Bagi anda yg tinggal di kota-kota terutama kota besar, adalah hal yg lumrah jika anda mempunyai asisten rumah tangga (ART). Bukan lagi sesuatu yg 'sunnah', tapi sudah cenderung ke arah 'wajib', terlebih jika anda dan pasangan anda sama2 bekerja.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin membahas dulu pergeseran pemberian nama ART ini. Dulu di jaman yg super feodal (atau masih berlaku juga di keluarga2 feodal sekarang?), ART sering disebut babu, kacung. Lalu berubah penyebutannya menjadi pembantu, pembantu rumah tangga (PRT).

Saya sendiri lebih suka menyebutnya ART, dengan alasan istilah ini lebih simpatik dan manusiawi. Selain itu agar mengingatkan juga agar kami lebih manusiawi dalam memperlakukan ART.

Well, sebagaimana diketahui, posisi ART seringkali sangat tidak enak. Dipandang sebelah mata, tidak boleh duduk di atas (sejajar dg tuannya), lalu makan juga mesti belakangan, dst dst. Adalah suatu perlakuan yg tidak manusiawi dan juga tidak Islami.

Baik, mari melangkah hke hal berikutnya.

Kami mempunyai, err, maksudnya mempekerjakan 2 ART. Yang pertama, ART khusus mengerjakan hal2 terkait dengan rumah. Misalnya mencuci baju,piring plus menyetrika. Tidak lupa menyapu + mengpel. Sementara yang kedua, ART untuk mengasuh mbak Mika.

Penyebab kami memisahkan ART ini karena Wify ingin ART-nya khusus menangani+mengasuh mbak Mika. Ada beberapa cerita memang yg menyebutkan bahwa ART yg dobel kerjanya antara mengasuh anak dan urusan rumah tangga mempunyai tingkat stres yg lebih tinggi. Dan hal tersebut bisa membahayakan diri si anak, terutama jika si ART tsb sdg bekerja mengurus rumah lalu tiba2 si anak rewel dan si ART sedang kesel. Bisa2 si anak menjadi sasaran pelampiasan kemarahan+kekesalan si ART.

Kedua ART ini kami beri honor yg berbeda. Untuk pengasuh mbak Mika, kami beri lebih besar. Wajar lah menurut saya, karena selain lebih berat mengasuh anak, anak jelas bukan sebuah barang. Selain itu, jam kerjanya juga lebih lama. Jika ART urusan rumah tangga kerjanya sekitar 2 jam (lalu pergi utk mengerjakan pekerjaan di rumah lain), maka ART utk mbak Mika mesti bekerja dari jam 7 pagi - 4.30 sore (terkadang hingga jam 5 sore).

Kedua ART kami berasal dari Jawa. Well, bukan bermaksud diskriminasi atau SARA, namun dari pengalaman kami menggunakan ART, para pekerja dari Jawa ini sudah teruji, baik dalam hal loyalitas maupun dalam hasil kerja.

Kami pernah menggunakan ART yg berasal dari Betawi (penduduk lokal) dan dari Sunda. Namun, hasilnya tidak terlalu menggembirakan.

ART dari Betawi merasa dirinya 'pemilik' Jakarta dan kami adalah pendatang (ya, tentu saja) sehingga seringkali malah dia yg mengatur-atur kami. Belum lagi cara kerjanya yg asal2an dan tidak cukup bersih hasilnya. Lebih parah lagi, baru kerja beberapa waktu sudah minta naik gaji! Hadeuuhhh.... :-(

Sementara ART dari Sunda, diam saja di kamar. Masih muda memang, baru lulus SD. Namun ya bukan berarti lantas diam saja dan menunggu perintah. Cape lah kami menyuruh-nyuruh. Malah jadinya kami bertindak feodal, bukan sebagai rekan.

Yang kami syukuri dari kedua ART kami ini, mereka sangat kompak dan tidak ada perasaan saling iri. Seringkali si ART pengasuh mbak Mika datang terlebih dahulu, dia membereskan pekerjaan2 yg biasa ART regular lakukan. Jika mereka berdua bertemu, ngobrollah mereka dg akrab.

Sejauh ini, kami cukup puas dengan hasil kerja keduanya.

Untuk honor, ART regular sudah 2x mendapatkan kenaikan honor. Sementara untuk ART untuk mbak Mika, mungkin masih tahun depan baru diberi kenaikan.

Anda sendiri bagaimana, berapa ART yg anda miliki?

Foto dari sini.

Moral story:
- ART juga manusia, perlakukan mereka dengan baik

- dari pengalaman, ART dari Jawa lebih tangguh dan handal