Kali ini saya hendak berbagi cerita tentang joki 3in1.

Saya yakin joki 3in1 adalah 'sesuatu' yg hanya bisa ditemukan di Jakarta. Saya katakan 'sesuatu' karena joki 3in1 bisa dibilang sebuah keunikan. Dia bisa dijadikan profesi (yg serius) meski tidak sedikit yg melakukannya sebagai sambilan saja.

Saya sempat menulis beberapa artikel tentang joki 3in1 ini. Bisa dikatakan tidak serius2 amat lah. Akan berbeda dengan artikel saya ini. *tsaahhh*

Seperti kita ketahui bersama, joki 3in1 lahir dari kelihaian orang2 Indonesia dalam menyiasati hukum. Ketika itu terbit Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 4104/2003 Tanggal 23 Desember 2003 yang bertujuan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas (kemacetan) di jalur-jalur tertentu dengan prinsip keadilan. Maka sejak saat itu beberapa jalan (terutama jalan2 protokol) di kawasan Jakarta tidak bisa dilalui mobil pribadi dengan jumlah penumpang kurang dari 3 orang.

Dampaknya jelas, orang2 yg berkantor di kawasan2 3in1 tersebut mesti putar otak bagaimana cara mereka untuk bisa ke kantor, yang lokasinya akan menyulitkan mereka untuk mencapainya. Beberapa kantor yg 'beruntung' bisa membuka akses pintu/jalur belakang, yang bebas 3in1, untuk para pegawainya.

Lalu bagaimana yg lainnya?

Nah, di sinilah kita mesti mengakui bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yg bodoh! Menyiasati keadaan (baca: hukum) selalu bisa mereka lakukan. Celah hukum bisa 'dikibuli' sedemikian rupa sehingga bisa menjadi ladang penghasilan.

Entah siapa yg memulai, muncullah orang2 yg berperan sebagai joki. Mereka menawarkan diri untuk menjadi penumpang tambahan (1 atau 2 orang) untuk menemani pemilik mobil menembus jalur 3in1. Sebagai imbalannya, mereka akan menerima uang.

Menemukan mereka tidaklah sulit. Mereka bisa ditemukan kira2 mulai 300 meter sebelum kawasan 3in1. Gaya mereka bermacam-macam. Mulai dari yg mengenakan seragam sekolah (dan saya tidak yakin mereka masih sekolah), ada yg bergaya orang kantoran. Kadang bisa ditemukan juga ibu2 yg menggendong bayi (kalo yg ini dihitung 2 orang), lalu tidak sedikit ABG yg juga menawarkan diri untuk menjadi joki.

Saya sendiri berkesempatan memanfaatkan jasa mereka ini.

Tarif yg saya bayar Rp 10 ribu/orang, plus tambahan ongkos Rp 5000. Dan setahu saya, tarif joki 3in1 memang segitu, sejauh apapun anda menempuh perjalanan. Menurut saya, berdasarkan pengalaman berkendara di Jakarta selama ini, membayar Rp 10-20 ribu kepada joki lebih baik daripada anda harus kena tilang dan membayar Rp 100 ribu. Ataupun jika anda ingin disidang, jelas waktu dan tenaga akan terbuang lebih banyak lagi.

Perilaku para joki ini sendiri cukup menarik untuk diamati.

Dari obrolan yg pernah saya lakukan, ada bapak2 yg sudah cukup tua umurnya. Dia menjadi joki ternyata memang serius menekuni profesi ini. Dalam sehari dia bisa membawa pulang sekitar Rp 100 ribu. Saya tidak tahu persis, apakah itu minimal atau maksimal atau rata-rata.

Ada juga anak muda *wehk...ketahuan deh saya sudah tua,hahaha* yg berpikiran daripada keluyuran ga jelas, mending jadi joki biar bisa dapat tambahan duit jajan.

Yang lebih mengejutkan, saya pernah menemui joki 3in1 LULUSAN ITB! Dan ternyata setelah ngobrol, dia adalah praktikan saya di Lab Fidas! Ya ALLOH, saya hampir tidak percaya dengan kenyataan ini!

Saya rahasiakan saja identitasnya. Dari cerita yg saya lakukan dengannya, dia menjadi joki karena baru beberapa waktu lalu keluar dari pekerjaannya di sebuah kantor. Saya lupa kantor apa. Di sana dia menjadi analis. Dia keluar karena tidak suka dengan lingkungan kerjanya. Dari suaranya, saya merasa dia tidak terlalu merasa terbebani dg keluar dari pekerjaan itu. Suaranya cenderung menyiratkan perasaan senangnya karena bisa terlepas dari kondisi kantor yg tidak dia sukai.

Sayangnya, saya bukanlah seseorang yg punya wewenang untuk merekrut pegawai. Sehingga saya hanya bisa menjadi pendengar yg baik. Saat saya menurunkan dia di sekitar Polda (SCBD), saya merasa ada kepedihan yg saya rasakan meski (seperti saya tulis) dia merasa biasa saja menjadi joki 3in1. Hitung2 sambil nunggu panggilan kerja katanya.

Ah, salut untukmu teman!

Kembali ke kisah joki 3in1.

Saat hendak menggunakan jasa joki 3in1, saya biasanya pilih2 juga. Weiitss..bukan sok, tapi saya biasanya memilih joki 3in1 yg orangnya bersih, rapi, terawat. Rambut acak2an, bersendal jepit, kaos kumal, jelas saya coret.

Saya pikir, wajar jika saya memilih joki yg hendak menemani saya dalam perjalanan. Kebayang jika jokinya jorok, bau, bla 3x, memangnya tahan menempuh sekian jarak? Belum lagi jika macet. Beuuhhh...puyeng dah! Parfum mobil jelas ada, tapi saya tidak yakin bisa mengusir bau, terlebih jika memang keterlaluan bau badannya, hahaha.

Ada tips dari teman saya yg lebih sering menggunakan jasa joki 3in1. Dia menyarankan saya untuk mencari joki 3in1 di sekitar Senayan City, Kebun Sirih, dan blok M (kebetulan itu jalur2 yg biasa dia lewati). Joki2 3in1 di daerah2 itu rata2 lebih rapi dan terawat. Kalo beruntung, ujarnya, ada joki 3in1 ABG yg cakep. Saya hanya ngakak mendengarnya. :-))

Dipikir-pikir, memang enak juga jadi joki 3in1. Naik mobil, dibayar pula. Kalo sedang beruntung, ya bisa naik mobil mewah keluaran terbaru. Tapi ya syaratnya mesti berpenampilan bersih lah.

Di sisi lain, saya sempat terpikir juga, apakah joki 3in1 ini ada niat jahat dg orang yg meminta bantuannya? Atau malah sebaliknya, jangan2 mereka bisa menjadi korban kejahatan? Penculikan atau perkosaan misalnya!?

Saya sendiri belum pernah (atau terlewat?) mendengar kabar kejahatan yg menimpa joki 3in1 ataupun orang yg butuh bantuannya. Hanya saja, sempat pernah membaca (atau mendengar, saya tidak tahu persis) ada laki2 hidung belang yg memanfaatkan para joki 3in1 (perempuan) untuk memuaskan nafsu seksnya selama mereka menemani perjalanan. Naudzubillah, semoga itu hanya isu saja...tidak pernah terjadi! :-(

Bagi saya, joki 3in1 merupakan orang yg mesti dihormati dan diperlakukan dengan baik. Simbiosis mutualisme lah.

Sempat terbersit pikiran iseng untuk menjadi joki 3in1. Sekedar ingin tahu saja sensasinya dan punya pengalaman. Tapi jika saya melakukan itu, berarti saya merebut lahan mereka. Apapun alasan saya. Terlebih jika 'sekedar' ingin tahu doank. :-)

So, apa pengalaman anda dengan joki 3in1?

Foto dari sini.

Moral story:
- joki 3in1 punya penghasilan yg lumayan, sayangnya nilainya fluktuatif.

- bahkan lulusan ITB pun pernah ada yg menjadi joki 3in1!

- perlakukan joki 3in1 dengan baik! :-)

- cerita yg menarik ttg joki 3in1, layak disimak!