Belakangan ini sedang heboh mengenai gaji PNS (Gorontalo) yg mesti ditransfer ke rekening istri. Di sana disebutkan bahwa Gubernur Gorontalo memerintahkan agar gaji para PNS (terutama yg berstatus sebagai suami) ditransfer ke rekening istri mereka.

Penyebabnya, saya kutip di sini:
"Apalagi banyak keluhan dari para istri yang mengaku tidak mendapat gaji dari suaminya atau bahkan untuk belanja itu diserahkan setiap hari oleh suaminya," kata Rudi.


Saya sendiri, terus terang, tertawa terpingkal-pingkal membaca berita dan alasan itu. Nampaknya ada yg salah dg pasutri yg mengalami hal yg disebut Gubernur Gorontalo tersebut. Namun, saya selanjutnya berpikir dan ingin bertanya kepada para suami, ke mana gaji anda 'pergi' dan bagaimana sih anda mengatur gaji anda?

Bagi saya dan Wify, kesepakatannya sudah jelas. SEMUA, yup...SEMUA gaji saya akan saya berikan ke istri saya, Wify. Selanjutnya Wify yg akan mengatur segala pengeluaran dan kebutuhan rumah tangga.

Untuk pengeluaran, saya sendiri sudah diberi jatah bulanan. Nominal yg saya terima sudah meliputi makan harian, bensin, bengkel, lalu hutang2 kartu kredit, plus jalan2 bersama Wify dan mbak Mika. Tentu saja nominal tersebut tidak mengikat. Saya, selaku presiden, bisa melakukan negosiasi dengan menteri keuangan, terutama jika ada kebutuhan mendesak.

Terus terang, saya tidak khawatir jika gaji saya dihabiskan Wify untuk keperluan2 yg tidak penting. Meski status Wify sekarang adalah ibu rumah tangga, meski bukan berarti tidak ada pekerjaan yg dilakukan (karena sebenarnya masih bekerja sebagai freelance untuk mengerjakan project2), toh saya sudah tahu Wify bukanlah tipe istri yg boros. Setiap pengeluaran yg dilakukannya selalu penuh perhitungan, sehingga saya bisa tenang fokus mencari duit (tambahan, hihihi).

Tadi pagi, saya mendengar wawancara sebuah radio dengan Ikang Fawzi terkait kasus transfer gaji ini. Menurut Ikang,suami yg gajinya ditransfer ke istri maka wewenangnya berkurang.

Saya langsung mengernyitkan dahi. Apa hubungannya wewenang dg gaji ditransfer ke istri? IF melanjutkan, bahwa sebagai suami mestinya memegang uang bla 3x, terutama jika ada keperluan bla 3x.

Ah, dangkal sekali IF jika demikian alasannya. Bagi saya, wewenang suami tidak terkait dengan transfer gaji. Toh, seperti kasus saya, jika ada kasus mendesak, dia bisa meminta menteri keuangan untuk menggelontorkan dana darurat.

Saya menyadari bahwa gaji terkait dengan gaya hidup. Dan saya beruntung, baik saya maupun Wify tidak terlalu mempedulikan gaya hidup serta mesti mengikuti gaji yg kami dapatkan.

Sebagai orang yg gajinya dipegang oleh istri sejak dulu kala, saya malah bersyukur, duit saya diselamatkan oleh Wify. Di samping, saya sendiri orangnya memang bukan tipe boros (lagi). Uang berlebih yg saya terima, rata2 sudah saya investasikan, sehingga kemungkinan utk boros bisa lebih diperkecil lagi.

So, bagaimana pengalaman anda?

Maaf, saya lupa mengambil sumber gambarnya,heheh.

Moral story:
- gaji itu memang hak suami, tapi dia mesti menggunakan utk menuaikan kewajibannya, memberi makan (+ keperluan) anak istrinya. ;-)

- transfer gaji suami ke rekening istri tidak perlu diperheboh. biasa saja laaahh...

- istri yg baik tidak akan (mudah) menghabiskan gaji suami. dia justru akan lebih (belajar) bertanggung jawab utk memanfaatkan dan mengoptimalkan gaji suaminya utk keperluan keluarga.