Seiring dengan kian tenarnya twitter, keberadaan blog kian 'dilupakan' oleh banyak orang. Padahal di tahun 2004-2005, blog sempat digadang-gadang sebagai cara komunikasi yg cukup efektif. Namun, kemudahan berkomunikasi dengan twitter ternyata mulai menggeser kepopuleran blog. Terlebih lagi dengan perilaku 'bapak' blog yg belakangan ini doyannya menerbitkan ulang postingan2 lamanya daripada ngeblog artikel baru. ;-)

Entah siapa yg memulai, twitter digunakan untuk menggantikan blog. Dalam artian, seseorang berkicau dalam jumlah kicauan cukup banyak (bisa mencapai ratusan) disertai dengan hashtag (tagar = tanda pagar) tertentu sesuai dengan topik yg dibawakan. Dengan demikian orang2 awam bisa mengikuti 'kuliah' tweet.

Saya sendiri pernah 'kultwit', mengenai menjebak penipu. Namun, rasa2nya terlalu berlebihan jika disebut kultwit. Itu hanya sekedar kicauan berseri biasa saja kok. :-)

Nah, pertanyaannya, mana yg lebih baik? Kultwit atau ngeblog?

Secara pribadi, saya lebih suka ngeblog.

Pertama, para pemirsa/pembaca tidak sepotong-sepotong menerima penjelasan. Dalam kultwit, hal yg menjengkelkan adalah jika si pemberi kultwit ternyata ada keperluan yg cukup lama atau mesti menjawab pertanyaan2 yg masuk. Padahal materi yg dibawakan misalnya sdg nanggung/butuh penjelasan. Walhasil para pembaca mesti sabar menunggu kelanjutannya. Itupun kalo si pemberi kultwit ingat untuk meneruskannya, hahaha.

Kedua, urutan penjelasan lebih enak melalui blog. Dalam kultwit yg pernah saya ikuti, terkadang si pemberi kultwit (maaf, saya ndak pakai istilah dosen) melewatkan beberapa hal penjelasan. Akibatnya, para follower yg masih newbie akan kebingungan dan bertanya-tanya. Otomatis si pemberi kultwit mesti menjelaskan/menjawab juga pertanyaan2 tersebut. Efeknya bisa ke poin 1.

Ketiga, blog memudahkan org2 yg berilmu itu utk tdk menjelaskan berulangkali. Orang2 Indonesia kebanyakan pemalas. Mereka selalu menanyakan lagi hal2, istilah ataupun terminologi atau penjelasan lain yg telah dijelaskan oleh pemberi kultwit. Jika 1-2 orang, saya masih maklum. Tapi, saya yakin lebih dari 10 org yg sering bertanya hal yg sama. Efeknya ya si pemberi kultwit tidak konsen, dan kembali ke poin 1.

Menurut saya, solusi yg paling baik adalah si pemberi kultwit membuat blog terlebih dahulu mengenai satu bidang. Dalam artikelnya, mesti ada penjelasan yg cukup rinci. Kemudian setelah blognya selesai, barulah dia menyingkatnya dalam bentuk kultwit.

Keuntungannya, kultwit yg disajikannya tidak akan terlalu panjang. Saya rasa < 20 kicauan akan cukup untuk materi kultwit. Sisanya berikan url/tautan blognya.

Diskusi bisa dilanjutkan di blog. Saya yakin akan banyak pertanyaan yg serupa muncul. Nah, pertanyaan2 tsb bisa dijawab dalam 1 kali jawab saja, tdk perlu berulangkali. Selain itu, dengan blog, tulisan si pemberi kultwit maupun jawaban pertanyaan2 tidak akan mudah hilang karena tergeser kicauan lain. Dan saya kembali yakin, pertanyaan2 yg berulang bisa dihindari dan otomatis pemberi kultwit bisa fokus ke hal yg lain.

Ngeblog juga bisa mengurangi kontroversi jika ada kesalahan dalam menyajikan kultwit. Katakanlah ada hal yg salah disajikan dalam blog, maka si pembaca bisa berkomentar dan memberikan jawaban yg benar. Kecuali jika sudah ada dendam antara si pemilik blog dan pembacanya, maka otomatis diskusi yg seharusnya bisa menjernihkan suasana, malah berakhir konyol.

Ataupun jika memang ada dendam pribadi, maka solusi lain yg bisa dilakukan adalah dengan membuat artikel bantahan/jawaban atas artikel blog yg dirasa salah. Saya rasa ini adalah cara terbaik. Selain utk menghindari ngeblog di bagian komentar (yg malah akan bikin pusing orang), kearifan dan kebijakan serta kedewasaan (saya harap) bisa tumbuh dengan cara yg lebih intelek. ;-)

Jadi, pilih kultwit atau ngeblog? :-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- twitter kian menggeser kepopuleran blog

- menggunakan twitter sebagai media memberikan 'kuliah' tidak ada salahnya, tapi kuliah yg terlalu panjang akan membosankan dan bisa2 kontraproduktif, tidak ada gunanya.

- bayangkan jika saya meng-kulwit-kan artikel ini, bisa berapa ribu kicauan yg saya lakukan? bisa2 follower2 saya pada minggat :-))

- kultwit yg dipenuhi bantahan2 akan berujung ke twitwar (perang tweet)