5/27/2011



Terus terang, saya bukan tipe manusia yg doyan dan mudah percaya dg hal2 mengada-ada ataupun sejenisnya. Apalagi yg namanya ilmu guthak gathuk atau ilmu 'nyambung2in'. Apa2 yg terjadi selalu dihubung2kan dg sesuatu, dengan ini lah, itu lah, pokoknya mesti ada kaitannya antara satu hal dengan hal lain. Ataupun jika hal itu boleh disebut kebetulan.

(Logika) Saya dengan senang hati akan menolak mentah2 setiap pengajuan pernyataan2 seperti itu. Terlebih saya tahu persis bahwa Islam TIDAK MENGENAL yg namanya kebetulan!

Tapi, untuk 1 hal ini, entah kenapa (logika) saya tidak (belum?) bisa menerima. Hal tersebut adalah hubungan saya dengan angka 27.

Percaya atau tidak, saya selalu dikelilingi dengan angka 27 sepanjang hidup saya, hingga hari ini!

Rumah (ortu) saya di Bandung, bernomor 27. Lalu, (bekas) rumah ortu saya di Bali, juga bernomor 27. Bapak dulu bekerja di instansi pemerintahan, dengan alamat kantornya bernomor 27. Dan, percaya atau tidak, saya sekarang berkantor dengan nomor gedung 27 juga!

Spooky, huh?!

Well, saya tidak bermaksud membuat anda ketakutan dengan hal2 gaib ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya lahir di 27, dan jatuh di bulan ini. Yappp...hari ini, 27 MEI, saya merayakan ulang tahun saya! *susah banget mau bilang kaya gini,heheeh*

HAPPY BIRTHDAY TO ME!

Terima kasih sudah bersedia membaca artikel (SUPER NARSIS) ini! Tapi beneran lho, saya 'dikelilingi' angka 27, dan saya BAHAGIA dengan itu, tanpa perlu berpikir hal2 yg aneh2.

Oya, terima kasih utk ucapan selamatnya *ge-er* ;-) Saya minta tolong didoakan semoga sisa hidup saya bisa lebih bermanfaat utk lebih banyak orang, hidup bahagia dengan Wify dan Mika, mempunyai rejeki yg banyak dan berkah.

Gambar dari sini. *dan saya ndak tahu persis artinya,hehehe*

Posted on Friday, May 27, 2011 by M Fahmi Aulia

3 comments

5/22/2011


Sudah sekitar 2 bulan terakhir ini, saya dan Wify banyak diskusi mengenai rencana membesarkan mbak Mika, terutama utk hiburannya. Sejak usia 3 bulan, mbak Mika sudah mulai diperkenalkan dengan hiburan. Mulai dari musik, lalu video2 rekaman saya tentang masa kecil dia. Nah, sejak 2011 ini, interaksi mbak Mika dengan hiburan kian luas, terutama karena dia sudah mulai bisa mengenali dan mencontoh apa2 yg dia lihat dan dia dengar.

Terkait dg hal itu, saya dan Wify merasa sangat khawatir dengan tayangan yg ada di saluran televisi lokal. Selain Sponge Bob, Ipin dan Upin, saya merasa acara anak2 lain tidak cocok utk mbak Mika.

Akhirnya, setelah diskusi dan menimbang2, saya memutuskan untuk berlangganan televisi berbayar.

Ada sekian banyak televisi berbayar di Indonesia, namun usai berburu informasi di beberapa teman, termasuk di kaskus, saya memutuskan berlangganan Indovision, Bukan yg lain *halah, kemakan iklan banget,hihihi*

Sebenarnya saya tertarik utk berlangganan First Media. Namun ternyata persyaratannya ribet. Selain itu, saat saya tanya kapan saya bisa mendapat konfirmasi balik, si CS tidak bisa memberikan kepastian.

Keputusan berlangganan Indovision saya lakukan usai mendapat informasi di kaskus. Segera saya kontak seorang PIC, katakan seseorang berinisial K, dan bereskan segala persyaratan yg dibutuhkan.

Namun ternyata, saya mengalami kendala dan masalah dalam mendaftar Indovision. Saat saya konfirmasi ke CS Indovision, saya diterima oleh perempuan S. Sebenarnya saya hendak konfirmasi, apakah permohonan saya sudah diproses. Namun ternyata si S ini malah berusaha mendaftarkan saya atas rekomendasi dia.

Wah, saya melihat ada ketidakberesan di sini. Lha wong saya hanya bermaksud konfirmasi, kenapa tiba2 saya disuruh memutuskan pengajuan saya ke si K dan mesti mengajukan (ulang) dg rekomendasi si S?

Akhirnya saya katakan tidak ke S, meski Wify menjadi korban, ditelp berulangkali oleh (kemungkinan) si S yg tidak ingin kehilangan 'downline'.

Untungnya, K akhirnya mengontak saya lagi dan dalam waktu 2 hari alhamdulillah, terpasang sudah Indovision di rumah kami :-)

Mbak Mika nampaknya senang sekali dengan acara2 yg ada. Saya sendiri melihat acara2 anak produksi luar negeri memang digarap cukup serius, sehingga si anak punya ingatan yg kuat ttg tokoh2nya.

Perubahan menonton Sponge Bob dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris nampaknya cukup berpengaruh, meski saya harap ini untuk sementara. Setidaknya mbak Mika bisa menyesuaikan diri utk mendengar bahasa Inggris dalam percakapan/dialog.

Saya dan Wify sendiri jadi makin malas utk keluar rumah, terutama utk ke bioskop. Selain karena tidak ada film2 baru yg diputar di bioskop, karena kasus pajak sehingga terjadi boikot impor film (baru), saluran2 Indovision sudah menyediakan cukup banyak acara hiburan walau kami sudah tonton beberapa di antaranya. Well, setidaknya cukup lumayan lah, daripada ga ada sama sekali.

Sebenarnya saya ingin membandingkan acara2 di Indovision dg tv berbayar lain, tapi sudahlah, saya pikir acara2 di Indovision sudah cukup memadai, setidaknya utk saat ini. Jika mbak Mika sudah lebih besar lagi (dan kemampuannya sudah meningkat lagi) barulah saya mesti tinjau ulang.

Moral story:
- tayangan2 lokal relatif banyak yg tidak mendidik, sementara tidak ada tindak lanjut (campur tangan) dari pemerintah

- sebelum memutuskan untuk berlanggan televisi berbayar, coba lakukan perbandingan dahulu. yg patut diperhatikan adalah tanggapan customer servicenya. cari CS yg bersahabat dan mau membantu!

- Indovision nampaknya menerapkan member get member (atau sejenisnya) utk staf-nya. barangkali stafnya akan dapat insentif, serta metode yg cukup efektif. namun, ada sisi buruknya juga *silakan baca lagi cerita saya di atas*

- mengingat cukup banyak film2 menarik yg ditayangkan, saya rasa iuran Rp 150 ribu - Rp 250 ribu/bulan bisa dibilang cukup murah

- untunglah, usai saya memasang Indovision di rumah, Wify dan mbak Mika ga sampe nangis2 kaya di iklan (lebay) Indovision, hihihihi...

Posted on Sunday, May 22, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

5/21/2011


Seminggu yg lalu, saya berkesempatan mengikuti pelatihan mengenai letter of credit alias surat hutang. Pelatihan ini wajib saya hadiri karena saya berkepentingan dan akan terkait dengan surat hutang sehubungan dengan project2 yg saya (akan) tangani kelak di kantor saya ini.

Bisa dibilang, bagi saya, pelatihan ini cukup menarik dan memusingkan.

Menarik karena saya berarti mendapat ilmu baru yg saya yakin berguna, meski entah kapan saya akan gunakan. Memusingkan, karena begitu banyak term atau istilah yg baru saya dengar.

Jadi, L/C pada dasarnya adalah surat hutang yg dikeluarkan oleh sebuah perusahaan untuk mengadakan transaksi dengan rekan kerjanya. Nah, L/C ini akan memanfaatkan bank, yakni bank issuing dan bank advising. Ah, bener kan, saya masih perlu belajar banyak lagi mengenai L/C ini, karena ternyata saya masih belum cukup ingat how to dan rincian dari L/C ini.

