2/25/2011


Saya sudah sempat menulis beberapa artikel mengenai gigi (saya) di blog ini.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas karang gigi. Setiap orang akan mempunyai karang gigi, sesedikit ataupun sekecil apapun karang gigi itu. Sekalipun ybs rajin bersih-bersih gigi, entah itu sikat gigi, atau dg benang (dental floss) ataupun dg obat kumur.

Hal ini wajar, karena banyaknya kuman yg hidup dan berkembang biak di mulut. Terlebih seringkali kita lalai utk gosok gigi, entah karena malas ataupun karena faktor2 lainnya.

Saya sudah beberapa kali dibersihkan karang giginya. Terakhir, seingat saya, di tahun 2008, bersamaan dg hendak dipasangnya jaket gigi. Saya masih ingat, saat itu karang2 gigi dg ukuran cukup besar (utk karang gigi) diambil dan dibersihkan dari mulut saya. Cukup horor buat saya, melihat kerak-kerak berwarna kehitaman itu disimpan di atas (jika tidak salah) cawan.

Nah, beberapa waktu lalu, teman saya, drg Rara menawarkan bersih2 karang gigi GRATIS di klinik tempat dia bekerja. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung tertarik dan berencana bikin janji.

Well, faktor gratis mungkin jadi daya tarik, tapi sebenarnya saya sudah berencana ke dokter/klinik gigi sejak Desember 2010 lalu. Penyebabnya, gusi saya beberapa kali berdarah saat gosok gigi. Selain itu, saat gosok gigi, saya sempat lihat beberapa gigi saya sudah mulai kehitaman, pertanda plak/karang gigi sudah mulai menempel. Saya ingat, salah satu penyebab gusi berdarah antara lain karena karang gigi.

Sayangnya, saya tidak pernah sempat perika ke dokter gigi, hingga akhirnya hari Kamis lalu, saya minta ijin ke kantor utk ngantor lebih siang karena hendak bersih2 karang gigi. Usai disetujui, saya segera kontak Rara, diapun menyanggupi utk set jadwal jam 11 siang.

Jam 11 kurang sedikit, saya tiba di kliniknya. Ukurannya kecil, tapi peralatannya cukup canggih! Selain ada monitor utk melihat kondisi gigi kita, peralatan lainnya (menurut saya) lebih baik daripada peralatan di FKG UI yg saya kunjungi hampir 3 tahun lalu, eheh.

Ngobrol ngalor ngidul sebentar, akhirnya saya mulai duduk pasrah di kursi pasien. Sebelum memulai mengorek2 gigi, Rara mencek kondisi gigi saya. Menurutnya, kondisi gigi saya cukup bagus. Memang ada karang gigi, tapi tidak banyak. Lalu ada beberapa lubang gigi, yg dia rekomendasikan utk segera ditambal. Sempat dia tunjukkan kondisi gigi saya melalui layar di depan kursi pasien. Sebuah alat yg dilengkapi kamera masuk ke mulut saya, dan Rara mulai menjadi Rara the Explorer, menjelajahi dan menjelaskan kondisi gigi2 saya.

Usai memperlihatkan kondisi gigi, Rara mulai memainkan alat2nya, silih berganti mengorek, menusuk, mencabik, ah, maaf, lebaynya kumat,hehe. Yg jelas, desing bunyi bor kembali akrab dg telinga saya dan saya hanya bisa pasrah.

Beberapa kali saya merasa ngilu saat upaya pembersihan ini dilakukan. Tapi toh saya gentleman sejati, tidak perlu teriak2. Cukup mengernyitkan alis dan dahi. Kumur beberapa kali, saya dapati ludah dan darah bercampur. Yg mengherankan, saya tidak temui bongkahan2 (kecil) karang gigi. Ternyata menurut Rara, selain alatnya memang sekaligus menghancurkan karang gigi, ukuran karang gigi saya tidak terlalu besar jadi tidak sampai bergumpal-gumpal bentuknya.

Sekitar 45 menit mulut saya menjadi 'bahan mainan' Rara. Ditutup dg pengolesan semacam zat pelindung email gigi (eh, bener ga sich? entahlah) dg rasa stroberi, maka berakhir juga acara bersih2 karang gigi saya.

Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Rara atas tawarannya utk bersih2 karang gigi gratisnya. Gigi dan mulut saya sekarang terasa lebih bersih dan nyaman.

Idealnya, periksa gigi memang dilakukan tiap 6 bulan. Selain utk membersihkan karang gigi, juga utk mencek kondisi gigi kita, sehingga jika ada yg berlubang bisa segera ditambal untuk mencegah kerusakan yg lebih luas.

Anda mau dibersihkan karang giginya secara gratis? Mumpung promo lho dan waktunya terbatas! Jika berminat, silakan hubungi Rara di twitternya, @rara79. Mudah2an anda masih dapat sesi gratisan, hehe.

Gambar dari sini.

Moral story:
- kita seringkali abai dg kesehatan gigi, padahal cukup penting
- gosok gigi teratur, min 2 kali sehari, adalah cara paling mudah utk mengurangi kemungkinan sakit gigi
- bagi kaum muslim, sebaiknya mengikuti sunnah Rasul, yakni bersiwak tiap hendak wudhu
- cara menyikat gigi juga mesti diperhatikan

Posted on Friday, February 25, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

2/23/2011


Malam ini saya membantu Wify, istri saya, menerjemahkan laporan untuk kantornya. Laporan ini didapat dari para staf kantornya yg pergi ke beberapa kota untuk memberikan pelatihan terkait project yg didapat kantor. Usai memberikan pelatihan, para staf ini mesti menuliskan laporan dan resume atas kegiatan yg mereka lakukan, termasuk respon/tanggapan dari para user/pengguna.

Melihat banyaknya halaman laporan yg mesti diterjemahkan, saya keder juga. Alamak, bisa2 saya mesti begadang 2 hari 2 malam nich. Belum lagi melihat gaya bahasa laporan dan resume yg diterima Wify, membuat saya bertanya-tanya apakah Wify bekerja di perusahaan IT atau di perusahaan pembuat sinetron, terkait gaya bahasa yg begitu panjang lebar dan dramatis.

Pikir punya pikir, saya berasumsi, dari "laporan" ini saya yakin bisa dikembangkan menjadi sebuah judul sinetron dengan ratusan episode dan sekian puluh session. Saya hanya bisa terkekeh-kekeh saat pikiran nakal saya ini mencetuskan hal ini.

Baiklah, akhirnya saya coba menerjemahkan dengan segenap kemampuan saya.

Satu halaman, dua, tiga, saya masih bisa bertahan. Namun akhirnya saya meradang juga, terlebih usai membaca "naskah sinetron" dan berupaya menerjemahkannya malah membuat otak saya menjadi kejang2, kesulitan mengubah "skenario sinetron" menjadi "paper ilmiah".

Langsung saya melirik Google Translate.

Lirikan saya ini ternyata salah besar, karena semula saya berharap GT bisa membuat saya lebih tenang mengerjakan terjemahan ini, namun hasil terjemahan GT malah membuat mulut saya (nyaris) kram gara2 kebanyakan ketawa. Penyebabnya, si GT nampaknya kram juga servernya saat menerjemahkan "naskah sinetron" ini.

Dari sekian banyak hasil terjemahan, saya ambil contoh yg membuat saya paling tergelak-gelak. Kata-kata "Dewi dan Dicky Syarifudin" diterjemahkan Google Translate menjadi "Goddess and Dicky Syarifudin". Ditambah lagi "Pengadilan Negeri Palembang" diterjemahkan menjadi "Court Kilkenny".

Dan akhirnya, malam ini akan menjadi malam yg panjang....

Gambar dari sini.

Moral story:
- jangan terlalu mengandalkan teknologi utk semua hal
- Google Translate ternyata belum cukup canggih, meski yaaa lumayan memadai lah

Posted on Wednesday, February 23, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

2/21/2011


Hidup di Indonesia itu menyenangkan sekaligus susah. Menyenangkan (bagi saya) karena jika kita bisa survive hidup di Indonesia, maka insya ALLOH kita bisa juga hidup (dg lebih nyaman) di tempat/negara lain. Pengalaman dan cerita dari beberapa teman membuktikan hal tersebut.

Hanya saja faktor susah akan lebih dominan, terutama jika terkait dengan hal-hal yg terkait dg kebijakan publik. Hal ini dikarenakan seringkali para pengambil kebijakan (baca: pemerintah) seringkali menjungkirbalikkan logika(nya) pada saat membuat keputusan (terutama yg akan berkaitan dg masyarakat). Herannya, jika keputusannya berkaitan dengan (membuat mereka lebih kaya, atau buang2 duit di antara) mereka, logikanya bisa 'bener'.

Belakangan ini masyarakat Indonesia, terutama para pecinta film (termasuk saya), sedang gelisah dg keputusan pemerintah utk menaikkan pajak utk film2 asing yg hendak masuk ke Indonesia. Jika saya membaca dari sini, dituliskan bahwa kebijakan ini diambil (pemerintah) SBY usai mendengar keluhan dari Hanung (penggiat/produser film).

Sekilas, jika anda membaca artikel di atas, SEOLAH-OLAH tidak ada yg salah. Namun, jika anda membaca bagian ini:
"Presiden saat itu membaca keluhan Hanung Bramantyo yang mengeluhkan tingginya biaya pembuatan film di Indonesia," jelasnya.
Dan membandingkan dengan kebijakan yg diambil pemerintah, anda akan melihat betapa logika sudah dijungkirbalikkan.

Anda mengerti maksud saya? Eh, belum mengerti?

Ok, begini. Hanung mengeluhkan TINGGINYA BIAYA PEMBUATAN FILM di Indonesia. Menurut logika saya, mestinya pemerintah mengambil tindakan MENURUNKAN FAKTOR2 YG MEMBUAT MAHAL BIAYA PEMBUATAN FILM di Indonesia. Salah satu faktor yg (menurut saya) bisa menurunkan biaya tersebut adalah dengan MENGURANGI PAJAK BAGI PARA PENGGIAT/PEMBUAT FILM. Bagaimana, anda setuju dg logika saya?

Namun, alih2 menurunkan faktor2 yg membuat mahal biaya pembuatan film, pemerintah malah MENAIKKAN PAJAK FILM ASING.


Konsekuensinya:
1. Film Indonesia masih akan mahal, sehingga para penggiat film tetap akan sulit bisa memproduksi film dg jumlah yg cukup memadai utk diputar di bioskop.
2. Jikapun bisa memproduksi film dg budget rendah, maka film2 yg akan tampil adalah film2 kacanga. Tema sex, hantu, dan hal2 yg membuat bangsa Indonesia kian bodoh.
3. Tayangan bermutu malah kian sulit didapat.
4. Pembajakan DVD akan semakin menggila, diikuti dg naiknya harga keping bajakan ini.
5. (Kemungkinan) Dugaan adanya permainan karena akan ada pemain (distributor) baru dalam ranah import film.
6. Harga langganan TV Kabel juga akan naik.
7. Film2 Indonesia kian bermutu? (bagi saya) Merupakan mimpi yg masih kejauhan. Film Laskar Pelangi, Nagabonar 2, dan beberapa film sukses lainnya BELUM bisa dijadikan tolok ukur film2 Indonesia bermutu.

Jadi, demikian kesimpulan saya. Bagaimana menurut anda?

Gambar dari sini, meski ga ada hubungan dg perang kemerdekaan.

Moral of story:
- kenaikan pajak film asing akan bikin bangsa Indonesia kian bodoh
- pemerintah ga mau rugi. pajak membuat film tetap tinggi, plus dapat pajak (tambahan) dari film2 asing!

Posted on Monday, February 21, 2011 by M Fahmi Aulia

2 comments

2/12/2011


Melongok perkembangan media sosial yg satu ini memang cukup menakjubkan, meski tidak sefenomenal Facebook, tapi toh Twitter tetap menjadi salah satu favorit media sosial, termasuk saya.

Percaya atau tidak, Twitter sudah menjadi sebuah kekuatan yg tidak bisa diremehkan. Mengapa dia tidak bisa diremehkan?

1. Setiap orang bisa mengeluarkan pendapatnya.
Baik, buruk, bermanfaat, tidak berguna, caci maki, pujian, hinaan, apapun itu pendapat seseorang, dia bisa melampiaskannya di Twitter. Pelampiasannya ini akan bisa dibaca baik oleh para pengikut (follower) ataupun orang lain yg kebetulan 'nyasar' ke akun twitter tersebut (kecuali accountnya dibuat private). Para pekicau ini bisa 'orang beneran' atau sekedar anonymous.

2. Penyebaran yg sangat cepat.
Seseorang dg jumlah follower yg cukup signifikan, katakanlah > 500 follower, opininya akan bisa diteruskan (RT) oleh para followernya tersebut. Semakin banyak maka akan semakin cepat proses RT tersebut.

3. Tercatatnya tiap 'kicauan'.
Setiap kicauan akan mudah direkam dan diingat, apalagi cukup banyak tools yg bisa dimanfaatkan utk mencatat tweet seseorang. Dengan demikian, seseorang tidak bisa berbohong atau mungkir.

4. Tidak dibatasi ruang, waktu, dan SARA.
Seperti halnya 'sifat dasar' informasi di internet, dia tidak akan bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Saya masukkan faktor SARA karena di twitter kita bebas dan punya hak utk follow/mendapatkan kabar dari siapapun yg kita mau.

Berhubung saya mengetik artikel ini di akhir pekan, dan saya sedang malas mikir lagi, jadi setidaknya 4 poin di atas sudah cukup menjelaskan mengenai twitter. Empat poin yg saya sebut di atas ternyata menjadi 'dasar' dari berdirinya 'Negara' Twitter.

Saya sebut negara, karena percaya atau tidak, Twitter sudah menjadi sebuah kekuatan yg bisa menggerakkan banyak orang, meski tidak dibutuhkan seorang 'kepala negara resmi' sebagai pemimpinnya. Setiap orang bisa menjadi kepala negara, sepanjang dia bisa menggerakkan/membuat dia 'dipatuhi' oleh para followernya.

Beberapa kasus membuktikan bahwa Twitter tidak bisa diremehkan. Anda mungkin masih ingat dg Mario Teguh yg 'kepleset jari'. Dalam waktu singkat, kicauan Mario Teguh ini langsung tersebar dan menuai protes dari banyak kalangan, tidak hanya perempuan tapi juga pria. Akhirnya, account twitter MT berhenti beraktivitas(meski kemudian muncul lagi).

Kasus lain adalah gerakan menurunkan rezim pemerintah (diktator) di Mesir. Twitter memegang peranan (ter)penting dengan menjadi media komunikasi bagi para pendemo yg ingin segera menurunkan Husni Mobarak dari kursi kepresidenan yg telah didudukinya selama 30 tahun. Bahkan, pada saat internet diputus oleh pemerintah, upaya utk berkicau pun tetap diupayakan melalui telpon dg menggunakan fasilitas 'speach to text'.

Anda tentu juga masih ingat dengan kasus Prita bukan? Gerakan 'Koin untuk Prita' juga bisa terlaksana dan bisa dibilang sukses dengan adanya Twitter sebagai alat komunikasi dan penggeraknya.

Dan kini Negara Twitter sedang menggerakkan para rakyatnya dengan berita dan cerita dari Alanda Kariza, melalui blognya. Terlepas apakah ibunya memang bersalah atau tidak, sekali lagi Twitter telah membuktikan bahwa dia tidak bisa dianggap enteng. Terlebih dengan diblow upnya cerita Alanda ini ke berbagai media plus diiringi tutur bahasa dan gaya cerita yg menarik dari Alanda, yg notabene memang penulis cerita yg bisa dikatakan cukup baik, maka Negara Twitter bisa kembali menunjukkan kedigjayaannya jika para hakim terpengaruh cerita ini.

Bagaimana menurut anda?

Gambar dari sini.

Moral story:
- twitter merupakan media sosial yg cukup punya pengaruh
- semakin banyak follower, maka itu berarti anda harus semakin hati-hati menyebarkan sebuah berita/informasi

Posted on Saturday, February 12, 2011 by M Fahmi Aulia

5 comments

2/04/2011


Wealaaahh...ini pemilik blog sudah mulai ngaco pikirannya. Lha kok bikin judul kaya gini toh?! Memangnya manusia itu mesin apa?

Hahahh...nope. Saya, alhamdulillah, masih punya akal sehat. Adapun jika saya membuat artikel dengan judul yg 'semena-mena' seperti di atas tidak lain dan tidak bukan gara2 saya sedang menggunakan waktu luang saya utk berpikir yg 'jauh' dari pekerjaan.

Judul artikel ini sebenarnya bisa disederhanakan kok. Manusia itu sesabar apa? Gampang tho? Enak tho?

Manusia itu memang unik, berbeda dengan makhluk2-Nya yg lain. Coba dibandingkan dengan air saja dulu. Air, entah itu air gunung, air hujan, air pam, ataupun air sumur, selama sifat kimiawinya H20, dia akan mendidih di suhu sekitar 100 derajat Celcius, alias 212 derajat Fahrenheit. Sementara, manusia, mempunyai titik didih (kesabaran) yg berbeda-beda.

Ada yg digoda senyum, sementara orang lain digoda dg kadar yg sama sudah manyun. Ada juga yg digoda dg kadar X masih senyum, begitu sudah 3X, senyumnya menghilang. Dan saat digoda dg 10X, marahlah dia. Dari sekian banyak tingkat kesabaran, beberapa orang bahkan mempunyai tingkat kesabaran yg mengagumkan (buat saya). Separah apapun kondisi yg mereka alami, mereka tetap tersenyum. Saya sampai berpikir, jangan2 mereka salah dalam menyikapi sabar. Atau urat saraf (jika ada) sabar mereka begitu tebalnya? Entahlah.

Rata-rata orang masih bersabar jika digoda 1-2kali. Namun jika terus menerus digoda dg hal yg sama, terlebih cenderung ke arah bullying, apalagi dg hal yg tidak disukai, maka ybs bisa ngamuk berat!

Di sisi saya, jika menemui orang2 yg sering menggoda (dan akhirnya cenderung mengejek) maka saya tidak akan merespond aksi mereka. Pada akhirnya, mereka sendiri yg akan merasa jengkel dan kesal karena aksi mereka tidak direspon seperti yg mereka harapkan (kita menjadi marah/kesal/hal negatif lainnya).

Paling parah jelas orang2 yg hidupnya menganut prinsip SENGGOL BACOK! Bisa dibayangkan berapa liter darah yg tumpah jika ybs lewat ke pasar senggol atau ke gang senggol? Dijamin setiap orang yg menyenggolnya akan terkena luka bacokan.

Saya? Oh, saya sendiri cenderung sabar orangnya. Sayangnya, masih ada orang yg salah tafsir dengan sabar (dan diam) yg saya lakukan. Mereka (akhirnya) cenderung mengeksploitasi dan meng-underestimate saya. Dan jika hal ini sudah terjadi, maka saya akan susun dan siapkan serangan balik yg barangkali akan berguna. Dan maaf saja jika apa yg mereka terima dari saya sangat menyakitkan, jauh lebih menyakitkan dari yg mereka lakukan ke saya. Toh, pembalasan itu terasa lebih manis kan? Hahaha.

Bagi sebagian orang 'iseng', mereka mengukur titik didih manusia dalam bentuk acara televisi. Contoh paling mudah adalah 'Boiling Points' dari MTV Amerika Serikat. Sementara di MTV Indonesia juga pernah ada yg serupa, sayangnya saya lupa judulnya. Beberapa acara lain sebenarnya punya maksud dan tujuan yg mirip2 juga, mengukur kesabaran (dan belas kasih) manusia. Sebut saja "Tolong", salah satu acara televisi yg sempat saya sukai (namun akhirnya saya tinggalkan karena saya cenderung melihat acara ini mengeksploitasi dan mempermainkan perasaan belas kasihan).

Jadi, berapa titik didih anda?

Gambar dari sini.

Moral story:
- manusia diberi kesabaran, sifat yg (setahu saya) tidak dimiliki makhluk lain (terutama hewan)
- sabar bukan berarti rela diinjak2. lawan jika memang diperlakukan semena-mena!

Posted on Friday, February 04, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments

2/01/2011


Saya bisa dibilang bukan penggila sepak bola seperti 2 adik saya. Tapi sejak saya kecil, saya cukup menyukai permainan sepak bola, terutama saat belum berkacamata, saya merupakan salah 1 striker kelas yg cukup handal. *haiyah*

Sayangnya, sejak saya berkacamata, saya mengalami kesulitan utk bisa bermain bola dg bebas dan menyenangkan. Penyebabnya, apalagi kalo bukan kacamata yg dirasa cukup mengganggu, terutama saat duel satu lawan satu ataupun saat melakukan duel udara (alias hendak menyundul bola).

Walau sudah jarang bermain sepakbola lagi, bukan berarti lantas saya tidak suka sepak bola. Berita2 ataupun pertandingan sepakbola masih cukup saya ikuti. Termasuk timnas, saya ikuti juga perkembangannya, meski terkadang diiringi rasa mual jika sudah membahas organisasi PSSI.

Klub sepakbola favorit jelas saya punya. Dari sekian banyak nama klub yg tersebar di dunia, saya menyukai Liverpool, Real Madrid, AC Milan, Bayern Muenchen. Menyukai di sini bukan berarti saya fans berat, hanya saya lebih intensif membaca, mengamati, dan mengikuti berita dari klub2 tersebut.

Di sini, saya akan fokus pada Liverpool, sebuah klub sepakbola yg berasal dari kota Liverpool, kota kelahiran grup band kesukaan saya, The Beatles.

Entah sejak kapan pastinya saya suka, tapi yg jelas saya sempat menyablon kaos dengan nomor punggung 7, entah siapa pemain Liverpool yg mengenakan. Pokoknya no 7 (saat itu) terlihat keren buat saya.

Dari sekian banyak pemain (legenda) Liverpool, Ian Rush yg paling membekas dalam ingatan saya. Selain karena hidung betetnya yg unik sehingga mudah dikenali, tapi juga karena gocekan dan totalitasnya ke Liverpool yg membuat saya suka. Sayangnya, saat ybs datang ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya tidak sempat hadir di event tsb. Selain karena sibuk, saya pikir saya bukan fans2 banget terhadap klub sepak bola (seperti saya tulis di atas).

Mengikuti sepak terjang Liverpool, saya masih terkesan dg final Piala Champions 2005, saat Liverpool berhadapan dg AC Milan (klub sepakbola lain yg saya juga sukai). Saya ingat, saat itu adalah dilema bagi saya utk memilih salah satu klub, karena keduanya saya sukai. Toh melihat Liverpool 'dihancurkan' 3-0 di babak pertama, hati saya agak teriris juga, sedih bukan kepalang.

Hingga akhirnya Liverpool bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 dan akhirnya menjadi juara, saya merasakan semangat pemain Liverpool (saat itu) merupakan sebuah semangat yg HARUS SAYA MILIKI. Semangat pantang menyerah dan terus berusaha hingga peluit terakhir berbunyi.

Kehadiran Fernando Torres ke Liverpool membuat saya kembali memperhatikan perkembangan klub ini. Sempat deg2an dan senang ketika Liverpool sempat berada di puncak klasemen, hingga akhirnya mesti puas menempati posisi 5 di Liga Premier 2009/2010 (jika tidak salah).

Dan kali ini, kesedihan dan kegusaran yg saya rasakan terhadap Liverpool. Kekalahan demi kekalahan serta konflik di dalam klub membuat posisinya terpuruk, posisi terburuk yg pernah saya ketahui. Kepergian Benitez, lalu Hodson yg tetap gagal mengangkat peringkat Liverpool, dan terakhir, kepergian Fernando Torres, membuat saya jadi enggan utk mengikuti berita klub ini karena hanya hal2 sedih (menyedihkan) yg saya alami. Kehadiran Dalglish utk melatih Liverpool pun tidak membuat saya mau mengikuti lagi perkembangan Liverpool, karena ternyata posisi Liverpool pun masih jauh di posisi yg saya bayangkan, setidaknya di posisi 4 seperti yg selama ini ditempati Liverpool.

Beberapa teman saya mengejek Liverpool menjadi Loserpool. Bahkan slogan YNWA, You'll Never Walk Alone, yg selama ini menjadi slogan 'keramat' diplesetkan menjadi You Never Win Again, saking seringnya Liverpool mengalami kekalahan.

Dan kini saya hanya bisa memandang dg prihatin 2 jersey (kaos sepakbola) Liverpool saya, pemberian adik saya. Tidak ada lagi rasa bangga memakai jersey Liverpool, hingga (mungkin nanti) Liverpool bisa beranjak ke posisi yg lebih baik.

Well, seperti saya tulis, saya bukan fans yg baik, yg mau menemani klub favoritnya di saat duka dan suka. Saya hanya ingin menemani Liverpool di saat senang, karena saya bosan dg hal2/berita2 sedih ttg Liverpool. Hehehe.

Foto2 dari sini, sini, sini, dan sini.

Moral story:
- Liverpool pernah menjadi klub yg begitu ditakuti di Eropa, terutama di pertengahan 80an.
- Hidung betet Ian Rush, menurut saya bukanlah ejekan, justru julukan yg unik.
- Kondisi Liverpool sekarang tidaklah menggembirakan
- Saya fans Liverpool saat Liverpool ok. Jika tidak ok, saya bukan fansnya, hahaha.

Posted on Tuesday, February 01, 2011 by M Fahmi Aulia

No comments