikel khusus untuk mbak Mika di hari kelahirannya. Semoga artikel2 ini bisa dibaca dia kelak dan menjadi renungngan serta refleksi (muhasabah) bagi dirinya. Oya, tentu saja berguna bagi dirinya. :-)

Dua tahun sudah saya menjadi seorang bapak dan terus mengasah diri saya menjadi orang tua yg baik, terutama bagi mbak Mika. Suka duka, senang sedih, bahagia marah, saya rasakan selama 2 tahun ini dalam membina dan mendidik mbak Mika. Toh mayoritas 'warna' yg saya alami adalah kebahagiaan dan rasa syukur atas nikmat dan amanah ini.

Selama 2 tahun ini, saya dan Wify berjuang keras mendidik mbak Mika agar dia siap untuk menyambut dan menghadapi jamannya. Jaman yg jauh berbeda dg yg dialami oleh kedua orang tuanya. Jaman yg saya yakin tidak akan pernah bisa saya bayangkan, seperti halnya ortu saya tidak pernah membayangkan jaman yg saya arungi sekarang.

Sejauh ini, alhamdulillah, kami merasa apa yg telah kami lakukan cukup, meski bukan berarti kami lantas berpuas diri. Justru kami kian semangat untuk mendidik dan membekali Mika dg hal2 yg lebih baik, terutama di bidang agama. Yang jelas, kami berdua sepakat tidak akan banyak mengekang mbak Mika. Kami biarkan dia mengeksplorasi apapun, selama tidak berbahaya dan kami bisa memantau serta membimbingnya.

Yang masih menjadi kendala bagi kami adalah rasa takut yg masih menghinggapi mbak Mika, terutama jika dia bertemu dg orang baru. Di satu sisi, hal ini kami rasakan baik, mengingat banyaknya cerita penculikan anak. Dengan 'takut' yg dialami mbak Mika, membuat dia tidak mudah diajak orang.

Untuk pendidikan dan teknologi, kami rasa kami berdua sudah berusaha sebaik mungkin. Menyediakan tv kabel (agar dia tidak teracuni sinetron), memberikan buku2 yg bermanfaat buat dia, mengajarkan hal2 baik buat dia (well, at least menurut kami berdua, heheh). Toh, kami tidak lupa untuk mengajak mbak Mika bermain, terutama di ruang terbuka. Adalah hal yg tidak baik membiarkan anak (balita) terlalu asyik main di rumah. :-)

Mbak Mika, saat kamu membaca artikel ini, percayalah bahwa kami berdua, Pibi dan Bubi, selalu menyayangi mbak Mika, meski beberapa sikap kami dirasakan mbak Mika sbg paksaan, namun sesungguhnya itu semua upaya kami agar mbak Mika mendapatkan hal terbaik.

Mbak Mika sendiri punya banyak kenakalan. Beberapa di antaranya mungkin akan saya ceritakan di lain waktu. Nope, Pibi tidak berniat membuka aib mbak Mika, namun untuk menjadi pelajaran bagi mbak Mika apabila mbak Mika mempunyai anak kelak. :-)

Moral story:

- menjadi orang tua itu SUSAH

- tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, selain langsung menjalaninya

- anak adalah amanah, berhati-hatilah dalam menjaga amanah itu!