Belakangan ini saya melihat buanyak sekali para penggiat aksi sosial,entah itu donor darah, buku bekas, atau apapun itu jenis dan kegiatannya. Intinya cuma satu, yakni ingin membantu sesama yg sdg mengalami masalah.

Tentu saja, para penggiat ini beraksi sesuai dengan masalah yg dihadapi. Jelas tidak mungkin penggiat aksi donor darah membantu saudara2 kita yg kekurangan buku utk sekolah. Bukan tidak mungkin sebenarnya, hanya saja tidak tepat guna,ehhe :-)

Beberapa hari lalu saya membaca 'curhat' mbak Ina di account twitternya, @inagibol. Di accountnya, mbak Ina menceritakan bahwa ada semacam persaingan yg terjadi di sesama penggiat aksi sosial.

Persaingan, utk beberapa kasus,termasuk dalam hal tolong menolong, memang bagus. Tapi yg dikeluhkan mbak Ina, dampak dr persaingan yg terjadi, korban tidak bisa ditolong secara maksimal.

Ditengarai, persaingan terjadi karena adanya keinginan utk tampil dr kelompok penggiat tertentu.

Well, saya tidak mau ikut campur atau menghakimi, karena saya sendiri belum bisa banyak memberikan kontribusi sosial. Meski bukan berarti kalau sdh berkontribusi boleh menghakimi seenaknya lho,hehe. ;-)

Mengingat aksi sosial, terutama yg menyangkut nyawa orang (seperti donor darah atau donor anggota tubuh jika ada), merupakan hal yg sangat penting maka memang seharusnya para tokoh dr kelompok2 penggiat sosial tsb mau duduk bersama, share, dan berbagi tugas dan peran.

Hilangkan ego kelompok sosial! Perbanyak menjalin hub dg berbagai kalangan utk mempermudah akses dan bantuan di lapangan. Yg tidak kalah penting, jgn smp terjadi saling jegal atau keengganan membantu krn ada masalah pribadi (yg mgkn terjadi). ;-)

Semoga artikel ini dibaca oleh para penggiat sosial dan bermanfaat utk langkah ke depannya, aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- membantu dan ikut serta dalam kegiatan sosial adalah hal yg sangat baik

- jgn pernah ragu utk berbuat kebajikan. Jg jgn pernah menyesal krn telah berbuat baik! ;-)