Terkait dengan hari guru, 25 Nov, saya hendak bercerita ttg buku Totto Chan.

Buku ini merupakan salah satu buku menarik, yg telat saya baca, bercerita tentang seorang anak kecil bernama Tetsuko Kuroyanagi yg biasa dipanggil Totto. Yak si pengarang buku itu sendiri yg bercerita ttg kehidupan masa kecilnya yg begitu menakjubkan, menurut saya, karena berkesempatan menikmati pendidikan dari guru yg begitu mengerti tentang dirinya.

Totto-chan dikisahkan seorang anak kecil yg begitu lincah, ingin tahunya besar, lugu, namun juga penuh tanggung jawab. Kesukaannya bercerita panjang lebar dan rasa penasaran dengan hal2 yg baru membuat dirinya dikeluarkan dari sekolah 'konvensional' dan masuk ke sekolah yg murid2nya khusus, dalam artian murid2nya belajar sesuai dengan minatnya, tidak perlu belajar dengan hal2 yg tidak relevan.

Di sekolah inilah, Totto mempelajari banyak hal. Mulai dari ilmu pengetahuan layaknya anak2 sekolah lain, hingga ilmu hidup dan persahabatan serta pengalaman yg kelak akan banyak mewarnai kehidupannya.

Banyak kisah lucu dan sedih yg dituangkan di sini. Dan semua peristiwa itu tidak terlepas dari kepala sekolah sekaligus guru yg begitu pengertian dengan murid2nya. Terutama saat pertama kali bertemu, beliau dengan sabar dan tekun mendengarkan cerita dan celoteh Totto-chan selama EMPAT JAM PENUH! :-))

Menilik karakter guru yg diceritakan di buku ini, membuat saya tidak heran mengapa guru mempunyai kedudukan yg istimewa di masyarakat Jepang. Dalam satu kesempatan, saya pernah membaca bahwa usai perang dunia II, kaisar Jepang saat itu, Hirohito menanyakan berapa jumlah guru yg masih hidup/tersisa. Ini menunjukkan betapa guru (dan ilmu pengetahuan) merupakan ujung tombak sebuah negara meraih kesuksesan.

Guru yg sukses bukanlah guru yg ditakuti atau berpenampilan seram. Guru yg sukses, menurut saya, adalah guru yg berhasil membuat sang murid betah berlama-lama belajar dan terus mengeksplor ilmu yg diajarkan padanya serta (jika mungkin) menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak semua guru malaikat, alias baik. Saya pernah menemui beberapa guru yg membuat saya tidak pernah bisa lagi menghormati mereka.

Cerita saya ttg mereka bukan untuk menjatuhkan nama baik mereka, justru saya ingin menjadikan mereka contoh agar guru2 lain tidak mengikuti jejak 'kelam' mereka.

Seorang guru SD yg pernah saya hormati, akhirnya saya merasa kasihan padanya, usai mendapat kabar dirinya menerima uang (suap) terkait dengan perubahan NEM seorang murid. Kabar tak sedap ini diperkuat dg kenyataan seorang murid yg prestasinya bisa dikatakan begitu rata2, bahkan di nyaris di bawah standar, mendadak pada saat NEM diserahkan menjadi ranking kedua (jika tidak salah). Isu yg beredar, sang guru mendapat uang untuk memberi kunci jawaban, tapi isu lainnya ya begitulah...pokoknya keluar NEM yg fantastis.

Saya pernah kena damprat dan dimarahi guru kesenian saat SMP. Penyebabnya suara saya yg fals telah mengacaukan ritme paduan suara untuk upacara hari Senin, hahaha. Lagian guru tsb juga salah. Sudah tahu suara saya fals, saya malah disuruh untuk mengeluarkan suara. Sejak saat itulah saya mengenal dan menekuni lipsync, wakakak. Kapok deh nyanyi di depan umum, meski akhirnya mimpi buruk itu terjadi lagi di SMA. :-))

Hingga kini, saya masih tidak bisa menghilangkan ketidaksukaan saya dengan guru agama di SMP. Saat kelas 1 dan 2, saya masih bisa menghormati beliau, masih polos soalnya. Ketidaksukaan saya muncul saat kelas 3, ketika saya mengetahui ybs memberi nilai lebih besar pada teman sekelas yg les ngaji pada beliau. Padahal jika melakukan perbandingan dg nilai2 ulangan dan hapalan surat, saya berani deh diadu. :-)

Di SMA, saya mengetahui ada guru yg naksir muridnya. Kebetulan muridnya itu teman saya. Cantik memang teman saya itu. Dan gaya ganjen sang guru membuat saya menyadari, guru juga mempunyai hawa nafsu yg kadangkala ndak bisa dikontrol. ;-)

Guru PMP saya termasuk orang yg tidak saya sukai karena sikapnya. Setiap jawaban/pertanyaan yg saya lontarkan kayanya ndak berkenan untuk beliau. Belum lagi sikapnya saat saya menjadi alumni dan berkunjung ke sekolah. Mentang2 saya bukan masuk jurusan yg favorit, lantas saya dianggap tidak ada!

Toh, dari banyaknya guru2 yg menyebalkan yg saya ceritakan di atas, jumlahnya masih kalah dibanding dg guru2 yg menyenangkan hati saya dan memberi banyak pengaruh pada hidup saya.

Guru sejarah di SMP misalnya, berhasil membuat saya membaca begitu banyak ttg sejarah2 dunia. Nilai ulangan saya hampir tidak pernah kurang dari 9, hahaha. Bahkan guru geografi saya berhasil membuat saya meraih nilai 10. :-))

Guru kimia di SMA juga mempengaruhi hidup saya. Saat saya begitu bodohnya dg pelajaran kimia, guru kimia saya saat kelas 1 tetap percaya dg kemampuan saya. Bahkan hendak mendaftarkan saya ikut olimpiade kimia (are you kidding, bu Ida?). Dan guru kimia kelas 2 berhasil membuat saya begitu cinta dg kimia, meski akhirnya saya hubungan asmara saya dg kimia mesti berakhir karena salah pengertian. *halah* :-))

Ibu saya juga seorang guru, guru ekonomi. Dianggap killer di jamannya. Padahal, setahu saya, ibu saya bukanlah guru killer. Jika saya baca buku2 yg beliau ajarkan dan soal2 ujian yg dibuat, ndak susah2 amat. Tapi, menurut kabar yg saya dengar, ibu saya memang lumayan disiplin tingkat tinggi.

Demikian ceritaku ttg guru, apa ceritamu?

Moral story:
- guru memegang peranan penting dalam kemajuan bangsa

- guru mestinya digugu dan ditiru

- jika guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari. dengan kata lain, jadi guru mesti jaga sikap!

- guru juga manusia, jangan terlalu berharap lebih pada mereka, tapi tetap hormatlah pada mereka

- Islam juga memandang guru mempunyai kelebihan dan pengaruh yg cukup tinggi serta dimuliakan kedudukannya

- para guru hendaknya membaca buku Totto-chan agar lebih menghargai para murid sebagai manusia, bukan sebagai obyek