Well, artikel ini saya tulis sebagai pengingat bahwa saya pernah ikut training L/C saja. Penjelasan lebih rinci mengenai L/C mgkn akan saya tulis kelak, terutama saat sudah benar2 terlibat dan menggunakan L/C utk keperluan kerja/project.

Gambar dari sini.

Moral story:
- seorang PM mesti tahu bagaimana cara menggunakan (bekerja dengan) L/C

- training tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diterapkan

Posted on Saturday, May 21, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

5/10/2011


Sejak usia mbak Mika 5 bulan, saya dan Wify kian intensif mengajarkan kata-kata kepadanya. Tentu saja kata-kata yg diajarkan adalah kata-kata yg sederhana, seperti Pibi, Bubi, ALLOH, Nenek, Kakek, Uti, Atuk, dan terutama kata-kata yg akrab dengannya seperti minum susu, mandi, buang air, pup, dan sebagainya.

Saya dan Wify sudah sepakat untuk mengajarkan mbak Mika cara bertutur kata sebaik mungkin.

Pada umumnya, pasangan ortu (dan lingkungannya) terbawa dg paradigma/stigma bahwa anak bayi mesti diajarkan bahasa/kata yg 'enak' di lidah si bayi. Seperti cucu, mimik, dan kata2 lain, yg menurut saya justru akan mengebiri kemampuan si anak (nantinya).

Saya dan Wify tidak ingin mbak Mika mengikuti trendsetter seperti itu. Maka, kata2 yg benar selalu kami ajarkan. Masalah mbak Mika belum bisa mengikuti sehingga suara/ucapan yg keluar belum sama persis, tidak apa2. Tapi JANGAN MENGAJARKAN HAL YG 'SALAH' kepada anak, terlebih mereka sedang golden age, mudah sekali mengingat dan merekam apa2 yg mereka terima.

Hal lain yg paling saya tentang adalah penggunaan kata ganti utk buang air. Saya masih ingat ada istilah 'nyanyi' untuk pengganti buang air kecil. Pipis, menurut saya, masih cukup toleran. Sementara jika boker, ah, itu terlalu vulgar, heheeh.

Bagi yg sudah punya anak, bagaimana anda mengajari anak anda berbicara?

Gambar dari sini.

Moral story:
- anak kecil, terutama di bawah 5 tahun, termasuk ke dalam golden age, mudah sekali merekam dan mengingat apa2 yg mereka terima (lihat/dengar)

- hati2 mengajarkan sesuatu kepada anak!

- jangan mengajarkan hal2 yg salah! lha wong mengajarkan hal2 yg baik saja seringkali menjadi salah, apalagi jika salah yg diajarkan, bakal makin salah!

Posted on Tuesday, May 10, 2011 by M Fahmi Aulia

3 comments

5/08/2011


Gara2 postingannya Fenty di sini, saya jadi tertarik untuk menulis artikel yg serupa tapi tak sama.

Well, sebelumnya saya pernah juga menulis artikel ttg jodoh di sini. Tapi mungkin artikel itu terlalu mengawang-awang, jadi saya pikir saya akan tulis saja pengalaman saya, jadi lebih membumi. *tsah*

Ok, berbicara tentang jodoh, saya yakin mayoritas kita sebagai orang (normal) tentu ingin tahu jodoh kita. Tentang seseorang yg akan menemani sisa hidup kita, berbagi suka dan duka, dan yg paling penting: MELENGKAPI HIDUP KITA.

Ah, masih terlalu mengawang-awang juga tulisan saya ini, hehe. Ok, saya fokuskan pada bagian melengkapi hidup kita.

Saya yakin di jaman ABG dulu (atau malah hingga sekarang? ihihihi) banyak yg mempunyai bayangan (imajinasi) tentang jodoh yg kita harapkan. Jika cowo, biasanya dia pengen jodohnya seperti bintang film, lalu kaya, bla bla bla. Pokoknya bisa dibilang ga masuk akal lah! Kalo peribahasa bilang, seperti punduk merindukan bulan.

Lalu kalo yg cewe biasanya semodel juga. Jodohnya itu mesti macho, berotot, cool, matanya tajam, bla bla bla yada yada yada. Saya yakin cewe2 ini kesengsem habis dg Hugh Jackman, jadinya sampe ngiler2 pengen punya jodoh seperti itu.

Atau malah seperti teman saya (yg suka baca blog ini juga, sorry, kamu ta' jadiin sample di artikel ini). Dia pengen istrinya nanti itu lebih tua, lalu sederet daftar keinginan yg akan dia harapkan dari si istri.

Kenyataannya, tidak sedikit (atau buanyak sekali, tentu saja buanyak ini sangat tidak ilmiah) yg merasa kaget ketika akhirnya orang yg dia nikahi (menjadi jodoh) tidak sesuai dengan harapannya. Bagaimana tidak kaget, karena ternyata perempuan yg dia nikahi ternyata tidak bisa memasak, lalu bukan dari suku/daerah yg dia harapkan, belum lagi tidak sebahenol Jessica Alba misalnya, atau rambutnya dan matanya tidak seindah Aishwarya Rai.

Sementara pihak perempuan juga kaget, kok dia bisa2nya nerima pinangan dan lamaran serta ijab kabul dari laki2 yg ternyata doyan tidur, jorok, lebih suka main gadget? Apalagi badannya ceking belum lagi masa depannya (nampaknya) tidak cerah.

Lalu, jika anda mengalami hal di atas, apa yg anda lakukan? Protes ke ALLOH SWT? "Ya ALLOH, jodohku kok ya seancur ini toh? Masa doaku ga dikabul? Aku kan pengen si Jude Law yg melamar dan ngajak nikah? Lah ini kok kaya gini? Ga rela aku ya ALLOOOHHH..."

Ah, tentu saja ilustrasi di atas itu super lebay :p Sama lebaynya dg doa (tapi ngawur) minta jodoh ini. ;-)

Mestinya si cowo dan cewe itu berpikir secara realistis dan pragmatis ttg jodoh. Dan bagi saya, melengkapi hidup adalah hal yg paling cocok dan jitu utk hal ini.

Lho, kok bisa jodoh sejelek itu bisa melengkapi hidupku? Demikian pertanyaan anda.

Saya percaya jodoh itu melengkapi hidup anda jika anda merasa NYAMAN saat dekat dengannya. Ga peduli seganteng atau secantik apa seseorang, jika dia malah membuat anda tidak nyaman (apalagi buat cewe, dia tidak merasa dilindungi), maka dia tidak bisa disebut jodoh anda.

Jangan pernah berpikir bahwa ribut selama pacaran itu berarti tanda anda berdua bukan jodoh. Marah/ribut selama pacaran justru bisa menjadi ajang utk melengkapi diri pasangan anda, selama ujung/akhir dari marah dan ribut itu justru anda berdua temukan solusinya.

Tentu saja saya tidak bilang orang yg adem ayem saat pacaran itu tidak saling melengkapi.

Saya punya kenalan, dia dan suaminya pacaran selama 11 tahun! Dan selama itu yg namanya berantem dan putus nyambung sudah tidak terhitung jumlahnya. Toh, pada akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia hingga akhirnya sang suami meninggal karena sakit.

Standar ataupun syarat itu mesti ada, tapi jangan terpaku/mematok secara kaku. Wajah ngganteng (apalagi kaya saya) atau cantik itu perlu. Tentu saja mesti yg 'masuk akal'. :p Kenapa ngganteng dan cantik itu perlu? Ya selain (insya ALLOH) akan membuat keturunan kita lebih baik (secara fisik), kita pun NYAMAN jika berjalan bersama dengannya. Bahkan dalam Islam pun disebutkan bahwa saat hendak menikah, hendaknya tahu wajah calon pasangannya. Lha wong wajah yg ngganteng/cantik juga termasuk dalam 4 syarat yg disampaikan Rasululloh SAW.

Kalo masalah kaya/ngga, ya relatif. Menurut saya, mempunyai pasangan (suami/istri) yg tidak sekaya yg diharapkan itu tidak apa2. Justru, carilah pasangan yg bisa diajak bersama-sama menjadi kaya! Bukan berarti mesti cari pasangan yg muiskiiiin buanget! Carilah pasangan yg mau diajak hidup sederhana dan seiring berjalannya waktu, bersama-sama menjadi orang yg kaya.

Jika sudah masalah keyakinan, nah saya setuju bahwa keyakinan yg sama itu memang sebaiknya jadi perhatian khusus. Keyakinan yg saya maksud bukan keyakinan bahwa "Anda yakin bahwa anda ngganteng/cantik, tapi pasangan anda ndak yakin" atau "Anda yakin pasangan anda (si Icha) cewe, tapi ternyataaaaa...." Nope bukan itu. Tapi keyakinan utk menjalankan syariat agama.

Beberapa orang boleh saja berpendapat bahwa suka2 dia dong nikah dg beda keyakinan/agama. It's ok, saya juga tidak akan memaksakan hal itu. Toh, orang2 yg hendak menikah itu sudah dewasa, bisa berpikir yg baik dan salah seperti apa, serta tahu resiko yg akan dihadapi.

Ah, jadi kepanjangan dan ngelantur ini artikel.

Sebenarnya saya cuma mau bilang set/tentukan standar jodoh anda, tapi jangan terlalu kaku. Jika anda punya standar jodoh anda bernilai 8 lalu yg datang nilainya 7, ya jangan langsung ditolak. Coba saja dulu jalani. Siapa tahu dalam perjalanan, pasangan anda berhasil anda upgrade nilainya jadi 8 atau malah jadi 9?

Foto diambil dari sini dan sini.

Moral story:
- jodoh jangan terlalu muluk2, tapi yaaa jgn yg downgrade lah :p

- teman saya punya quote yg 'mengerikan'. "Lahir dari keluarga miskin itu nasib, tapi kalo ga bisa milih suami yg kaya itu berarti bego"

- (konon) jodoh juga tergantung posisi ;-)

- anda beda agama dan ingin nikah? coba baca dulu artikel ini.

- oya, temen saya yg ingin istrinya lebih tua itu lantas bagaimana nasibnya? ah, itu rahasia...yg jelas saya suka dg kehidupan (bahagia) yg dia jalani sekarang

Posted on Sunday, May 08, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments

5/03/2011


Hari Kamis pagi, saya dan rombongan berangkat menuju Jamshedpur, untuk berkunjung ke Tata Steel. Untuk informasi, Tata Steel adalah perusahaan besi milik pemerintah India, semodel PT Krakatau Steel jika di Indonesia. Maksud dan tujuan kami berkunjung adalah untuk studi banding (tsaahh...lagaknya sudah seperti anggota DPR saja) dan melakukan tanya jawab terkait sebuah sistem.

Perjalanan dilakukan dengan menggunakan mobil. Dengan demikian, saya 'membuang' 6 tiket kereta api kelas ekonomi yg telah saya pesan. Saya bersyukur bahwa mereka lebih memilih mobil, setidaknya mereka tidak perlu mengalami kejadian buruk yg kemarin saya alami.

Dengan 2 mobil, berangkatlah kami jam 6 pagi.

Perjalanan ke Jamshedpur (sekitar 300km) ternyata menempuh waktu selama 7 (TUJUH) jam! Penyebabnya adalah si sopir yg punya prinsip ala orang Jawa, yakni alon-alon asal kelakon. Bayangkan, kami berjalan dengan kecepatan 'hanya' 60-70 km/jam saja (MAKSIMAL). Padahal kondisi jalanan cukup bagus, serta suasana jalan tidak sepadat di dalam kota. Saya sempat mengajukan diri utk menggantikan pak sopir.

"Sir, can I replace you to drive? You are very slowly, you know!" yg langsung ditolak mentah2 oleh si sopir dengan mengibaskan tangan dan menggelengkan kepala seraya berkata "No...no...!" *huh,menyebalkan sekali!*

Total pergi pulang, kami habiskan waktu 14 jam di jalanan! Dampaknya? Pantat terasa puanaasss, haha. Mestinya kami bisa tempuh 300 km itu dalam waktu maksimal 3 jam saja! Apalagi kalo saya yg bawa mobilnya, dijamin ga akan kurang dari 100km/jam, hihihi.

Saat tiba di Jamshedpur, kami menuju kantor tempat saya bekerja dahulu. Tujuannya utk menjemput staf kantor yg punya wewenang dan ijin masuk. Kunjungan wisata kerja dan studi banding sendiri bisa dibilang lancar. Kami dijelaskan cukup banyak hal, terutama yg terkait dg sistem yg dimaksud, oleh beberapa petinggi Tata Steel. Sayangnya, saya tidak sempat foto2 kondisi Tata Steel, karena memang dilarang foto2 di dalam pabrik. Mereka mencegah terjadinya pencurian data atau apapun itu namanya.

Oya, dalam perjalanan ini saya berhasil menemuka tempat makan yg yahud dan SUPER DIREKOMENDASIKAN saking uenaknya. Menu motton curry dan roti cane merupakan menu yg langsung disantap hingga tandas oleh rombongan kami.

Hari Jum'at kami berkesempatan jalan2 di kota Kolkata. Tujuan wisata yg kami kunjungi antara lain Victoria Memorial, lalu ada istana Raja Kolkata (saya lupa namanya). Kemudian saya dan rombongan sempat berbelanja beberapa pernak pernik, sebelum akhirnya saya mengantar rombongan ke bandara udara. *narsis dulu ah, jarang2 kan saya narsis,hihihi*

Pulang dari bandara, saya sempatkan diri untuk berjalan2 lebih lama di sekitaran hotel.

Pasar malam di India ini benar2 mengasyikkan lho! Kita bisa temui dan beli banyak barang murah, asal berani nawar dan MESTI TEGA utk nawar, heheeh. Saya sendiri tidak banyak membeli, terutama karena ukuran koper yg saya bawa cukup kecil. Lha wong memang tujuannya kerja, jadi saya tidak terpikir bawa koper ukuran besar.

Iseng2 saya melihat sebuah tempat cukur rambut. Hmmm...tidak ada salahnya mencoba cukur rambut di negara orang. Saya melihat tarifnya 20 rupee saja (sekitar 4 rebu). So, masuklah saya ke dalam.

Cukur rambutnya berlangsung tidak lama.

Nah, kejadian buruk saya alami lagi di tukang cukur ini. Selesai bercukur, saya ditawari (tepatnya dipaksa) utk di-facial wajah saya. Alasannya, wajah saya banyak komedonya! *haha,sialan!* Well, beberapa hari tinggal di India membuat kewaspadaan saya meningkat tajam. Saya tanya, apakah layanan facial ini gratis atau bayar? Ternyata BAYAR dan harganya cukup mahal, 400 rupee!

Langsung saya tolak! Eh, si tukang cukur tetep maksa. Dia nawarin gel lain dengan harga lebih murah, 200 rupee. Dan kembali saya tolak mentah2. Usaha saya untuk segera keluar dari tempat cukur nampaknya dihalangi si tukang cukur yg nampaknya berniat menguras kantong saya secara paksa (dan halus). Saya sendiri jelas tidak mau menjadi korban kejahatan si tukang cukur. Terlebih si tukang cukur seringkali pura2 bego dan tidak mengerti bahasa Inggris.

Upaya facial tidak berhasil, si tukang cukur menggunakan taktik lain. Dia menawarkan jasa perawatan rambut. Dengan harga tidak masuk akal yg dia tawarkan, kembali saya tolak semua tawarannya! Yg membuat saya jengkel setengah mati, adalah upaya pemaksaan yg dia lakukan. Benar2 membuat saya kesal dan nyaris membuat saya marah, meski saya tahu resiko yg akan terjadi. Tapi sebodo amat, saya pikir daripada diem2 dan manut2 saja diperas, mendingan melawan. Toh, ternyata jika mereka digertak balik (so far yg saya alami) mereka tidak berani macem2 kok.

Tahu bahwa usahanya utk memaksakan facial dan perawatan rambut tidak berhasil, si tukang cukur akhirnya menawarkan pijat kepala dan leher. Sejenak saya ragu, sempat berpikir jelek. Jangan2 pas lagi mijit leher dan kepala, tau2 dia cekik leher saya dan lalu memaksa saya menyerahkan semua duit. Pikiran seram yg liar bukan? Hahaha. Saya sendiri sampai heran kok ya bisa kepikir hal kaya gitu.

Tapi akhirnya saya berpikir baik saja. Ya sudah, saya terima saja tawarannya, sing penting bisa keluar dari situ deh. Maka saya dipijat selama 10 menitan. Lumayan juga, kepala dan leher terasa lebih nyaman, meski pikiran2 jelek masih berkelabat di benak dan pikiran saya. Terlebih si tukang cukur ngobrol dalam bahasa Hindi dg beberapa temannya dan mereka tertawa2 ga jelas begitu, seperti mengejek saya. Saya cuma bisa misuh2 dalam hati.

Selesai perawatan, saya kasih 100 rupe. Eh, ga ada kembalian! Sial! Benar2 perampokan nich! Dan si tukang cukur langsung pergi saja, seakan-akan ndak ada masalah.

Ya sudah, saya ikhlaskan saja duit segitu, daripada kasus makin panjang dan bikin saya berabe.

Keluar dari tempat cukur itu, saya merasa lega banget dan cukup menyesal 'tertipu' dg tarif 20 rupee itu. Lha kalo sampe 100 rupee, mendingan cukur di langganan saya di Bandung. Dengan 8 rebu (40 rupee) hasil cukurnya ok plus pijat yg membuat badan terasa segar. Belum lagi pelayanannya yg ramah.

Ah, sudahlah...tidak apa2. Pengalaman, hihihi.

Hari Sabtu malam, saya pulang ke Indonesia. Usai transit di Singapura selama 1 jam, akhirnya saya menginjakkan kaki saya kembali di negara saya yg tercinta ini sekitar jam 8 pagi.

Sempat dongkol karena saya tidak menemukan koper saya, usai melapor dan laporan kehilangan saya diterima mas Deka akhirnya saya putuskan pulang. Alhamdulillah, jam 3 sore koper saya ditemukan dan diantar ke rumah oleh mas Agus. Salut untuk Singapore Airlines (SQ)! Tidak salah jika Singapore Airlines (SQ) meraih penghargaan sebagai maskapai terbaik sedunia.

Moral story:
- sopir travel India (kami) super lemot saat nyetir! perjalanan 14 jam di jalan benar2 membuat kami teler berat!

- saya sempat mencicipi nasi biryani. wuiihhh...muantaaabbb!! saingan berat nasi kebuli! dari sisi rasa sebenarnya nasi kebuli dan nasi biryani itu sama, tapi nampaknya beda istilah saja. nasi kebuli adalah istilah yg digunakan orang Timur Tengah dan Pakistan, sementara nasi biryani digunakan orang India

- pemerasan terselubung nampaknya memang sudah mendarah daging di India. mulai dari sopir taksi, sopir bajay, hingga tukang cukur.

- agar tidak diperas, paling aman memang jalan2 didampingi oleh orang India asli. berhubung saya tidak punya teman orang India yg mau menemani saya jalan2, walhasil saya alami banyak kejadian yg rada2 apes, hehehe. gapapa, pengalaman yg menarik, meski saat saya alami saya lumayan deg2an sich, haha

- saya sering disangka berasal dari Cina, huahahaha. faktor wajah nich!

- kapok ah ke India, terutama ke Kolkata dan Jamshedpur. kalo ke Mombai, New Delhi, atau Bangalore, hmmm...mungkin boleh lah, karena menurut cerita beberapa teman, kondisi di (terutama) Bangalore jauh lebih baik dari yg saya alami.

Posted on Tuesday, May 03, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments