Seyogyanya, hukum dan hati nurani berjalan beriringan. Dalam artian, ketika seorang penegak keadilan memeriksa dan (pada akhirnya) menghukum seorang tersangka (atau terdakwa?) maka dia mesti memperhatikan sisi hukum (dalam hal ini undang-undang) dan hati nurani (itupun jika masih ada).

Sudah sering kita dengar dan lihat di Indonesia sulit (tidak ada?) kesejajaran hukum dan hati nurani. Beberapa contoh adalah dihukum bebasnya koruptor (atau dihukum SANGAT RINGAN), lalu dibiarkannya orang2 yg melakukan kejahatan. Sementara orang2 yg mencuri sandal, kakao, bahkan ayam, begitu mengenaskan nasibnya, bahkan tak sedikit yg tewas dihakimi massa.

Baru-baru ini sedang ramai berita mengenai AAL, seorang remaja tanggung yg dituduh mencuri SANDAL oleh seorang polisi. AAL diseret ke pengadilan dan dinyatakan bersalah serta dikembalikan ke orang tuanya untuk dibina.

Banyak orang yg menyesalkan dan marah dengan hal ini. Menurut mereka, tindakan AAL tidak perlu sampai dibawa ke pengadilan, apalagi dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman segala.

"Harga sandal itu berapa sih?"

Dan dampaknya, muncul gerakan mengumpulkan sandal sebagai gerakan simpatik dan peduli dg AAL.

Saya punya pendapat, di sinilah letak hukum dan hati nurani berfungsi.

Orang mencuri itu JELAS SALAH! Sudah benar dibawa ke meja hijau. Hukum MESTI BERLAKU! Namun, pada saat pengambilan keputusan, hati nurani hakim yg dibutuhkan. Apakah pelaku mesti menjalani hukuman atau tidak? Seberapa besar hukuman yg pantas diterima?

Menurut saya, hakim yg menangani kasus AAL sudah benar dg keputusannya, meski saya pikir ada cacatnya. Menurut hakim, AAL memang terbukti bersalah, maka jelas dia harus dihukum. Dan keputusan untuk mengembalikan AAL ke ortunya untuk dibina, SUDAH TEPAT! Adapun cacatnya, dari berita2 yg saya baca, sandal yg dijadikan barang bukti BUKAN sandal yg dicuri. Jadi, saya melihat bias di sini.

"Lho, anda kok malah mendukung AAL dibawa ke pengadilan? Anda ini tidak punya perikemanusiaan ya?"
"Ah, kampret nih yg punya blog, pendukung polisi!"
"Nyuri sandal dihukum, tapi koruptor kok dibiarkan?"

Barangkali ada yg kesal dg tulisan dan opini saya, sehingga terlontar pernyataan2 di atas. Well, saya hanya ingin mengatakan bahwa hukum mesti ditegakkan. Mencuri, jelas melanggar hukum. Masalah koruptor dibebaskan atau kasus2 lain dibiarkan, lalu dibandingkan, nah itu hal yg berbeda. Perbedaan yg saya maksud, jelas ada ketimpangan dalam penegakan hukum. Dengan kata lain, hukum ibarat pedang yg tajam di bagian bawah dan tumpul di bagian atas.

Dengan menghukum pencuri2 'kecil', dengan mengembalikannya ke orang tuanya, menurut saya sudah langkah yg tepat. Setidaknya ortunya (diharapkan) bisa mendidik anaknya. Kecuali ortunya memang maling, yaaa...susah, heheh.

Jika kita merujuk ke Amerika Serikat, di sana ada yg namanya kerja sosial. Biasanya diberikan pada orang2 yg bersalah, dengan syarat dan ketentuan berlaku (halah, memangnya operator telekomunikasi). Harapan atau tujuan dari kerja sosial, si pelaku menyadari kesalahannya dan dia bisa 'menebus' dengan bekerja/bermanfaat bagi orang lain atas kesalahan yg dia lakukan.

Di Indonesia, setahu saya, para napi yg dihukum di LP mereka biasanya disuruh untuk membuat sesuatu (barang2 kerajinan) lalu dijual. Masalahnya, saya tidak tahu, apakah para napi itu ikut mengecap duit dari hasil penjualan barang2 yg mereka buat atau dinikmati oleh para petinggi LP? Hahahha. Di Indonesia juga ada lembaga pembinaan sosial (dari Depsos jika tidak salah) yg memberikan pembinaan. Namun terbatas pada PSK, gelandangan, dst dst.

Walhasil, jika melihat kekacauan hukum di Indonesia, yg ada di benak saya hanyalah rasa pesimis.

Anda sendiri bagaimana?

Gambar dari sini.

Moral story:
- penegak hukum mestinya selalu bertindak adil dalam memberikan keputusan

- hukum di Indonesia sangat tidak adil, memihak yg punya duit

- orang masuk penjara mestinya sadar dg kesalahan2 dia dan bertobat. yg terjadi, saat keluar dari penjara, malah makin pinter berbuat kejahatan! ;-(

- mencuri sandal atau kakao atau duit atau barang apapun, tetap BERSALAH. jangan lantas membiarkan (membebaskan) orang2 yg mencuri dg dalih kasihan. efeknya? si pelaku akan menganggap tindakannya tidak salah! :-( ;-)