Baru teringat, saya punya hutang artikel terkait dengan Ibu/Mama or whatever itu nama panggilan kita kepada sosok perempuan yg telah berjuang demi kita, sejak mulai kita di kandungan hingga lahir, lalu dirawat hingga besar dan sampailah pada sosok kita yg sekarang. :-)

Saya dulu pernah punya pemikiran bahwa seorang Ibu mesti bekerja. Bekerja dalam artian ada aktivitas di luar rumah (kantor/sekolah). Hal ini timbul akibat Mama adalah seorang guru, yg notabene beliau tidak 100% ada di rumah. Sejak jam 6.30 WIB, beliau sudah pergi ke sekolah dan pulang tergantung jadwal mengajarnya. Terkadang pulang jam 12 siang, tapi tidak jarang pulang jam 17.30 WIB.

Bayangan bahwa seorang istri (ibu) mesti bekerja terus melekat hingga saya menikah dengan Wify. Asumsi saya, bahwa seorang istri/ibu mestilah bisa mengatur pekerjaan (karir) dengan rumah tangga.

Sementara, bagi saya sendiri, Wify saya perbolehkan bekerja sebagai aktivitas sehari-hari, tidak di rumah terus menerus. Lagipula, sayang sekali jika sudah kuliah tinggi2 (dan mencapai gelar) tapi tidak diwujudkan dalam bentuk bekerja.

Tapi, seiring berjalannya waktu, plus hasil dialektika yg tidak berkesudahan dengan Wify, saya mulai bisa mengubah pola pikir saya ini.

Ada beberapa penyebab mengapa pola pikir saya mulai bisa berubah.

Pertama, dalam Islam yg WAJIB mencari nafkah (baca: duit) adalah suami. Dengan demikian, maka suamilah yg mesti (lebih) bekerja keras dan banting tulang. Adapun jika istri (ibu) bekerja, maka tetap prioritas adalah keluarga. Saya akan bahas lebih detail di side A.

Kedua, menjadi Ibu Rumah Tangga BUKAN pekerjaan yg hina! Beberapa kali saya dapati ibu2 yg tidak bekerja, terasa enggan (dan malu) untuk mengatakan dirinya tidak bekerja (di kantor) dan 'hanya' berprofesi sebagai IRT. Padahal menjadi IRT itu jauh lebih berat lho! Ok, meski sudah ada asisten rumah tangga, tapi mendidik anak itu jauh lebih sulit daripada mengurus pekerjaan kantor! Tidak percaya? Coba saja sendiri! :-)

Ketiga, meski sudah kuliah tinggi (apalagi mencapai gelar S2 atau S3), tidaklah salah menjadi IRT. Justru dengan demikian, si Ibu sudah punya bekal yg mumpuni untuk mendidik anak2nya menjadi generasi yg lebih baik. Saya yakin anak2 yg dididik ibu2 yg pendidikannya lebih tinggi akan punya potensi yg lebih baik!

Keempat, jika para istri/ibu masih merasa ada waktu luang saat menjadi IRT, mereka bisa mencoba beraktivitas atau mencari pekerjaan paruh waktu (freelance). Selain bisa mengatur waktu, mereka juga tidak perlu meninggalkan keluarga (anak) setiap saat. Plus juga masih bisa 'mengamalkan' ilmu yg mereka miliki.

Kelima, percaya atau tidak, jika si ibu/istri menjadi ibu rumah tangga, maka rejeki sang suami akan mengalir deras. Saya perhatikan banyak teman saya yg mengalami hal itu. Istrinya fokus mengurus anak dan diam di rumah, eh, rejekinya dia banyak sekali yg mampir. Barangkali istrinya berdoa dan dikabulkan ALLOH SWT. :-)

So, syukurlah pola pikir saya sekarang berubah. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:

- tidak ada salahnya menjadi ibu rumah tangga, bukan profesi yg hina kok! :-)

- pola pikir bahwa seorang ibu/istri mesti bekerja utk menghidupi keluarga adalah salah besar! SUAMI yg WAJIB mencari nafkah! Istri hanya membantu

- istri/ibu yg tidak bekerja bukan berarti tidak bisa apa2. banyak potensi yg tampil lho! :-)