4/29/2011


Kali ini saya hendak bercerita mengenai perjalanan saya menuju Kalkota, usai urusan saya di Jamshedpur selesai.

Kereta api di India bisa dibilang memprihatinkan sekali kondisinya. Jika dibandingkan dg kondisi di Indonesia, maka kereta api yg saya naiki ini sekelas dg kereta api kelas ekonomi jurusan Bandung-Kediri. Atau yaa mirip dg kelas ekonomi dalam kota Jakarta yg seringkali kita lihat para penumpangnya sampai rela duduk di atas atap.

'Menyedihkan'nya, kereta ini akan saya naiki dan nikmati selama 3-4 jam ke depan.

Sebenarnya kondisi keretanya sama dengan kereta dari Kolkata-Jamshedpur yg lalu. Tapi kondisi yg sekarang, menurut pengamatan saya, jauh lebih buruk.

Usai saya dapatkan tempat duduk (yg juga memprihatinkan karena kondisinya sudah SUPER KOTOR), saya dapati 3-4 kursi di depan saya ada orang ribut. Ada sekitar 5 orang 'mengeroyok' 1 orang (katakanlah si A). Si A dimarah2i dan meski sudah bersusah payah melawan dg tidak kalah membentak, toh si A tetap tidak berkutik.

Saya perhatikan sekilas, nampaknya mereka ribut mengenai tempat duduk.

Ok, jadi ada 1 hal unik di India mengenai tempat duduk di kereta api. Pada saat kereta api baru datang dan hendak berhenti, orang2 berlomba mendekati jendela kereta api. Saya perhatikan mereka membawa koran, sapu tangan, dan benda2 lain yg tidak begitu saya ingat. Ada apa gerangan? Ternyata begitu mereka berhasil mendekati jendela, mereka segera menyimpan barang2 mereka di kursi yg mereka incar. Ooo...jadi begitu cara 'pemesanan' alias booking tempat versi India.

Hal ini wajar, karena tiket kereta (ekonomi) yg dipesan tidak mencantumkan tempat duduk, sehingga mereka bebas duduk di mana saja.

Nah, kembali ke si A. Jika melihat perilaku booking dan gelagat mereka marah2 ke si A, rupanya orang2 itu (yg nampaknya 1 kelompok) tidak menerima kehadiran si A. Dan mereka ingin mengusir dari deretan kursi yg telah mereka booking.

Saat terheran-heran dg keributan yg ada, saya lihat ada seorang bapak yg sudah beruban melambai-lambaikan tangannya ke arah saya. Semula saya tidak mengerti, hingga akhirnya saya sadar bahwa bapak itu yg tadi saya temui dan ajak bicara (walau sebentar) saat di stasiun kereta api.

Nampaknya si bapak mengerti bahwa saya orang asing dan agak2 bingung dg kondisi kereta api, jadi dia memanggil saya.

Terus terang, saya tidak menaruh pikiran buruk, karena penampilan si bapak ini semodel dosen kalo di Indonesia. Well, minimal kaya dosen di ITB lah, hehe. So, saya mendekati dia.

Hiks...ternyata dia hendak memberitahu ada kursi yg lebih layak utk saya tempati daripada kursi saya sebelumnya. Saya ucapkan terima kasih kepada si bapak dan lalu duduk (dg lebih nyaman) di kursi baru.

Saya perhatikan, ternyata gerbong sebelumnya lebih kumuh daripada gerbong sekarang.

Dan mirip dengan perjalanan sebelumnya, banyak penjual makanan dan minuman yg lalu lalang. Terus terang, saya masih tidak terbiasa melihat cara penjualnya menyajikan makanan. Aduh, rasanya mual sekali. Untung saya sempat membawa minuman ringan dan cemilan.

Perjalanan kali ini terasa lebih ribet karena jumlah pengemis yg bersliweran cukup banyak. Mulai dari orang tua, anak kecil yg memamerkan keahliannya bermusik tanpa alat musik (dan mendadak saya ingat film "Slumdog Millionaire"), pendeta Hindu(?) hingga pasangan pengemis perempuan yg melakukan tindak kekerasan kepada saya.

SERIUS!! Ada pengemis perempuan yg melakukan tindakan kekerasan kepada saya!

Jadi begini ceritanya. Awal2 saya masih berusaha memberi kepada para pengemis. Namun melihat jumlah mereka yg cukup banyak, saya jadi 'malas' juga. Belum lagi saya merasa sulit istirahat karena sebentar2 ada yg lewat, entah itu penjual makanan atau minuman yg berteriak cukup kencang.

Akhirnya saya melakukan trik lama, mata terpejam dan kepala sedikit menunduk. Seolah-olah tertidur begitu deh.

Ternyata taktik ini tidak sepenuhnya berhasil. Ada seorang pengemis, pendeta Hindu(?) yg saat menghampiri saya, dia tidak kenal menyerah. Awalnya menepuk pundak. Melihat saya tetap diam, lalu dia memegang kepala saya seraya berkata-kata, entah mantera entah apa, saya sendiri tidak peduli, heheh. Syukurlah, dia pergi juga.

Nah, tidak berselang lama, saya mendengar ada suara tepukan tangan dari gerbong sebelah, diikuti dengan suara perempuan berkata-kata. Saya tidak mau ambil pusing, kebetulan saya sudah mulai mengantuk, jadi saya tetap berada dalam posisi 'seolah-olah' tidur (kali ini sih ngantuknya beneran).

Entah berapa lama saya 'melayang' (menuju kondisi tidur), mendadak saya mendengar suara tepukan tangan yg keras di samping saya. Hmmm...nampaknya ini suara yg saya dengar tadi. Saya tetap tidak peduli, berusaha tetap tidur.

Eh, tak dinyana, si perempuan ini menggoyang-goyangkan badan saya. Tentu saja, hal ini membuat saya terbangun. Saat saya lihat, ternyata ada 2 orang perempuan. Yg membangunkan saya mukanya agak2 galak gitu. Lalu dia menyodorkan tangan, minta duit maksudnya. Meski terganggu dg caranya, saya berusaha tetap ramah. Saya menolak permintaan dia, dengan senyum seraya menggerakkan tangan.

Alamak, rupanya dia ga terima. Dia ngotot dan kembali mendorong badan saya. Saya tetap senyum dan menolak memberi uang. Mendadak dia menempelkan tangannya ke bibir saya dan melakukan gerakan mendorong hingga ada 1-2 jarinya masuk ke mulut saya!

Ups, saya sempat naik pitam dg tindakannya ini. Tapi saya berusaha menahan diri dengan banyak pertimbangan. Pertama, dia perempuan. Kedua, saya berada di negeri asing. Ketiga, saya lihat perempuan ini sudah nekad. Jika saya melawan, bisa jadi kian akan nekad!

Akhirnya saya diam saja dan tetap berusaha senyum, meski saya tetap merasa marah bukan kepalang. Si perempuan X itu lalu pergi 'mengganggu' penumpang lainnya. Anehnya, dia tidak berani mengganggu laki2 yg ada istrinya. Hmmm... Selesai si X pergi, ada si Y, perempuan juga. Nampaknya mereka 1 grup, sama2 mengemis. Dan saya TETAP TIDAK MAU MEMBERI, tetap dg senyum. Syukurlah, si Y ini pengertian. Dia juga senyum dan lalu pergi. *buru2 saya foto si pelaku tindak kekerasan. sayangnya sudah cukup jauh, sehingga agak kabur dan tidak tajam hasil foto saya*

Usai mengalami peristiwa tidak mengenakkan ini, akhirnya saya melek dan waspada selama sisa perjalanan.

Kereta tiba di Kolkata terlambat lebih dari 2 jam! Yg semestinya tiba jam 5, ini baru sampai jam 7 malam! Ketar ketir terlambat menjemput tim di bandara, saya segera keluar stasiun. Tujuan saya ke loket taksi, memesan taksi untuk mengantar saya ke arah hotel. Eh, begitu saya tunjukkan lokasi hotel, si petugas menolak melayani saya dan menyuruh saya langsung nego ke sopir taksi.

Nego sempat alot, tapi akhirnya dicapai kesepakatan. Pergilah saya dibawa sopir taksi menuju hotel. Kondisi stasiun di malam hari ternyata tidak lebih baik, super macet. Belum lagi pepet2an antar taksi, yg akhirnya terjadi adu mulut dan membuat jalanan kian macet. *sigh*

Hal yg paling menyebalkan adalah, di saat kondisi jalanan macet lalu si sopir taksi bilang,"Wait a moment, sir..." Lalu dia tiba2 keluar dari mobil, berjalan sekitar 20 langkah menuju sebuah tembok dan KENCING DI PINGGIR JALAN! Langsung deh saya tepok jidat! Huhahah...ancooor!

