Gegara Dian Ina (@kemiri) menyinggung katering di kicauannya, saya jadi tergelitik berbagi cerita mengenai katering di pernikahan. Cerita saya ini berasal dari banyak sumber, baik pengalaman pribadi maupun dari teman-teman saya.

Artikel ini merupakan perluasan dari kicauan saya di twitter dengan tagar #kicauKatering. Sebenarnya saya 'menyalahi' kebiasaan saya, terutama di artikel ini, yakni lebih dahulu 'kultwit' daripada menulis di blog. Jadi harap maklum ya? :-)

Dalam sebuah pesta pernikahan (resepsi), keberadaan katering bisa dikatakan SANGAT PENTING. Hal ini adalah ungkapan terima kasih dari pihak pengantin dan keluarganya kepada para tamu yang telah sudi datang dan memberikan doa (dan angpau) kepada mereka. Dengan kata lain, pihak pengantin dan keluarga semestinya memberikan, menyajikan serta menyuguhkan layanan terbaik kepada para tamunya.

Bagi yg sudah menikah, mereka akan tahu betul bahwa komponen katering akan menghabiskan biaya yg tidak sedikit! Dari cerita teman2 saya, mereka menganggarkan sedikitnya 30-40% dari biaya pernikahan untuk urusan makanan. Bahkan ada teman yg mengaku meng-set hingga 60% untuk memuaskan perut para tamunya ini. Disusul biaya dekor, rias pengantin, suvenir, dll.

Anggaran sebesar itu tentulah tidak fix, melainkan hanyalah sebagai gambaran umum. Namun bisa dikatakan berlaku bagi para pengantin yg hendak menyelenggarakan pesta pernikahan baik di rumah maupun di gedung serta untuk jumlah tamu (berapapun banyaknya).

Seperti yg saya katakan sebelumnya, saking pentingnya keberadaan katering maka bisa dikatakan sukses tidaknya sebuah pesta pernikahan sangat bergantung pada katering. Mengapa? Anda bisa bayangkan jika anda hadir ke sebuah pesta pernikahan lalu tidak mendapat makanan dikarenakan makanannya sudah habis. Saya yakin anda akan ngomel2, minimal dg pasangan yg anda ajak. Bahkan anda akan merasa malu kepada pasangan anda karena mengajak dia ke pesta pernikahan tapi ga ada makanan. Sudah cape2 datang dari tempat yg jauh, lalu sudah ngasih amplop, antri yg panjang utk salaman, eeehh....makanannya habis.

Well, sebagian besar orang datang ke pesta pernikahan (bisa jadi) karena faktor makanan, yakni ingin mencicipi makanan yg selama ini jarang mereka cicipi. Bahasa kasarnya, perbaikan gizi. :-)) Tentu saja memberikan doa juga penting. Selain itu juga dari sisi agama, jika kita menerima undangan dari seseorang, hendaknya datang kecuali jika ada keperluan lain yg lebih mendesak.

Jika kisruh katering ini hanya terjadi secara terbatas, dalam artian hanya gumaman sesaat dan cepat dilupakan orang, barangkali tidak akan ada masalah. Namun, saya pernah jumpai kurangnya makanan dalam pesta pernikahan ini akan menjadi episode bahan gosip tak berujung dari ibu-ibu peserta arisan, terutama di kelompok arisan yg pihak penyelenggara pernikahan itu terlibat.

Barangkali dari pihak pengantin tidak ada masalah. Tapi anda tahu sendiri kan, betapa lidah tak bertulang dan perkataan seringkali sedemikian lebih menyakitkan dari digebuki orang sekampung. Dengan kata lain, si ibu pengantin mesti siap tebal kuping dan muka badak jika dalam hajatannya yg digelar, dia gagal menyiapkan makanan yg cukup bagi para tamunya.

Saya pernah menghadiri pesta pernikahan yg kateringnya sedemikian kacaunya. Bayangkan, hanya 10-15 menit dari dibukanya sesi salaman, makanan SUDAH HABIS TOTAL! Anda mungkin tidak percaya, tapi ini benar2 terjadi! Saya dan Wify sendiri hanya bisa terheran-heran mendapati kejadian tak terduga ini. Walhasil kami hanya sempat minum air putih dan akhirnya membeli makanan di luar. Bayangkan, makan di restoran dengan batik utk menghadiri pernikahan. Rasa2nya ganjil buanget.

Habisnya makanan ini mestinya TIDAK BOLEH TERJADI!

Sebenarnya ada hitung2an yg mudah untuk menghindari permasalahan makanan ini. Hitung2an ini berlaku umum, baik jika ajang pesta pernikahan dilakukan oleh pihak keluarga sendiri maupun jika menyerahkan urusan ini kepada pihak penyelenggara pernikahan.

Rumus tersebut adalah: (undangan yg disebar * 2) + 20%

Dengan kata lain, jika anda menyebar 100 undangan, maka anda mesti menyiapkan makan untuk 240 orang. Inipun masih bisa dikatakan MINIMAL dan berlaku untuk HIDANGAN UTAMA. Jadi, jika anda hendak menyiapkan stand (pojok2 makanan) sebanyak 5 buah, ini berarti tiap stand pun mesti siap melayani 240 orang. Dengan kata lain, untuk menu hidangan utama + 5 stand, maka itu semua mesti ada 1440 porsi!

Kaget? Ga usah, eh, jangan dulu...karena itu baru urusan makanan lho! :p

Lalu, kok ya bisa (katakanlah) 1440 porsi itu tidak cukup untuk para tamu yg hadir?

Ada beberapa penyebab kenapa makanan yg disajikan ternyata tidak cukup.

Pertama, salah perhitungan. Salah perhitungan yg saya maksud bisa dibagi lagi. Satu, salah perhitungan tamu yg hadir. Kedua, salah perhitungan penyediaan makanan.

Dalam salah satu undangan pernikahan yg pernah saya hadiri, saya pernah temui ada tamu (1 keluarga) yg rombongan hadir, dalam artian kayanya 1 keluarga besar dia ajak semua utk datang ke pesta pernikahan. Tidak tanggung-tanggung, jika saya tidak salah hitung, rombongan yg dibawa berjumlah 5-6 orang. Jadi ada suami-istri dan anak2nya. Dalam kasus lain ada juga pengasuh anak (jika anaknya masih kecil). Bayangkan, jika 5 orang yg hadir untuk 1 undangan sementara 'jatah' makan tiap undangan hanya 2,4 orang ini berarti pihak pengantin sudah 'tekor' menu sebanyak 2,6 orang!

Jika anda berpikir undangan pernikahan yg saya hadiri adalah undangan pernikahan di desa atau kampung, maka anda salah! Undangannya justru di Bandung dan Jakarta! Budaya aji mumpung dan (seperti saya tulis) perbaikan gizi mungkin bisa menjadi faktor penyebabnya, hehehe.

Sementara jika salah perhitungan mengenai penyediaan makanan, jika karena satu dan lain hal ternyata makanan yg disajikan tidak memenuhi jumlah yg diharapkan (terutama jika makanan dibuat oleh keluarga sendiri ataupun harga bahan makanan sedang mahal) maka end of story. Namun jika masalahnya ada di EO, itu saya jelaskan di bawah.

Kedua, pihak EO melakukan kecurangan dalam hal makanan, entah itu porsinya yg tidak sesuai dengan kesepakatan ataupun ada korupsi di pihak EO itu sendiri. Saya pernah ngobrol dengan teman yg meminta saya hadir di pernikahan saudaranya. Dalam acara pernikahan saudaranya itu, saya melihat ada seseorang yg kerjanya hilir mudik lalu menyuruh-nyuruh serta main tunjuk plus berbicara melalui handy talkie.

Ketika saya tanyakan kepada teman saya, dia berkata itu adalah pengawas makanan yg bertugas mengatur supply makanan yg akan disajikan. Jadi, si pengawas ini bertugas menghitung jumlah tamu yg hadir serta menentukan kapan makanan (tambahan) boleh masuk, termasuk juga menghitung porsi makanan yg telah disajikan pihak EO.

Saya lupa bertanya apakah pengawas ini dari pihak EO atau dari keluarganya. Yg saya ingat, teman saya menggunakan pengawas karena ada EO-EO yg curang dalam menyajikan makanan.

Kasus pertama, EO melakukan korupsi dalam menyajikan makanan. Ini bisa jadi dari bos-nya EO ataupun pelakunya dari staf2 EO. Saya terheran-heran ketika ada teman saya cerita bahwa pernah didapati staf EO yg menyembunyikan makanan yg mestinya disajikan. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung bisa puluhan porsi! Padahal bosnya sudah menyanggupi dg pihak keluarga pengantin utk menyediakan porsi makanan yg mencukupi. Saya juga tidak sempat tanya, bagaimana kok bisa ketahuan. Tapi yg jelas, kasus ini akan berdampak sistemik *halah*

Kasus kedua, pihak EO ternyata tidak menyajikan makanan sesuai dengan kesepakatan. Ini cerita dari Mama. Temannya menyelenggarakan resepsi utk anaknya. Ternyata menu yg disepakati dg pihak EO dg yg disajikan tidak sama, bahkan juga dalam hal jumlah porsi. Ya ini sih sudah di luar kuasa pihak keluarga. Namun ya tetap saja kasusnya berlanjut, terlebih pihak keluarga merasa dirugikan terutama dari sisi non materi (ya itu tadi, bakal menjadi sasaran gosip bagi para ibu2 yg lidahnya sudah kegatelan).

Lalu, apakah ada tips untuk mengatasi masalah katering ini? Ada kok! Saya coba berbagi beberapa di antaranya.

Pertama, yg paling gampang, perbesar pengalinya. Menurut @rendy, di keluarganya berlaku undangan*3. Ya, ini solusi paling gampang tapi resiko juga terutama di budget, bisa bengkak gila2an. Jika makanan berlebih sih tidak masalah, bisa dibagi-bagi ke tetangga.

Kedua, perbanyak makanan utama. Jadi untuk makanan utama bisa disediakan porsi undangan*3, sementara utk stand2-nya cukup undangan*2. Pengalaman saya selama ini para tamu lebih suka menyerbu stand daripada makanan utama.

Ketiga, lokasi pernikahannya di rumah, jangan di gedung. Biaya sewa gedung bisa dialihkan utk makanan. Resikonya bagi yg rumahnya di gang kecil, mesti menyiapkan tempat yg bisa menampung tamu yg diundang. Saya belum pernah menemukan pernikahan di rumah di gang kecil yg tamunya makan sambil berdiri. Duduk semua tamunya. So, mesti siap2 'booking' jalan sepanjang gang. :-)

Keempat, jumlah undangan. Jika budget terbatas, ya undangannya jangan terlalu banyak yg disebar. Misalnya budget makanan hanya bisa utk 200 orang, ya jangan sebar undangan 200. Maksimum 100 undangan lah. Makanan berlebih itu terhormat daripada tamu kelaparan. :p

Kelima, jadwal pernikahan. Menggelar pernikahan di hari kerja, apalagi di jam kerja, jelas akan menyelamatkan katering anda dari kemungkinan habis diserbu ataupun kekurangan. Soalnya, ga ada yg datang, ahhaha. :-))

Keenam, cari EO yg bisa dipercaya. Rekomendasi teman barangkali bisa dijadikan acuan. Hindari EO-EO yg tidak meyakinkan, terutama utk menghindari kasus2 yg saya sebut di atas.

Ketujuh, jika EO-nya dirasa tidak meyakinkan, coba siapkan pengawas yg akan mengatur laju lalu lintas makanan dan jumlah tamu.

Kedelapan, cek perbandingan tamu. Tamu dari golongan muda (sebaya) akan menghabiskan makanan lebih banyak lho, hahaha. :-) Hanya saja, dari pengalaman saya, tamu dari golongan yg tua justru MENYISAKAN makanan lebih banyak. :-(

Kesembilan, masak sendiri. Anda bisa saving banyak untuk makanan. Perbandingan biaya makanan EO dg masak sendiri bisa 1:2 atau malah 1:3. Harga 1 porsi makanan (yg serupa) di EO = 3 porsi jika memasak sendiri.

Sepuluh, adat. Saya pernah menghadiri pernikahan teman saya di Solo. Di sana tidak diberlakukan adat prasmanan (ambil sendiri) seperti yg selama ini sering saya hadiri. Tamu datang, duduk, disajikan makanan (makanan diantar ke kursi tamu), baru salaman.

Demikian, semoga berguna bagi anda2 yg hendak menikah. :-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- biaya katering utk pernikahan itu mesti sangat diperhatikan.

- jangan sampai tamu kelaparan gara2 salah perhitungan makanan sehingga makanan cepat habis sementara tamu masih banyak.

- ini bukan blog berbayar

- mudah2an tidak ada follower saya yg unfol gara2 kultwit