6/28/2011


Well, baru pertama kali saya mengirim uang ke luar negeri. Penyebabnya gara2 salah satu vendor di India menagih pembayaran usai saya tiba di Indonesia. Padahal saat di India saya sempat menawarkan untuk membayar saat transaksi berlangsung, tapi entah kenapa ybs tidak mau. Walhasil, saya mesti siap menanggung rugi karena akan mengeluarkan uang lebih banyak dari yg seharusnya (ada komisi, bla 3x).

Pertama kali saya mencoba mengirim dari BCA. Ternyata persyaratannya ribet. Pertama, saya mesti beli dollar dari mereka, yg harganya jauh lebih mahal dari harga yg ditawarkan tempat lain. Kedua, transaksi hanya bisa dilakukan sebelum jam 12 siang. Ketiga, biaya transaksi (fee) sebesar USD50. Ah, saya skip saja. Coba cari alternatif lain.

Pilihan kedua Western Union. Saya sempat menggunakan jasa WU saat mencairkan cek dari Google. Tidak sampai 30 menit, uang sudah cair, meski dg harga dollar yg amit2 juga dan kena potongan 100-200 ribu (saya lupa persisnya). Sayangnya, saat saya mencoba menggunakan jasa WU, syaratnya agak ribet juga, yakni saya mesti punya fotokopi kartu identitas orang (India) yg akan mengambil/mencairkan dana ini. Ah, terlalu ribet syarat ini. Apalagi si vendor India itu baru jawab usai 2-3 hari. Padahal dg WU, uang akan sampai dalam waktu 15 menit saja.

Pilihan terakhir, BII. Saya mendatangi BII di Cilegon, bersamaan dg tugas saya ke Cilegon. Di BII, saya dikenai biaya USD 40, plus materai (gara2 saya mesti membeli dolar tambahan). Harga dollarnya ya amit2 juga lah, meski tidak semahal BCA. Tidak butuh waktu lama utk mengurusnya, akhirnya saya menyelesaikan urusan itu.

Sayangnya saya tidak bisa minta bantuan ke staf keuangan kantor utk mengurus dikarenakan nominalnya < USD 1,000. Mungkin solusinya, lain kali kalo ke luar negeri, belanja belanji-lah minimal USD 1,000 sehingga bisa diuruskan kantor, hahaha. Gambar dari sini.

Moral story:
- mengirim uang ke luar negeri tidak sulit harusnya, tapi aturannya mayan ribet.

- gunakan jasa yg terbaik. barangkali anda punya referensi lain utk pengiriman uang ke luar negeri?

- ini bukan artikel berbayar ;-)

Posted on Tuesday, June 28, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

6/27/2011


Hari Minggu kemarin saya sempatkan membaca salah satu komik yg saya sempat beli saat 'kalap' mborong buku. Komiknya berjudul Curhat si Koel. Yg uniknya, Koel ini maunya dipanggil Ko-el, bukan Koel atau Kul.

Isi komiknya dibagi menjadi beberapa bagian.

Bagian pertama: mental sukses. Di sini Koel bercerita ttg pengalaman dia selama bekerja.

Bagian kedua: ngomik. Sesuai dg temanya, suka duka Koel meniti karir sebagai tk komik yg (sayangnya selalu) gagal diuraikan di sini, meski tidak gamblang.

Bagian ketiga: urusan cinta. Seperti layaknya di mayoritas tokoh komik, Koel digambarkan sebagai tokoh (utama) yg kesulitan mendapatkan cinta dari lawan jenis. Barangkali dia mesti mencoba mencari cinta dari yg sejenis yak? *eh,xixixix...*

Bagian keempat: versus bos. Sebagai buruh, Koel tidak jarang mesti melawan bos-nya yg tidak berperi-keburuhan. Pokoke kapitalis lah, kalo menuruti ocehan mahasiswa.

Bagian kelima: melanjutkan cerita keempatnya, di bagian ini Koel diceritakan sudah menganggur. Toh menjadi pengangguran bukan berarti nasibnya menjadi beruntung! *errr...kayanya ada yg salah tulis deh!*

Bagian keenam: nasihat si mbah. Di balik kekonyolannya, Koel ternyata cukup relijius dan memperhatikan nasihat si mbah, meski sering ngawur juga...baik si mbah maupun si Koel.

Bagian ketujuh: anak kuliahan. Well, tidak perlu panjang lebar lagi, ini cerita Koel saat jadi mahasiswa. So typical deh lah, suka bolos, nilainya jelek. Intinya: payah, hehehe.

Bagian kedelapan: pencuri hati. Cerita singkat, tapi cukup menyentuh.

Bagian terakhir: spesial kemerdekaan. Rada garing, tapi yaaa lumayan lah. Baca saja sendiri yak? :p

Intinya, membaca Koel ini cukup menghibur dan bisa menertawakan si komikus (dan sebagian cerminan dari diri kita, jika memang ada hubungannya, heheh). Saya sendiri cukup puas membaca Curhat si Koel ini, meski saya belum sempat membaca buku pertamanya. Jika saya perhatikan di Gramedia dan sekitarnya, saya tidak temukan buku pertamanya. Mungkin laris manis yak? ;-)

Berikut ini saya tampilkan 1 episode komik Koel, tapi sayangnya bukan dari buku yg saya beli (+baca). Ga usah protes yak? ;-)


Gambar dari sini.

Moral story:
- kehidupan komikus Indonesia (nampaknya) masih memprihatinkan ;-)

- komik2 Indonesia tidak kalah lucu dibandingkan dg komik2 luar negeri. Terlebih isi komik mereka 'dekat' dg kehidupan kita sehari-hari.

- sayangnya komik si Koel ini (terlalu) mengumbar 'kebodohan' dan 'keapesan' pribadi, hehehe.

- pengarangnya bernama Kurnia Harta Winata. saya curiga kata terakhir itu sebenarnya merujuk ke wanita, hihihi. bisa juga anda kunjungi blognya di sini.

- sayangnya goresan si Koel ini terlalu berkiblat ke Jepang. kentara sekali tokoh Koel ini identik dg tokoh komik Jepang dalam hal penarikan garis dan terutama ekspresi.

Posted on Monday, June 27, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

6/25/2011


Malam ini saya memelototi televisi lebih dari 3 jam, menyaksikan perjalanan hidup Muhammad Ali, salah seorang petinju kelas berat yg terbesar sepanjang masa yg pernah ada.

Film pertama adalah Facing Ali. Di sini lawan2 terhebat Ali diwawancarai. Ditayangkan juga cuplikan2 pertarungan antar mereka. Beberapa lawan beratnya adalah Sonny Liston (sebagaimana foto yg saya pasang di atas), Joe Frazier, Ken Norton, George Foreman, Larry Holmes, dan beberapa petinju lain yg tidak saya ingat.

Di film itu secara gamblang semua lawan2nya Ali berkata 'sejujur' mungkin, terlebih Joe Frazier yg (dari wawancara) terlihat begitu emosi dg apa yg dilakukan Ali terhadap dia (dan keluarganya).

Sementara film kedua, Thriller in Manila, menceritakan pertarungan Ali-Frazier (yg ketiga). Dan serupa dg film sebelumnya, terlihat betapa Frazier begitu membenci Ali atas semua pola tingkahnya.

Well, saya pribadi setuju bahwa Muhammad Ali adalah salah satu petinju terbaik yg pernah ada, dengan segala tingkah laku dan sikapnya. Bagaimana dia memprovokasi lawan2nya, kemudian masuk Islam, lantas berani menyatakan penolakan untuk dikirim ke perang Vietnam dan bahkan di masa tuanya, saat dirinya menderita Parkinson, dia masih tetap memperlihatkan pesona dan daya tarik yg tidak dimiliki petinju lain.

Meski demikian, seperti yg pernah saya tulis di waktu lampau, saya pribadi berharap tinju bisa dihapus dari cabang olahraga karena kesadisan dan kebrutalan yg cukup tinggi dan cenderung menyakiti diri sendiri (dan lawan) dibandingkan untuk kesehatan.

Sebagai penutup, saya sisipkan episode Muhammad Ali yg saya temukan di Youtube. Enjoy :-)



Gambar dari sini, film dari sini.

Moral story:
- Muhammad Ali adalah petinju pertama yg merebut gelar juara sebanyak 3x.

- Para petinju banyak yg menderita Parkinson di masa tuanya. Diagnosa para dokter, penyakit ini timbul akibat kepala terlalu sering dipukuli.

- Jika ingin tahu lebih banyak silakan kunjungi website ini.

- Muhammad Ali paling dikenal dg "Menari seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah."

Posted on Saturday, June 25, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

6/20/2011

Salah satu 'kelemahan' saya adalah sering iseng dan jail, terlebih ke orang yg (terang2an) bermaksud jelek. Nah, salah satu (dari sekian banyak) pengalaman saya adalah mengerjain penipu yg sebelumnya mengirim pesan saya memenangkan uang jutaan rupiah.

Saya sudah kicaukan di lapak sebelah, tapi saya share juga di sini.




Silakan dibaca dari gambar paling bawah dulu, lalu berurut ke atas. :-D

moral story:
- jangan mau kalah oleh penipu! :-D

Posted on Monday, June 20, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

6/17/2011


Hari ini, setahun sudah umur mbak Mika. Salah satu anugerah terindah yg saya terima dari-Nya, usai penantian sekian lama. Membuat saya semakin mensyukuri hidup dan melangkah menuju ke proses kematangan selanjutnya. Dan hal terpenting lainnya, saya kian takjub dengan kebesaran-Nya dengan melihat perkembangan mbak Mika dari waktu ke waktu.

Terlebih usai kami melewati 24 jam yg menegangkan. :-)

Untuk memperingati hari lahirnya yg pertama ini, saya sudah membuat komik mbak Mika. Salah satu hasilnya bisa dilihat di atas, dan sisanya bisa dilihat di sini.

Mohon doanya, agar mbak Mika (malaikat kecil saya dan Wify) menjadi manusia yg bebas merdeka, berguna utk masyarakat banyak, berbakti pada orang tua dan menjadi pribadi yg sholehah dan bisa dibanggakan orang tua dan agamanya. Aamiin.

Posted on Friday, June 17, 2011 by M Fahmi Aulia

7 comments

6/09/2011


Pernahkah anda 'terpaksa' memutuskan/menjauhi tali pertemanan dalam hidup anda? Saya pernah, dan sedikitnya 2 kasus yg terjadi berlatar belakang masalah uang.

Kasus pertama dengan teman H, katakanlah demikian. Dengannya, saya sudah akrab cukup lama, terlebih tempat tinggal kami di Jakarta pernah cukup berdekatan. Hanya berbeda 1-2 RW saja. Pekerjaannya juga sudah lumayan, saya perkirakan gajinya sudah lebih dari Rp 20 juta jika melihat posisi dia.

Keakraban dan pertemanan ini terpaksa putus, gegara ybs mengajak saya untuk bergabung di MLM yg dia ikuti. Entah siapa yg memulai untuk memutuskan pertemanan ini, karena dari sisi saya, saya tetap bersikap biasa saja. Mungkin dari pihak H, yg merasa sudah mendapat downline (korban tepatnya,hihihi) yg berprospek, eh, ternyata gagal. ;-)

MLM yg ditawarkan meminta saya membeli produk seharga Rp 10 juta. Wuittss...Rp 10 juta bukan uang yg sedikit lah, lumayan kalo diinvestasikan tuh. Dan barangkali H juga kesal karena saya yg membayari makan di tempat pertemuan/presentasi.

Entah bgm kabarnya skrg, mungkin dia sudah berhasil menjadi diamond, platinum, or whatever itu ranking di MLM yg dia ikuti. Semoga sukses sajah! :-)

Kasus kedua terjadi karena kesalahan saya juga sebenarnya. Saya ditawari produk unitlink oleh teman. Awalnya sih saya berniat membantunya utk mendapat customer. Tapi setelah sekian lama ikut, saya baru ngeh, something wrong dg produk unitlink ini.

Usai melakukan perhitungan yg lebih rinci, bla bla bla, serta bertanya nominal uang yg saya miliki, akhirnya saya berkesimpulan bahwa produk unitlink tidak lebih upaya utk menggerogoti duit dg imbalan yg tidak sepadan! *mungkin di lain waktu, saya akan membahas unitlink ini lebih rinci*

Kerugian yg saya alami cukup besar, lebih dari Rp 13 juta. Dan well, saya kecewa berat dg ybs karena antara penjelasan di awal dg di kondisi akhir ada perbedaan.

Bagi saya, memutuskan tali pertemanan seperti ini lebih baik karena saya tidak menjadi lebih baik dg keberadaan mereka. Sorry to say, guys. ;-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- duit bisa bikin kalap
- MLM? ah, no way! :-D
- Unit link? say goodbye aja! ;-)
- Buat kalian berdua, jika membaca artikel ini, sorry to say ya kalian berdua saya jadikan contoh. Ndak ada lagi contoh yg terbaik selain kalian berdua soalnya ;-))
- Sorry for you two, I prefer not to make interaction. No hard feeling, huh!? ;-)

Posted on Thursday, June 09, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

6/05/2011


Sebagai pegawai yg baru diterima kerja, semestinya saya menjalani pemeriksaan kesehatan dulu. Istilah kerennya, general medical check up. Terus terang, hingga kemarin itu, saya baru 1 kali melakukan medical check up, saat seleksi kerja di sebuah kantor di daerah Kuningan, itupun bisa dikatakan tidak full.

Kali ini saya 'dipaksa' utk memeriksakan kesehatan saya, demi memenuhi birokrasi kantor. Kebetulan juga, saya memang menantikan saat2 ini, terutama utk mengetahui seberapa sehat kondisi badan saya. Terlebih sejak saya bergabung dalam suku perut buncit, yg membuat keseksian badan saya berkurang,hihihi.

Akhirnya tepat tgl 1 Juni kemarin, saya berkesempatan menjalani general medical check up. Dengan rekomendasi kantor, saya mendatangi sebuah rumah sakit di Jakarta Barat.

Terus terang, saya agak grogi juga, karena ternyata general medical check up yg saya jalani sekarang jauh berbeda dg yg pernah saya alami dulu. Yg jelas, saya mesti ganti kostum dulu ke baju yg diperuntukkan medical check up.

Hal pertama yg dilakukan adalah pemeriksaan gigi. Sama seperti pemeriksaan gigi beberapa waktu lalu, gigi saya dinyatakan cukup baik. Meski demikian, ada beberapa saran dari dokter, yakni pertama ganti 2 jaket gigi saya yg sudah cukup usang. Kedua, ada (sedikitnya) 2 gigi yg berlubang dan disarankan untuk segera ditambal. Yg gokil, dokternya bisa berbahasa Sunda, meski Cianjur-an, yg notabene agak2 kasar. Yg jelas, acara pemeriksaan menjadi ajang ketawa ketiwi. :-)

Yg mengherankan, saya mesti melakukan USG. Kemudian saya mendapat penjelasan, bahwa USG digunakan untuk mengetahui kondisi organ dalam, terutama hati (liver), ginjal, dan prostat. Berhubung kadung kemih saya belum penuh, maka saya pending dulu untuk pemeriksaan prostat.

'Sialnya', usai USG saya malah disuruh kencing! Sudah prosedur, kencing dilakukan dan ditadahi di sebuah tabung kecil. Usai menyerahkan tabung, saya mesti diambil darah utk diperiksa glukosa. Menu makan siang sudah tersedia dan siap disantap, usai pengambilan darah. Alhamdulillah, enaknyaaaa menyantap nasi goreng dan jus jeruk.

Pemeriksaan kesehatan dilanjutkan dengan pemeriksaan telinga. Saya dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan dg bentuk dinding sedemikian rupa, lalu saya dipasang headset dan disuruh memperhatikan dan mendengarkan suara yg bisa didengar oleh telinga saya. Frekuensi dan intensitas suaranya berubah-ubah. Kadang pelaaan sekali, kadang melengking tinggi suara2 yg diperdengarkan.

Alhamdulillah, menurut sang dokter kuping saya dinyatakan normal. :-)

Selanjutnya adalah pemeriksaan tekanan darah sebelum saya dibawa ke ruang pemeriksaan mata. Di ruang pemeriksaan mata, saya dicek 4 hal. Pertama tingkat minus mata, lalu ketahanan bola mata (mata 'ditembak' dg alat yg menghembuskan udara), lalu buta warna dan terakhir syaraf mata.

Dari mata, saya beralih ke THT. Dokter mencek rahang saya, dan menyatakan normal dan baik. Menurut dokter, pada kebanyakan kasus, dia sering menemui rahang orang2 bunyi 'klik', seperti ada yg mengganjal. Dari pengalaman, dia mengatakan hal ini terjadi pada orang2 yg sering mengunyah di satu sisi (di kanan saja atau di kiri saja). Jadi, utk mendapatkan rahang yg sehat, sering2 beralih lokasi mengunyahnya.

Berikutnya adalah uji ketahanan jantung. Saya disuruh berjalan dan berlari di treadmill. Well, ini pengalaman pertama saya menggunakan treadmill. Badan saya dipasangi banyak kabel, serasa The Six Million Dollars Man dah! *haiyah*

Dan ternyata saya mempunyai kaki yg lemah :-( Terbukti dengan rasa pegal dan capek yg mendadak menyerang saya pada saat saya berlari baru 5 menitan. Dari sisi jantung, insya ALLOH, kondisinya sehat, tapi karena kaki saya sudah tidak mau kompromi, terpaksa saya berhenti tesnya. Lagipula susternya bilang sudah cukup.

Usai treadmill, saya banyak minum untuk sesi USG kedua. Dan syukurlah, hasil USH memperlihatkan prostat saya masih normal. :-)

Total waktu yg dibutuhkan untuk medical check up ini adalah 4-5 jam (mulai dari jam 9 pagi hingga 1/2 2 siang).

Denger2 biaya yg mesti dikeluarkan sebesar Rp 1,8 juta. Dan butuh 3 hari untuk mengetahui hasil tesnya.

Gambar dari sini.

Moral story:
- general medical check up itu dianjurkan setidaknya setahun sekali. Jika kantor merekomendasikan (baca: mbayarin), terima saja, hihihi.
- perbanyak minum air putih, baik menjelang medical check up ataupun di dalam kehidupan sehari-hari.
- untuk mata, tetesi dg obat mata, terutama yg sering kerja di depan komputer.

Posted on Sunday, June 05, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

6/03/2011

Di awal kemunculan OVJ, saya termasuk salah satu pemirsa yg menyukai acara ini. Di samping karena materi lawakan yg dibawakan cukup menarik, berani tampil beda, cara penyampaian lawakannya pun (saat itu) menurut saya masih cukup baik dan layak tonton.

Seiring dengan kesibukan yg melanda saya, terutama sejak saya pindah kantor dan mbak Mika lahir, saya menjadi jarang menonton OVJ.

Hingga akhirnya satu waktu saya 'khilaf' menonton OVJ, sekedar membunuh kebosanan akan tayangan2 hiburan (dagelan/lawak) yg disiarkan. Namun, apa daya, saya malah menjadi terkejut dan terheran-heran melihat format OVJ ini.

Di samping lawakannya menjadi 'kasar', ada hal yg menurut saya membuat saya menjadi JIJIK dan menggolongkan OVJ SEBAGAI TAYANGAN SAMPAH. Yakni adanya ADEGAN KEKERASAN dalam penyampaian lawakan mereka. Well, memang disebutkan dan diberitahukan bahwa adegan memukul dg kursi atau benda2 apapun lainnya adalah 'bagian' dari adegan lawak dan barang2 itu dibuat dari bahan yg aman.

Tapi, APA PERLU MENGHIBUR ORANG DG MELAKUKAN TINDAKAN KEKERASAN (TERLEBIH LAGI FISIK)?

Malam ini, 'kebetulan' pak Komar Hidayat 'memicu' saya untuk berkomentar (lagi) ttg OVJ dengan kicauannya sebagai berikut:

Saat saya mengomentari pendapat pak Komar Hidayat di atas:

Usai di-RT oleh beliau, ada 2 tanggapan yg salah satunya dari seseorang yg bernama Fahmi juga ;-) Satu lagi Vandanc.

Lalu saya komentari tanggapan fahmi1223ts seperti ini dan saya mendapat 'balasan' seperti ini. Dan, maaf, saya tertawa mendapat jawaban seperti itu. So 'indonesia' banget. ;-)

Pemikiran saya simple saja. (Jaman sekarang) Siapa yg bisa melarang anak2 menonton di luar jam tayang? Lebih ekstrim lagi, siapa yg bisa melarang anak2 di bawah umur menonton film2 hantu berbau seks? Orang tua? Jangan selalu membebankan semuanya pada orang tua, meski orang tua punya kewajiban untuk mengurus, membesarkan, dan mendidik anak, mereka tidak selalu bisa mengetahui isi acara tv/film yg sedang diputar.

Saya tetap menunjuk MEDIA dan TUKANG RATING sebagai biang kerok dan pihak yg bertanggung jawab!

Dan bagi saya, komentar Vandanc lebih terasa sebagai upaya utk melegalisasi kekerasan dalam bentuk fisik dikarenakan bahannya tiruan dan (konon) spontan. Saya sampaikan hal itu.

Meminta orang tua utk mengawasi acara, seperti saya tulis di atas, adalah hal yg sangat sulit. Tidak heran, saya akhirnya memutuskan lebih memilih berlangganan tivi berbayar (apapun penyedianya, kebetulan saya memilih itu, bukan yg lain, karena faktor kecepatan proses saja) demi menyelamatkan anak saya, mbak Mika, dari tayangan2 bodoh dan barbar seperti itu.

Melucu itu boleh, bahkan menghibur dan membuat suasana menjadi lebih riang itu berpahala (menurut agama). Tapi jika dilakukan dg cara2 yg tidak mendidik, ya apa gunanya?

Setuju kan?

Moral story:
- tayangan televisi (lokal) masih banyak yg tidak mendidik

- berlangganan tivi berbayar bukan berarti isi tivi berbayar lebih baik, tapi setidaknya saya bisa memilih dan memilah tayangan yg cocok ditonton untuk anak saya

- sifat barbar bangsa Indonesia ternyata diajarkan sejak dini, dengan dalih acara yg lucu, bla bla bla..

Posted on Friday, June 03, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments