Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Seorang ahli pedang akan mati oleh pedang.

Dua peribahasa itu selalu saya ingat, dan seringkali teringat lagi apabila ada seseorang yg mati.

Dan peribahasa kedua ini teringat lagi saat saya mendapatkan berita bahwa Marco Simoncelli (saya biasa menyebutnya si Brokoli) tewas saat menjalani pertandingan Moto GP di Sepang hari Minggu sore. Saya sedang menemani mbak Mika berenang, sehingga saya tidak sempat menyaksikan secara langsung Moto GP.

Dari informasi yg saya dapatkan, Simoncelli sedang dalam pertarungan sengit dg Colin Edward dan Valentino Rossi, saat 'mendadak' jatuh sendiri dan dia 'disikat' oleh Edwards dan menabrak Rossi sehingga helmnya terlepas.

Terus terang, saya sempat berharap si Brokoli masih selamat, namun dari kicauan2 yg saya terima, informasi yg saya dapat justru si Brokoli akhirnya meninggal dunia. :-( Ya, saya pikir kematian masih lebih baik dia terima daripada dia bisa hidup namun dg kondisi fisik yg cacat. :-(

Saya jadi teringat lagi dengan kecelakaan yg menimpa Deni Pedrosa dg Simoncelli di serial Moto GP di Perancis. Usai kecelakaan yg nyaris menewaskannya, Pedrosa mengecam gaya membalap si Brokoli yg dianggap berbahaya. Pedrosa mengeluarkan pernyataan (lebih kurang) bahwa jika si Brokoli tidak memperbaiki cara membalap, maka kelak akan membahayakan dirinya dan orang lain (lebih banyak lagi). Brokoli sendiri menyatakan dirinya akan berhati-hati lagi membalap di masa mendatang.

Namun seingat saya, Brokoli menyangkal dirinya menjadi penyebab kecelakaan, bahkan dia bilang bahwa dia siap mati jika memang itu dia penyebabnya. Melihat kecelakaan tragis ini, saya berharap ingatan saya yg salah. :-(

Di BB grup, saya sempat terlibat bincang2 dg teman saya yg doyan menganalisa Moto GP. Dia mengatakan bahwa sebenarnya Moto GP ini seperti Final Destination untuk VALENTINO ROSSI. Alasannya, saat di Philips Island kemarin sebenarnya ban belakang Bautista sudah menyenggol dirinya dan balap di Sepang pun, hal yg sama terulang pada diri Rossi. Namun, alih2 mencabut nyawa Rossi, si Brokoli yg celaka dan kehilangan hidup di lapangan.

Terlepas dari kecelakaan itu, saya beranggapan hidup Brokoli berakhir dg 'senang', dalam artian dia mati oleh sesuatu yg dia cintai dg sepenuh hati, dalam hal ini balap motor. Terus terang, saya sedih juga dg kematian Brokoli ini. Tidak ada lagi gaya membalap yg bikin keder pembalap lain. Gaya membalap yg, terus terang, meski bisa dikatakan berbahaya namun memberikan suntikan adrenalin bagi para pemirsa.

Selamat tinggal Simoncelli, selamat tinggal kepala Brokoli. Salah satu event yg tidak saya lupakan, saat dia tidak mengenakan topi yg mestinya dikenakan oleh juara (yg meraih podium) dikarenakan topinya kekecilan (atau kepalanya terlalu besar akibat rambutnya yg keriting2). :-(

Foto dari sini.

Moral story:
- Bagi para pengendara di Moto GP & Formula 1 serta balap kendaraan lain, mereka beresiko kehilangan nyawa. Dan musti siap dan punya nyali untuk itu.

- Simoncelli sebenarnya digadang-gadang akan menjadi pembalap baru yg sinarnya akan berkilau (shining star) karena punya gaya membalap yg khas (namun membahayakan).