8/26/2011



Akhirnya saya dan Wify khatam (tamat) juga menonton salah satu film laris yg membutuhkan waktu 10 tahun untuk 'memindahkan' dari cerita buku menjadi sebuah tayangan yg membius banyak golongan, tua-muda, laki-perempuan, besar-kecil di seluruh dunia. Sebuah cerita yg melambungkan JK Rowling dari Zero menjadi Hero karena membuat anak-anak berangan-angan mempunyai ilmu sihir utk keluar dari kesumpekan hidup. ;-)

Tidak terasa memang, 10 tahun berlalu sejak Harry Potter, Ron Weasley dan (si imut yg akhirnya menjadi si cantik, halah) Hermione Granger masuk sekolah di Hogwarts, menempuh dan mengalami berbagai macam peristiwa, yang ujung2nya adalah pertarungan antara Harry Potter melawan Voldemort.

Well, saya bukan HarPot lovers, bahkan saya hanya sanggup membaca 5-10 halaman saja dari 7 buku Harpot (terutama di buku ke-7, saya berusaha utk membaca namun apa daya saya tak suka). Namun dari 8 film yg saya tonton, saya merasa cerita Harpot punya kekuatan sihir yg benar2 membutakan anak2 sedunia. Terlebih dg kian ciamiknya efek film, maka semakin fantastis (dan kian 'real') pula aksi2 yg disaksikan.

Saya tidak banyak cerita mengenai film Harpot ke-8 ini. Sudah terlalu basi, menurut saya. Jadi saya akan membahas hal2 lain saja, tentu masih terkait dengan Harry Potter.

Di beberapa tweet yg pernah saya baca, ada yg menulis "Apakah pasangan kalian menonton Harpot 1 dan Harpot 8 ini masih orang yg sama?" Saya langsung terkekeh-kekeh. Ya ya ya...waktu 10 tahun tentu bukan waktu yg sebentar. Saya dapat ilustrasi menarik dari sebuah blog.



See, anda lihat, betapa signifikannya waktu yg dibutuhkan film Harpot utk menyelesaikan ketujuh bukunya. Para bocah 'ingusan' yg menonton Harpot 1, 'tiba2' sudah menjelma menjadi remaja akil balig saat menonton Harpot 8.

Atau jika ingin lebih mudahnya membandingkan, silakan perhatikan foto2 di bawah ini.




Dari 8 film Harpot, saya lebih suka episode "The Order of The Phoenix", saat Harpot mulai ditayangkan dengan sisi 'gelap', tidak seceria film2 sebelumnya. Itu sebabnya saya pasang gambar episode tersebut sebagai pembuka artikel ini.

Yang paling mengherankan di film Harpot (terutama film 8) adalah KACAMATA HARPOT TIDAK PERNAH PECAH usai duel sedemikian serunya! Saya curiga, jgn2 kacamata Harpot sudah diberi mantra sihir anti pecah/rusak? Hahaha.

Bagaimanapun, kebingungan saya terbesar adalah PERUBAHAN WUJUD konco si Draco, maaf saya ndak hapal mukanya dan malas googling, seperti yg terlihat di gambar berikut ini. Apa ini karena pengaruh sihir Voldemort sehingga konco si Draco ini berubah wujud? Ahak...ahak...

Anyway, dg berakhirnya film Harpot ini, berarti saya tidak perlu lagi menunggu2 film yg wajib tonton di tahun2 mendatang. Setidaknya, film2 lain tidak ada yg kejar setoran model film Harpot ini, jadi ritmenya bisa lebih santai.

Foto-foto diambil dari sini, sini, sini, sini, dan sini.

Moral story:
- Untung saja JK Rowling hidup di masa sekarang. Coba dia hidup di masa kegelapan, niscaya sudah digantung begitu ada yg tahu dia membuat cerita ttg sihir.

- Harpot adalah salah 1 film (berseri) kesukaan saya, selain Star Wars, Star Trek, Spiderman, dan Fantastic 4.

- Mestinya ortu mengawasi dan membimbing anak2nya menonton film atau membaca buku Harpot agar mereka tetap realistis dan tidak menelan mentah-mentah isi buku/film tsb.

Posted on Friday, August 26, 2011 by M Fahmi Aulia

3 comments

8/25/2011


Salah satu yg kami pertimbangkan menjelang kelahiran mbak Mika adalah mengenai pemberian susu. Saya dan Wify sepakat untuk (berupaya) memberikan ASI eksklusif kepada mbak Mika. Selain karena ini anak pertama, kami tidak ingin menyia-nyiakan amanah yg telah kami tunggu selama lebih dari 3 tahun.

Sayangnya, keinginan kami tidak bisa terlaksana dengan baik. Kurangnya volume ASI yg dihasilkan oleh Wify membuat kami dg berat hati menambahkan susu formula untuk dikonsumsi oleh mbak Mika.

Kami bukannya tidak berusaha menambah volume ASI. Berbagai cara sudah kami lakukan, mulai dari mengonsumsi makanan yg (lebih) bergizi, kemudian usaha Wify untuk lebih rileks, menyantap buah & sayuran, cukup tidur, minum lebih banyak, bahkan menyantap daun kathuk, yg dipercaya bisa meningkatkan produksi ASI.

Toh, itu semua tidak menunjukkan hasil yg signifikan. Wify sendiri sudah mengatur jadwal penyediaan ASI yg akan dikonsumsi oleh mbak Mika. Sedikitnya 4 botol ukuran kecil dengan ukuran sekitar 120 ml disempatkan untuk diisi dengan ASI.

Bahkan, kami sempat membeli alat pemerah ASI, baik yg manual ataupun yg elektrik, toh hasilnya tidak signifikan.

Walhasil di usia 3 bulan (menjelang 4 bulan jika tidak salah), kami pasok susu formula untuk mbak Mika. Saya masih ingat bagaimana Wify menangis karena merasa tidak bisa memberikan yg terbaik untuk anak kami. Saya sendiri berusaha menghiburnya, dg mengatakan bahwa kita sudah ikhtiar semaksimal mungkin, tapi ya memang ASI yg dihasilkan tidak mencukupi.

Mbak Mika sendiri alhamdulillah sehat wal afiat meski mengonsumsi susu campuran (ASI dan formula). Memang sempat sakit cukup parah, tapi kami tetap bersyukur bahwa kondisi mbak Mika tidak separah yg sering digembar-gemborkan orang.

Terus terang, saya kesal dan marah pada orang2 yg menganggap ortu yg memberi susu formula sebagai ortu yg tidak bertanggung jawab. Saya yakin mereka tidak merasakan betapa sulitnya menghasilkan ASI untuk konsumsi si bayi. Bahkan dengan sombong mereka mengatakan anak mereka yg full ASI lebih sehat daripada bayi yg sudah minum susu formula.

Saya justru bisa sanggah pernyataan mereka!

Kebetulan ada kenalan Wify yg bayinya lahir lebih dulu beberapa hari daripada mbak Mika. Si bayi, katakan X, mengonsumsi ASI FULL karena ibunya tidak bekerja.

Kenyataannya, kondisi si X lebih memprihatinkan daripada mbak Mika. Sering sakit2an, beratnya kurang, lalu perkembangannya jauh di bawah mbak Mika.

Hal ini sering kami diskusikan berdua, bahwa para pro ASI Eksklusif tidak perlu terlalu sombong dg keberhasilan mereka bisa memberikan ASI Eksklusif, karena pada kenyataannya ada yg telah memberikan ASI Eksklusif tapi outputnya'gagal', tidak yg seperti mereka gembar gemborkan.

So, bagi para ibu yg baru melahirkan, terutama anak pertama, tidak perlu galau dan uring2an jika tidak bisa memberikan ASI Eksklusif. Selama anda telah ikhtiar maksimal dan outputnya memang belum sesuai, ya berikan susu formula sebagai alternatif.

Jangan terlalu mengedepankan ego untuk HARUS ASI Eksklusif, tapi akhirnya si bayi yg malah menderita karena pasokan susu yg dia terima tidak memadai utk perkembangannya. :-(

Gambar diambil dari sini dan sini.

Moral story:
- ASI Eksklusif BUKAN HARGA MATI!

- Bayi yg mendapat ASI Eksklusif TIDAK SELALU sehat seperti yg digembar gemborkan. Jika pada UMUMNYA sehat, saya setuju, tapi jika terlalu mendewa-dewakan ASI Eksklusif, saya tidak setuju. HEY, kondisi tiap perempuan berbeda!

- Doktrin ASI Eksklusif yg begitu gencar justru akan membuat stres si ibu. Walhasil, ASI-nya bisa2 malah tidak keluar sama sekali. Jika begini, apa para pendoktrin berani dan mau bertanggung jawab?

- Jika memang produksi ASI tidak cukup menggembirakan, jangan sungkan untuk menambahkan susu formula demi kepentingan anak anda juga!

- Maaf jika gambar yg dipasang dirasa vulgar. Tapi jgn berpikiran jorok ya?! :-)

Posted on Thursday, August 25, 2011 by M Fahmi Aulia

15 comments

8/22/2011



Sakit adalah salah satu hal yg akan kita temui selama kita hidup di dunia. Saya yakin sebagian besar dari anda akan setuju jika sakit dikatakan sebagai hal yg menyebalkan. Namun, bagi kaum muslim, sakit bisa menjadi nikmat jika kita tahu apa makna yg terkandung di dalamnya serta ikhlas mengalaminya. :-)

Dampak dari sakit yg diderita, kita tentu akan berhubungan dengan dokter. Hmmm...sebenarnya tidak hanya sakit, para perempuan yg sedang hamil pun akan sedikit banyak akan berinteraksi dg dokter. Entah itu memeriksakan kandungan, menyampaikan keluhan-keluhan yg dialami selama hamil, atau bahkan bertanya mengenai kehidupan seks yg cocok selama proses hamil. ;-)

Nah, jika ada pertanyaan seperti yg tertera pada judul, mana yg akan anda pilih? Dokter muda atau dokter tua?

Jika kaum adam yg ditanya, tentu jawabnya dokter muda yg cantik seperti pada foto di samping2 ini! Hahaha... Well, saya tidak akan menyalahkan jawaban mereka. Wajar dan normal kok bagi pria yg punya orientasi seksual thd lawan jenis.

Kembali ke topik.

Saya sendiri seringkali tidak bisa menjawab dan menentukan pilihan yg tepat untuk pertanyaan di atas. Tiap pilihan dokter mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2.

Dokter muda:

1. Teliti. Karena masih muda, apalagi baru lulus, saya yakin mayoritas dokter muda akan sangat teliti dalam memeriksa. Tiap faktor dia cek. Bahkan dilakukan beberapa kali, jika dirasa perlu dan dia merasa tidak puas dg hasil pemeriksaan sebelumnya. Dampak samping: waktu pemeriksaan kian lama dan biaya pemeriksaan akan meningkat.

2. Semangat tinggi. Mirip dg poin 1. Dampak samping: anda akan merasa menjadi kelinci percobaan dan obyek eksperimen si dokter. ;-)

3. Terlalu patuh pada prosedur. Para dokter muda seringkali 'terbelenggu' dg SOP dan urutan proses/prosedur. Di satu sisi, prosedur memang mesti dipenuhi karena seorang dokter bukanlah Deddy Cobuzier yg cukup mengatakan "Tatap mata saya" dan dia lalu tahu penyakit anda serta menyebutkan obat penyembuhnya. Tapi jika prosedur yg mesti dijalani terlalu panjang, alih2 dapat perawatan, si pasien bisa lebih dulu meninggal. :-(

4. Terlalu text book/kurang pengalaman. Mirip juga dg poin 3. "Kata buku sih, gejala yg dialami si pasien ini menandakan ybs sakit usus buntu. Mari kita operasi!" Usai operasi si pasien masih nyeri di bagian perut bawah. Ternyata bukan usus buntu yg diderita, tapi perutnya lapar, ahahha. Tentu saja contoh ini terlalu ekstrim dan mengada-ada. Tapi saya yakin ada dokter yg terlalu text book yg mengalami salah diagnosa.

5. Kurang sabar. Ada dokter2 muda yg (menurut saya) kurang sabar (atau terlalu bersemangat?) terutama pada saat diajak diskusi. Maunya main periksa mulu! Lah kalo sampai salah diagnosa, gimana dong dok? :p

6. Senang menghadapi tantangan. Dikarenakan belum banyak pengalaman, dokter muda akan senang sekali jika dia menemukan tantangan yg belum pernah dia temui sebelumnya. Seiring dengan suksesnya menaklukkan tantangan, maka otomatis ilmu dan jam terbang dia juga akan semakin bertambah. Plus faktor dan tingkat ketenangan juga akan meningkat.

Dokter tua pada dasarnya kebalikan dari hal2 yg dimiliki dokter muda di atas.

Tentu saja, tidak semua dokter muda dan dokter tua sama persis seperti apa yg saya gambarkan pada poin2 di atas.

Saat Wify mengandung mbak Mika, kami pernah bertemu dengan dokter2 tua (senior) yg justru membuat kami khawatir dan tidak nyaman, sehingga membuat proses pemeriksaan tidak nyaman. Bahkan batin dan mental Wify sempat tertekan karena pernyataan2nya.

Bisa dikatakan, bagi seorang perempuan yg hamil, tua atau muda seorang dokter bukan hal yg krusial. Tapi pembawaan dan ketenangan si dokter yg lebih diperlukan.

Bahkan tempat praktik (rumah sakit/klinik) serta tarif yg tinggi juga bukan jaminan bahwa si dokter layak dipilih. Saya melihat 2 faktor itu lebih kepada faktor utk memperkaya si dokter. ;-) Memang, tempat praktik yg lengkap fasilitasnya akan dibutuhkan seorang dokter utk menuaikan tugasnya yg baik. Dan tempat praktik yg lengkap fasilitasnya ya jelas tarifnya juga mahal. Jadi, seperti lingkaran setan lah! *setan lagi yg disalahkan, hahha*

Lain waktu, saya akan cerita tentang interaksi keluarga saya dengan dokter2, insya ALLOH. :-)

Gambar diambil (tanpa ijin) dari sini, sini, dan sini.

Moral story:
- menjadi dokter tidak mudah, terutama dokter yg bisa dipercaya dan disukai pasien.

- tua/muda, cantik (ganteng)/jelek bukan faktor penting bagi seorang dokter. KETENANGAN adalah hal yg dibutuhkan pasien.

- tanggung jawab dokter terhadap kondisi pasiennya sangat tinggi. herannya, ada dokter yg seringkali ngawur dan seenaknya memberikan jawaban/solusi terhadap permasalahan yg dihadapi/dialami pasien.

- sayang sekali, dokter yg satu ini tidak ada fotonya yg menggunakan baju dokter, padahal ingin saya muat fotonya di sini, xixixix... :-)

Posted on Monday, August 22, 2011 by M Fahmi Aulia

7 comments

8/20/2011


Akhirnya kesampaian juga saya menulis artikel ini setelah dipendam sekian lama di dalam otak saya. Seperti biasa, kesibukan pekerjaan adalah hal yg paling enak untuk dijadikan kambing hitam untuk semua pendingan artikel2 yg telah bercokol sekian lama dalam benak dan menari2 di sel2 kelabu saya. ;-)

Menabung. Siapa sih yg tidak mengenal kata ini?

Rasa2nya, sejak kecil kata ini sudah dicekokkan dan didoktrinkan oleh orang tua kita. Kita disuruh untuk menyisihkan dan menyimpan sebagian uang kita, entah ke dalam celengan ayam jago, celengan terbuat dari kaleng, ke rekening di bank. Orang tua jaman dulu malah menyimpan uang mereka di dalam bambu yg menjadi tiang rumah mereka. (kebayang ga sih kalo ada maling nyolong duit2 di dalam bambu itu dg merusak bambunya, maka tidak cuma duit yg hilang, bahkan rumah juga bisa ikut rubuh?heheh)

Proses menabung yg dilakukan tentu saja sesuai dengan kemampuan masing2. Namun, agar anak2 tetap semangat, maka digunakan istilah "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit" sebagai pemicu semangat mereka untuk tetap menabung,menabung,dan terus menabung. Mengekang segala keinginan mereka untuk mencapai satu tujuan yg hendak diraih.

Biasanya orang tua mengiming-imingi bahwa kalo kita suka menabung maka kita akan menjadi kaya, sejahtera di masa dewasa kita, bisa membeli apa saja, bla bla yada yada yada. :-)

Paling fenomenal, pernah dibuat lagu khusus menabung yg dalam waktu singkat menjadi doktrin yg begitu dipaksakan (jika saya pikir sekarang). Saya selipkan video clip yg dibuat 15 tahun lalu ini sebagai pengingat betapa 'mengerikannya' doktrin menabung ini!

Well, saya sendiri menyarankan untuk STOP MENABUNG!

Sedikitnya ada 2 faktor yg membuat saya mengeluarkan pernyataan tersebut.

Pertama, di sebagian besar masyarakat kita, menabung malah menumbuhkan mental peminta-minta dan menyuburkan praktek 'mendzalimi' diri sendiri (dan bahkan keluarga mereka).

Saya pernah bertemu dg seseorang, yg saking begitu senengnya menabung dia sampai mencari-cari hal2 yg sifatnya gratisan untuk menutupi kebutuhannya. Pokoknya ogi (ogah rugi) banget lah. Semua uang yg keluar bener2 diperketat, bahkan tidak boleh ada uang yg mengalir keluar namun dia bisa menikmati apa2 yg dia inginkan tanpa sepeserpun uang keluar.

Perhitungan terhadap uang yg keluar tidak salah, namun jika TERLALU PERHITUNGAN, malah bisa mencelakakan diri kita sendiri. Alih2 mengatur pengeluaran, bisa2 kita terjebak ke dalam sifat PELIT.

Setidaknya ada 2 cerita yg terkait dg hal ini.

Ini cerita tentang seseorang yg MEMASUKKAN AMPLOP KOSONG ke dalam kotak uang yg disediakan setiap kali dia diundang ke pernikahan. Pada satu ketika, ybs mengadakan hajatan dalam rangka pernikahan anaknya. Gede2an lah, bisa dibilang begitu. Namun yaaa...tetap saja ada faktor pelit yg diselipkan dalam acaranya itu. Dan tebak, apa yg terjadi? Di akhir acara pernikahan, saat prosesi pembukaan amplop, ternyata MAYORITAS AMPLOPNYA KOSONG!

Hmmm...nampaknya cerita di atas cocok untuk dibuatkan skenarionya dan dijadikan sinetron reliji,heheh. :-) *cek memetwit yg saya buat di sini*

Cerita kedua, ini datangnya dari adik saya, dan ini BENAR2 KISAH NYATA! *sengaja ditekankan*

Alkisah, ada orang Indonesia yg pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja. Dia punya keinginan untuk mempunyai mobil Ferari. Karena harganya tidak murah (tentu saja), maka dia benar2 mengerahkan segala upaya dalam bekerja untuk bisa mengumpulkan uang agar si mobil itu terbeli olehnya.

Yang menjadi masalah, ybs tidak mempedulikan pola makannya. Demi PENGIRITAN, ybs lebih memilih makan MIE INSTAN daripada makan makanan yg bergizi! Dan itu dilakukannya sepanjang waktu, hingga akhirnya FERARI ITU BISA DIBELI! Sayangnya, dia tidak bisa lama2 menikmati hasil jerih payahnya, karena selang beberapa waktu kemudian, ybs meninggal karena faktor buruk gizi dan penyakit akibat mengonsumsi mie instan berlebihan. :-(

See...demi mencapai tujuan, ada orang2 yg sedemikian fanatiknya menabung (baca: pelit, menurut saya) hingga mengorbankan diri dan keluarganya. :-(

Faktor kedua, ini yg paling berbahaya, INFLASI!

Menabung jelas membuat JUMLAH UANG anda BERTAMBAH BANYAK setiap saat seiring berjalannya waktu. Namun, pada saat yg bersamaan, NILAI UANG anda BERKURANG sesuai dengan tingkat inflasi yg sedang terjadi.

Baik, bagi anda yang tidak mengerti inflasi, saya berikan ilustrasi berikut.

Saya mempunyai hobi minum susu coklat dalam kemasan. Di tahun 2009, 1 liter susu kemasan ini harganya tidak lebih dari Rp 7500an. Namun di tahun sekarang, untuk kemasan dan produk yg sama, saya mesti merogoh uang hingga Rp 12 ribu lebih!

Ilustrasi lain. Di tahun 2010 lalu, uang Rp 10 ribu bisa digunakan untuk membeli 1 porsi makanan di warung Tegal di Jakarta dengan menu 1 piring nasi, 1 ayam goreng, 2 jenis sayuran, 1 potong tahu, dan 1 gelas teh tawar. Kini, dengan uang Rp 10 ribu, anda mesti rela jika si mbak 'menghilangkan' item tahu dan 1 jenis sayuran. Dengan kata lain, anda hanya bisa menikmati 1 piring nasi, 1 ayam goreng (dg ukuran yg lebih kecil), 1 jenis sayuran, dan 1 gelas teh tawar.

Yak, inflasi sangat berkaitan dengan kenaikan harga. Dengan kata lain, bisa dikatakan uang menjadi kian tidak berarti.

Lantas, apa hubungannya menabung dengan inflasi?

Begini, katakanlah anda menyisihkan uang Rp 1 juta tiap bulan sejak awal tahun 2011 ini. Di bulan Desember ini, anda berharap akan terkumpul uang sebanyak Rp 12 juta yg akan anda belanjakan membeli barang yg (di awal tahun 2011) harganya memang Rp 12 juta.

Namun, apa lacur. Di bulan Desember, harga barang tersebut naik menjadi Rp 13,2 juta. Dengan kata lain, anda mesti menambah 10% untuk bisa memperoleh barang serupa.

Katakanlah ada bunga tabungan sebesar 6-8%/tahun (yg nilainya tidak terlalu besar). Ilustrasi di atas memperlihatkan adanya inflasi sebesar 10%. Berarti anda tetep mesti nombok sebesar 2-4%.

Jadi, menurut saya, SIA-SIA anda menabung karena ternyata anda tidak memperoleh barang yg anda inginkan disebabkan anda mesti menambah sejumlah uang untuk mendapatkannya.

Lantas, apa solusinya?

Nope...bukan lantas anda bergabung dan berjualan produk MLM! :-) BERINVESTASI adalah solusi yg paling tepat!

Tentu saja, investasi yg saya maksud di sini adalah investasi yg menguntungkan, dalam artian nilai investasi anda MESTI lebih besar daripada inflasi. Jadi, katakanlah 'default' inflasi di Indonesia berkisar di angka 9%/tahun, maka anda mesti cari investasi yg return (keuntungannya) minimal 10%/tahun.

Sebagaimana saya pernah tulis artikel ttg ajakan untuk berinvestasi, anda bisa pilih tipe investasi yg sesuai. Bagi kaum muslim, tentu saja ada faktor selain menguntungkan, yakni HALAL.

So, STOP MENABUNG SEKARANG JUGA DAN BERALIHLAH KE INVESTASI!

Foto diambil dari sini, tanpa ijin. :-)

Moral story:
- menabung itu so last decade! :-)

- artikel ini mungkin ada (sedikit) perulangan dari artikel sebelumnya, tapi artikel ini adalah lanjutan dari artikel2 saya mengenai investasi

- inflasi memang s*x dan layak menjadi musuh bersama!

- tanpa disadari, inflasi adalah hal yg membuat anda miskin perlahan-lahan

Posted on Saturday, August 20, 2011 by M Fahmi Aulia

5 comments

8/10/2011


Kemarin saya berkesempatan untuk membuka rekening di Bank Commonwealth (selanjutnya disingka bcomm).

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk membuka rekening di bcomm. Pengalaman saya dg bcomm adalah sekitar 5-6 tahun lalu saat saya melamar pekerjaan di bcomm, namun saya lupa posisi yg saya tuju. Yang jelas, saya ditolak dg sukses dengan kemungkinan saya minta gaji terlalu tinggi, hahahha.

Tujuan saya membuka rekening karena saya hendak bertransaksi yg membutuhkan bcomm sebagai media transfer duitnya.

Saya menuju Kemang Raya, cabang bcomm yg terdekat dg rumah (sekaligus 1 arah menuju kantor). Di sana saya diterima dan dilayani oleh mbak Herlina. Seperti biasa, KTP merupakan benda yg diminta untuk dikonfirmasi dan diduplikasi oleh CS. Kembali saya mesti mengisi form-form.

Dari keterangan yg saya dapat, ada 2 jenis tabungan di bcomm, yakni tabungan bunga harian (TBH) dan tabungan Commonwealth. Perbedaannya adalah di setoran awal. Kita bisa buka TBH dg min Rp 500 rebu, sementara utk tcomm min Rp 50 juta. Berhubung dompet tidak bisa menampung selipan 50 juta, maka saya pilih TBH saja.

Ternyata TBH juga ada 2 macam, yakni dg buku dan tanpa buku. Perbedaannya, jika dg buku maka ada saldo minimum yg mesti disimpan dengan biaya admin Rp 5000. Sementara non buku, saldo kita bisa dihabiskan hingga 0 dg biaya admin Rp 6000. Saya pilih tanpa buku agar saya tidak dipusingkan dg saldo minimum dan berjaga2 kali saja duit saya ngepas sementara saya mesti tarik semua.

Fasilitas lain bcomm cukup menarik, terutama bisa tarik tunai GRATIS di banyak atm. Saya masih sebal dg salah satu bank (yg kini dimiliki Maybank) yg memberi fasilitas gratis tarik tunai tapi ada syaratnya. Bah, gratis kok pake syarat? :p

Mbak Herlina juga mengaktifkan semua fitur dan fasilitas yg menjadi hak saya, yakni internet banking dan mobile banking. Ada aplikasi bcomm yg bisa diinstal di BB juga lho! (silakan menuju http://m.commbank.co.id)

Yg menjadi kendala, menurut saya, adalah ketidakfleksibelan internet bankingnya. Saya mendapat user yg relatif sulit diingat (tidak bisa ditentukan oleh saya sendiri) serta passwordnya adalah angka2 yg muncul di key-nya (appli 1). Walhasil, saya sangat bergantung dan tidak boleh ketinggalan key bcomm ini.

Bcomm sudah terhubung juga dg banyak bank, sehingga mudah untuk urusan transfer2an. Termasuk untuk transfer uang (US$) ke luar negeri, gratis! Huh, tahu begitu saya kemarin tidak perlu repot2 saat hendak mengirim uang ke luar negeri.

So far, saya beri nilai 7.5 utk layanan yg cukup baik dan cepat (terutama tidak banyak antriannya, hahah).

Anda sendiri punya rekening di bank asing mana?

Moral story:
- bank asing kok melayani dg lebih baik ya?

- artikel ini bukan artikel berbayar lho...kecuali pihak BComm berminat menjadikan saya sebagai icon *halah, ngarep dot kom*

update 19 Agustus 2011:
Hari ini saya transaksi di web bcomm. Saat di proses akhir, ada kesalahan yg saya lakukan sehingga saya menekan tombol "Cancel". Tapi anehnya, si web menyatakan transaksi saya berhasil. Dengan kata lain BUAT APA ADA TOMBOL CANCEL JIKA TIDAK BISA MEMBATALKAN TRANSAKSI! :-)

Posted on Wednesday, August 10, 2011 by M Fahmi Aulia

15 comments

8/06/2011



Beberapa waktu yg lalu, saya sempat bercerita mengenai keinginan saya untuk berlangganan saluran televisi berbayar dengan tujuan agar mbak Mika mendapatkan tayangan yg lebih baik dalam artian tidak meracuni otaknya dengan tayangan2 sampah. Di awal2 kemunculannya, transisi muncul dari tayangan2 berbahasa Indonesia ke tayangan berbahasa Inggris.

Karena mbak Mika sempat ngefans dg Spongebob, maka saat pindah ke saluran berbayar pun Spongebob yg masih menjadi perhatian mbak Mika. Nah, seiring dengan berjalannya waktu, mbak Mika sudah mempunyai tayangan favorit.

Tayangan favorit yg saya maksud adalah In The Night Garden. Acara ini menjadi acara yg MESTI ditonton mbak Mika menjelang tidur, terlebih acara ini ditayangkan jam 9 malam. Jadi cocok sekali untuk pengantar tidur mbak Mika.

Yuk berkenalan dengan tokoh-tokoh In The Night Garden!



Tokoh pertama adalah Iggle Piggle. Jika melihat keberadaannya, ini adalah tokoh utama dari ITNG, karena dia berpetualang menuju sebuah tempat dia akan berpetualang dan akan mempertemukannya dengan tokoh2 lainnya. Kebiasaannya yg membawa selimut merah malah mengingatkan saya akan matador, ahaha.

Upsy Daisy adalah tokoh berikutnya. Kegemarannya berkata "Upsy Daisy" serta memiringkan badan ke kiri dan kanan. Jika sudah bertemu dengan Iggle Piggle, tidak jarang Upsy Daisy selalu menciumnya. Hwaduh, kecil2 sudah diajari cium mencium, ahhaha. Mbak Mika sendiri sering menirukan gerakan Upsy Daisy, terutama memiringkan badan ke kiri dan kanan. Efeknya jelas, saya dan Wify akan tertawa terbahak-bahak dan mencubit mbak Mika dengan perasaan gemas.

Disusul dengan kemunculan Makka Pakka. Makhluk kecil yg hidupnya selalu berhubungan dengan batu dan ditemani dengan sepedanya ini dalam beberapa episode diceritakan cukup usil, menggoda Iggle Piggle dengan mengambil selimut merahnya. Tarian perkenalan Makka Pakka juga sedikit demi sedikit ditiru mbak Mika meski lebih banyak ngawurnya, hahaha.

Tiga serangkai Tombliboos mengingatkan saya akan karakter2 di Teletubbies. Dan ternyata pencetus dan pembuat Teletubbies dan INTG adalah orang yg sama, yakni Anne Wood. Ketiga makhluk ini seringkali membuat kekacauan, terutama jika mereka sudah bermain musik. Mbak Mika juga sangat suka dg lagu dan tarian perkenalan Tombliboos, terutama saat "in my nose" mbak Mika langsung memencet hidungnya menirukan polah Tombliboos.

Demikian sekilas pengenalan beberapa tokoh ITNG.

Melihat materi ataupun cerita yg ada di film ITNG, saya melihat adanya perbedaan yg cukup besar dengan acara anak2 buatan bangsa kita sendiri. Tanpa bermaksud meremehkan hasil kerja para seniman dan tim kreatif, saya melihat acara anak2 buatan Indonesia mempunyai ekspektasi dan harapan yg terlalu tinggi. Anak2 balita sudah mesti bisa ini itu yg (menurut saya) membuat mereka kehilangan masa kanak2 mereka.

Berbeda sekali dg acara ITNG, yg bercerita dg cara yg sederhana sehingga anak2 mudah menirukannya.

Ya ya ya...saya masih bermimpi satu saat kelak di masa depan, televisi2 di Indonesia mau membuat/menayangkan acara untuk anak-anak yg memang sesuai dg konsumsi anak2, bukan karena proses pengkarbitan anak-anak sehingga dewasa sebelum waktunya.

Mbak Mika nampaknya sangat nge-fans dengan ITNG, sehingga dalam berbagai kesempatan seringkali mbak Mika tiba2 mengulurkan tangan kanannya, membuka telapaknya serta menyimpan telunjuk kirinya di atas telapak tangan kanannya. Rupanya dia sangat ingat dengan adegan pembuka acara ITNG dan jika dia sudah menirukannya, itu berarti dia ingin menonton film ini. Walhasil saya mesti mencari-cari dan mengunduh dulu beberapa film ITNG untuk memuaskan keinginan mbak Mika menonton acara favoritnya, hahaha. :D

Saya dan Wify sendiri suka menggoda mbak Mika jika dia sudah membuka telapak tangannya, dengan menaruh telunjuk kami berdua ke telapak tangannya dan bermain "Cing Ciripit Tulang Bajing Kacapit", sebuah permainan dari tanah Sunda sebelum bermain kucing-kucingan. Dan jika sudah begitu, mbak Mika 'ngambek' dan kami berdua tertawa terbahak-bahak, ahahha.. *orang tua yg aneh*

Gambar dari sini, sini, sini, sini, dan sini.

Moral story:
- acara anak2 buatan Indonesia masih kurang layak tonton.

- berikan anak anda tayangan yg mendidik dan tidak meracuni pikirannya.

- tokoh2 lainnya bisa dibaca di sini.

Posted on Saturday, August 06, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

8/05/2011


Barangkali artikel ini sedikit basi, karena hiruk pikuk dan kontroversi mengenai hal ini sudah berlalu beberapa waktu lalu. Namun, bagi saya tidak ada hal yg basi. Yang ada hanyalah penundaan. *halah, mbahas opo iki?*

Saya menjadi seorang blogger sejak lebih kurang 7 tahun lalu. Semula iseng saja saya menulis artikel blog, lebih karena (saat itu) saya punya waktu luang cukup banyak. Daripada terbuang percuma, saya alihkan kekosongan waktu itu menjadi sebuah kegiatan (yg saya harap) bisa lebih bermanfaat.

Lambat laun saya merasa menulis blog itu menyenangkan, meski jika saya menelusuri ke belakang, saya melihat banyak artikel saya yg dibuat asal2an. Bahkan kini saya melihat kok ya bisa saya mbikin artikel seperti itu?

Toh, bagaimanapun saya merasakan manfaat dari artikel2 blog yg saya tulis dan muat. Terutama dengan adanya kasus Edward Forrer. Jika menilik dg apa yg terjadi pada Prita, saya bersyukur bahwa pihak EF justru melakukan pendekatan dan memiliki sikap yg berbeda dan (menurut saya) jauh lebih dewasa. Dan saya jelas merasa beruntung, pihak EF tidak melakukan gugatan, apalagi menyeret saya ke pengadilan. :-)

Seiring berjalannya waktu, saya melihat peluang bahwa blog pun mempunyai potensi menghasilkan uang. Terlebih usai saya mencoba dan mempraktikkan hal2 yg terkait dg Google Adsense. Tentu saja, saya tidak melakukan black SEO untuk mendapatkan lembaran dollar tersebut.

Alhamdulillah, dollar yg saya peroleh dari Adsense cukup memadai, meski masih dalam ratusan dollar, belum mencapai ribuan dollar.

Selain Google Adsense, saya sempat menjajal peluang untuk menjadi blogger berbayar. Honor yg saya dapatkan, alhamdulillah, tidak buruk2 amat. Dalam seminggu saya pernah mendapat US$ 100 lebih.

Lalu saya bergabung dalam Asia Blogging Network usai berkenalan dan direkrut oleh Harry Sufehmi dan Budi Putra.

Menurut saya, saya merasa diri saya bisa membagi antara idealisme saya sebagai blogger dan mendapatkan income (tambahan) dari ngeblog. Toh, saya tidak lantas memposisikan diri sebagai seorang blogger yg BISA DIBELI (jikapun ada yg ingin 'membeli' saya (ge-ernya nih) saya akan ajukan pertanyaan,"wani piro?" hahahah).

Tahun 2007, saya menghadiri Pesta Blogger. Bertemu dg banyak rekan blogger baru dari berbagai penjuru Indonesia, bagi saya saat itu, menimbulkan perasaan yg cukup melambung karena bertemu dg banyak orang (lebih) hebat yg tulisan2nya lebih ciamik daripada tulisan saya yg (konon) idealis, namun ternyata masih kalah idealis. ;-)

Namun di Pesta Blogger berikutnya, saya mulai 'menarik diri'. Penyebab utama ada beberapa. Pertama, campur tangan sponsor dari Kedubes Amerika Serikat. Terus terang, saya tidak merasa nyaman dg adanya sponsor dari Kedubes ini. Saya membacanya ada 'pesanan' dengan kehadiran pihak AS, yg belakangan diketahui bahwa pihak AS menyumbangkan dana yg tidak sedikit utk (mengontrol?) media sosial di Indonesia.

Meski, terus terang, saya sebenarnya ingin ikut serta dalam Pesta Blogger, terutama di Pesta Blogger 2010, saat teman saya, Rara, menjadi ketua panitia. Namun dengan bertambahnya tanggung jawab saya selaku bapak muda yg ganteng, dengan kehadiran mbak Mika, saya mesti mendahulukan kewajiban saya.

Senang rasanya mengetahui bahwa acara Pesta Blogger 2010 berjalan dengan sukses, errr...tentu saja dari kacamata saya. :-)

Di tahun 2011 ini, saya mendapatkan informasi bahwa Pesta Blogger berubah format menjadi On/Off. Yg mengherankan saya, jika format berubah, kenapa saya melihat masih banyak orang yg (pernah) muncul di Pesta Blogger sebelumnya masih menjabat ini itu, terutama BoA. Lebih heran lagi bahwa saya tidak melihat nama dan foto Rara muncul di situ.

Sempat mendengar selentingan mengenai alasan Rara tidak dimasukkan ke BoA. Well, saya tidak terlibat secara langsung pada PB 2010, sehingga saya tidak tahu intrik dan gesekan yg terjadi selama penyelenggaraan PB 2010. Pernyataan 'kasar' yg sempat terpikir adalah BoA ajang ON/OFF ini menolak kehadiran perempuan dalam BoA mereka! *hahaha...ngundang digetok para fans ON/OFF ini mah,ahahah*

Yg menjadi ganjalan di hati saya adalah informasi bahwa blogger 'dibisniskan' dan/atau dijadikan komoditas bisnis. Yaaa...kasarnya, blogger 'dibeli' dan menjadi corong pihak tertentu. Bahkan saya melihat tidak hanya blogger yg dijadikan target, tapi juga komunitas online lainnya.

Menyelenggarakan event/acara memang membutuhkan dana (yg tidak sedikit). Namun, dengan menjual diri demi mendapatkan dana dan dukungan penyelenggaraan acara, saya jelas melihat harga diri sudah digadaikan dg murah. Saya yakin, ke-kritis-an (tulisan) dan artikel idealis dari para blogger dan komunitas online lain akan sedikit banyak tergerus. Jikapun ada yg bisa 'menantang' ya 68% saya tidak yakin. ;-)

Baik, itu memang isu...karena saya tidak melihat hitam di atas putih mengenai informasi yg saya peroleh, selain pernyataan "With our tagline, Perhaps just “Ideas meet opportunities?” “A social media festival where ideas meet opportunities”" di bagian About (mudah2an tidak ada revisi tulisan utk menghilangkan jejak), saya merasa (secara tersirat) bahwa informasi itu benar adanya. Entah dg kadar berapa persen, mungkin ya 68%? :p

Toh, bagi saya pribadi, era Pesta Blogger sudah selesai dan 'berubah' menjadi Pesta Komunitas Online, yg tentu saja memiliki mindset dan harapan yg berbeda...oh, dan tentu saja keuntungan yg berlipat ganda. ;-)

Terlebih dengan kian maraknya aplikasi media sosial yg sedikit banyak menggeser kepopuleran blog. Jika dulu ada istilah bapak blogger (tanpa diketahui anak blogger dan istrinya), kini ada bapak 4SQ, lalu adan Nabi Twitter, bla bla bla ngak ngek ngok istilah lainnya.

Lalu, perlukah saya minder dengan 'gelar' blogger yg kian terpinggirkan? Ah, cuma orang2 yg susah saja yg menjadi minder hanya gara2 (merasa) terpinggirkan. Tidak perlu juga resah jika mengingat/teringat pernyataan "Blog adalah trend sesaat". Saya masih setia menulis artikel2 di blog saya ini, serta (masih) tidak peduli dg jumlah pengunjung dan komentar yg masuk apalagi pundi2 yg ditransfer ke rekening. (kepuasan) Idealisme tidak bisa diukur secara material, fisik, ataupun statistik.

Ah, terlalu panjang saya mengoceh bertutur tentang (sok) idealisme saya. Sudah saatnya saya mesti istirahat dan mempersiapkan diri untuk sahur dan puasa untuk hari Jum'at. Lumayan, uneg2 saya terlampiaskan dengan artikel ini, meski masih belum sepenuhnya. Mungkin akan disambung di artikel berikutnya, mungkin juga tidak.

Foto dari sini.

Moral story:
- blogger (dan komunitas lain) jgn mau menggadaikan harga dirinya utk kepentingan sesaat ;-)

- jika ada pesta blogger yg benar2 murni dalam artian tidak terlalu banyak urusan bisnis dan keterlibatan para pencari keuntungan, let me know. mudah2an saya bisa meluangkan waktu utk ikut hadir. ya ya ya...dengan kata lain, saya mendukung poster di bawah ini ;-)

- duh, puasa2 begini saya malah (tetep) nyinyir, ga pa pa kan? ;-)

- pemasangan foto di atas bukan berarti saya mendapat mobil Nissan untuk menulis artikel ini lho ;-) jikapun saya mendapat mobil Nissan karena artikel ini jelas berbeda dengan seseorang di twitter yg following karena iming2 iPad *hahaha...ngumpet*

- nampaknya benar, Rara adalah ketua Pesta Blogger yg didzalimi? *hahaha...ampun Ra*

Posted on Friday, August 05, 2011 by M Fahmi Aulia

8 comments