3/28/2011


Sebagian besar dari kita, saya yakin, pernah merayakan ulang tahunnya. Entah itu saat bayi, TK, atau SD. Atau bahkan hingga sudah menjadi kakek nenek pun masih dirayakan ulang tahunnya.

Ulang tahun.

Momen ini selalu menjadi hal yg istimewa bagian kebanyakan orang. Apalagi bagi anak kecil. Mereka senang sekali jika ulang tahunnya tiba, karena itu berarti pesta dan mereka dapat kado.

Coba saja anda lihat di beberapa pusat perbelanjaan atau tempat makan asing. Biasanya mereka mempunyai paket ulang tahun, terutama bagi ortu yg ingin merayakan ultah anaknya. Dari yg paket 50 orang hingga ratusan orang.

Menginjak SMP atau lebih tinggi, orang yg merayakan ulang tahun mulai 'diwajibkan' menraktir, terutama teman2 akrabnya. Sayangnya, traktiran yg diberikan kadangkala tidak disertai dg pemberian kado kepada yg berulang tahun.

Saya sendiri berpendapat, orang yg berulang tahun mestinya diperlakukan secara istimewa donk! Dikasih kado, diajak makan, pokoknya dia jadi raja/ratu sehari lah! Bukannya malah disuruh nraktir, mana kita ga ngasih kado pula! Kasian amat ybs, heheh!

Secara pribadi, saya tidak keberatan jika saat saya ultah ada yg nagih ditraktir. Boleh saja, tapi setidaknya ya kasih kado dulu donk!

Eiitsss...bukan berarti saya matre! Tapi saya pikir kenapa sih kita maunya (mudah) menerima saja, tapi sulit sekali utk berbagi. Dengan kata lain, kian dewasa, saya melihat mayoritas orang justru 'dididik' menjadi pelit. Ditraktir yes, ngasih kado no!

Untuk kasus2 tertentu, saya malah lebih suka memberi kado kepada teman saya yg berulang tahun, tanpa mesti minta ditraktir. Yuppp...saya ingin mempraktikkan prinsip saya di atas, lebih banyak memberi. Sayangnya, karena kondisi keuangan, saya tidak bisa selalu memberi kado kepada teman2 saya yg berulang tahun.

Nope, tidak mesti karena saya pelit atau tidak ikhlas. Kadangkala saya bingung juga mesti ngasih kado apa ke teman saya itu. Lha wong secara finansial dia lebih beruntung dari saya. Walhasil, saya yakin dia sudah memiliki banyak barang, yg barangkali jika saya beri satu kado ke dia, maka kado saya itu malah jadi mubazir. ;-)

Sayapun bukan orang yg ngotot minta ditraktir oleh yg berulang tahun. Tapi jika ybs berniat menraktir, itu artinya saya mesti siap2 ngasi kado utk ybs. :-)

Anyway, selamat bagi yg berulang tahun di hari ini, semoga ALLOH SWT memudahkan rejeki, membuat hidup anda lebih bermanfaat serta diberi keselamatan dunia dan akhirat, aamiin. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- tidak banyak orang yg merayakan ulang tahun
- kian besar, ternyata kita menjadi orang pelit, hanya mau terima traktir tapi ndak mau kasih kado
- anda mau saya traktir saat saya ulang tahun? siapkan kadonya yak?! hihihi..

Posted on Monday, March 28, 2011 by M Fahmi Aulia

1 comment

3/21/2011


Beberapa hari lalu, saya dikejutkan dengan berita yg saya terima dari sebuah media sosial. Dituliskan di sana, bahwa (pak) Irfan Anshory telah meninggal dunia.

Sejenak saya termenung. Irfan Anshory, sebuah nama yg tidak asing bagi saya. Salah satu guru yg mencerahkan saya, dalam hal ini di bidang Kimia, salah satu momok pelajaran yg (pernah) membuat saya merasa menjadi murid paling bodoh sedunia dalam hal Kimia. Beliau tidak pernah mengajar saya secara langsung, melainkan saya belajar dari buku2 karangan beliau.

Ingatan saya melayang ke beberapa (dipentung pembaca gara2 sok muda) belasan tahun silam, saat saya baru masuk SMA.

Masuk ke SMAN 2 Bandung adalah salah satu dambaan saya. Meski bukan SMAN paling favorit, SMAN 2 Bandung mempunyai daya tarik yg begitu kental. Selain karena keberadaan pohon karet yg begitu buesar (dan menyeramkan), SMAN 2 Bandung adalah SMAN yg kelas 1-3 masuk pagi semua. Berbeda dengan SMAN lain, yg kelas 1 masuk siang dan kelas 2-3 masuk pagi. Atau kadang kelas 1-3 masuk pagi dan kelas 2 masuk siang.

Sebagai anak muda yg masih polos (eh, sekarang juga masih polos kok, hihihi) saya terus terang buta dengan kondisi SMA. Hanya mendengar selentingan sana sini, bahwa mata pelajaran yg akan diujikan di EBTANAS SMA adalah Kimia. Dengan demikian, sejak lulus SD, ada 2 tambahan mata pelajaran yg mesti saya dan teman2 seangkatan pelajari lagi. Jika di SMP mata pelajaran Bahasa Inggris yg menjadi asupan baru, maka di SMA ada Kimia.

Dan mulailah masa2 berat bagi saya dalam belajar dan menggeluti Kimia. Bagaimana tidak? Masa belajar sudah 2 bulan sejak masuk SMA, dan itu berarti sudah ada pertemuan/belajar Kimia sebanyak (sedikitnya 12-16 kali). Dalam rentang tersebut, sudah ada ulangan sebanyak 2 kali. Yg memalukannya, dari 2x ulangan itu, saya berhasil menjadi 'Nobita', dg meraih nilai 0, YAAAAKKKKK...NILAI NOL!

Bu Ida, guru Kimia saya saat itu, bahkan sampai geleng2 kepala melihat nilai saya. Dan geleng2 beliau makin menjadi saat saya berhasil menunjukkan kebodohan saya (dalam Kimia) di hadapan beliau, tepat di meja guru. *rincian kebodohan tidak perlu saya jelaskan, bikin malu saja,hehe*

Saya pun (saat itu) hanya bisa termenung. Antara malu, sedih, marah, kesal karena saya tidak berhasil mengerti Kimia sedikitpun!

Untunglah, saya berhasil (sedikit menguasai) Kimia. Nilai 6 pun terpampang di semester pertama saya di SMA.

Masuk semester dua, saya dikejutkan lagi dg move ibu Ida, yg memasukkan saya ke dalam tim OLIMPIADE KIMIA! Saya sampai terheran-heran, apa ibu Ida hendak mempermalukan saya dengan menyuruh saya bergabung di tim Olimpiade Kimia?

Saya cukup tahu diri utk tidak menerima tantangan itu, agar saya tidak kian malu. Meski saya sempat ingin juga berkiprah di event adu pintar itu.

Semester dua pun ditutup dg angka 6 utk Kimia saya.

Perubahan besar terjadi pada saat saya menginjak kelas 2. Saya ingat, saya menemukan suatu ketertarikan sedemikian besar terhadap Kimia, usai membaca buku Kimia karangan Irfan Anshory ini. Jika saya tidak salah, bukunya bersampul coklat dengan gambar tabung reaksi dan kawan2.

Meski saat kelas 1 saya belajar dari buku Irfan Anshory juga, entah kenapa di buku kelas 2 ini sel2 kelabu di otak saya seperti tersengat dan mendadak semuanya begitu mudah untuk dipahami. Dalam sekejap, saya (dg suka rela) mendamparkan diri tenggelam dan belajar Kimia dari buku Irfan Anshory, terlebih usai membandingkan dg buku2 Kimia lain, penjelasan Irfan Anshory begitu terang benderang bagi saya.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan soal2 Kimia. Di samping guru saya, bu Hasmiati, yg menjelaskan Kimia dg cara yg mudah pula, maka klop sudah pasangan guru ini membius saya dalam pelajaran Kimia.

Dan saya berhasil menutup semester 3 dan 4, dengan nilai 9 utk Kimia! Bahkan saya sempat ditawari PMDK di jurusan Teknik Kimia. Sayangnya saya tolak kesempatan ini.

Melalui artikel blog ini, saya ucapkan terima kasih kepada pak Irfan Anshory utk penjelasan Kimia-nya yg begitu mudah dipahami dan membuat saya begitu tergila-gila dengan Kimia saat itu. Semoga amal ibadah pak Irfan diterima-Nya dan segala ilmunya menjadi amal jariah yg tidak akan habis dan akan bermanfaat di hari Akhirat kelak. Aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- Kimia adalah satu pelajaran yg menakutkan bagi saya saat SMA
- kebegoan saya utk Kimia (saat itu) tidak terkalahkan dengan menyabet nilai 0 beberapa kali!
- tidak hanya kerja keras dan kemauan utk berubah yg membuat saya bisa mengerti Kimia. Bimbingan dan ajaran serta ilmu dari bu Hasmiati dan pak Irfan Anshory memegang peranan yg tidak kalah penting
- di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan (menuju kesuksesan)

Posted on Monday, March 21, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

3/16/2011



Tulisan saya ini bukan berarti saya membabi buta utk kagum dan bangga dengan Jepang dan lantas melupakan Indonesia. Justru melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan saya pribadi serta mengajak para pembaca utk mencontoh hal2 baik dari bangsa tersebut.

Jepang, seperti kita ketahui bersama, belakangan ini dilanda musibah yg beruntun. Dimulai dari gempa, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir (termasuk radiasinya).

Gempa.
Mungkin banyak dari kita berpikir bahwa bangsa Jepang mestinya sudah cukup akrab dg gempa. Sehingga mereka tidak perlu ambil pusing dengan gempa, karena mereka sudah punya SOP utk penyelamatan dan tindakan2 lainnya. Berbeda dengan di Indonesia, seperti yg pernah saya alami (baca di sini pengalaman saya saat terjadi gempa, juga di sini), masyarakat Jepang sudah 'dicekoki' dengan SOP mengenai gempa sejak mereka masih kecil.

Tidak heran, jika kita lihat di televisi, anak2 kecil tetap tertib saat mereka hendak dievakuasi. Bahkan, saya sempat melihat cuplikan kejadian gempa, mereka tidak lantas serta merta panik dan kehilangan akal. Mereka (orang tua dan anak2) tetap berada di posisi mereka, mencari lokasi yg aman utk menyelamatkan diri. Usai mereka menemukan lokasi yg aman, mereka segera menuju ke sana dan berkumpul dg rekan2 lainnya.

Tsunami.
Saya tidak tahu persis seberapa sering tsunami melanda Jepang. Tsunami yg saya maksud adalah tsunami yg muncul usai gempa. Namun, melihat video rekaman tsunami yg terjadi kemarin di Jepang, toh saya tetap terperangah dan bersedih. Terlihat jelas bagaimana ombak setinggi 10 meter menyapu daratan dan membuat semua benda menjadi tidak berarti. ALLOHU AKBAR!

Di saat2 seperti inilah, kita seperti disadarkan lagi dengan kebesaran Sang Pencipta. Jangan pernah merasa diri begitu besar, karena hanya dengan tsunami saja, kita tidak ada apa2nya. Ga perlu sombong lah, ga ada gunanya. Kekayaan tidak perlu membuat kita pongah. Jabatan juga demikian. Keluarga, rekan, dan lain2 juga mestinya tetap membuat kita rendah hati. Semuanya akan dengan mudah hilang saat ALLOH SWT (melalui alam) mencabut itu semua.

Dengan gempa sebesar itu saja, tsunami yg muncul sudah sedemikian dahsyat. Tak bisa dipungkiri lagi, tsunami yg terjadi di Aceh lebih dahsyat. Terlebih dengan kurangnya pengetahuan masyarakat Aceh mengenai SOP penyelamatan dari bencana gempa, serta tidak menyadari bahwa ada tsunami datang, maka korban jiwa Aceh begitu besar, jika kita bandingkan dengan yg terjadi di Jepang.

Reaktor nuklir.
Sebagai sebuah negara yg tidak mempunyai SDA cukup banyak, Jepang berusaha mengoptimalkan nuklir sebagai sumber daya energi mereka. Saya yakin, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin membuat dan membangun reaktor nuklir seaman mungkin. Toh, siapa sih yg bisa melawan 'kemurkaan' alam?

Kebocoran reaktor dan penyebaran radio aktif tetap tidak bisa dihindari. Walau sudah diantisipasi dan ditangani semaksimal mungkin, toh tetap saja hal ini membuat masyarakat Jepang cemas. Hal yg patut diacungi jempol adalah reaksi mereka. Tetap tenang dan menunggu instruksi lebih lanjut dari pemerintah mereka.

Kondisi terakhir, reaktor nuklir Fukushima sempat meledak sebanyak 4 kali. Diperkirakan Tokyo akan terkena sebaran radio aktif ini juga.

Membaca artikel berikut ini membuat saya kian kagum dengan bangsa Jepang. Bagaimana tidak? Di tengah-tengah kekacauan dan musibah serta petaka dan bencana yg terjadi dan menimpa mereka, ternyata mereka masih punya HARGA DIRI.

Apa bentuk harga diri mereka?
1. Tidak membuat kekacauan tambahan (penjarahan).
Biasanya, saat terjadi bencana, dampak berikutnya adalah penjarahan. Semua orang berusaha utk survive dan mereka melihat menjarah (bahan kebutuhan hidup) adalah sebagai hal yg 'wajar' utk dilakukan. Di Jepang, saat ini, hal tersebut TIDAK TERJADI! Sama sekali TIDAK ADA PENJARAHAN! Bisakah anda bayangkan? Tidakkah anda merasa kagum dan angkat topi utk mereka?

Di Indonesia, sekedar menengok ke belakang, saat terjadi kerusuhan Mei 1998, semua orang merasa berhak utk menjarah, walau itu bukan utk bertahan hidup. Berapa banyak orang mengangkut televisi, kulkas, dan barang elektronik lainnya? Belum lagi mengambil baju, bla 3x dan hal lainnya.

Demikian juga dengan tulisan ini. Pemerintah Jepang dengan cepat dan sigap segera memberikan instruksi2 yg jitu utk segera menanggulangi masalah yg muncul. Hal ini jelas akan MENENANGKAN MASYARAKAT YG SEDANG TERKENA BENCANA. Tidak itu yg namanya partai2 saling berebut simpati, apalagi sampai membawa bendera2 partai dan menancapkan di lokasi bencana, walau seraya memberikan bantuan.

Di Indonesia? Ah, sudahlah...saya enggan utk membahasnya. Bukan saya bermaksud utk menutupi aib para pejabat dan partai politik, tapi dengan tidak membahasnya, saya tidak ingin menghapus hal2 yg baik yg pernah mereka lakukan. Lagipula, percuma juga membahas para pejabat dan partai politik, tidak ada perubahan yg bisa mereka lakukan dan mereka sendiri nampaknya enggan utk berubah (ke arah lebih baik).

2. Saling membantu.
Saya baca juga, saat bencana ini terjadi, maka mesin2 penjual makanan akan otomatis berubah fungsi menjadi mesin2 penyedia makanan GRATIS!

Dengan kata lain, mesin pun mereka 'tanam' sifat sosial, yg bekerja utk mencari keuntungan di kondisi normal dan berubah menjadi mesin sosial bila bencana melanda Jepang. Sebuah pemikiran yg mengharukan dan mengagumkan bukan?

Masyarakat yg terkena bencana, mereka pun tidak serta mementingkan diri sendiri (dan keluarganya). Mereka tetap melihat sekeliling mereka dan membantu orang2 yg mereka lihat membutuhkan pertolongan.

Terharu saya melihat perilaku mereka ini. Sesungguhnya perilaku seperti inilah yg diajarkan oleh Rasululloh SAW dan para sahabat. Dalam keadaan sulit sekalipun, jangan pernah berhenti utk membantu dan bermanfaat bagi orang lain.

Di Indonesia? Saya juga enggan membahasnya. ;-)

3. Tenang dan tidak kenal menyerah.
Meski bencana datang beruntun, mereka tidak lantas panik dan sedih berkepanjangan. Mereka tetap tenang dan segera mencari solusi utk mengatasi kondisi buruk yg mereka alami. Dan dalam mencapai usahanya itu, mereka tidak kenal menyerah. Bantuan dan perhatian tidak dilakukan 1-2 hari saja, tapi tetap berkesinambungan.

Jadi, apa hikmah dan nilai2 yg bisa kita petik dari bangsa Jepang? Anda bisa lihat dari poin2 di atas, yg saya tebali kata2nya.

Indonesia, sebagai negara dg sumber daya alam, jumlah penduduk yg banyak, serta tidak bodo2 amat (buktinya Indonesia bisa meraih emas di olimpiade2 sains) mestinya bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Hanya saja, sayangnya, masyarakat kita masih gampang dibodohi oleh orang2 yg (kebetulan) memegang tampuk kekuasaan.

Belum lagi masyarakat kita kejangkitan penyakit lebay. Hal2 kecil dibesar2kan, seolah-olah sedemikian penting. Akibatnya, masyarakat Indonesia tidak pernah bisa beranjak dari hidupnya yg nelongso seperti sekarang. :-(

Oya, satu hal yg menyedihkan dari pemerintah Indonesia. Di saat tsunami melanda Aceh, pemerintah Jepang dengan sigap memberikan bantuan (sebisa yg mereka mampu). Namun, di saat Jepang terkena musibah, reaksi pemerintah kita begitu lambat.

Saya tidak tahu pasti alasan lambatnya respon pemerintah ini, karena PEMERINTAH KITA MEMANG BIASANYA LAMBAT MERESPON. ;-) Tapi jangan sampai ada pikiran bahwa Jepang tidak perlu dibantu karena mereka lebih baik kondisinya, lebih maju peradabannya dari Indonesia, atau bahkan karena bukan Islam, sehingga Indonesia tidak perlu mengirim bantuan. HINA dan KURANG AJAR sekali jika utk urusan sosial (dan kemanusaan) terlintas hal2 tersebut di pikiran pejabat Indonesia, sehingga terlambat memberikan bantuan.

Sudah ah, cape dan bosan saya mengeluh ttg pemerintah Indonesia. :-) Mari kita berupaya utk menjadikan diri kita dan lingkungan kita lebih baik. Tidak perlu menunggu2 pemerintah bertindak. Hanya cape dan percuma saja menunggu mereka bersikap dan mengambil tindakan.

AYO BANGSA JEPANG, GANBATTE! KALIAN BISA!
*maaf, saya hanya baru bisa memberikan bantuan berupa doa dan secarik tulisan ini*

Ada 'kicauan' yg menarik, anda bisa baca di bawah ini :-D

Gambar dari sini.

Moral story:
- berempatilah kepada orang2 yg mengalami bencana, niscaya kita akan ditolong orang2 pada saat kita butuh bantuan
- tidak perlu pongah dan sombong dg apa yg kita miliki. semuanya itu fana, kecuali yg sudah kita amalkan utk ibadah
- prinsip kesempatan dalam kesempitan tidak ada dalam kamus bangsa Jepang. itu sebabnya, mereka tetap survive dan bisa menjadi bangsa yg besar
- semangat bushido dan harga diri tetap mereka junjung tinggi
- jangan terlalu berharap dg bantuan orang. justru kita berusaha utk bisa membantu orang lain, seremeh atau sekecil apapun bantuan yg bisa kita berikan
- diperkirakan, bencana alam kali ini akan mengubah (lagi) budaya bangsa Jepang, seperti yg pernah mereka alami usai Perang Dunia II dulu. perubahan seperti apa, saya juga belum tahu. mari kita nantikan (insya ALLOH akan lebih baik)
- informasi (tanya jawab) terkait dg gempa bisa dibaca di sini

Posted on Wednesday, March 16, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

3/08/2011

Saya membaca dari twitter, sebuah berita yg menurut saya cukup lucu bahkan cenderung konyol. Isi twitternya sebagai berikut:
"Me-review nasi goreng kok digugat. Lha mbok undang blogger lain utk cicipi. Bila hasilnya tetep ndak enak, ganti koki. http://ow.ly/47ES1"
Lalu saya mencoba membaca artikel yg tertera pada tautan/link pada kicauan tersebut. Dari sekian panjang tulisan, saya simpulkan bahwa ada seorang blogger bernama Didiet yg menulis review tentang nasi goreng di sebuah tempat makan di kawasan Kemang. Di sana Didiet menulis pengalamannya saat menikmati nasi goreng tersebut. Intinya: dia merasa kecewa.

Lucunya, pihak penjual nasi goreng tersebut merasa tersinggung dg review Didiet. Dan melalui seseorang yg diberi kepercayaan (katakanlah seorang pengacara), pihak NGK berencana MENUNTUT Didiet atas reviewnya tersebut.

Saya jadi teringat pengalaman saya sendiri yg sempat mengomeli Edward Forrer
karena kualitas sepatunya (yg saat itu) kurang ok. Berbeda dengan kasus yg menimpa Prita dan Didiet, pihak Edward Forrer justru datang ke saya dengan simpatik. Memberikan tawaran utk mencoba sepatu2 produk mereka dan menuliskan hasilnya (review) tentu saja sesuai dengan pengalaman saya. Dan hasilnya, produk EF kian baik dari yg semula sepatunya terasa keras dan terakhir saya pakai sudah cukup empuk, bisa bersaing dengan sepatu2 kulit lain, terutama produk luar negeri.

Pengalaman Prita dan Didiet membuat saya sadar mengenai beberapa hal:
1. Posisi konsumen yg (masih) lemah.
2. Produsen (sebagian besar masyarakat) merasa dirinya sebagai raja atau pihak yg tidak boleh diganggu gugat.
3. Jalur hukum (baca: mengancam dan mengintimidasi) dirasa sebagai jalan paling mudah, baik utk menekan si 'korban' ataupun utk mendapatkan keuntungan (materi)

Padahal menurut saya, review itu MESTI JUJUR. Tentu saja agak sulit membedakan jujur dan mengada-ada, karena toh tiap orang punya pemikiran dan versi masing2 terhadap suatu object. "Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala pasti berbeda" adalah sebuah ungkapan yg cocok.

Bagaimana menurut anda?

Moral story:
- review itu mesti jujur
- produsen mesti mau dikritik, terutama jika kritiknya memang bersifat membangun
- UU ITE nampaknya masih belum berpihak ke blogger

Posted on Tuesday, March 08, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

3/05/2011



Perkembangan teknologi merupakan hal yg tidak bisa dihindari. Bagi orang2 yg berpikiran kolot (entah muda atau tua) mereka akan tergilas dengan cepat jika mereka tidak mau beradaptasi, setidaknya mengenal, teknologi baru itu.

Tentunya, perkembangan teknologi juga akan mempengaruhi pola hidup generasi yg saat itu menikmati perubahan/perkembangan teknologi itu.

Salah satunya adalah bayi. Jika bayi dahulu sudah cukup senang diberi mainan boneka, kotak atau bola, maka hal tersebut belum tentu bisa diterapkan untuk bayi sekarang.

Contoh paling mudah adalah Mika.

Di usianya yg sudah 8 bulan lebih 3 minggu ini, Mika kian aktif saja gerakannya. Jika di usia 3-4 bulan, Mika sudah cukup senang bermain dengan boneka atau krecek-krecek, maka sejak usia 5 bulan kemarin Mika sudah mulai menoleh ke laptop dan gadget yg dimiliki saya dan Wify.

Jika kami berdua sedang bekerja, kadang Mika suka teriak2 "woh...woh..." Semula kami bingung maksudnya Mika itu apa. Akhirnya kami coba gendong Mika dan dudukkan di depan laptop. Eh, tak dinyana Mika langsung antusias dan menyentuh laptop. Karena masih kecil, tentu saja dia tidak bisa menggunakan laptop dg baikk dan benar. Dia malah asyik memukul2 keyboardnya! Hwadooohhh!!

Akhirnya, demi kebaikan bersama, laptop tidak rusak dan sifat perusak Mika tidak bertambah besar, kami segera singkirkan Mika jika dia sudah mulai nggetoki keyboard laptop. Lambat laun Mika sudah tidak lagi nggetoki keyboard dan lebih 'beradab' lagi menggunakan laptop.

Usai laptop, gadget yg sering diincar adalah hp Wify dan BB saya.

Biasanya kami sodorkan hp Wify jika Mika sedang rewel. Di dalam hp Wify ada rekaman ketika Mika sedang ngambek dan jengkel terhadap saudara2 sepupunya serta rekaman dia ketika saya tinggal keluar kota. Biasanya jika rekaman ini diputar, Mika langsung jadi kalem.

Toh, ini tidak berlangsung lama. Usai memegang BB, Mika nampaknya lebih tertarik memainkan BB. Mungkin faktor keyboard QWERTY yg membuat dia senang bermain-main dg tombol, dengan menekan tutsnya sembarangan. Saya tidak "lock" si BB. Biarkan saja Mika bermain-main dg keyboard2nya. Toh, hingga saat ini belum pernah ada kejadian dia bisa menelpon dari tombol2 yg dia tekan itu.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mencoba mengganti ketertarikan Mika terhadap BB. Saya sodorkan N70ME saya, lalu saya katakan ke Mika bahwa di N70ME ini ada fitur "videocall" sehingga bs ngobrol dg lawan bicara.

Entah dia benar2 mengerti atau memang rasa ingin tahu 'standar' dari seorang bayi, Mika segera mengambil N70ME saya dan sayapun bisa menggunakan lagi BB saya. Tapi, nampaknya Mika merasa dikibuli atau kesal karena tidak bisa menekan-nekan tombol seperti di BB. Langsung saja dia merengek-rengek dan akhirnya saya mesti menyerahkan lagi BB saya ke Mika.

Ampuunnnn....Mika sudah mulai gila gadget juga seperti saya!

Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk membelikan iPad utk Mika. Tapi karena Mika masih belum cukup mengerti cara main gadget, selain memukul-mukul dan menekan-nekan sembarang tombol, saya akan tunda dulu hingga dia berumur 1.5 - 2 tahun.

Moral story:
- teknologi selalu berkembang
- bayi2 sekarang sudah mengerti gadget
- hati2 menyerahkan gadget ke bayi. bisa2 rusak gara2 cara pakai yg masih 'barbar', xixixi..

Posted on Saturday, March 05, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

3/03/2011


Bagi anda yg sudah punya pasangan, entah itu sebagai pacar atau suami/istri, saya ada pertanyaan utk anda. Seberapa kenal anda dengan teman2 pasangan anda?

Saya tidak menyalahkan anda jika anda tidak akrab dg teman dari pasangan anda. Bahkan pada level sekedar tahu, menurut saya sudah cukup lumayan.

Banyak penyebab mengapa seseorang tidak akrab/kenal dg teman pasangannya.

1. Beda komunitas/latar belakang.
Katakanlah si A (laki2) bekerja sebagai programmer. Dia menikah dg si B (perempuan) yg bekerja sbg seorang marketing. Latar belakang mereka berdua yg cukup signifikan (menurut saya) berbeda sedikit banyak akan mempengaruhi komunitas tempat mereka berkecimpung.

Si B bisa merasa teman2 suaminya adalah orang2 aneh, yg berbicara dg bahasa serta topik yg tidak dimengerti. Walhasil si B merasa tidak perlu kenal dg teman2 si A. Kebalikannya, si A merasa teman2 si B terlalu cerewet, sementara dia butuh ketenangan utk memikirkan solusi dari permasalahan coding yg dia hadapi.

Saya yakin, jika si A menemani si B ke komunitas (atau sebaliknya) keduanya tidak akan merasa nyaman.

2. Tidak perlu tahu.
Kasus ini lebih parah dari poin 1. Karena meski (mungkin) berasal dari komunitas yg sama, pasangan ini sama sekali merasa tidak perlu tahu teman dari pasangannya. Walhasil pada saat satu acara tertentu, misalnya menghadiri pernikahan atau family gathering, sang pasangan akan merasa terabaikan dan memilih menyendiri.

3. Merahasiakan.
Percaya atau tidak, ada juga pasangan yg merahasiakan teman2nya dari pasangannya. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena dirasa pasangannya tidak perlu tahu, atau bisa ada indikasi perselingkuhan di sana.

Saya dan Wify sendiri selama ini berusaha utk memperkenalkan teman kami masing2. Selanjutnya ya terserah, apakah saya mau kenal dg teman Wify atau sebaliknya. Tidak perlu memaksa pasangan utk mesti akrab dg teman kita, terutama jika pasangan kita malah jadi merasa tidak nyaman. Justru kitalah yg mesti bisa jadi penengah antara teman kita dengan pasangan kita.

Salah satu artikel yg layak baca terkait topik saya ini.

Gambar dari sini.

Moral story:
- punya banyak teman (yg bermanfaat dan membawa ke arah kebaikan) itu mengasyikkan
- jadilah orang supel, tapi jangan jadi orang yg bikin malu demi dianggap supel

Posted on Thursday, March 03, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments