9/21/2011



Salah seorang teman saya mengirim informasi mengenai pertanyaan2 yg sering diajukan pada saat interview. Anda bisa baca lebih lengkap di sini.

Saya akan menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga bisa membantu rekan-rekan yg kebetulan interviewnya menggunakan bahasa Indonesia.

# 01 Ceritakan tentang diri Anda.

# 02 Apa kekuatan terbesar Anda?

# 03 Apa kelemahan terbesar Anda?

# 04 Ceritakan tentang sesuatu yang Anda lakukan - atau gagal melakukan - yang membuat Anda sekarang merasa sedikit malu.

# 05 Mengapa Anda meninggalkan (atau apakah Anda meninggalkan) posisi ini?

# 06 The "Pengobatan Diam"

# 07 Mengapa saya harus mempekerjakan Anda?

# 08 Apakah tidak Anda overqualified untuk posisi ini?

# 09 Di mana Anda melihat diri Anda lima tahun dari sekarang?

# 10 Jelaskan perusahaan ideal Anda, lokasi dan pekerjaan.

# 11 Mengapa Anda ingin bekerja di perusahaan kami?

# 12 Apa pilihan karir Anda sekarang?

# 13 Mengapa engkau telah keluar dari pekerjaan begitu lama?

# 14 Katakan pada kami sejujurnya tentang poin yang kuat dan titik lemah dari atasan Anda (perusahaan, tim manajemen, dll)

# 15 Apa buku bagus yang sudah Anda baca belakangan ini?

# 16 Ceritakan tentang situasi ketika pekerjaan Anda dikritik.

# 17 Apa yang menarik di luar Anda?

# 18 Pertanyaan "Fatal Flaw"

# 19 Bagaimana perasaan Anda tentang memberikan pelaporan (melapor) kepada orang yang lebih muda (minoritas, wanita, dll)?

# 20 Pada hal-hal rahasia

# 21 Apakah Anda mau berbohong untuk perusahaan?

# 22 Melihat ke belakang, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda dalam hidup Anda?

# 23 Bisakah Anda telah melakukan yang lebih baik dalam pekerjaan terakhir Anda?

# 24 Dapatkah Anda bekerja di bawah tekanan?

# 25 Apa yang membuat Anda marah?

# 26 Mengapa tidak Anda mendapatkan lebih banyak uang pada tahap dalam karir Anda?

# 27 Siapa yang mengilhami Anda dalam hidup Anda dan mengapa?

# 28 Apa keputusan terberat yang pernah anda buat?

# 29 Ceritakan pada kami tentang pekerjaan yang paling membosankan yang pernah Anda miliki.

# 30 Apakah Anda pernah absen dari bekerja lebih dari beberapa hari dalam setiap posisi sebelumnya?

# 31 Apa yang akan anda lakukan jika Anda datang di papan?

# 32 Saya khawatir bahwa Anda tidak memiliki pengalaman sebanyak yang kita inginkan

# 33 Bagaimana perasaan Anda tentang bekerja malam hari dan akhir pekan?

# 34 Apakah Anda bersedia untuk pindah atau bepergian?

# 35 Apakah Anda memiliki keberanian untuk memecat orang? Apakah Anda memiliki pengalaman memecat banyak orang?

# 36 Kenapa kau begitu banyak mempunyai pekerjaan?

# 37 Apa yang Anda lihat sebagai peran yang tepat / misi ... ... yang baik (pekerjaan yg Anda sedang cari); ... manajer yang baik; ... seorang eksekutif dalam melayani masyarakat; ... perusahaan terkemuka dalam industri kami, dll

# 38 Apa yang akan Anda katakan kepada atasan Anda jika ia tergila-gila dengan sebuah ide, tapi Anda pikir itu tidak berguna?

# 39 Bagaimana Anda bisa meningkatkan kemajuan karir Anda?

# 40 Apa yang akan Anda lakukan jika seorang eksekutif pada tingkat sesama sendiri perusahaan Anda gagal bekerja ... dan ini menyakiti departemen Anda?

# 41 Anda telah dengan perusahaan Anda waktu yang lama. Apakah bukan sulit beralih ke sebuah perusahaan baru?

# 42 Bisakah saya menghubungi majikan Anda saat ini untuk referensi?

# 43 Berikan saya contoh kreativitas Anda (keterampilan analitis ... mengelola kemampuan, dll)

# 44 Di manakah Anda menggunakan beberapa perbaikan?

# 45 Apa yang Anda khawatirkan?

# 46 Berapa jam seminggu Anda biasanya bekerja?

# 47 Apa bagian paling sulit dari menjadi (nama jabatan)?

# 48 "Masalah hipotetis"

# 49 Apa tantangan terberat yang pernah Anda hadapi?

# 50 Apakah Anda mempertimbangkan untuk memulai bisnis Anda sendiri?

# 51 Apa tujuan Anda?

# 52 Apa yang Anda harapkan ketika Anda menyewa orang?

# 53 Jual aku stapler ini ... (ini pensil ... jam ini ... atau beberapa benda lainnya di atas meja pewawancara).

# 54 "Pertanyaan Gaji" - Berapa banyak uang yang Anda inginkan?

# 55 Pertanyaan Ilegal

# 56 "Rahasia" Pertanyaan Ilegal

# 57 Apa bagian terberat dari pekerjaan terakhir Anda?

# 58 Bagaimana Anda mendefinisikan kesuksesan ... dan bagaimana Anda mengukur definisi Anda sendiri?

# 59 "Pertanyaan Opini" - Apa pendapat Anda tentang Aborsi ... ... ... Para Presiden Hukuman Mati ... (atau topik kontroversial lainnya)?

# 60 Jika Anda memenangkan lotre $ 10.000.000, akan Anda masih bekerja?

# 61 Melihat kembali pada posisi terakhir Anda, apakah Anda melakukan pekerjaan terbaik Anda?

# 62 Mengapa saya harus mempekerjakan Anda dari luar ketika saya bisa mempromosikan seseorang dari dalam?

# 63 Ceritakan sesuatu yang negatif Anda pernah mendengar tentang perusahaan kami ...

# 64 Pada skala satu sampai sepuluh, tingkat saya sebagai seorang pewawancara.

Semoga berguna. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:

- ternyata saat interview, pertanyaan2 yg diajukan sudah ada 'standar'

- hati2 dg pertanyaan2 jebakan

- pertanyaan2 yg saya tulis bukan jaminan anda diterima ;-) tapi, semoga membantu dan anda berhasil diterima kerja di tempat yg anda inginkan, aamiin

- silakan ke halaman 'aslinya' untuk mengetahui jawaban2 yg terbaik serta menghindari pertanyaan2 jebakan :-)

Posted on Wednesday, September 21, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

9/19/2011



Gegara Dian Ina (@kemiri) menyinggung katering di kicauannya, saya jadi tergelitik berbagi cerita mengenai katering di pernikahan. Cerita saya ini berasal dari banyak sumber, baik pengalaman pribadi maupun dari teman-teman saya.

Artikel ini merupakan perluasan dari kicauan saya di twitter dengan tagar #kicauKatering. Sebenarnya saya 'menyalahi' kebiasaan saya, terutama di artikel ini, yakni lebih dahulu 'kultwit' daripada menulis di blog. Jadi harap maklum ya? :-)

Dalam sebuah pesta pernikahan (resepsi), keberadaan katering bisa dikatakan SANGAT PENTING. Hal ini adalah ungkapan terima kasih dari pihak pengantin dan keluarganya kepada para tamu yang telah sudi datang dan memberikan doa (dan angpau) kepada mereka. Dengan kata lain, pihak pengantin dan keluarga semestinya memberikan, menyajikan serta menyuguhkan layanan terbaik kepada para tamunya.

Bagi yg sudah menikah, mereka akan tahu betul bahwa komponen katering akan menghabiskan biaya yg tidak sedikit! Dari cerita teman2 saya, mereka menganggarkan sedikitnya 30-40% dari biaya pernikahan untuk urusan makanan. Bahkan ada teman yg mengaku meng-set hingga 60% untuk memuaskan perut para tamunya ini. Disusul biaya dekor, rias pengantin, suvenir, dll.

Anggaran sebesar itu tentulah tidak fix, melainkan hanyalah sebagai gambaran umum. Namun bisa dikatakan berlaku bagi para pengantin yg hendak menyelenggarakan pesta pernikahan baik di rumah maupun di gedung serta untuk jumlah tamu (berapapun banyaknya).

Seperti yg saya katakan sebelumnya, saking pentingnya keberadaan katering maka bisa dikatakan sukses tidaknya sebuah pesta pernikahan sangat bergantung pada katering. Mengapa? Anda bisa bayangkan jika anda hadir ke sebuah pesta pernikahan lalu tidak mendapat makanan dikarenakan makanannya sudah habis. Saya yakin anda akan ngomel2, minimal dg pasangan yg anda ajak. Bahkan anda akan merasa malu kepada pasangan anda karena mengajak dia ke pesta pernikahan tapi ga ada makanan. Sudah cape2 datang dari tempat yg jauh, lalu sudah ngasih amplop, antri yg panjang utk salaman, eeehh....makanannya habis.

Well, sebagian besar orang datang ke pesta pernikahan (bisa jadi) karena faktor makanan, yakni ingin mencicipi makanan yg selama ini jarang mereka cicipi. Bahasa kasarnya, perbaikan gizi. :-)) Tentu saja memberikan doa juga penting. Selain itu juga dari sisi agama, jika kita menerima undangan dari seseorang, hendaknya datang kecuali jika ada keperluan lain yg lebih mendesak.

Jika kisruh katering ini hanya terjadi secara terbatas, dalam artian hanya gumaman sesaat dan cepat dilupakan orang, barangkali tidak akan ada masalah. Namun, saya pernah jumpai kurangnya makanan dalam pesta pernikahan ini akan menjadi episode bahan gosip tak berujung dari ibu-ibu peserta arisan, terutama di kelompok arisan yg pihak penyelenggara pernikahan itu terlibat.

Barangkali dari pihak pengantin tidak ada masalah. Tapi anda tahu sendiri kan, betapa lidah tak bertulang dan perkataan seringkali sedemikian lebih menyakitkan dari digebuki orang sekampung. Dengan kata lain, si ibu pengantin mesti siap tebal kuping dan muka badak jika dalam hajatannya yg digelar, dia gagal menyiapkan makanan yg cukup bagi para tamunya.

Saya pernah menghadiri pesta pernikahan yg kateringnya sedemikian kacaunya. Bayangkan, hanya 10-15 menit dari dibukanya sesi salaman, makanan SUDAH HABIS TOTAL! Anda mungkin tidak percaya, tapi ini benar2 terjadi! Saya dan Wify sendiri hanya bisa terheran-heran mendapati kejadian tak terduga ini. Walhasil kami hanya sempat minum air putih dan akhirnya membeli makanan di luar. Bayangkan, makan di restoran dengan batik utk menghadiri pernikahan. Rasa2nya ganjil buanget.

Habisnya makanan ini mestinya TIDAK BOLEH TERJADI!

Sebenarnya ada hitung2an yg mudah untuk menghindari permasalahan makanan ini. Hitung2an ini berlaku umum, baik jika ajang pesta pernikahan dilakukan oleh pihak keluarga sendiri maupun jika menyerahkan urusan ini kepada pihak penyelenggara pernikahan.

Rumus tersebut adalah: (undangan yg disebar * 2) + 20%

Dengan kata lain, jika anda menyebar 100 undangan, maka anda mesti menyiapkan makan untuk 240 orang. Inipun masih bisa dikatakan MINIMAL dan berlaku untuk HIDANGAN UTAMA. Jadi, jika anda hendak menyiapkan stand (pojok2 makanan) sebanyak 5 buah, ini berarti tiap stand pun mesti siap melayani 240 orang. Dengan kata lain, untuk menu hidangan utama + 5 stand, maka itu semua mesti ada 1440 porsi!

Kaget? Ga usah, eh, jangan dulu...karena itu baru urusan makanan lho! :p

Lalu, kok ya bisa (katakanlah) 1440 porsi itu tidak cukup untuk para tamu yg hadir?

Ada beberapa penyebab kenapa makanan yg disajikan ternyata tidak cukup.

Pertama, salah perhitungan. Salah perhitungan yg saya maksud bisa dibagi lagi. Satu, salah perhitungan tamu yg hadir. Kedua, salah perhitungan penyediaan makanan.

Dalam salah satu undangan pernikahan yg pernah saya hadiri, saya pernah temui ada tamu (1 keluarga) yg rombongan hadir, dalam artian kayanya 1 keluarga besar dia ajak semua utk datang ke pesta pernikahan. Tidak tanggung-tanggung, jika saya tidak salah hitung, rombongan yg dibawa berjumlah 5-6 orang. Jadi ada suami-istri dan anak2nya. Dalam kasus lain ada juga pengasuh anak (jika anaknya masih kecil). Bayangkan, jika 5 orang yg hadir untuk 1 undangan sementara 'jatah' makan tiap undangan hanya 2,4 orang ini berarti pihak pengantin sudah 'tekor' menu sebanyak 2,6 orang!

Jika anda berpikir undangan pernikahan yg saya hadiri adalah undangan pernikahan di desa atau kampung, maka anda salah! Undangannya justru di Bandung dan Jakarta! Budaya aji mumpung dan (seperti saya tulis) perbaikan gizi mungkin bisa menjadi faktor penyebabnya, hehehe.

Sementara jika salah perhitungan mengenai penyediaan makanan, jika karena satu dan lain hal ternyata makanan yg disajikan tidak memenuhi jumlah yg diharapkan (terutama jika makanan dibuat oleh keluarga sendiri ataupun harga bahan makanan sedang mahal) maka end of story. Namun jika masalahnya ada di EO, itu saya jelaskan di bawah.

Kedua, pihak EO melakukan kecurangan dalam hal makanan, entah itu porsinya yg tidak sesuai dengan kesepakatan ataupun ada korupsi di pihak EO itu sendiri. Saya pernah ngobrol dengan teman yg meminta saya hadir di pernikahan saudaranya. Dalam acara pernikahan saudaranya itu, saya melihat ada seseorang yg kerjanya hilir mudik lalu menyuruh-nyuruh serta main tunjuk plus berbicara melalui handy talkie.

Ketika saya tanyakan kepada teman saya, dia berkata itu adalah pengawas makanan yg bertugas mengatur supply makanan yg akan disajikan. Jadi, si pengawas ini bertugas menghitung jumlah tamu yg hadir serta menentukan kapan makanan (tambahan) boleh masuk, termasuk juga menghitung porsi makanan yg telah disajikan pihak EO.

Saya lupa bertanya apakah pengawas ini dari pihak EO atau dari keluarganya. Yg saya ingat, teman saya menggunakan pengawas karena ada EO-EO yg curang dalam menyajikan makanan.

Kasus pertama, EO melakukan korupsi dalam menyajikan makanan. Ini bisa jadi dari bos-nya EO ataupun pelakunya dari staf2 EO. Saya terheran-heran ketika ada teman saya cerita bahwa pernah didapati staf EO yg menyembunyikan makanan yg mestinya disajikan. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung bisa puluhan porsi! Padahal bosnya sudah menyanggupi dg pihak keluarga pengantin utk menyediakan porsi makanan yg mencukupi. Saya juga tidak sempat tanya, bagaimana kok bisa ketahuan. Tapi yg jelas, kasus ini akan berdampak sistemik *halah*

Kasus kedua, pihak EO ternyata tidak menyajikan makanan sesuai dengan kesepakatan. Ini cerita dari Mama. Temannya menyelenggarakan resepsi utk anaknya. Ternyata menu yg disepakati dg pihak EO dg yg disajikan tidak sama, bahkan juga dalam hal jumlah porsi. Ya ini sih sudah di luar kuasa pihak keluarga. Namun ya tetap saja kasusnya berlanjut, terlebih pihak keluarga merasa dirugikan terutama dari sisi non materi (ya itu tadi, bakal menjadi sasaran gosip bagi para ibu2 yg lidahnya sudah kegatelan).

Lalu, apakah ada tips untuk mengatasi masalah katering ini? Ada kok! Saya coba berbagi beberapa di antaranya.

Pertama, yg paling gampang, perbesar pengalinya. Menurut @rendy, di keluarganya berlaku undangan*3. Ya, ini solusi paling gampang tapi resiko juga terutama di budget, bisa bengkak gila2an. Jika makanan berlebih sih tidak masalah, bisa dibagi-bagi ke tetangga.

Kedua, perbanyak makanan utama. Jadi untuk makanan utama bisa disediakan porsi undangan*3, sementara utk stand2-nya cukup undangan*2. Pengalaman saya selama ini para tamu lebih suka menyerbu stand daripada makanan utama.

Ketiga, lokasi pernikahannya di rumah, jangan di gedung. Biaya sewa gedung bisa dialihkan utk makanan. Resikonya bagi yg rumahnya di gang kecil, mesti menyiapkan tempat yg bisa menampung tamu yg diundang. Saya belum pernah menemukan pernikahan di rumah di gang kecil yg tamunya makan sambil berdiri. Duduk semua tamunya. So, mesti siap2 'booking' jalan sepanjang gang. :-)

Keempat, jumlah undangan. Jika budget terbatas, ya undangannya jangan terlalu banyak yg disebar. Misalnya budget makanan hanya bisa utk 200 orang, ya jangan sebar undangan 200. Maksimum 100 undangan lah. Makanan berlebih itu terhormat daripada tamu kelaparan. :p

Kelima, jadwal pernikahan. Menggelar pernikahan di hari kerja, apalagi di jam kerja, jelas akan menyelamatkan katering anda dari kemungkinan habis diserbu ataupun kekurangan. Soalnya, ga ada yg datang, ahhaha. :-))

Keenam, cari EO yg bisa dipercaya. Rekomendasi teman barangkali bisa dijadikan acuan. Hindari EO-EO yg tidak meyakinkan, terutama utk menghindari kasus2 yg saya sebut di atas.

Ketujuh, jika EO-nya dirasa tidak meyakinkan, coba siapkan pengawas yg akan mengatur laju lalu lintas makanan dan jumlah tamu.

Kedelapan, cek perbandingan tamu. Tamu dari golongan muda (sebaya) akan menghabiskan makanan lebih banyak lho, hahaha. :-) Hanya saja, dari pengalaman saya, tamu dari golongan yg tua justru MENYISAKAN makanan lebih banyak. :-(

Kesembilan, masak sendiri. Anda bisa saving banyak untuk makanan. Perbandingan biaya makanan EO dg masak sendiri bisa 1:2 atau malah 1:3. Harga 1 porsi makanan (yg serupa) di EO = 3 porsi jika memasak sendiri.

Sepuluh, adat. Saya pernah menghadiri pernikahan teman saya di Solo. Di sana tidak diberlakukan adat prasmanan (ambil sendiri) seperti yg selama ini sering saya hadiri. Tamu datang, duduk, disajikan makanan (makanan diantar ke kursi tamu), baru salaman.

Demikian, semoga berguna bagi anda2 yg hendak menikah. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- biaya katering utk pernikahan itu mesti sangat diperhatikan.

- jangan sampai tamu kelaparan gara2 salah perhitungan makanan sehingga makanan cepat habis sementara tamu masih banyak.

- ini bukan blog berbayar

- mudah2an tidak ada follower saya yg unfol gara2 kultwit 

Posted on Monday, September 19, 2011 by M Fahmi Aulia

5 comments

9/17/2011



Saya mengenal olahraga bowling sejak usia 5-6 tahun. Penyebabnya adalah tetangga rumah di Malang dulu bekerja di sebuah perusahaan yg lokasinya berdekatan dengan tempat bermain bowling. Nah, saya sempat diajak beberapa kali ke sana. Plus lokasi main bowlingnya juga berdekatan dengan tempat main ding dong, salah satu permainan yg kelak akan meracuni dan berpengaruh terhadap hidup saya. ;-)

Saya sendiri sempat ingin bermain bowling terutama sejak melihat lokasi lapangan bowling di Bandung dulu, yakni di BSM dan di Dago Plaza. Namun apa daya, saya tidak punya teman yg berkeinginan sama, sehingga akhirnya keinginan itu saya pendam.Toh, tidak bermain bowling bukan berarti saya tidak berminat bowling. Beberapa kali saya mengikuti acara olahraga, terutama jika ada kompetisi bowling tingkat internasional. Di sana saya terpukau dengan keluwesan mereka mengayun bola sekaligus dengan 'menitip' kekuatan untuk meruntuhkan pin-pin yg berdiri.

Penantian saya untuk bermain bowling akhirnya berakhir Rabu sore kemarin.

Kantor saya menyelenggarakan acara 17 Agustus-an (yg dilakukan di bulan September. aneh, yak?! hihihi..) dan salah 1 lombanya adalah bermain bowling. Nama saya sendiri sudah terdaftar sebagai salah seorang pemain.

Jam 7 malam saya tiba di EX, menuju SpinCity. Melihat teman2 kantor yg datang dan tampang2nya, wuihh, kayanya sudah pada lihai meluncurkan bola bowling nich. Ah, sebodo amat pikir saya. It's just a game. Tapi, malu2in juga kalo sampe kalah, hahaha.

Usai didaftar dan mendapat sepatu, mulailah saya menuju meja tim saya.

Dan untuk kesekian kalinya, saya dengan pede-nya melakukan sesuatu yg belum pernah saya lakukan sebelumnya. Yak, saya memilih-milih jenis bola bowling yg hendak saya gunakan. Sotoy aja pokoknya, meski tidak 100%. Saya cek dan teliti dengan seksama.

Oh, ok, I got. Bola bowling beragam jenisnya. Angka paling kecil yg saya temui di Spincity adalah no 8 dan paling besar no 12. No 8 ringan dan rasa2nya cocok untuk pemula seperti saya. Sementara jika melihat beratnya bola no 12, saya pikir cocok utk yg punya power besar sehingga lebih mudah menjatuhkan pin-pin.

Berkenalan dengan 2 orang tim saya, yakni Weni dan maaf saya lupa 1 lagi. Sok2an juga saya melaburi tangan saya dengan bedak. Cih, serasa main karambol saja, hahaha.

Wah, sial, saya berada di no 1. Itu artinya saya mesti memulai aksi saya!

Dengan membaca bismillah, dan mengingat-ingat gerakan pemain bowling profesional yg pernah saya tonton, saya mulai ambil bola. Ancang2, menaruh bola di depan muka, memandang ke arah pin-pin yg menantang saya. Istilahnya, membidik sasaran.

Lalu melangkah sebanyak 2-3 kali, dan wussss...mulailah saya mengayunkan tangan saya, melempar bola bowling ke arah pin-pin tersebut.

Alhamdulillah, lemparan perdana saya cukup mulus, tidak seperti orang yg melakukan tolak peluru, hahahah.

Harap2 cemas, saya memperhatikan bola bowling meluncur ke arah pin-pin....dan YESSSSS....BOLANYA MENGGELINDING KE SAMPING!! Usai menyerempet 1 pin (dan jatuh), si bola akhirnya nyemplung! *ngakak*

PENAMPILAN PERDANA YG SANGAT MENGESANKAN, MEMBANGGAKAN MEMALUKAN!! *ngakak pol jika saya ingat lagi kejadian itu*

Di lemparan kedua, hanya 2 pin yg jatuh. Dan saya hanya menunduk lesu. "Njrit, susah juga ternyata main bowling," demikian pikir saya.

Toh, saya tidak putus asa. Saya perhatikan teman2 lain yg melakukan lemparan, lalu saya analisa dan saya rekam bagaimana mereka melakukannya.

Hasil analisa saya, gerakan yg saya lakukan sudah benar. Namun nampaknya saya kehilangan fokus pada saat melempar, sehingga bola menggelinding bukan ke sasaran yg saya tuju. Selain itu, tidak perlu terlalu banyak tenaga karena bola bowling akan cukup mulus meluncur di lintasannya.

Satu hal lagi, jika masih beginner, ndak usah sok-sokan pakai melintirin bola (istilah Sunda: nyintir). Selain belum tentu ok, gaya untuk melakukan sintirannya juga lebih besar dan malah bikin cape.

Walhasil, pada pertandingan berikutnya (tim saya lolos ke putaran berikutnya dengan saya sebagai juru kunci, hahaha) di game 1 dan 5, saya berhasil melakukan strike! Mantaaappp kan?

Akhirnya di final, tim saya kalah angka dengan tim juara. Selisihnya sekitar 30an. Dan nampaknya saya memang jadi kuda lumping kartu mati di tim saya, karena perolehan angka saya paling kecil.

Toh, saya tidak perlu kecewa. Tim yg mengalahkan tim saya emang beranggotakan orang2 yg emang sudah makan asam garam lintasan bowling. Saya lihat jumlah strike mereka 3x lebih banyak dari tim saya, hahah.

Menyenangkan sekali main bowling, ternyata. Hanya saja, dampak samping dari sekian lama ndak olahraga, hari Kamis dan Jum'at, kaki kanan saya pegal2 abissss. Susah untuk diajak berdiri dari posisi jongkok ataupun dari berdiri ke posisi sujud (saat sholat).

Nampaknya, agar kaki tidak gampang pegal lagi, saya mesti sering2 main bowling nich! Ayo...ada yg mau nantang saya? Saya sudah pe-de nich! Hahahha..

Foto dari sini.

Moral story:

- ingin bermain bowling? bisa ikuti tutorialnya di sini.-


- main bowling ndak terlalu susah sebenarnya, yg penting adalah tenang.

- biaya main bowling relatif lebih mahal dari olahraga lain yg pernah saya lakukan. jadi, jgn terlalu kecanduan ah! :-D

Posted on Saturday, September 17, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

9/16/2011


Perkenalan saya dg mbak Valencia (@justsilly) belum lama, karena saya tertarik dengan kicauan2nya ttg donor darah. Kebetulan saya termasuk orang yg doyan bagi2 darah kepada orang2 yg membutuhkan. Sayangnya, sejak 2010 lalu, saya belum bisa donor darah lagi karena darah saya ditengarai mengandung zat aktif.

Membaca kicauan mbak Valencia, yg notabene pendiri gerakan Blood 4 Life (darah utk kehidupan, jika diterjemahkan dg sebebas-bebasnya), membuat kita akan merasa sadar bahwa setetes darah dari kita akan sangat berarti bagi orang2 yg membutuhkan. Tidak heran, mbak Valencia begitu gencar berkicau, entah berbagi info mengenai orang2 yg butuh darah, ataupun menjadi penyambung dan jembatan bagi orang2 yg ingin menyumbangkan darah.

Belakangan ini, aktivitas mbak Valencia selaku tukang antar darah (hahah...serem ya istilahnya) kian bertambah seiring dengan kian tenarnya beliau. Bahkan Blood 4 Life dijadikan iklan Google Chrome (coba cek di Youtube dengan keyword blood 4 life).

Sayang sekali, kegiatan mbak Valencia dalam membantu orang2 yg membutuhkan ini tidak didukung dengan gadget yg memadai. Blacberry yg dimilikinya (Javelin) seringkali hang dan muncul jam pasir, sehingga acapkali beliau tidak bisa merespon dengan cepat permintaan2 yg masuk.

Melihat gegap gempita XL hendak berbagi Blackberry baru, seri Dakota, saya melihat ada harapan barangkali pihak XL mau membantu mbak Valencia.

Caranya mudah saja. Pihak XL memberikan 1 BB Dakota-nya kepada mbak Valencia, sehingga mbak Valencia tidak kesulitan lagi dalam beraktivitas dan membawa manfaat bagi orang banyak. Selain itu, hal ini akan menunjukkan bahwa XL pun PEDULI dengan KEMANUSIAAN. Dan saya yakin banyak orang yg angkat topi dan (syukur2) kian banyak yg berlangganan XL, hehehe.

So, bagi teman2 yg membaca blog ini, saya minta bantuannya untuk berbagi artikel ini ke twitter. Tujukan ke @XL123 dengan hashtag #XLBBDakota, berharap pihak XL mau (lebih) bermanfaat bagi orang banyak. :-)

Saya sendiri sempat menulis berikut:
Jika saya mendapat #XLBBDakota,saya akan hibahkan ke mbak @justsilly agar beliau bs lbh mdh membantu org lain mendapat darah | @XL123

Moral story:
- kicauan2 mbak Valencia ttg BB-nya bisa dibaca di sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, dan sini. Lucu2 lhooo...dan mengenaskan. :-(

- Untuk berbagi dengan sesama, murah sekali. Anda bisa berbagi artikel ini di twitter.

- Twit ini bukan twit berbayar :-)

Posted on Friday, September 16, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

9/11/2011

Menjelang masuk tgl 12 Sept, saya mengingat kembali 11 Sept (911), salah satu hari yg mengubah perjalanan hidup umat manusia.

Hari ketika banyak orang yg menjadi buta dan semena-mena untuk menyerang orang lain dengan dasar yg tidak jelas.

Hari saat agama juga dijadikan pembenaran untuk menyerang agama lain.

Hari dimulainya ikut campur dan menduduki negara lain dengan alasan senjata pemusnah massal yg akan mengancam dunia.

Hari hancurnya 2 menara di Amerika Serikat yg penuh dg teori konspirasi dan prasangka buruk terhadap pemerintah Amerika Serikat itu sendiri (seperti halnya penyerangan Pearl Harbour).

Semoga kita termasuk manusia yg berhasil memanusiakan kembali diri kita. Aamiin.

Posted on Sunday, September 11, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

9/06/2011



Seiring dengan kian tenarnya twitter, keberadaan blog kian 'dilupakan' oleh banyak orang. Padahal di tahun 2004-2005, blog sempat digadang-gadang sebagai cara komunikasi yg cukup efektif. Namun, kemudahan berkomunikasi dengan twitter ternyata mulai menggeser kepopuleran blog. Terlebih lagi dengan perilaku 'bapak' blog yg belakangan ini doyannya menerbitkan ulang postingan2 lamanya daripada ngeblog artikel baru. ;-)

Entah siapa yg memulai, twitter digunakan untuk menggantikan blog. Dalam artian, seseorang berkicau dalam jumlah kicauan cukup banyak (bisa mencapai ratusan) disertai dengan hashtag (tagar = tanda pagar) tertentu sesuai dengan topik yg dibawakan. Dengan demikian orang2 awam bisa mengikuti 'kuliah' tweet.

Saya sendiri pernah 'kultwit', mengenai menjebak penipu. Namun, rasa2nya terlalu berlebihan jika disebut kultwit. Itu hanya sekedar kicauan berseri biasa saja kok. :-)

Nah, pertanyaannya, mana yg lebih baik? Kultwit atau ngeblog?

Secara pribadi, saya lebih suka ngeblog.

Pertama, para pemirsa/pembaca tidak sepotong-sepotong menerima penjelasan. Dalam kultwit, hal yg menjengkelkan adalah jika si pemberi kultwit ternyata ada keperluan yg cukup lama atau mesti menjawab pertanyaan2 yg masuk. Padahal materi yg dibawakan misalnya sdg nanggung/butuh penjelasan. Walhasil para pembaca mesti sabar menunggu kelanjutannya. Itupun kalo si pemberi kultwit ingat untuk meneruskannya, hahaha.

Kedua, urutan penjelasan lebih enak melalui blog. Dalam kultwit yg pernah saya ikuti, terkadang si pemberi kultwit (maaf, saya ndak pakai istilah dosen) melewatkan beberapa hal penjelasan. Akibatnya, para follower yg masih newbie akan kebingungan dan bertanya-tanya. Otomatis si pemberi kultwit mesti menjelaskan/menjawab juga pertanyaan2 tersebut. Efeknya bisa ke poin 1.

Ketiga, blog memudahkan org2 yg berilmu itu utk tdk menjelaskan berulangkali. Orang2 Indonesia kebanyakan pemalas. Mereka selalu menanyakan lagi hal2, istilah ataupun terminologi atau penjelasan lain yg telah dijelaskan oleh pemberi kultwit. Jika 1-2 orang, saya masih maklum. Tapi, saya yakin lebih dari 10 org yg sering bertanya hal yg sama. Efeknya ya si pemberi kultwit tidak konsen, dan kembali ke poin 1.

Menurut saya, solusi yg paling baik adalah si pemberi kultwit membuat blog terlebih dahulu mengenai satu bidang. Dalam artikelnya, mesti ada penjelasan yg cukup rinci. Kemudian setelah blognya selesai, barulah dia menyingkatnya dalam bentuk kultwit.

Keuntungannya, kultwit yg disajikannya tidak akan terlalu panjang. Saya rasa < 20 kicauan akan cukup untuk materi kultwit. Sisanya berikan url/tautan blognya.

Diskusi bisa dilanjutkan di blog. Saya yakin akan banyak pertanyaan yg serupa muncul. Nah, pertanyaan2 tsb bisa dijawab dalam 1 kali jawab saja, tdk perlu berulangkali. Selain itu, dengan blog, tulisan si pemberi kultwit maupun jawaban pertanyaan2 tidak akan mudah hilang karena tergeser kicauan lain. Dan saya kembali yakin, pertanyaan2 yg berulang bisa dihindari dan otomatis pemberi kultwit bisa fokus ke hal yg lain.

Ngeblog juga bisa mengurangi kontroversi jika ada kesalahan dalam menyajikan kultwit. Katakanlah ada hal yg salah disajikan dalam blog, maka si pembaca bisa berkomentar dan memberikan jawaban yg benar. Kecuali jika sudah ada dendam antara si pemilik blog dan pembacanya, maka otomatis diskusi yg seharusnya bisa menjernihkan suasana, malah berakhir konyol.

Ataupun jika memang ada dendam pribadi, maka solusi lain yg bisa dilakukan adalah dengan membuat artikel bantahan/jawaban atas artikel blog yg dirasa salah. Saya rasa ini adalah cara terbaik. Selain utk menghindari ngeblog di bagian komentar (yg malah akan bikin pusing orang), kearifan dan kebijakan serta kedewasaan (saya harap) bisa tumbuh dengan cara yg lebih intelek. ;-)

Jadi, pilih kultwit atau ngeblog? :-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- twitter kian menggeser kepopuleran blog

- menggunakan twitter sebagai media memberikan 'kuliah' tidak ada salahnya, tapi kuliah yg terlalu panjang akan membosankan dan bisa2 kontraproduktif, tidak ada gunanya.

- bayangkan jika saya meng-kulwit-kan artikel ini, bisa berapa ribu kicauan yg saya lakukan? bisa2 follower2 saya pada minggat :-))

- kultwit yg dipenuhi bantahan2 akan berujung ke twitwar (perang tweet)

Posted on Tuesday, September 06, 2011 by M Fahmi Aulia

8 comments

9/04/2011


Kemarin siang, saya sempat melihat ada kehebohan di Twitter dikarenakan ada berita tentang wafatnya istri Saiful Jamil. Kehebohan lebih dipicu karena seorang pemilik tabloid gossip menyebarkan foto kondisi mendiang istri SJ yg mengenaskan melalui layanan foto di twitter. Sontak kecaman datang, tidak saja kepada si pemilik tabloid, tapi juga kepada orang2 yg menyebarkannya.

Saya juga ikut mengecam secara tidak langsung, dengan menulis status berikut:
Menyebarkan foto kematian seseorang,apalagi yg kecelakaan,hanya dilakukan oleh2 org2 yg tdk bermoral!sesungguhnya Gusti ALLOH ora sare :-)
Kecaman saya mungkin terasa keras, bahkan mungkin dianggap mengada-ada karena membawa2 nama Tuhan. Tapi saya punya alasan mengapa saya menuliskan hal ini. Saya PERNAH melakukannya, meski dengan tujuan yg berbeda.

Ok, saya bukan bermaksud ngeles, jadi saya akan cerita perbedaan tujuan penyebaran foto yg saya lakukan dg si pemilik tsb.

Tahun 1997, saya 'kepleset' menjadi orang tidak bermoral dengan menyebarkan foto kondisi terakhir Lady Diana sesaat mengalami musibah tabrakan di Paris yg pada akhirnya merenggut nyawanya. Saya sebarkan foto ini di sebuah milis, Friendship, tanpa maksud apa2 selain utk berbagi informasi (terupdate maunya).

Apa nyana, postingan saya ini menimbulkan pro dan kontra. Tujuan baik yg saya emban ternyata tidak dipandang sebagai tujuan baik oleh beberapa orang karena menurut mereka, tidak etis mengirim foto2 kondisi mengenaskan seseorang ke khalayak ramai. Saat itu saya berdalih, saya mengirim bukan untuk menjelek2an Lady Diana, tapi sekedar berbagi informasi.

Toh, di akhir cerita saya SADAR betul dg kata ETIKA dan EMPATI. Dan kini saya merasa menyesal pernah mengirim foto tsb, meski ada beberapa teman yg menghibur saya dengan mengatakan apa yg saya lakukan tidak salah, karena mereka menjadi lebih berempati dg kondisi Lady Diana, bla bla bla. :-)

Sementara yg dilakukan oleh pemilik tabloid, menurut hemat saya, jelas suatu sikap utk memperoleh keuntungan. Terlebih sebagai pemilik tabloid, dia punya misi untuk membuat tabloidnya kian laku, yg otomatis duit akan masuk kocek.

Otomatis saya langsung teringat dengan hadits Rasululloh SAW dan ayat di Al Qur'an mengenai bahaya ghibah, yakni ibarat memakan bangkai saudara sendiri.

Al Qur’an (QS Al Hujurat(49):12),"orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri."

Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasululloh saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dan bagi saya pribadi, perilaku si pemilik tabloid sudah membuktikan ayat di atas. Bagaimana dia mendapat keuntungan dari foto yg dimuat, yg pada akhirnya keuntungan tersebut akan dia makan. Maka tak ubahnya makan jenazah istri Saiful Jamil, naudzubillah.

Maaf, artikel ini menjadi bernuansa agama. :-)

Lalu, apakah ada aturan khusus mengenai pemuatan foto2 seperti itu?

Terus terang, saya orang awam di bidang jurnalis (media) sehingga saya tidak tahu persis aturannya. Hanya saja, saya melihat ada standar ganda untuk foto2 'mengerikan' seperti itu.

Jika anda lihat foto di bagian awal artikel ini, anda akan melihat foto tersebut tidak layak dipasang di media (pun termasuk di blog ini). Namun, tahukah anda foto tsb mendapat penghargaan Pulitzer?

Meski saya melihat ada perbedaan antara memuat foto di atas dg foto kecelakaan, saya rasa solusi paling 'baik' adalah kembali ke hati nurani masing2. Hahaha...maaf jika solusinya tidak cukup menyenangkan dan memuaskan.

Saat hendak menyebarkan foto, hendaklah berpikir dahulu, bagaimana jika saya/keluarga saya yg berada di posisi yg ada di foto, lalu disebarkan. Apakah saya akan marah? Jengkel? Sedih? Senang?

Apabila jawabannya marah, jengkel, sedih ataupun perasaan lain yg tidak anda inginkan, maka STOP MENYEBARKANNYA! Kecuali anda memang pada dasarnya tidak punya moral, maka sebarkanlah. Hanya saja, jika suatu waktu anda/keluarga anda berada di posisi yg sama dan fotonya disebar, maka anda tidak perlu marah2 yak?! :-)

Foto diambil dari sini.

Moral story:
- masih banyak org yg tidak bermoral

- orang tidak bermoral akan selalu ada di dalam berbagai bentuk, entah itu di media ataupun di pergaulan

- jangan sembarangan menyebarkan foto2 yg dirasa tidak menyenangkan hati orang lain. apalagi di internet, yg begitu cepat dan mudah sesuatu beredar dan menyebar dg cepat.

- menjadi pemilik media bukan berarti ybs melek dg etika :-)

Posted on Sunday, September 04, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments