12/23/2011


Oh, bos yg saya maksud mungkin tidak persis sama dengan bos yg di artikel ini. Barangkali bisa dikatakan LEBIH MENGERIKAN, hahaha.

Ah, ok lah, agar tidak terlalu berlarut-larut, saya to the point saja.

Yang saya hendak utarakan di sini adalah film "Horrible Bosses" yang baru saya tonton kemarin lalu. Film ini mengisahkan 3 orang pegawai, Nick Hendricks (Jason Bateman, masih ingat My Secret Identity?), Dale Arbus (Charlie Day) dan Kurt Buckman (Jason Sudeikis), yg masing2 mempunyai bos Dave Harken (Kevin Spacey), Dr Julia Harris, D.D.S (Jennifer Aniston), dan Bobby Pellitt (Colin Farrell).

Kecuali Kurt, 2 temannya dari awal memang sudah punya bos yg sedemikian brengsek. Mulai si Harken yg memperlakukan si Nick seperti robot, mesti datang jam 6, kerja lembur, bahkan nyaris ga boleh libur hingga si Dr Julia Harris yg melecehkan (secara seksual) si Dale Arbus. Kurt sendiri akhirnya punya bos yg brengsek usai bapaknya si Bobby (Jack Pellitt, diperankan oleh Donald Sutherland) meninggal mendadak.

Bosan dg teror dari bos2 mereka, maka mereka berniat membunuh bos2 mereka. Cara membunuhnya unik, mereka akan membunuh bos dari teman mereka, bukan bos mereka sendiri. Jadi, si Nick akan membunuh si Bobby, lalu Dale membunuh Harken, dan Kurt akan membunuh Julia.

Problem terjadi ketika Dale malah menyelamatkan nyawa Harken dan Kurt malah nge-seks dengan Julia. Kekonyolan dan adegan2 absurd mulai terjadi silih berganti sejak saat itu.

Akhir film, tentu happy ending. Dan meski menghibur, jangan terlalu berharap pada film ini kecuali anda akan menyaksikan suatu kekonyolan yg absurd, terlebih melihat polahnya si Dale. :-))

Agak surprise juga saat mendapati IMDB memberi nilai 7.1. Saya pikir maksimal 6.5-an. Well, selera humor memang beda2 tiap orang, jadi tidak perlu diambil pusing dg nilainya. :-))

Gambar dari sini, sini, dan sini.

Moral story:
- kalo bosan dg bos, lebih baik resign (atau dipecat)

- kerja itu mesti nyaman. kalo ga nyaman, ya lakukan hal yg sama, resign atau dipecat. :-))

Posted on Friday, December 23, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments


Sejak masuk di kantor yg sekarang ini, saya sudah diminta memegang 2 project. Project pertama sudah selesai dan saya mendapatkan lesson learn dari project itu.

Pertama, berhati-hati terhadap setiap item (material) dari BOM (bill of material) yg akan dideliver. Cek dengan PO (purchase order) dan kontrak. Customer ataupun end user akan mencari celah dari setiap kesalahan kita.

Kedua, perhatikan attitude customer. Jika susah untuk mendapat approval (persetujuan) dari setiap dokumen ataupun design yg kita ajukan, maka sudah selayaknya anda eskalasi (laporkan) ke bosnya dia, cukup via email. Jika dari atasannya tidak ada respon, maka lakukan rapat. Upayakan persetujuan tidak lebih dari 10 hari (kalender).

Ketiga, catat setiap hasil diskusi dalam bentuk Minutes of Meeting. Alangkah lebih baiknya jika langsung ditandatangan oleh customer pada saat itu juga untuk menghindari dispute. Jadikan MoM sebagai acuan.

Keempat, apabila ada komplain dari customer/end user, minta mereka merujuk ke MoM. Jika ini terkait dengan janji yg diberikan oleh atasan/sales, maka sampaikan ke pihak yg terkait. Selaku PM, anda cukup kerjakan apa yg menjadi SOW (scope of work).

Gambar dari sini.

Moral story:
- 4 poin di atas bisa menjadi guide agar tidak terjadi project orakel (ora kelar-kelar) :-))

Posted on Friday, December 23, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

12/22/2011


Baru teringat, saya punya hutang artikel terkait dengan Ibu/Mama or whatever itu nama panggilan kita kepada sosok perempuan yg telah berjuang demi kita, sejak mulai kita di kandungan hingga lahir, lalu dirawat hingga besar dan sampailah pada sosok kita yg sekarang. :-)

Saya dulu pernah punya pemikiran bahwa seorang Ibu mesti bekerja. Bekerja dalam artian ada aktivitas di luar rumah (kantor/sekolah). Hal ini timbul akibat Mama adalah seorang guru, yg notabene beliau tidak 100% ada di rumah. Sejak jam 6.30 WIB, beliau sudah pergi ke sekolah dan pulang tergantung jadwal mengajarnya. Terkadang pulang jam 12 siang, tapi tidak jarang pulang jam 17.30 WIB.

Bayangan bahwa seorang istri (ibu) mesti bekerja terus melekat hingga saya menikah dengan Wify. Asumsi saya, bahwa seorang istri/ibu mestilah bisa mengatur pekerjaan (karir) dengan rumah tangga.

Sementara, bagi saya sendiri, Wify saya perbolehkan bekerja sebagai aktivitas sehari-hari, tidak di rumah terus menerus. Lagipula, sayang sekali jika sudah kuliah tinggi2 (dan mencapai gelar) tapi tidak diwujudkan dalam bentuk bekerja.

Tapi, seiring berjalannya waktu, plus hasil dialektika yg tidak berkesudahan dengan Wify, saya mulai bisa mengubah pola pikir saya ini.

Ada beberapa penyebab mengapa pola pikir saya mulai bisa berubah.

Pertama, dalam Islam yg WAJIB mencari nafkah (baca: duit) adalah suami. Dengan demikian, maka suamilah yg mesti (lebih) bekerja keras dan banting tulang. Adapun jika istri (ibu) bekerja, maka tetap prioritas adalah keluarga. Saya akan bahas lebih detail di side A.

Kedua, menjadi Ibu Rumah Tangga BUKAN pekerjaan yg hina! Beberapa kali saya dapati ibu2 yg tidak bekerja, terasa enggan (dan malu) untuk mengatakan dirinya tidak bekerja (di kantor) dan 'hanya' berprofesi sebagai IRT. Padahal menjadi IRT itu jauh lebih berat lho! Ok, meski sudah ada asisten rumah tangga, tapi mendidik anak itu jauh lebih sulit daripada mengurus pekerjaan kantor! Tidak percaya? Coba saja sendiri! :-)

Ketiga, meski sudah kuliah tinggi (apalagi mencapai gelar S2 atau S3), tidaklah salah menjadi IRT. Justru dengan demikian, si Ibu sudah punya bekal yg mumpuni untuk mendidik anak2nya menjadi generasi yg lebih baik. Saya yakin anak2 yg dididik ibu2 yg pendidikannya lebih tinggi akan punya potensi yg lebih baik!

Keempat, jika para istri/ibu masih merasa ada waktu luang saat menjadi IRT, mereka bisa mencoba beraktivitas atau mencari pekerjaan paruh waktu (freelance). Selain bisa mengatur waktu, mereka juga tidak perlu meninggalkan keluarga (anak) setiap saat. Plus juga masih bisa 'mengamalkan' ilmu yg mereka miliki.

Kelima, percaya atau tidak, jika si ibu/istri menjadi ibu rumah tangga, maka rejeki sang suami akan mengalir deras. Saya perhatikan banyak teman saya yg mengalami hal itu. Istrinya fokus mengurus anak dan diam di rumah, eh, rejekinya dia banyak sekali yg mampir. Barangkali istrinya berdoa dan dikabulkan ALLOH SWT. :-)

So, syukurlah pola pikir saya sekarang berubah. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:

- tidak ada salahnya menjadi ibu rumah tangga, bukan profesi yg hina kok! :-)

- pola pikir bahwa seorang ibu/istri mesti bekerja utk menghidupi keluarga adalah salah besar! SUAMI yg WAJIB mencari nafkah! Istri hanya membantu

- istri/ibu yg tidak bekerja bukan berarti tidak bisa apa2. banyak potensi yg tampil lho! :-)

Posted on Thursday, December 22, 2011 by M Fahmi Aulia

1 comment

12/07/2011


Sekitar 10 hari lalu, saat saya login di side A, saya dikejutkan dengan sebuah pemberitahuan yg berbunyi sebagai berikut:

We regret to inform you that Blogsome is going to be closing down permanently. We’ve enjoyed hosting your blogs, but all good things must come to an end. After the 7th December the admin interface of your blog may no longer be accessible and the blog content may be removed.

If you would like to backup your content you can do so by logging into your blog. After this choose the Manage >> Backup tabs. Here you will find three backup options. We have recently added a WXR file option, which will allow you to import your content back into the popular Wordpress.com blogging site. In order to keep your images you should select a backup of the database which includes images.

We are sorry about the inconvenience and wish you good luck in your future blogging endevours.

Cheers,
The Blogsome team.
Hwarakadah, itu berarti umur side A tidak lama lagi. Walhasil, saya segera melakukan langkah2 backup side A. Sayangnya, proses backup side A ternyata tidak berjalan mulus. Tidak semua blog (dan komentar) berhasil dibackup. Saya ketahui hal ini pada saat melakukan restore ke rumah baru side A.

Sekedar romantisme, saya ingin mengenang kembali side A di blogsome. Sudah sejak 2005 saya menggunakan layanan blogsome, hasil migrasi dari blogspot. Penyebabnya, beberapa fitur di blogsome lebih menarik daripada di blogspot. Terutama fitur statistik (yg dulu sempat ada di blogspot, tapi kemudian dihapus) serta status referee (referensi).

Saya jarang sekali alami masalah di blogsome. Saat banyak orang pindah ke wordpress, saya masih ngotot utk tetap di blogsome, padahal dengar2 wordpress adalah engine blog hasil pengembangan blogsome juga. Toh, saya akhirnya membuat juga domain utk side A di wordpress tahun 2009.

Hit tertinggi di side A, seingat saya terjadi pertengahan tahun ini, ketika malam nisfu Sya'ban hendak tiba. Tercatat 11 ribu lebih kunjungan ke side A, terutama ke artikel malam nisfu Sya'ban.

Dan akhirnya, saya mesti melakukan boyongan dari blogsome ke wordpress, terutama usai informasi yg saya dapatkan tersebut. Dari 1,023 artikel dan 12,598 komentar, saya hanya berhasil menyelamatkan sekitar 980an artikel dan 10,000an komentar. Sisa artikel saya mesti copy paste dan muat ulang. Untuk komentar, ya dg berat hati saya relakan pergi begitu saja. ;-(

Well, tercatat sejak 25 November 2011, side A menempati rumah barunya di tausyiah275.wordpress.com.

SELAMAT TINGGAL BLOGSOME, TERIMA KASIH ATAS SEGALA LAYANAN DAN BANTUANNYA! MUNGKIN DI LAIN WAKTU KITA AKAN BERTEMU LAGI! :-)

Semoga side A senantiasa bisa istiqomah untuk memberikan manfaat bagi banyak orang. Aamiin.

Moral story:
- layanan gratisan memang beresiko, terutama jika si layanan menghentikan jasanya

- sebenarnya saya pernah berniat menggunakan domain sendiri, namun terkendala dengan layanan dan kapasitas trafik

- blog bisa menjadi sarana dakwah lho! ;-)

Posted on Wednesday, December 07, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments