Saya suka dg kata2 motivasi karena banyak dari kata2 itu yg membuat saya bisa lebih bersemangat dalam menggapai impian2 saya. Jika dulu saya biasa membaca buku atau mencari di internet, untuk mendapatkannya, maka dengan adanya twitter saya tidak perlu melakukan hal2 itu, yg notabene menghabiskan banyak waktu.

Selain kata2 motivasi, cerita2 dari orang2 sukses juga menyenangkan sekaligus membakar semangat saya. Mereka kerap menyebut diri mereka motivator. Saya juga, masih melalui twitter, mengikuti (follow) beberapa di antara motivator yg ada dan beredar di ranah twitter.

Nah, dari beberapa motivator yg saya ikuti, nampaknya mereka punya perasaan sensi yg tinggi. Maksud saya, mereka itu:

1. Cenderung tidak mau dikoreksi oleh orang yg ga selevel mereka. Saya pernah mengoreksi pernyataan seorang motivator penganjur hidup mulia, untuk pernyataannya. Saya lupa apa persisnya pernyataannya yg saya koreksi. Namun, pernyataannya itu terkait dengan agama. Nah, boro2 koreksi saya di-RT, di-reply saja tidak. Padahal, seingat saya, pernyataannya itu bisa menyesatkan jika tidak ada keterangan lebih lanjut. Sementara itu, saya perhatikan jika koreksi dilakukan oleh 'geng-nya', maka koreksi tsb langsung di-RT dan dikomentari.

2. Selera humor yg 'payah'. Sama dengan poin 1, jika sesama 'geng-nya' mengomentari atau membuat lelucon ttg dirinya, barulah di-RT atau direspon. Saya sendiri pernah 'ngerjain' seorang motivator. Ngerjainnya karena pernyataan/statement humornya sendiri. Untuk hal ini, saya masih ingat dan membekas. Jadi, si motivator ini menulis (lebih kurang),"Ternyata sakit masuk angin itu bisa lenyap dengan pijitan istri saya." Nah, saya reply seperti ini,"wah, pak [tiiiit,sensor] kalo saya masuk angin, saya minta pijit istri anda ya?" Mungkin terdengar kurang ajar, tapi toh saya kan mengutip pernyataan dia, jadi 'mestinya' ya ga salah donk? Hahhaha.. :-))

3. Sensi dg panggilan tertentu. Jangan panggil saya om! Kalo kasus ini kejadiannya hari Minggu kemarin. Seorang motivator aliran kanan ngambek dan memblok banyak orang karena dirinya dipanggil om. Ada apa ini? Kenapa begitu sensi dan (katanya) enek dipanggil om? Apa karena om berkonotasi negatif jika dikaitkan dengan om senang? Padahal, panggilan om ya wajar2 saja, apalagi di Jakarta. Saya dan rekan kerja kadang2 saling panggil dengan sebutan om, dan tidak ada masalah. Tapi anehnya, dia tidak mau disebut om namun membalas,"tanya saja tantemu." Aneh sekali!

4. Terlalu muluk. Beberapa motivator yg saya temui mengajak banyak followernya utk bermimpi dan berusaha. Yg saya sesalkan, beberapa motivator cenderung menggampangkan permasalahan. Menyuruh seseorang resign dari tempat kerjanya lalu memulai bisnis saat itu juga! Ebuset, itu mah namanya menjerumuskan seseorang ke jurang! Setahu saya, tidak ada tawaran untuk menjadi mentor atau pembimbing utk para follower yg hendak berbisnis itu, namun ga ada hujan ga ada angin, nyuruh resign begitu saja. Padahal berbisnis itu super duper tidak mudah. Next time deh saya tulis artikelnya. Insya ALLOH.

Walhasil, banyak motivator yg akhirnya saya mute saja, terutama yg tersangkut dg 4 poin di atas. Belum sampai pada taraf unfollow karena satu dan lain hal, hahaha.

Ingat motivator yg 'bermasalah', saya jadi teringat Mario Teguh yg sempat kena masalah juga. ;-)

Menurut anda, bagaimana mestinya seorang motivator itu?

Gambar dari sini.

Moral story:
- motivator mestinya jgn sungkan untuk dikritik, oleh siapapun.

- apakah seorang motivator harus selalu menyampaikan hal2 yg positif? apakah dia tidak pernah mempedulikan hal2 negatif hanya karena tidak ingin waktunya tersita utk mengurus hal2 seperti itu?

- apakah kritik selalu berkonotasi negatif? jika demikian, kasihan sekali para motivator tersebut! :p

- kadang2 saya melihat motivator tidak jauh berbeda dengan para MLM-ers yg sedang mencari downline. bedanya, para motivator terkadang (seringkali?) menjual jasa melalui training2 dan buku2. ;-)

- hadeuh, habis ini kayanya saya bakal dihujat ramai2 oleh para fanboy motivator deh! :-))