7/29/2011


Dulu, saat saya masih punya client yg mesti saya kunjungi (untuk maintain dan service aplikasi yg dibeli oleh client), saya mendapati sebuah fenomena yg menarik dan lucu, sekaligus mengkhawatirkan. Fenomena itu adalah berbagi password.

Fenomena ini terjadi karena beberapa hal.

Pertama, si A tidak masuk kerja, sehingga pekerjaan dilimpahkan ke si B. Repotnya, semua bahan dan laporan ada di komputer si A. Walhasil si A mesti memberitahu password komputernya ke si B. Efeknya? Si B bisa dg leluasa membongkar file2 yg ada di komputer si A. Masih untung jika si A tidak menyimpan file2 yg mengundang bencana. Lah kalo tiba2 ada foto bugilnya disimpan dan dibagi2 oleh si B? Alamat kiamat (kecil) tuh! ;-)

Kedua, semua database aplikasi mesti terhubung server database sebagai admin (dbOwner). Saya melihat ini salah satu KEBODOHAN dan hal yg FATAL! Mestinya aplikasi itu menyiapkan admin khusus databasenya sendiri, tidak perlu sampai menggunakan dbOwner utk databasenya. Efeknya? Saya bisa mengacak2 dan (jika jahat) saya hapus database2 lain di server itu. >:)

Ketiga, tidak ada prosedur/SOP yg baik dan benar terutama utk keamanan IT. Dengan longgarnya keamanan/prosedur, saya yakin cepat atau lambat kerusakan yg lebih fatal akan terjadi.

Solusinya apa? Lha kok nanya? Kan sudah saya jelaskan di atas. :-)

Intinya, jgn sembarangan memberi password karena itu sama halnya anda menyerahkan kunci rumah anda ke orang lain. Meski anda mempercayai orang tersebut, tapi heyyy...who knows? Lalu, terapkan SOP ttg keamanan (IT) yg baik dan benar.

Gambar dari sini.

Moral story:
- berbagi password itu riskan

- jangan sembarangan menyimpan dokumen di laptop/komputer kantor. siapkan harddisk portable utk keperluan anda ini

Posted on Friday, July 29, 2011 by M Fahmi Aulia

5 comments

7/25/2011


Siang ini saya jengkel karena email (surat elektronik) yg saya kirim ternyata mental dan kembali ke diri saya dengan penjelasan bahwa kotak surat si marketing diduga sudah penuh. Kejengkelan ini saya rasa wajar, karena saya membutuhkan informasi mengenai barang2 yg dijual dari perusahaan yg saya tuju dan saya butuh informasinya sesegera mungkin.

Saya tidak tahu persis berapa besar kapasitas kotak surat (inbox) email yg dimiliki oleh si marketing. Namun, saya punya beberapa dugaan terkait dengan penuhnya inbox si marketing.

Pertama, kapasitas inbox yg diberikan memang kecil. Saya pernah dapati, sebuah perusahaan IT menyediakan email account bagi para pegawainya dengan kapasitas 'hanya' 10 Mb saja! Bayangkan jika pegawainya mesti menerima attachment project yg terkadang berukuran 15-20 Mb tiap file-nya! Sangat aneh dan disayangkan, perusahaan IT kok pelit sekali memberikan kapasitas inbox, padahal penting banget lho! Lha wong Google saja memberi email dg kapasitas 7 Gb, apa perlu pakai account GMail utk komunikasi dg client? Apa ga maluuuu? Hahahaha... *kompor*

Kedua, si staf (dalam hal ini marketing) yg malas. Email2 terdahulu, terutama yg berukuran besar, tidak dihapus. Dan ini jelas berpengaruh thd kapasitas dan koneksi juga.

Solusinya sebenarnya gampang. Gunakan aplikasi yg bisa menarik email dari server (POP3, istilah kerennya). Dengan demikian, inbox di server selalu kosong karena email2 yg tiba akan langsung ditarik oleh si user/staf dengan aplikasi tersebut. Katakanlah Outlook Express, MS Outlook, The Bat, dan masih banyak lagi.

Dan kini, si perusahaan harus rela kehilangan 1 calon pelanggan yg potensial karena kecerobohan(?) staf IT dan marketingnya. ;-)

Moral story:
- hare gene inbox masih < 50 Mb? Apa kata Google? ;-)

- gunakan aplikasi penarik email utk memudahkan hidup :-)

Posted on Monday, July 25, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments

7/17/2011


Saat saya masih kecil dulu, orang tua saya seringkali mengingatkan agar saya selalu MENABUNG setiap uang yg saya dapatkan. Bukan berarti saya tidak boleh berbelanja/jajan, tapi yg dimaksud mereka adalah saya tidak boleh boros atau menghabiskan semua uang untuk keperluan yg dirasa bukan primer (bisa sekunder apalagi tersier).

Nasihat ini berusaha saya lakukan meski seringkali ujung2nya ya sia2,karena begitu terkumpul uang dalam jumlah tertentu, saya langsung belanjakan sesuatu, terlebih jika saya memang menginginkan barang tersebut atau sedang 'gelap mata' atau khilaf gegara nemu barang yg ok banget.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa kok pertambahan uang saya tidak cukup signifikan dengan cara menabung yak? Kasarnya, bunga tabungan yg saya terima kok tidak sebanding dengan tingkat inflasi. Belum lagi saya mesti membayar potongan2 yg dikenakan oleh bank utk tabungan saya. Mulai dari potongan yg 'masuk akal' hingga potongan yg 'tidak masuk akal'.

Potongan yg tidak masuk akal, menurut saya, seperti uang administrasi yg dikenakan pada penabung yg jarang bertransaksi/berinteraksi langsung dg staf bank. Lho, buat apa saya bayar lha wong para staf bank itu mestinya sudah dapat untung dari uang yg saya titipkan di kantornya? Lebih ndak masuk akal lagi adalah potongan yg dikenakan pada customer yg saldonya kurang dari nominal tertentu. Aneh sekali. Ah, sudahlah, nanti saja kita bahas, kapan2, kalo inget, hehe.

Saat saya bekerja di Jakarta-lah, saya baru tahu lebih banyak mengenai investasi. Kantor saya di Jakarta dulu kebetulan berhubungan dg hal2 yg terkait dg investasi. Dari sanalah saya belajar lebih mendalam.

Jadi begini, dengan investasi, jumlah uang kita bisa bertambah dan berlipat ganda. Tentu saja jika investasi yg kita lakukan tepat. Kalo investasinya ke hal2 yg gagal, ya uang kita malah akan semakin berkurang dan bukan tidak mungkin amblas.

Lho, kalo begitu investasi itu judi donk?!

Ya tidak bisa semena-mena begitu saja mengatakan investasi itu judi. Padanan kata yg tepat mungkin adalah BERESIKO. Ya beti lah, beda2 tipis, hahaha.

Ada beberapa jenis investasi yg bisa dilakukan.

1. Emas. Banyak orang yg mempercayakan investasi pada emas, terutama kaum perempuan.

2. Rumah/property. Tidak sedikit pula yg memanfaatkan rumah/property sebagai media investasi mereka, meski kenyataannya pada tahun 2008 kemarin keuangan Amerika Serikat sempat kolaps gara2 investasi property yg 'salah'.

3. Tanah. Ini semodel dengan poin 2. Hati2 investasi dg tanah, jangan sampai investasi ke tanah longsor! Hahaha.. :-))

4. Saham/surat berharga. Bagi orang yg mengerti pasar modal, saham dan surat berharga merupakan salah satu metode yg menjanjikan return (nilai kembali) yg cukup besar.

5. Mata uang. Beberapa orang yg saya kenal membelanjakan uangnya ke dalam bentuk mata uang (asing), terutama dollar Amerika Serikat.

6. Reksadana. Nah, investasi model ini sedang ramai belakangan ini.

Anda selama ini investasi dalam bentuk apa?

Kita lanjutkan lagi pembahasannya di artikel mendatang. Eng ing eeennggg...

Gambar dari sini.

Moral story:
- menabung sudah ga jaman lagi ;-)

- investasi adalah pilihan yg paling cocok saat ini (dan mendatang)

- meski investasi penting, tetap sisakan uang di tabungan untuk keperluan darurat

- tidak ada hubungan gambar dg penjelasan artikel ini. menurut bang @aidilakbar, ada beberapa informasi yg tidak tepat pada gambar. demikian :-)

Posted on Sunday, July 17, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

7/12/2011


Gegara membaca postingan bang Aip di sini, saya menjadi tersentak dan diingatkan kembali mengenai cita-cita.

Ya, saya yakin setiap anak kecil mempunyai cita-cita. Dan anehnya (atau memang sudah sewajarnya?) setiap anak selalu mempunyai dan menyebutkan profesi yg 'wah' sebagai cita-cita mereka. Pilot, Dokter, Profesor, Presiden, anda sebut lah ribuan profesi 'wah' lainnya yg disebut dan dijadikan cita-cita oleh para bocah ingusan itu.

Saya belum pernah menemukan anak kecil yg bercita-cita menjadi tukang kebun, tukang becak, tukang sayur, dan profesi2 lain yg dianggap 'memalukan'. Padahal sebenarnya tidaklah ada profesi yg memalukan selama uang yg didapat adalah uang yg halal. Seorang dokter tidak lagi menjadi profesi yg mulia bila dia mengedepankan uang/tarif daripada menolong pasien (miskin) yg kesulitan dan kepayahan untuk membayar biaya pengobatan.

Ah, sudahlah, (kali ini) saya tidak berniat menghakimi profesi. Mari kita lanjutkan mengenai cita-cita.

Saya sejak kecil sudah dikenal tukang ngatur. Apalagi punya adik yg lumayan banyak, membuat saya seringkali berhak menempatkan diri saya sebagai pengganti orang tua saya. Dalam hal mengatur-atur adik2 saya utk berbuat ini dan itu. Dan adik2 saya, mau tidak mau, menuruti apa2 yg saya suruh, hahaha.

Namun, saat kecil saya (seperti saya sebut di atas) punya cita-cita menjadi dokter. Saya lupa alasan saya menjadikan dokter sebagai cita-cita saat kecil. Barangkali karena saya kesal dengan dokter yg selalu membuat saya menangis, terutama saat saya sakit dan mesti disuntik. Saya lupa nama dokter yg doyan nyuntik saya, yg jelas saya seringkali membuat adik2 saya merasa ngeri dg cerita suntik saya, hahah.

Toh akhirnya saya perlahan mencoret profesi dokter dari cita-cita saya. Terutama saat mulai mengenal komputer saat SD. Saat itu, saya berpikir bisa membuat program yg membantu orang banyak adalah profesi yg keren. Well, menjadi programmer adalah cita-cita saya berikutnya. Dan ini saya umumkan setiap kali keluarga kami pulang kampung ke Malang.

Masuk SMP, saya masih tergila-gila dg komputer. Banyak tugas sekolah saya kerjakan dg bantuan komputer. Di saat SMP juga saya mulai kecanduan merakit perangkat elektronika. Radio, amplifier, bla 3x berhasil saya rakit dan saya nikmati hasilnya. Meski akhirnya terdampar di tong sampah gegara terinjak atau ketimpa barang, hehehe.

Mendadak, saat SMA, saya kok CLBK dg dokter. Saya terkagum-kagum lagi dengan profesi dokter, apalagi saat tahu seorang dokter berhak 'mengobrak-abrik' bagian dalam pasien dalam sebuah operasi. Tidak heran saya menyukai acara bedah membedah, entah itu bedah kodok, kadal, burung merpati.

Dan akhirnya saya berkata tidak pada dokter, usai saya menyadari saya mempunyai kelemahan menghapal istilah2 dalam bahasa Latin. Lirik sana lirik sini, saya punya pikiran mesti masuk ITB. Dan saya begitu yakinnya bahwa saya layak masuk ITB.

Sayangnya keyakinan saya masuk ITB tidaklah semulus paha para bintang film yg suka buka2an paha. Saya mesti berjuang sebanyak 3 kali utk bisa masuk ITB. Di saat banyak teman saya yg langsung menyerah begitu 1x UMPTN dan gagal masuk ITB, saya tidak pernah menyerah. Entah kenapa saya begitu yakin bahwa saya PASTI bisa masuk ITB.

Alhamdulillah, pada usaha yg ketiga kali saya berhasil juga masuk ITB.

Lulus dari ITB mestinya saya menjadi seorang ahli fisika, tapi apa daya mesti kompromi dengan kebutuhan perut. Jadilah saya seorang programmer, profesi yg pernah saya inginkan, sebelum akhirnya 'loncat' level menjadi project manager, profesi 'tukang ngatur' yg memang sudah saya lakukan sejak kecil, hahaha.

Jadi, akhirnya saya menjalani profesi ini, profesi yg telah 'terbentuk' sejak kecil. :-)

Jika melihat ke belakang, terkadang saya berandai-andai saya menjadi seorang dokter. Barangkali saya bisa menjadi orang yg bisa lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang. Tapi bayangan itu saya tepis, karena bisa jadi saya menjadi seorang dokter yg 'amburadul' karena selalu salah menyebutkan istilah Latin. Alih-alih bermanfaat bagi orang banyak, saya malah akan menjadi malaikat maut bagi pasien2 saya, gegara saya selalu salah melakukan diagnosa. :-D

So, alhamdulillah selalu saya panjatkan untuk profesi (cita2?) yg saya lakoni sekarang. Anda sendiri bagaimana?

Gambar diambil dari sini.

Cerita tambahan:
Dalam salah satu sesi latihan kepemimpinan yg diselenggarakan di kampus, seorang teman menceritakan pengalamannya. Semua mahasiswa dari semua jurusan di ITB berkumpul. Mereka diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan cita-cita mereka. Mayoritas mahasiswa (seperti saya sebut di atas) mengatakan cita-cita mereka menjadi engineer di Halliburton, Schlumberger, menjadi Doktor, bla 3x. Mirip lah dg pernyataan saya di atas.

Saat mahasiswa dari FSRD memperkenalkan diri, sebenarnya tidak ada yg aneh, hingga dia menyebutkan cita-citanya. Coba anda tebak, dia bercita-cita menjadi apa? BATMAN adalah jawabannya! *cocok sekali dg gambar yg saya comot di atas* Dan ngakaklah semua orang yg hadir di situ! :-))

Hey...tidak ada yg salah kan dg punya cita-cita menjadi Batman? ;-) Setidaknya anda tidak mesti bermutasi gen dahulu atau digigit laba-laba atau malah datang dari planet Kripton untuk menjadi pahlawan super, hiihihih.

Moral story:
- cita-cita (anak kecil) janganlah dibatasi

- cita-cita selalu berkonotasi profesi yg wah

- pada akhirnya, seiring perjalanan hidup, si anak akan bisa membedakan mana cita2 yg angan dan yg realistis bagi dia

- toh saya masih salut dg anak2 yg bisa menggapai cita2 seperti artikel di bang Aip

Posted on Tuesday, July 12, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

7/05/2011

Thanks Hun :-)
*peluk2 Wify*

Posted on Tuesday, July 05, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

7/03/2011


Akhirnya, saya selesai juga membaca salah satu buku yg saya borong. Berbeda dg buku2 lainnya, buku yg 1 ini memerlukan waktu yg lebih lama, karena isinya adalah tulisan, bukan sekedar gambar/komik. Jadi, diperlukan pemikiran yg lebih mendalam. *tsaahh*

Buku yg saya maksud adalah buku berjudul "Kedai 1001 Mimpi". Jika melihat ada 1001, otomatis kita akan teringat/terhubung dg kawasan Timur Tengah. Yapp...buku ini berisi kisah Valiant Budi (dg akun twitter @vabyo) saat dia menjadi TKI dan bekerja di Arab Saudi.

Buku ini terasa menjadi 'relevan' dg berita mengenai TKI2 kita ini, terutama berita mengenai perkosaan, penyiksaan, bahkan hukuman mati. Sedihnya memang, bangsa pemerintah Indonesia, yg masyarakatnya notabene pemeluk Islam-nya terbesar di dunia, ternyata tidak punya keberanian untuk 'melawan' perlakuan yg diterima oleh TKI, kecuali hanya prihatin atau melakukan aksi2 yg tidak berdampak banyak (dan langsung).

Kembali ke buku-nya Vabyo.

Dengan latar belakang sebagai penulis dan pekerja kreatif, tulisannya cukup menghibur. Hanya saja, usai membaca Laskar Pelangi, saya seringkali tebersit apakah tulisan yg saya hadapi ini benar2 terjadi (fakta dan aktual) ataukah hanya sebagai bumbu dan rekaan semata dari si penulis?

Hal ini saya pertanyakan karena sedikit banyak alur dan cerita yg tersaji di buku bisa (kasarnya) meracuni pikiran si pembaca.

Well, lupakan dulu sejenak hal ini.

Kisah Vabyo sebagai TKI (maaf) kasar di Arab Saudi cukup menarik, terutama pada saat dia menceritakan banyak kebobrokan (moral) yg terjadi di sana. Lucunya, cerita Vabyo mengenai jeleknya moral ini dianggap menghina dan merendahkan Islam. Seperti yg saya ungkapkan juga di sini dan sini, banyak orang yg menganggap 'wah' orang Arab Saudi dan mengira mereka ma'sum (bebas dari dosa) sehingga tidak mengambil tindakan apapun. Padahal Abu Lahab dan Abu Jahal pun orang Arab dan mereka jelas2 memusuhi Islam.

Lebih parah lagi, banyak orang yg juga tidak bisa membedakan Islam dan Arab Saudi, padahal hal ini sangatlah jelas!

Beberapa cerita Vabyo bukanlah hal baru bagi saya, seperti diskriminasi pekerja antara warga Saudi dan non Saudi. Teman saya yg bekerja di sana, sebagai orang IT, juga mengalami hal yg sama. Bahkan bisa dikatakan lebih parah karena diskriminasinya dalam hal sholat Jum'at.

Teman saya cerita, jika sholat Jum'at tiba, dirinya tidak boleh menunaikan sholat Jum'at karena dia bukan orang asli. Padahal dia sudah memberitahu bahwa dirinya juga muslim dan sesama muslim adalah saudara. Jawabannya tetap: TIDAK BOLEH SHOLAT JUM'AT!

Ada beberapa hal, kisah Vabyo ini mirip dengan kisah saya di India tempo hari. Hanya saja karena Vabyo bermukim cukup lama di sana, maka dia bisa lebih gamblang cerita mengenai penduduk sana.

Hal yg menurut saya menarik justru mengenai komentar para pengunjung blog, terutama (katakan) si A yg menuliskan bahwa dia tidak menemukan apa2 yg Vabyo tulis selama si A melakukan perjalanan haji dan umrah di sana. Bagi saya, komentar seperti ini malah sangat menyedihkan mengingat orang yg haji dan umrah tentu saja fokusnya ke ibadah, tidak bisa mengenal lebih dekat kehidupan di sana. :-))

Kritik tentu saja ada untuk Vabyo. Pertama, cukup banyak slaah kteik. Meski tidak terlalu fatal, toh buat saya tetep mengganggu. ;-) Misalnya di halaman 361. "Iya, musim madu dengan angin dingin..." terasa aneh. Mungkin maksudnya musim bulan madu yak? ;-) Lalu di halaman 398, kenapa si ELDO menjadi EDO? :p

Kedua, ada pernyataannya yg menurut saya cukup lebay. Silakan cari di bukunya mengenai tukang ojek. ;-)

Cukup 2 saja kritik yg saya tulis di blog saya ini, nanti kalo bukunya ndak laku bisa2 saya dianggap penyebabnya karena terlalu banyak kritik yg saya tulis,hahaha.

Membaca buku ini anda mesti mau open mind, terutama seperti saya katakan, orang Arab itu sama2 manusia bukan malaikat. Tidak perlu paranoid atau inferior dg mereka, apalagi membela mati2an.

Selamat membaca buku ini dan tidak perlu beli, bisa pinjem dari teman kok! hahaha... *dihajar Vabyo nih soalnya dianggap memberi saran yg 'menyesatkan'*

Gambar dari sini.

Moral story:
- TKI tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Perhatian baru diberikan jika: 1) para TKI kirim duit (devisa negara); 2) diteriakin oleh masyarakat

- Pemerintah tidak pernah memperhatikan TKI. Eh, sama dg yg di atas ya? Skip.

- Perlakuan diskriminasi tidak hanya terjadi pada TKI kelas kerah biru, tapi juga TKI kerah putih.

- Saya sempat membaca, ada tokoh yg menulis bahwa ke Arab Saudi itu cukup utk ibadah, jangan kerja! Hhihhih...

Posted on Sunday, July 03, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments