Kemarin siang, saya sempat melihat ada kehebohan di Twitter dikarenakan ada berita tentang wafatnya istri Saiful Jamil. Kehebohan lebih dipicu karena seorang pemilik tabloid gossip menyebarkan foto kondisi mendiang istri SJ yg mengenaskan melalui layanan foto di twitter. Sontak kecaman datang, tidak saja kepada si pemilik tabloid, tapi juga kepada orang2 yg menyebarkannya.

Saya juga ikut mengecam secara tidak langsung, dengan menulis status berikut:
Menyebarkan foto kematian seseorang,apalagi yg kecelakaan,hanya dilakukan oleh2 org2 yg tdk bermoral!sesungguhnya Gusti ALLOH ora sare :-)
Kecaman saya mungkin terasa keras, bahkan mungkin dianggap mengada-ada karena membawa2 nama Tuhan. Tapi saya punya alasan mengapa saya menuliskan hal ini. Saya PERNAH melakukannya, meski dengan tujuan yg berbeda.

Ok, saya bukan bermaksud ngeles, jadi saya akan cerita perbedaan tujuan penyebaran foto yg saya lakukan dg si pemilik tsb.

Tahun 1997, saya 'kepleset' menjadi orang tidak bermoral dengan menyebarkan foto kondisi terakhir Lady Diana sesaat mengalami musibah tabrakan di Paris yg pada akhirnya merenggut nyawanya. Saya sebarkan foto ini di sebuah milis, Friendship, tanpa maksud apa2 selain utk berbagi informasi (terupdate maunya).

Apa nyana, postingan saya ini menimbulkan pro dan kontra. Tujuan baik yg saya emban ternyata tidak dipandang sebagai tujuan baik oleh beberapa orang karena menurut mereka, tidak etis mengirim foto2 kondisi mengenaskan seseorang ke khalayak ramai. Saat itu saya berdalih, saya mengirim bukan untuk menjelek2an Lady Diana, tapi sekedar berbagi informasi.

Toh, di akhir cerita saya SADAR betul dg kata ETIKA dan EMPATI. Dan kini saya merasa menyesal pernah mengirim foto tsb, meski ada beberapa teman yg menghibur saya dengan mengatakan apa yg saya lakukan tidak salah, karena mereka menjadi lebih berempati dg kondisi Lady Diana, bla bla bla. :-)

Sementara yg dilakukan oleh pemilik tabloid, menurut hemat saya, jelas suatu sikap utk memperoleh keuntungan. Terlebih sebagai pemilik tabloid, dia punya misi untuk membuat tabloidnya kian laku, yg otomatis duit akan masuk kocek.

Otomatis saya langsung teringat dengan hadits Rasululloh SAW dan ayat di Al Qur'an mengenai bahaya ghibah, yakni ibarat memakan bangkai saudara sendiri.

Al Qur’an (QS Al Hujurat(49):12),"orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri."

Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasululloh saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dan bagi saya pribadi, perilaku si pemilik tabloid sudah membuktikan ayat di atas. Bagaimana dia mendapat keuntungan dari foto yg dimuat, yg pada akhirnya keuntungan tersebut akan dia makan. Maka tak ubahnya makan jenazah istri Saiful Jamil, naudzubillah.

Maaf, artikel ini menjadi bernuansa agama. :-)

Lalu, apakah ada aturan khusus mengenai pemuatan foto2 seperti itu?

Terus terang, saya orang awam di bidang jurnalis (media) sehingga saya tidak tahu persis aturannya. Hanya saja, saya melihat ada standar ganda untuk foto2 'mengerikan' seperti itu.

Jika anda lihat foto di bagian awal artikel ini, anda akan melihat foto tersebut tidak layak dipasang di media (pun termasuk di blog ini). Namun, tahukah anda foto tsb mendapat penghargaan Pulitzer?

Meski saya melihat ada perbedaan antara memuat foto di atas dg foto kecelakaan, saya rasa solusi paling 'baik' adalah kembali ke hati nurani masing2. Hahaha...maaf jika solusinya tidak cukup menyenangkan dan memuaskan.

Saat hendak menyebarkan foto, hendaklah berpikir dahulu, bagaimana jika saya/keluarga saya yg berada di posisi yg ada di foto, lalu disebarkan. Apakah saya akan marah? Jengkel? Sedih? Senang?

Apabila jawabannya marah, jengkel, sedih ataupun perasaan lain yg tidak anda inginkan, maka STOP MENYEBARKANNYA! Kecuali anda memang pada dasarnya tidak punya moral, maka sebarkanlah. Hanya saja, jika suatu waktu anda/keluarga anda berada di posisi yg sama dan fotonya disebar, maka anda tidak perlu marah2 yak?! :-)

Foto diambil dari sini.

Moral story:
- masih banyak org yg tidak bermoral

- orang tidak bermoral akan selalu ada di dalam berbagai bentuk, entah itu di media ataupun di pergaulan

- jangan sembarangan menyebarkan foto2 yg dirasa tidak menyenangkan hati orang lain. apalagi di internet, yg begitu cepat dan mudah sesuatu beredar dan menyebar dg cepat.

- menjadi pemilik media bukan berarti ybs melek dg etika :-)