Butuh waktu lebih dari 1 jam utk keluar dari stasiun kereta yg super macet. Sopir taksi bilang, kemacetan ini terjadi karena ada pertandingan final cricket (olahraga yg populer di India) klub dari Kolkata (yakni tim Kolkata Knight Rider) yg ternyata dimiliki oleh Shahrukh Khan! *foto di atas adalah momen saat saya sedang terjebak di kemacetan yg tidak pernah saya bayangkan sebelumnya*

Tiba di hotel, saya segera bersih2 dan menuju bandara utk menjemput tim yg akan datang.

Kisruh juga terjadi di bandara usai menjemput tim. Saya memesan taksi dari taksi ordering, tapi ternyata ada kongkalingkong di antara sopir taksi utk orang2 asing. Mereka akan memeras anda habis2an.

Modus yg mereka gunakan:
1. Barang bawaan anda dianggap melebihi ketentuan. Ada aturan tertulis, bahwa barang yg lebih dari 25 kg akan dikenai biaya tambahan 1 rupee/kg. Yg bikin kesal adalah mereka semena-mena menentukan biaya tambahan yg mesti kita bayar. Semula mereka minta hingga lebih dari 300 rupee per mobil! Padahal saya lihat bawaan tim tidak akan mencapai 300 kg! Saya langsung ngotot balik ga terima dan hanya mau membayar maksimal 100 rupee. Nampaknya mereka kaget juga melihat saya berani nawar. Terjadi nego dan akhirnya saya diminta bayar 150 rupee TOTAL.

2. Akan ada banyak orang yg tiba2 memegang dan membawa barang anda! Hati2! Tetap waspada dan perhatikan barang2 anda! Yg menyebalkannya, anda mesti membayar tips kepada TIAP ORANG yg memegang barang bawaan anda! Gila!

Ada kejadian lucu. Si Calo tiba2 minta bagian juga, padahal saya sudah kasih 150 rupee (hasil nego masalah berat barang). Tidak tanggung2 dia minta 100 USD! Saat saya menolak memberi, dia akhirnya minta uang dari negara saya! Kebetulan, ada duit 20 rebu di dompet.

Eh, saat saya beri, ternyata dia menolak! "I think you came from China. Money from Indonesia is not worth!"

Wanjrot...saya pengen ngakak meski agak2 kesal dengan ucapannya. Duh, kasian banget Indonesia, duitnya aja ga ada harganya di mata orang India, hihihi. Akhirnya saya kasih 100 rupee biar dia cepat pergi.

Moral story:
- jika anda sering mengeluh mengenai kondisi transportasi, mungkin saatnya anda kurangi dan banyak bersyukur setelah membaca cerita saya mengenai kondisi transportasi di India. Tentu saja, kita tetap berharap pemerintah bisa memberi layanan yg lebih baik lagi! *hare gene ngarep ke pemerintah?* :-)

- tetap waspada selama perjalanan di India!

- pokoknya jangan kalah gertak! kecuali jika memang kondisinya sudah tidak memungkinkan dan keselamatan lebih penting, ya mengalah saja lah ;-)

Posted on Friday, April 29, 2011 by M Fahmi Aulia

3 comments

4/27/2011


Hari Rabu saya kembali ke kantor cabang, usai makan pagi yg tidak sukses.

Saya cerita dahulu ketidaksuksesan makan pagi saya.

Melihat menu yg ditawarkan dan disajikan saat makan pagi, terus terang perut saya langsung berontak. Bentuk yg aneh serta bau yg terlalu menyengat membuat saya agak2 sungkan untuk makan. Tapi apa boleh buat, saya mesti mengisi perut saya agar saya bisa tetap survive (terlebih jangan sampai sakit). Belum lagi jika ingat tingkah penjual makanan di pinggir jalan. Hanya saja, saya ingatkan diri saya, bahwa kali ini di restoran yg kebersihannya (mestinya) lebih terjamin.

So, saya memberanikan diri mengambil beberapa menu yg saya anggap cukup dekat dg makanan Indonesia.

Beberapa gorengan, telor, dan semodel perkedel saya ambil. Saya gigit sedikit untuk mencoba, aduh, rasanya kok begini yak?! Apalagi yg model serabi. Saya semula berharap rasanya cukup enak, tapi tambahan bumbu2 yg tidak pas dg lidah saya membuat perut saya langsung protes agar saya tidak meneruskan makan.

Ok, ok. Saya alihkan ke makanan berbentuk seperti kue cucur. Hmmm...kalo yg ini lumayan, bisa diterima oleh perut. Demikian juga dg perkedel dan gorengan telor. Semuanya diijinkan masuk oleh perut saya dan mulai diolah menjadi energi.

Well, saya mesti nambah, karena saya tidak yakin saya bisa makan siang di dekat kantor. Maka, saya mengambil makanan sesi 2. Kali ini ada semodel nasi kuning (tapi cair), ditambah dg roti dan kari.

Karinya sih enak, lidah saya bisa mengenali dan mirip2 dg yg pernah saya makan. So, perut saya tidak protes. Namun saat roti dan nasi kuning saya cicip, kembali perut saya protes. Aduh, rasanya memang ga banget deh!

Ya sudahlah, saya segera selesaikan makan pagi dan bergegas ke kantor.

Di kantor, saya bertemu dg staf yg dimaksud. Plus diskusi dg sales dan bos di Indonesia (via email), akhirnya kami mencapai kesepakatan. Alhamdulillah, perencanaan sudah usai, kini tinggal aksinya!

Jam 2 siang, saya tiba di stasiun kereta Tatanagar, yg ternyata JAUH LEBIH KUMUH DAN SEMRAWUT daripada stasiun Howrah. Hwaduh, kepala saya langsung cenat cenut melihat kondisi stasiun yg ramai, sumpek, bau dan kumuh itu. Saya segera mencari loket dan mulai antri.

Eh, ternyata saya antri di loket yg salah, yakni loket utk orang tua dan perempuan! Terpaksa dah pindah dan itu berarti saya di antrian di belakang lagi (fiuuhhh).

Terus terang, berada di lingkungan yg kumuh membuat saya menjadi paranoid. Takut something bad happen, terutama pencopetan! Jadi, saya simpan dompet di saku dalam jaket, kancingkan jaket, simpan tas gendong di depan saya. Utk koper, saya tidak terlalu khawatir, karena saya tidak menyimpan barang2 dan dokumen berharga di dalamnya.

Toh, saya saat ngantri dan berdesakan saya masih harus waspada. Apalagi orang2 India ini kalo antri, bener2 mepet deh! Sempat curiga saya sudah dijadikan target pencopetan, tapi kecurigaan saya kian berkurang seusai saya berhasil membeli tiket. Alhamdulillah.

Oya, di stasiun Tatanagar (di kota Jamshedpur ini) ternyata orang2nya punya disiplin yg lebih baik daripada orang2 di stasiun Howrah (kota Kalkuta). Setidaknya mereka mau antri dg tertib. Bahkan, jika ada yg memotong antrian atau salah antrian, langsung diteriaki, hhahaha.

Masuklah saya ke peron, menunggu kereta datang.

Selama di peron, saya dapati bahwa orang India menyukai cemilan yg unik. Cemilan tersebut adalah mentimun yg dikupas lalu dibelah memanjang kemudian ditaburi garam dan serbuk cabe. Mirip2 dg rujak di Indonesia, tapi di sini hanya mentimun. Kepingin juga sih, membayangkan segarnya makan mentimun dan rasa pedas asin di lidah. Tapi, lagi2 melihat para penjualnya tidak menjaga kebersihan membuat saya mengurungkan niat, malah perut saya menjadi agak mual. :-(

Pemerintah India (pusat dan lokal) ternyata sangat memperhatikan masalah air minum. Banyak didapati keran2 air yg bisa diminum. Namun di stasiun Tatanagar, kondisinya kurang ok. Saya dapati beberapa orang ngomel2 karena keran yg mereka datangi tidak mengeluarkan air.

Saya sendiri akhirnya beli minuman dan makanan ringan utk mengisi perut.

Utk meyakinkan diri agar jangan sampai nyasar, saya bertanya kepada seseorang yg nampak terpelajar mengenai lokasi dan jadwal kereta. Dan dijawab dg hangat dan ramah. Syukurlah, ada yg membuat kekhawatiran saya berkurang. :-)

Kereta datang terlambat 10 menit, dan naiklah saya ke kereta, kembali ke Kalkuta!

Cerita akan berlanjut ke perjalanan menuju Kalkuta.

Moral story:
- masalah kebersihan merupakan masalah utama buat saya selama ke India

- sebagai penikmat wisata kuliner, ternyata lidah saya belum cukup bersahabat dg makanan India

- waspadalah di setiap kondisi! Namun tidak perlu terlalu khawatir dg dempetan orang2 India yg antri. Mereka memang doyan desak2an, bukan hendak mencopet lho!

Posted on Wednesday, April 27, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

4/25/2011



Well, kali ini saya akan berbagi pengalaman hal yg berbau teknis.

Saya menggunakan virtual box untuk menjalankan beberapa aplikasi yg tidak diperbolehkan diinstal di laptop kantor. Penyebabnya, kebijakan kantor yg melarang para staf untuk menginstal aplikasi2 freeware, ataupun shareware. Padahal ada beberapa aplikasi freeware yg cukup menarik untuk dijalankan dan dimanfaatkan.

Nah, ternyata virtual box yg saya miliki ini bersifat dinamis. Kadang ada program yg sudah saya instal lalu saya buang. Ini ternyata berdampak terhadap kedinamisan si VB. Ukurannya cenderung membesar, padahal sebenarnya aplikasi2 tidak penting sudah saya hapus semua.

Semula, virtual box saya hanya berukuran 5 Gb saja. Tapi lama kelamaan menjadi 16 Gb.

So, saya mesti cari cara dong untuk memadatkan si VB ini. Bisa apes saya jika ukurannya terus membengkak.

Hasil Googling, saya temukan beberapa cara untuk menyiasati hal ini. Dari beberapa referensi, akhirnya saya gunakan referensi dari sini dan sini untuk melakukan pemadatan VB saya.

Jadi, caranya sangatlah mudah!
Pertama, download dulu aplikasi2 yg dibutuhkan, yakni SDelete.
Kedua, jalankan VB anda. Lalu lakukan penghapusan (uninstal) aplikasi2/data yg tidak dianggap perlu (minimal di drive C).
Ketiga, lakukan defrag pada drive2 yg telah anda bersihkan (min di drive C).
Keempat jalankan "sdelete -c C:\" (tanpa " dan utk drive C:\).
Kelima, tutup/matikan VB anda.
Keenam, dari komputer anda (BUKAN VB) pergi ke folder "C:\Program Files\Oracle\VirtualBox\" (tanpa ").
Terakhir, ketikkan "VBoxManage modifyhd [folder tempat file .vdi anda] --compact" (tanpa ")

Voilaaa...akhirnya ukuran VB saya berkurang drastis! Dari 16 Gb menjadi 7 Gb!

Moral story:
- gunakan VB untuk menginstal aplikasi2 yg 'beresiko'

- JANGAN melakukan proses compact saat VB di-pause! pastikan MATIKAN (shutdown) dahulu sebelum proses compact

- kelebihan VB, bisa dipasang/digunakan di komputer mana saja, selama sudah diinstal aplikasi Virtual Box dari Oracle ini.

Posted on Monday, April 25, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

4/24/2011



Turun dari kereta, saya menuju jalan keluar stasiun kereta api. Masih sulit membeli sim card no lokal India, karena sepengetahuan saya, di dalam stasiun tidak ada yg berjualan, melainkan makanan ringan.

Begitu tiba di luar stasiun, hawa panas dan panas terik langsung menyapa saya dg 'ramah'. Seakan salam perkenalan dari kota Jamshedpur, kota yg akan saya singgahi selama beberapa hari ke depan ini. Masih dg taktik kuno, saya tidak langsung menerima tawaran dari sopir2 'liar', terlebih dg peristiwa di bandara kemarin.

Saya lihat kondisi stasiun kereta api tidak seribet bandara udara, jadi saya segera menuju jalan besar di depan stasiun. Dari sana, saya tidak langsung mencari kendaraan, melainkan melihat dulu sekeliling. Biasa, observasi dahulu. Melihat kebiasaan orang2 setempat serta menenangkan pikiran dulu sebelum mengambil keputusan (terutama saat hendak mencegat dan menggunakan kendaraan umum).

Sekilas pengamatan saya, orang2 di Jamshedpur masih asyik nongkrong. Belakangan saya ketahui, jam kerja di Jamshedpur dimulai jam 10 pagi.

Di beberapa tempat, saya perhatikan banyak orang duduk2 di pinggir jalan, menikmati sarapan. Entah, saya tidak tahu persis menu sarapan mereka. Yg jelas, mereka sempat minum sesuatu dg menggunakan semacam cawan kecil.

Yg membuat saya agak shock adalah (lagi2) masalah sanitasi/kebersihan. Banyak sekali saya temui genangan air kotor dan orang2 dg santainya meludah ke genangan2 tersebut. (catatan: genangan di sini benar2 genangan, bukan genangan seperti yg dibilang Foke lho, hahaha)

Usai pengamatan sekitar 15 menit, ditambah lagi dg sinar matahari kian terik, saya memutuskan untuk mencari kendaraan umum. Ada beberapa pilihan, yakni 'mbahnya' bajay, lalu ada semodel metro mini, serta ada semodel rickshaw/becak ala India.

Dengan memperhitungkan resiko paling kecil utk nyasar, saya akhirnya menggunakan mbah bajay. Kebetulan si pengemudi cukup baik dan terlihat tidak macam2. So, akhirnya saya naik (tentunya usai nego masalah tarif).

Tidak terlalu lama, usai menempuh jalan sekitar 30 menit dan kepala nyut2an melihat kondisi jalan di Jamshedpur yg LEBIH amburadul daripada Jakarta, alhamdulillah, tibalah saya di hotel Ginger. Ternyata si sopir tidak ada kembalian, walhasil saya kembali diingatkan akan perlunya uang2 kecil utk keperluan transportasi.

Cek in, lalu saya simpan2 barang dan bersih2 (mandi maksudnya, maklum hawanya super panas), saya segera mencari kantor cabang di Jamshedpur. Staf hotel memberitahukan bahwa lokasi kantor cabang ada di dekat hotel.

Kembali saya menggunakan mbahnya bajay. Sudah diwanti2 oleh staf hotel, bahwa saya cukup bayar 70 rupee. Tapi toh, akhirnya saat tiba, saya mesti berantem lagi karena si sopir ngotot bahwa tarif yg mesti saya bayar nyaris 2x dari kesepakatan semula.

Cih, lagi2 saya tidak bisa berbuat banyak. Apes emang jika tidak ada guide/info yg memadai. Sebenarnya, cara yg paling aman adalah dg diantar oleh penduduk lokal sehingga relatif lebih aman. Tapi, seperti saya tulis di atas, kondisinya tidak memungkinkan utk kontak, karena saya belum mendapatkan no lokal India.

Usai di lokasi kantor cabang, saya celingukan. Lah, kantornya ada di mana nich? Saya bolak balik keliling di daerah perkantoran situ sekitar hampir 1 jam, saya tidak temukan papan nama atau informasi lainnya.

Ok, jika sudah begini, maka solusinya adalah membeli no lokal.

Berbekal kenekadan yg luar bi(n)asa, saya menuju ke daerah pasar di sekitar Sakchi. Saya lihat ada beberapa toko yg menjual sim card no lokal. Sayangnya, saat saya hendak transaksi, saya tidak membawa foto sehingga saya tidak bisa membeli kartu lokal.

Rasa was-was mulai menghinggapi saya, terlebih waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, kondisi Jamshedpur yg cukup panas, ditambah perut saya belum diisi apapun membuat saya merasa prihatin dg diri saya sendiri, hihihi.

Seraya baca doa, memohon agar saya diberi kemudahan utk menemukan lokasi kantor, saya kembali ke titik pemberhentian awal. Di sana, saya celingukan, bermaksud mencari telpon umum atau wartel. Sayangnya tidak berhasil saya temukan.

Sebenarnya saya ingin bertanya ke orang2, tapi ternyata TIDAK SEMUA ORANG INDIA mengerti bahasa Inggris. Ini masalah tambahan yg tidak saya perkirakan sebelumnya. Selama ini saya berasumsi bahwa semua orang India bisa bhs Inggris, meski tidak lancar. Walhasil, saya sempat tanya ke beberapa orang (di jalan) dan mereka tidak bisa memberikan jawaban yg saya butuhkan.

Well, saya tidak boleh putus asa! Saya coba bertanya ke satpam sebuah hotel (yg diinfokan staf hotel). Alhamdulillah, si satpam mengerti maksud saya, dan dia langsung menunjuk ke 2 orang yg baru keluar dari gedung sebelah!

Wahahah...ternyata emang kantor cabangnya ada di gedung sebelah! Ketiadaan informasi yg cukup membuat saya kesulitan menemukannya!

Bertemulah saya dengan mr Modak dan mr Digar. Langsung saya disambut dengan hangat dan segera menuju ke kantor. Wehk, ternyata memang kondisi kantor cabang agak2 sulit ditemukan.

Saya segera diskusi dengan mr Modak mengenai keperluan saya di Jamshedpur. Ternyata Inggris saya tidak terlalu jelek lah, setidaknya si Modak mengerti apa yg saya mau dan saya juga paham dg apa yg dia omongkan.

Sayangnya, urusan saya tidak bisa diselesaikan di hari Selasa, karena orang yg saya butuhkan sedang tidak hadir. Jadi, saya mesti kembali hari Rabu.

Fiuuhh...alhamdulillah, syukurnya saya sudah punya progres sekitar 40-45%. Sisanya sudah saya ketahui apa yg hendak saya capai besok.

Kembalilah saya ke hotel dengan naik mbahnya bajay (lagi) dan kali ini utk menghindari berantem dg sopir, saya berikan saja nominal yg tidak akan membuat dia protes, ahhaha. :-D *tentu saja, nominalnya masih normal, tidak sampai ngasih 500 atau 1000 rupee*

Di Jamshedpur terdapat lokasi pabrik baja Tata, sebuah pabrik baja dengan kapasitas produksi berskala internasional. Jika dibandingkan dengan Krakatau Steel, kapasitasnya jauh lebih besar dan luas pabriknya juga (jika tidak salah) sekitar 2x luas Krakatau Steel.

Moral story:

- Jamshedpur memiliki temperatur yg tinggi dan panas yg terik. Jika ada keperluan ke sini, saya sarankan bawa dan pakai jaket kain (bukan jaket tebal atau jaket parasut)

- sekali lagi, jangan lupa utk mempunyai uang kecil. Ternyata kita bisa kok menukar di resepsionis. Setidaknya anda mesti punya pecahan 2 dan 5 rupee sejumlah 100-200 rupee.

- tetap waspada dg perilaku sopir mbah bajay. Menurut hemat saya, lebih baik mengalah saja. Ngotot dg orang India, apalagi kita seorang diri, menurut saya agak riskan. Lagipula selama duit yg keluar masih dalam ukuran normal (tidak sebesar saat saya dirampok), it's fine kok. Palingan anda rugi 20-100 rupee lah.

Posted on Sunday, April 24, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments

4/20/2011


Di bagian ini saya akan cerita perjalanan dari Kalkuta ke Jamshedpur.

Di bagian kemarin, saya sudah cerita bahwa akhirnya saya tidur di hotel yg 'ndak jelas'. Tapi ada enaknya ternyata tidur di hotel itu. Dekat dg masjid! Jadi saat adzan Subuh berkumandang, saya bisa segera bangun....untuk tidur lagi, hahaha. Subuh di sini jam 4.17. Saya tidur lagi sampai jam 4.45. Bangun lalu mandi dan sholat Subuh.

Heran nich, di negeri orang saya kok bisa bangun pagi dg badan segar bugar dan semangat yak?! Mungkin karena memang ada urusan yg mesti diselesaikan sehingga saya mesti full konsentrasi. Selain itu, faktor 'buta lingkungan' membuat insting saya kembali seperti dulu, seperti pemburu yg mencari mangsa. *haiyah, ini mbahas apaan toh?!*

So, karena waktu keberangkatan kereta ke Jamshedpur jam 6.20, saya sudah standby utk check out dari hotel jam 6 kurang. Terpaksa gesek CC utk bayar tagihan. Lalu dikenakan biaya tambahan utk ongkos taksi utk mengantar saya ke stasiun kereta api.

Oya, jika sejenak memperhatikan lingkungan di sekitar hotel saya menginap, saya teringat dg kondisi di Bali.

Usai taksi datang, saya segera berangkat. Tidak jauh ternyata jarak hotel ke stasiun kereta api. Hanya 20 menit, sampailah saya di stasiun Howrah.

Selama dalam perjalanan, saya perhatikan kiri kanan melihat kondisi kota Kalkuta. Hahaha..benar2 ampun dah, mirip kalo kita pergi ke Kampung Melayu atau Jatinegara. Orang2 menggelar lapak dan jualan serta mondar mandirnya berasa seperti di Jakarta sih.

Salah satu hal yg cukup menjengkelkan di sini adalah kondisi transportasi yg pengemudinya ugal2an! Kalah amburadul deh kalo Jakarta! Di sini, pengemudi motor tidak berhelm. Lalu zig zag sesukanya. Banyak motor P*lsar di sini berkeliaran *ya iya lah, lha wong di sini pabriknya* Kalo soal berisik, pengendara kendaraan bermotor di Jakarta masih relatif sopan. Di sini setiap kendaraan doyan sekali main klakson. Tat tet tot...padahal jaraknya cukup jauh! Jika sudah merasa perjalanannya terganggu, mereka tak segan mencet terus klaksonnya! Dan ini berlaku utk semua kendaraan, mobil atau motor!

Dan saat tiba (dg selamat, alhamdulillah) di stasiun Howrah, saat hendak menyebrang jalan, saya kembali menyaksikan 2 kendaraan adu body karena kedua sopirnya ga mau ngalah. Berantem? Ga tau, saya ga peduli...udah pengen buru2 ke kereta saja deh!

Stasiun Howrah cukup keren dan besar. Tapi, KUMUH! Sorry to say, tapi ini memang kenyataan. Banyak gelandangan yg tidur di lantai2 stasiun. Tidak pakai lama, saya segera bergegas ke loket, hendak beli tiket.

Saya dapati orang India tidak mengenal budaya antri. Main serobot begitu saja! Nampaknya memang budaya mereka. Toh, saya tetap cukup sabar utk antri. *tsaahhh*

Beli tiketnya murah, 102 rupee saja. Sayangnya saya ga ada duit 2 rupee, sehingga terpaksa merelakan kembaliannya utk penjaga loket. Terutama karena orang2 yg di belakang saya mulai ngomel2 gara2 saya dirasa terlalu lama beli tiket!

Huh, doyan banget sih orang India ngomel2. Apa ga cape tuh mulutnya? Hahah..

Kereta yg saya tuju ada di line 20. Dan saya langsung terbengong-bengong ketika saya dapati kereta yg saya naiki ternyata kereta semodel kelas ekonomi! *tepok jidat*

Ukuran kereta cukup luas, ada 6 tempat duduk. Kanan 3, kiri 3. Lalu sekitar 10 baris pertama menghadap ke depan, 10 sisanya menghadap belakang. Dengan kata lain, para penumpang saling berhadapan. Tidak bisa diset seperti kereta Parahyangan.

Saat melewati gerbong, saya sempat melalui kamar mandinya. Alamak...lebih parah dari kereta ekonomi di Indonesia! Baunya bikin pusing 7 keliling! Usai melewati 2 gerbong, saya dapat tempat duduk yg kosong. Koper tidak saya taruh di atas, riskan dg keselamatan lah.

Di dalam kereta banyak sekali orang berjualan. Mulai dari jualan teh tarik lalu ada snack yg pakai daun, koran dan air mineral (kalo yg ini standar). Yg lucunya, mereka jualan teh tarik dg menyebut nama kaya "cai cai" begitu. Mirip dg basa Sunda, cai yg artinya air. Oya, saya dapati ada beberapa orang kantoran di kereta ini. Nampaknya Jamshedpur memang salah satu kota tempat bekerja. *foto di atas adalah si penjaja teh tarik*

Jam 6.20 kereta mulai bergerak. Dan saya, seperti biasa sempat celingukan kiri kanan, cari2 sesuatu yg bisa dilihat (biar ga cepet tidur, maksudnya). Sayangnya, hanya bisa bertahan 15 menit, lalu saya mulai menidurkan diri saya sendiri deh.

Sempat terbangun, gara2 saya mencium bau kentut super busuk! Wahakakka...kejadiannya mirip sekali dg kasus saya antri di imigrasi Kualalumpur tempo hari! Tapi parahnya, kejadian ini terjadi sebanyak 2 kali! Nyaris muntah2 deh, apalagi perut masih kosong! Untungnya kipas angin yg ada di atas kepala segera menghilangkan bau super busuk itu! *jadi berpikir, apa semua kentut orang India baunya sebusuk itu yak?hihihi...kabur dari penthungan orang2 India*

Sempat juga terbangun gara2 ada orang yg lalu lalang membawa barang (kuli?) dan barangnya mendarat dg mulus di kepala. Bah...cuek aja pula si kuli itu! Siyal!

Perjalanan membutuhkan waktu 4 jam (jika merujuk ke jadwal). Dengan kata lain, Kalkuta-Jamshedpur itu seperti Jakarta-Bandung lah. Cukup lama ternyata! Berarti memang benar kata sopir taksi "rampok" itu, kalo pakai mobil bisa habis waktu sekitar 7 jam!

Kereta datang lebih cepat, jam 9.30 sudah tiba. Sayapun bergegas turun, membaur dengan orang lain menuju pintu keluar.

Alhamdulillah, akhirnya tiba di Jamshedpur dg selamat!

Moral story:
- siapkan uang receh (koin) saat ada di India

- pengamanan di stasiun & kereta cukup ketat. Beberapa kali nampak petugas dg senjata laras panjang berkeliling

- pakai jaket, lalu pindahkan dompet ke dalam jaket, kemudian kancingkan jaket, demi keselamatan harta

- jangan ragu2 kalo mau naik agar tidak jadi incaran orang2 yg tidak berkepentingan

- artikel saya tidak bertujuan mencitrakan India sebagai sesuatu yg buruk. Saya hanya menulis apa yg saya ketahui :-)

Posted on Wednesday, April 20, 2011 by M Fahmi Aulia

4 comments

4/19/2011


Seminggu kemarin saya mendapat tugas untuk pergi ke daerah Barat dalam upaya mencari kitab otentik Chaiya Chaiya yg dipopulerkan oleh Briptu Norman. Sedikit mengejutkan dan tiba2 sebenarnya, sehingga saya agak kelabakan mengurus ini itu dan memperhatikan pekerjaan saya.

Toh, akhirnya pada hari Senin siang, saya berangkat juga dengan segala kekurangan yg ada. Tidak bisa tidak karena tiket pesawat dan hotel sudah kadung dibeli dan dipesan. Walhasil, gegara sudah agak2 kelenger mengurus ini itu, saya akhirnya luput 1 hal di pekerjaan yg lumayan penting. Padahal sangat berpengaruh ke performance, tapi ya sudah, apa boleh buat?!

Btw, anda sudah tahu saya hendak ke mana? Hehehe.. ;-)

Yappp...India, sebuah negara yg memiliki jumlah penduduk yg tdk bisa saya bayangkan, karena bersaing dg Cina utk memproduksi manusia2 baru. 'Untungnya', manusia2 di kedua negara ini mempunyai kepandaian yg cukup sehingga mereka bisa berekspansi di bidang teknologi.

Saya lanjutkan cerita saya.

So, akhirnya saya transit dulu di Singapura sebelum akhirnya berangkat ke Kalkuta jam 21.00 waktu Singapura (20.00 WIB). Butuh perjalanan lebih dari 3 jam, sehingga saya baru tiba di Kalkuta sekitar jam 22.30 waktu Kalkuta (jam 23.30 WIB).

Sepanjang perjalanan yg melelahkan, saya menonton film "Robot" buatan Bollywood. Yaahhh...mau gimana lagi? Jika hendak ke suatu negara, sebaiknya ya mesti tahu budaya setempat. Dengan cara menonton film, itu paling mudah. Film ini akan saya bahas belakangan, insya ALLOH.

Lanjut deh ceritanya.

Turun dari pesawat, mulai deh celingukan kiri kanan, mencari rambu/papan pengumuman yg bisa membantu. Ok, mesti antri di bagian imigrasi. Ah, sial, ternyata untuk dokumen masuk ke India, saya kosongkan bagian alamat saya menginap. Si petugas imigrasi sempat ngomel2 sambil goyang2 kepala. Jengkel juga liat orang ngomel2 tapi melihat gayanya, malah jadi cekikikan sendiri. *foto di atas adalah bagian imigrasi utk bisa keluar dari airport*

Akhirnya selesai juga urusan imigrasi. Sekarang masalahnya, SAYA NGINEP DI MANA NEEEHHH?? *tepok jidat*

Rupanya ada salah perhitungan dari pihak kantor. Tgl 18 April saya sudah 'diharuskan' ke Jamshedpur, padahal kenyataannya? Boro2 ke Jamshedpur, bisa dapat tempat nginep di Kalkuta udah untung. Sempat tanya ke pihak Manajer Airport, atas usul salah seorang petugas Airport yg mirip bintang Bollywood, mengenai kamar transit. Bah, ternyata kamar transit hanya boleh ditinggali oleh orang2 yg akan menggunakan lagi pesawat terbang! Karena saya akan pakai kereta api ke Jamshedpur, dengan semena-mena mereka menolak.

So, saya keluar dari bandara. Berlagak mikir, biar ga dikejar2 sopir taksi yg menawarkan jasanya. Meskipun butuh, tapi jgn terlalu kentara donk, ntar malah gampang ditipunya!

Sekitar 10 menit (seolah-olah) berpikir, akhirnya saya melayani obrolan dan tawaran seorang supir taksi. Pada dia saya cuma pesan untuk dicarikan hotel yg kelas 3 (rate 2000-3000 rupee) soalnya mau semalam doank di Kalkuta. Si sopir bilang kalo dirinya pake meter (argo maksudnya) jadi jangan kuatir katanya!

Bismillah deh...jadi bolang di negeri orang dah, hahaha.

Perasaan ga enak sudah hinggap saat melihat taksinya. Aduh, ga tega saya nulisnya. Tapi yg jelas taksi2 di Indonesia sangatlah memadai dan lebih tinggi kelasnya. Taksi berwarna putih ini (belakangan saya ketahui bahwa TAKSI BERWARNA PUTIH INI SAMA SEKALI TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DINAIKI, TERUTAMA OLEH TURIS ASING, APALAGI YG GANTENG KAYA SAYA *siap2 ditimpuk*) langsung meninggalkan airport.

Hujan turun di Kalkuta...dan yg bikin saya makin deg2an ketika si sopir memutar2 tombol di kanan setir untuk menggerakkan wiper! Langsung deh pengen nyungsep saya saking shocknya, ahhaha.

Hotel pertama yg dituju ternyata penuh, jadi kami pindah ke hotel lain.

Keinginan nyungsep bertambah ketika saya tanya masalah meter, si sopir malah mengeluarkan kertas dilaminating yg bertuliskan tarif! Wakakak...pantesan saya berpikir2 terus, katanya pake meter (argo) tapi kok sejak jalan ga ada gelagat mencet2 apaan gitu. Ternyata meter (argo) yg dimaksud adalah sesuai tabel harga.

Bah, saya mesti pasang kuda2 nih. Alamat bakal 'dirampok' sama sopir taksi deh kalo melihat gelagatnya seperti ini!

Setelah melalui perjalanan lebih dari 1 jam dan entah melewati apa saja (saya sendiri merasa seperti sedang mengikuti acara dunia lain, tapi yg versi dibawa nyasar) kami tiba di hotel yg saya sendiri ga yakin ini hotel beneran. Lha wong lokasinya emang ga meyakinkan juga. Kumuh, lalu ada suara2 ga jelas gitu lah.

Saya turun, nego kamar, dapat juga yg agak murah. Alhamdulillah.

Pertengkaran dan usaha 'merampok' terjadi ketika sopir taksi ngotot minta dibayar jauh lebih mahal dari seharusnya! Jika merujuk ke tabel, saya mestinya cuma membayar 790-an rupee. Tapi entah dia ngomong apa muter2 ga jelas Inggrisnya gitu, minta 1500 rupee! Debat dan adu ngotot berlangsung agak lama, tapi akhirnya saya menyerah saja. Repot soalnya jika bikin keributan di tempat orang. Akhirnya saya serahkan uang yg diminta. Saya sempat ngotot minta kembalian, si sopir malah ngomel2 ga jelas gitu. Ya sudahlah.

Usai masuk kamar, mandi, nonton tv sebentar, saya tidur dah dengan pulasnya saking capenya.

Demikian cerita bagian pertama jalan2 ke arah Barat mencari kitab Chaiya Chaiya.

Moral story:
- jalan2 ke negeri Bollywood emang mooy. menantang abis!

- transportasi di Kalkuta lebih kacau dan semrawut dari Jakarta. Klakson dan kebut2an serta saling serobot adalah hal biasa!

- melihat kondisi Kalkuta tidak jauh berbeda dengan Jakarta lho! Maksudnya yg bagian2 daerah kelam gitunya. Sejak semalam saya ga nemu yg namanya mini market (atau mungkin saya emang 'nyasar' ke tempat yg ga jelas di Kalkuta? hahaha)

- untuk masalah kebersihan, Jakarta masih lebih baik kok, ga separah Kalkuta :p

- Jamshedpur itu jaraknya cukup jauh dari Kalkuta! Butuh 4 jam pakai kereta, 7 jam dengan mobil. Jadi, kebayang kan 'apesnya' saya saat di Kalkuta malam2?

Posted on Tuesday, April 19, 2011 by M Fahmi Aulia

3 comments

4/14/2011


Setiap orang ingin bekerja dengan nyaman di tempat kerja mereka, terutama bagi para kasta kuli alias belum menjadi majikan dan punya bisnis sendiri. Kian nyaman seseorang bisa bekerja, maka akan semakin baik produktivitasnya.

Dari sekian banyak faktor yg bisa membuat nyaman adalah rekan kerja. Di artikel saya sebelumnya, saya sempat menulis mengenai konflik dengan rekan kerja. Hal ini sangatlah menjengkelkan, bahkan bisa merusak dan menurunkan produktivitas dan mood kita.

Tapi, sebenarnya ada hal lain yg mesti diwaspadai di kantor/tempat kerja. Yappp...seperti yg tertera di judul artikel ini, STAF YG DOYAN CARI MUKA. Bisa dikata, ini adalah bahaya laten yg mesti diwaspadai bahkan jika perlu dideteksi secara dini sebelum orang2 seperti ini merusak hidup dan pekerjaan anda.

Staf yg doyan cari muka ini bisa dikatakan seperti dasamuka. Dia bisa bermuka manis dan ramah terhadap banyak orang tapi di sisi lain, dia akan membuat posisi anda menjadi jatuh/bodoh/terpuruk (dan seribu istilah lainnya) di mata boss/atasan anda.

Ada beberapa ciri staf yg doyan cari muka:

1. Dia merasa paling sibuk, tapi sebenarnya tidak ada output kerjaan dia yg berguna.

2. Dia tidak akan segan2 utk menindas rekannya. Tidak perlu secara fisik, tapi bisa juga dengan cara mensabotase pekerjaan anda. Nantinya, pekerjaan dia yg akan diajukan dan dinilai (baik) oleh si boss.

3. Sabotase juga bisa dilakukan dengan cara menutup hak akses anda ke resource2 yg dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan anda (ataupun untuk membuat anda nyaman bekerja). Contoh paling gampang adalah administrator jaringan (network) yg akan menutup atau membatasi akses internet utk orang2 yg tidak dia sukai. ;-)

4. Dia sering mengajukan diri utk mengerjakan tugas dari si boss, tapi sebenarnya pekerjaan itu dilemparkan ke orang lain, apalagi anda. Orang lain/anda yg bersusah payah bekerja, dia yg dapat nama baik/pujian.

5. Segala urusan boss diurus oleh dia. Bahkan jika perlu dia menjadi jongos pribadi (tidak lagi asisten pribadi) si boss.

6. Menjadi mata2 si boss dengan melaporkan kegiatan anak buah (rekan kerjanya) yg dirasa tidak berhubungan dg pekerjaan di kantor. Bahkan jika perlu dia akan foto anda yg sedang ke-gap main game atau facebook-an.

7. ..... (silakan isi jika ada ciri2 lain yg menurut anda merupakan tanda si pencari muka)

Upsss...ternyata anda temukan orang2 dg ciri2 di atas di kantor anda. Dan ternyata memang benar dia si pencari muka. So, apakah itu berarti anda mesti menyerah dan resign dari kantor?

Ooo...tidak bisaaaa... *dg gaya Sule*

Anda tidak perlu menyerah dg orang2 seperti itu, karena orang2 seperti ini biasanya selalu ada di kantor. Yang anda mesti lakukan adalah MELAWANNYA!

Berikut ini beberapa cara utk melawan si pencari muka:

1. Teliti dulu pekerjaan yg diterima dari dia. Jika dia melakukan poin (4) di atas, segera tolak.

2. "Sedikit berbeda" dg poin (1), anda SELALU TOLAK pekerjaan yg datang dari dia.

3. Hindari kerjasama dengannya, terutama jika anda 1 divisi. Cari alasan yg logis agar anda tidak dipasangkan dengannya, apalagi jadi 'anak buahnya'.

4. Jika anda terima pekerjaan dari dia, dan ternyata pekerjaan itu dari boss, maka serahkan langsung hasilnya ke boss anda. Jika perlu beri alasan bahwa anda meluangkan waktu tambahan utk menyelesaikan pekerjaan ini. *well, mungkin 'sedikit' cari muka, tapi toh anda yg memang mengerjakannya kan?* ;-)

Ayo...ayo...pasang radar anda dan perhatikan kondisi anda. Jika anda merasa sering mendapat banyak pekerjaan (apalagi yg bukan scope jobdesc anda) coba perhatikan siapa yg ngasih kerjaan dan berhati2lah!

WASPADALAH...WASPADALAH...!

Gambar dari sini.

Moral story:
- tidak ada tempat kerja ideal, kecuali kita yg jadi boss (membuat usaha sendiri)
- hati2 dg orang2 yg suka cari muka
- tidak perlu takut, tapi waspada dan jgn mudah dikadali!

Posted on Thursday, April 14, 2011 by M Fahmi Aulia

1 comment

4/13/2011


Secara pribadi, saya termasuk yg membolehkan mencontek. Lho, kenapa mesti dilarang? Mencontek tidaklah seburuk yg disangka. Banyak orang mencontek dan ternyata hasil contekannya lebih baik dari produk aslinya.

Tidak perlu jauh-jauh dan repot-repot untuk mencari pihak2 yg berhasil usai melakukan pencontekan. Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang merupakan bukti nyata bahwa mencontek tidak selalu buruk. Mereka, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, melakukan pencontekan terhadap ilmu2 yg dimiliki oleh orang2 Barat dan MELAKUKAN MODIFIKASI sehingga tampil lebih menarik dan hasilnya lebih baik.

Bahkan, Bill Gates pun ditengarai melakukan pencontekan terhadap ide mouse dari Xerox. Efeknya? Kini kita melihat Microsoft berhasil menjadi sebuah perusahaan raksasa di bidang perangkat lunak.

Sementara agar mahasiswa2 tidak mencontek saat ujian, itu mudah. Berikan ujian yg sifatnya open book. Mahasiswa boleh membawa SEMUA buku referensi yg berkaitan dengan mata kuliah tersebut.

Ujian tutup buku, hemat saya, tidak lagi jamannya. Menghapal rumus bukanlah yg harus dilakukan pelajar/mahasiswa. Mengapa? Karena jika kita sudah masuk ranah pekerjaan, nyaris tidak ada yg melarang kita membuka buku2 atau daftar referensi untuk mencari rumusan atau bahkan spesifikasi data dari permasalahan yg kita hadapi.

Ada yg salah dg sistem pendidikan kita, terutama budaya menghapal. Apa2 kita hapal. Mulai dari plat nomor, tabel periodik, lalu rumus ABC, rumus Newton, bla bla bla. Bukan PEMAHAMAN, tapi budaya MENGHAPAL yg lebih ditekankan kepada pelajar, terutama anak2 sejak dini.

Al Qur'an, hadits, dan terjemahannya bolehlah kita hapal. Tapi utk urusan2 yg (menurut saya) ga (terlalu) penting, lebih baik manfaatkan CATATAN atau BUKU REFERENSI.

Coba lihat orang2 yg berhasil di bidang pendidikan, terutama yg eksakta. Jarang sekali mereka yg menghapal rumus. Mereka PAHAM KONSEP dan alurnya. Kecuali utk urusan Biologi dan Kedokteran, memang tidak ada jalan lain selain menghapal.

Jadi, buat apa melarang mencontek? Justru budayakan mencontek yg lebih kreatif. Hasilnya jelas, ada nilai lebih yg bisa didapat.

Jika kita melihat produk teknologi dan telco yg dihasilkan dari negara2 itu, terutama dari Cina, kita bisa melihat bahwa produk mereka tidak lain dan tidak bukan mencontek dari produk yg telah beredar. Kita lihat saja, produk2 KW dari iPhone, iPad begitu deras mengalir dari Cina. Dan mereka jual dengan harga yg relatif jauh lebih murah (meski dg kompensasi kualitas yg lebih rendah, hehe).

Toh, mereka kejar volume. Dengan harga yg cukup murah, bisa 50% lebih murah, KW dari iPhone atau Blackberry langsung disambar oleh masyarakat Indonesia. Ujung2nya? Duit deras mengalir ke negara mereka.

So, masih ngotot melarang budaya mencontek? ;-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- tidak semua mencontek itu jelek, karena mencontek sudah kadung dianggap hal yg tabu
- hasil mencontek mesti lebih kreatif agar punya nilai tambah

Posted on Wednesday, April 13, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

4/10/2011


Terus terang, saya menulis artikel ini dengan berat hati. Bukan apa2, karena bisa dibilang ini merupakan puncak kekesalan saya terhadap PKS, partai yg selama ini saya harapkan bisa mengubah kondisi politik di Indonesia lebih baik.

Sejak tahun 2004, saya memilih PKS sebagai partai yang saya rasa bisa mengaspirasikan suara saya di pemerintahan (dan kancah politik), entah itu di pemerintah daerah ataupun di pusat. Simple saja (atau naif?) pemikiran saya memilih PKS. Mereka punya visi dan misi yg cukup banyak irisannya dengan yg saya harapkan, lalu kader2nya cukup berpendidikan, santun, tidak neko2, serta memiliki sistem kaderisasi yg memadai (barangkali kalah duluan saja dengan Golkar).

Bahkan, saya pun pendukung Adang Daradjatun dan Ahmad Heriawan, yg notabene diusung oleh PKS menjadi calon gubernur DKI dan Jawa Barat. Bahkan saya pun (berusaha) memilih Taufikurahman sebagai Walikota Bandung (meski akhirnya gagal utk memilih karena satu dan lain hal).

Intinya, saya fans berat PKS (you can say that!). Terlebih jika melihat sepak terjang Hidayat Nur Wahid dan Nurmahmudi Ismail, yg menunjukkan bahwa para politisi PKS berhasil menuaikan amanah dari rakyat. TOP BGT deh!

Percaya atau tidak, saya bahkan sempat menaruh harapan yg cukup tinggi saat Tifatul Sembiring dipilih menjadi Menkominfo pada kabinet SBY. Bayangan saya, TS bisa mengikuti jejak HNW dan NI, dan membuat masyarakat kian percaya dengan kader2 PKS.

Tapi, apa lacur.

Satu demi satu sikap dan aksi para kader PKS di pemerintahan mulai membuat saya kecewa. Mulai dari kebijakan2 Menkominfo yg, maaf, tidak bermutu dan tidak 'IT' sama sekali, bahkan cenderung mengurusi tetek bengek yg tidak esensi (at least menurut saya, yg pernah berkecimpung di dunia informasi) ataupun tidak terkait dg komunikasi. Nampaknya harapan saya TERLALU TINGGI utk kader PKS yg satu ini. ;-)

Lalu sedikit demi sedikit, para kader PKS di gedung DPR pun mulai tersangkut dengan kasus2. Belum lagi ketidak berpihakan mereka terhadap keputusan2 DPR, termasuk berusaha utk berada di jalur koalisi.

Terakhir, kasus yg paling memalukan, adalah tertangkap basahnya Arifinto sedang menyaksikan tayangan porno dari gadgetnya.

Merujuk pada logo PKS yg saya tampilkan di artikel ini, PKS boleh saja menyatakan diri Pantang Korupsi Sogokan, tapi tidak untuk NONTON PORNO! Anda tersinggung? Tidak apa2! Saya pun geram bukan main dengan kenyataan ini. Terlebih jika mengingat bahwa TS, yg notabene kader PKS, justru yg menyatakan perang terhadap pornografi, tapi kini kader PKS sendiri yg menistakan (dan menihilkan) usaha sesama kader.

Pernyataan Arifinto bahwa dia membuka file porno itu dari email, saya bilang omong kosong! Ada bukti bahwa file porno tersebut berasal dari FOLDER, alias sudah disimpan di gadgetnya. Jikapun dia berkelit lalu memperlihatkan bahwa gadgetnya bersih, itu usaha luar biasa busuk!

Kedua pernyataan itu bisa dibantah atau dibuktikan terbalik! *klik di sini jika ingin melihat sumber gambar*

Jika emailnya dihapus, bisa dicek di akun emailnya. Mestinya jika memang benar ada email yg mengandung konten porno, maka masih ada di trash-nya. Kecuali dia meng-set jika email dihapus di gadget maka akan dihapus juga dari akun emailnya.

Kedua, jika gadgetnya dicek dan diperiksa dg aplikasi yg bisa merestore file2 yg dihapus, maka akan bisa dibuktikan apakah memang file porno itu berasal dari email atau sudah tersimpan di gadgetnya.

Melihat sikap PKS yg (hingga saya tulis artikel ini) masih tidak memberikan pernyataan ataupun sanksi terhadap Arifinto, membuat saya memutuskan tidak akan memilih lagi PKS di Pemilu mendatang. Apalagi melihat tarik ulur PKS agar tetap berada di koalisi, membuat saya benar2 MUAK!

Politik membuat orang menjadi korup. Dalam hal ini, PKS sedikit banyak membuktikan, bahwa sebagus apapun kadernya, jika sudah nyemplung ke politik di Indonesia, hasrat korup dan cari jalan selamat serta usaha menguntungkan partai akan dijadikan panglima. Dan saya ternyata 'terlambat' mengetahui artikel ini. :p

Terlepas dari visi&misi PKS yg sebenarnya mumpuni, apalagi dg 'pembelaan diri' seperti ini, saya sudah memutuskan tidak perlu mempercayai lagi mereka. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Ini merupakan dampak dari sikap anda2 sendiri yg membuat kian banyak orang tidak lagi mempercayai partai di Indonesia.

Oya, saya sempat terpikir utk GOLPUT pada Pemilu 2014, dan ini bukan tidak mungkin lho! Bismillah. ;-)

Akhirul kata, saya ucapkan selamat tinggal kepada PKS. Bagi anda2, kader PKS yg masih bersih, semoga bisa memperbaiki kondisi partai anda. Jika tidak, maka saya rasa tinggal menunggu waktu saja PKS nyungsep. ;-)

Gambar dari sini dan beberapa lokasi lain yg tidak sempat saya catat.

Moral story:
- jika ada orang bekerja namun tidak kompeten di bidangnya, maka tunggu kehancurannya! (ini hadits Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

- pak menteri (siapapun menterinya dan di bidang apapun) jika hendak membuat peraturan, mbok ya dipikir dulu!

- jika Kapolri akan menyalurkan 'bakat' Briptu Norman (yg ber-lipsync ria dalam menyanyi lagu India) ke jalur yg sesuai (menyanyi atau hiburan), kira2 pimpinan PKS akan menyalurkan 'bakat' Arifinto ke mana yak? ;-)

- update 11 April 2011: Arifinto mengundurkan diri. Serta ada foto tambahan bahwa ybs mengakses BUKAN dari email, tapi dari file yg (diduga ;-) sudah disimpan di komputernya.

Posted on Sunday, April 10, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

4/06/2011


Akhir tahun 2010, saya berkesempatan mengunjungi Malaysia utk jalan-jalan menghadiri sebuah pelatihan produk dari perusahaan. Tantangan yg menarik bagi saya. Bukan jalan-jalannya, tapi kesempatan mengikuti pelatihannya. Hal ini dikarenakan saya tergolong pegawai baru, jadi tidak akan menolak jika diberi kesempatan untuk jalan-jalan ikut pelatihan.

Sialnya, pemberitahuannya datang secara mendadak. Apes bertambah pada saat paspor saya telah habis masa berlakunya. Untunglah perusahaan tanggap dan segera menguruskannya.

Saya pergi berempat. Cilakanya, tidak ada satupun yg pernah ke Malaysia. Malah mereka bertiga lebih akrab dengan Singaparna Singapura. Walhasil bisa dikatakan ada 4 lelaki culun akan berkunjung ke negeri jiran yg entah bagaimana tidak diketahui seluk beluknya.

Minggu sore, berangkatlah kami jam 4 sore WIB. Sesaat sebelum berangkat, saya sempat melihat beberapa TKI yg sedang bersiap juga menuju Malaysia.

Mendadak saya merasa sedih pada mereka, terutama saat petugas imigrasi bersuara agak keras (cenderung membentak) kepada para TKI. Duh biyung, belum berangkat saja mereka sudah diperlakukan tidak sopan dan manusiawi. :-( Sayangnya, saya tidak bisa berbuat banyak.

Karena perbedaan waktu 1 jam lebih dulu, kami tiba pukul 6 waktu setempat.

Dasar pada culun semua, kami menjadi seperti orang dusun. Celingukan kiri kanan. Well, akhirnya dengan tampang sotoy, kami melangkah dengan pasti menuju meja imigrasi. Antrian cukup panjang. Di depan kami ada sekitar 10-15 orang. Berjajar, kami berempat nengok kiri kanan.

Upss...nampaknya kami mesti mengisi formulir dahulu. Walhasil keempat orang ini segera keluar dari antrian dan menuju meja untuk mengambil dan mengisi form.

Form yg mesti diisi adalah form berupa keterangan apakah kami pernah ke Malaysia, lalu tujuannya apa, lalu mengisi nomor paspor, nomor penerbangan, bla 3x. Ah, gampang kok!

Saat mengisi form, di sebelah kami ada rombongan dari Cina berjumlah 4 orang. Nampaknya hanya 1 orang yg mengerti bahasa Inggris. Dia yg menginstruksikan ke 3 temannya utk mengisi form tersebut. Sibuk dan ramai sekali mereka, hanya untuk mengisi form ini. Untunglah, berarti ada yg lebih katro daripada kami, eheheh.

Kali ini dengan (lebih) pede kami kembali ke meja imigrasi.

Pada saat antri, di depan kami ada orang India. Gelagatnya seperti orang yg gelisah. Dan mendadak....anjroy, tercium bau busuk! Saya langsung nyeletuk ke teman saya yg berdiri di depan saya dan di belakang si India.

"Ndri, kamu kentut ya?!"
Yg jelas langsung disanggah oleh Andri,"Enak aja..."

"Kok bau kentut dari arah situ?"
"Wah, ga tau. Beneran deh!"

"Wah, berarti si India yg kentut! Najis...bau banget!"

Dan kami berempat langsung memaki-maki si India. Tentunya dalam bahasa yg tidak dimengerti dia....bahasa Sunda! Wakakak.

Usai kami berhasil melewati meja imigrasi, saya sempat melihat rombongan TKI yg nampaknya saya lihat di airport, diperiksa juga tepat di belakang kami. Perlakuan petugas imigras Malaysia nampaknya sama saja dg petugas bandara. Agak2 ketus, meski (sepenglihatan saya) tidak segalak petugas bandara.

Ok, berikutnya kami mesti mencari transportasi yg akan membawa kami ke hotel. Berempat, kami celingukan ke sana ke mari. Sempat keluar bandara, menemukan beberapa taksi yg sedang antri. Hmmm...firasat saya mengatakan ada yg aneh dg taksi2 itu. Sempat terlintas di pikiran saya, taksi2 di bandara Malaysia ini semodel dengan taksi di bandara Surabaya.

Jadi, sistemnya mesti daftar dulu lalu nanti si taksi akan membawa kita ke lokasi.

Nampaknya kami berempat kelewatan ruang pendaftaran. Jalan paling mudah ya bertanya. Sementara ketiga teman berpencar, saya menuju seorang petugas bandara.

"Excuse me. I want to go to my hotel. How do I do to get there?"
"Well, you can use that taxi. But, can you afford to pay?"

"Which one?"
"That."

Kurang ajarnya, sambil ngomong gitu, si petugas ini menunjuk taksi limo dan mercedes benz. Mungkin dia menyangka saya orang Indonesia yg miskin. Huh, kesal sekali saya! Memangnya saya ga mampu bayar taksi itu?! Huh, saya tidak akan kalah gertak!

"How much that taxi?"
"About 300-400 RM"

Ngek, langsung deh saya pengen nampol si petugas ini! Duit segitu mah mendingan buat beli oleh2 lah! Duit sih ada, tapi kalo saya akhirnya mesti nyewa taksi semahal itu, keenakan si petugas bandara donk, yg berhasil membuat saya mesti naik taksi demi gengsi!

"No, I'm looking for the cheap one."
"Well, so you must go to gate 2."

Ngek, lumayan juga ternyata gate 2. Akhirnya kami berempat pergi ke gate 2. Ketemu juga tempat pendaftaran taxi, seperti dugaan saya bahwa taxi di bandara ini mirip di Surabaya.

Akhirnya kami berempat bisa menuju hotel Boulevard.

Training berlangsung selama 4 hari. Sempat jalan2 ke pasar Seni, tempat barang2 murah untuk oleh2. Pergi ke menara kembar Petronas. Ah, biasa saja ternyata. Ga keren2 amat. Heran, kok orang2 penasaran ya pergi ke Twin Tower Petronas ini, padahal yaaa semodel mall2 gitu deh, cuma tingginya memang spektakuler.

Selama 4 hari, 3 orang dari kami menderita sakit. Cuma Andri yg relatif sehat, sehingga cuma dia yg bisa menikmati makanan saat kami wiskul.

Hari Kamis sore kami pulang, kembali ke negeri tercinta.

Moral story:
- sebenarnya Indonesia tidak kalah dengan Malaysia kok. Dengan kekayaan alam berlimpah, mestinya Indonesia bisa lebih canggih dan terawat. Something wrong dg pemimpin2 Indonesia memang.

- mayoritas penduduk Kuala Lumpur menggunakan mobil. Setelah kami tanya2, harga mobil memang murah. Yg mahal itu harga parkir.

- hati2 dg sopir taksi di Kuala Lumpur. Meski mangkal di hotel, bukan jaminan mereka akan jujur. Hanya 1 sopir taksi yg kami nilai cukup baik, taksi yg kami naiki di hari pertama menuju tempat training. Dia mencari jalan terdekat ke tujuan. Sopir2 taksi lainnya malah sengaja membawa kami berputar-putar. Bah, mirip banget kelakuannya dg sopir2 taksi Jakarta! Dasar!

- jalanan di Kuala Lumpur itu padat, tapi masih bisa bergerak di angka sekitar 40 km/jam. Macet (dg asumsi kecepatan < 40 km/jam) hanya kami alami 1 kali.

- jarang kami temui orang Malaysia yg nongkrong di jalanan. Saat kami temukan ada 2 orang laki2 nongkrong di pinggir jalan, sontak kami berseru,"Ah, itu pasti orang Indonesia!!" wakakak..

- sepeda motor boleh masuk jalan tol.

- orang Malaysia cukup tertib dg aturan, sehingga nyaris tidak perlu serobot sana sini.

- gerbong khusus perempuan sudah ada di sini. Jadi, aneh sekali jika di Indonesia masih dipikir2 perlu tidaknya gerbong khusus perempuan.

- harga barang2 dan makanan di Malaysia tidak jauh berbeda dg di Jakarta. Seporsi makanan sekitar 4-5 RM di warung pinggir jalan. Di mall, ya sekitar 10-15 RM, tergantung menunya

- makanan Malaysia monoton! Kari dan kuahnya terlalu berbumbu ala India. Ndak cocok utk lidah saya, apalagi saya sempat sakit tenggorokan dan sariawan. Menyiksa sekali.

- kalo 'mentok' soal makanan, pilihan terakhir jatuh ke Mc Donald dan KFC. Jiaaahhh...jauh2 ke Malaysia, makanannya yg gitu2 lagi, hehehe...

- jangan takut utk berbahasa Inggris. orang2 Malaysia ga terlalu jago juga kok bahasa Inggrisnya, hehehe.

- jika kita naik tangga berjalan, sebaiknya merapat ke kiri untuk memberi jalan orang2 yg hendak mendahului kita. Daripada kita di-excuse me terus2an, hehe

Posted on Wednesday, April 06, 2011 by M Fahmi Aulia

1 comment

4/01/2011


Hari ini tepat 1 April, hari di mana banyak orang (terutama di Barat sono) 'membolehkan' orang utk berbohong ataupun berbuat iseng (dengan menyebarkan kabar burung). Dengan demikian, karena diperbolehkan, maka orang tidak boleh marah!

Well, saya pernah menulis di sini tentang April Mop, terutama jika dikaitkan/dihubungkan dengan Islam. Di blog ini, saya tidak akan membahas (serius) mengenai hal tersebut. Melainkan hanya hendak berbagi saja.

Bagi banyak orang Indonesia, terutama yg memang doyan meniru, April Mop ini diadopsi secara mentah2. Saya termasuk yg pernah melakukan hal ini, hehehe. Maklum, namanya juga anak muda! *haiyah, dipenthung deh!*

April Mop yg pernah saya lakukan, waktu jaman kuliah, saya menghembuskan kabar bahwa saya menikah. Kebetulan tgl 1 Aprilnya jatuh di hari Sabtu. Walhasil, memang mendukung sekali utk setting dan skenario April Mop ini.

Terus terang, saya sendiri heran, kok saat itu pengen banget iseng. Tapi, ya namanya juga anak muda *haiyah, dipenthung lagi* yg sedang kurang kerjaan, sayapun melakukan hal itu tanpa banyak pikir lagi.

Seingat saya, saya menelpon beberapa teman (yg memang suka 'ngember', hihihi) dan menulis di sebuah mailing list. Usai menyebarkan berita itu, saya segera menyiapkan setting berikutnya. Telepon rumah di-disable, sehingga tidak ada org yg bisa menelpon. Lalu semua alat komunikasi, termasuk Nokia 3210 saya waktu itu langsung saya matikan. Dan 'herannya', kondisi rumah saat itu memang sedang sepi. Anggota keluarga sedang berada di luar rumah, masing2 sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Usai lempar batu, maka saya segera sembunyi tangan.

Keluyuran lah saya, pergi ke beberapa tempat di Bandung, yg saya rasa cukup aman, sehingga tidak akan bertemu dg orang2 yg telah saya kadalin abis2an. Hingga waktu sholat Ashar usai, barulah saya 'turun gunung', ingin mengetahui hasil dari keisengan saya sejak jam 8 pagi tadi.

Hasilnya? (saat itu) Saya terbahak-bahak saat menerima informasi terkait April Mop ini. Ternyata beberapa teman langsung bergegas ke sebuah gedung resepsi untuk menghadiri 'pernikahan' saya. Begitu mereka mendapati gedungnya kosong, mereka berusaha mencari tahu, dg mengontak rumah dan hp saya. Gagal donk, lha wong memang sudah disetting ga bisa dikontak.

Wah, intinya saya telah 'sukses' menyengsarakan dan mempermainkan teman2 saya. Cukup menyesal juga, jika saya pikir2 dan ingat2 lagi sekarang. Tapi dasar wong jail, yaa begitulah! *dipenthung lagi*

Toh, jika saya merujuk ke beberapa cerita April Mop lain, menurut saya April Mop saya ini masih mendingan.

Salah satu April Mop 'terparah' yg pernah saya ketahui adalah seseorang (cukup beken di kantornya) mengabarkan dirinya meninggal dunia. Tentu saja, seolah-olah pihak keluarganya yg memberitahukan. Tak ayal, sekantor dirundung duka cukup mendalam, terutama karena ybs dikenal cukup dekat dan akrab dengan staf2 kantor. Bahkan, pimpinan kantornya berinisiatif menggelar pengajian.

Eh, tak dinyana, sorenya dia muncul dan cengar cengir di kantor. Walhasil sejak saat itu, konon, dia tidak pernah bisa dimaafkan oleh para staf kantor (barangkali termasuk dg pimpinannya,eheheh).

So, jadi apa kisah April Mop yg pernah kamu lakukan/kamu ketahui?

Gambar dari sini.

Moral story:
- April Mop itu kadang lucu, kadang menjengkelkan
- Suwer lho, saya tidak pernah lagi melakukan April Mop! Bohong itu ndak oke deh, hehehe.
- sebenarnya ada 1 april mop lagi yg lebih dahsyat, tapi tidak perlu saya bagi di sini kan? :p

Posted on Friday, April 01, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments